Haji & Umrah


Definisi Haji Dan Umrah

Termasuk salah satu dari rukun islam adalah menunaikan haji dan umrah sekali seumur hidup bagi mukallaf yang mampu.

Haji menurut bahasa artinya menyengaja sedangkan menurut terminologi (istilah), haji artinya menyengaja mengunjungi  baitullah dalam rangka melaksanakan amalan-amalan haji Umrah menurut bahasa artinya ziaroh atau berkunjung sedang menurut terminology (istilah),umrah artinya menyengaja mengunjungi  baitullah dalam rangka melaksanakan amalan-amalan umrah.

Dasar Hukum Haji Dan Umrah

Dasar pencetusan kewajiban haji dan umrah adalah firman Allah yang berbunyi:

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا [آل عمران : 97]

Artinya : “Dan wajib atas manusia terhadap Allah menunaikan haji  ke baitulloh yakni wajib atas orang-orang yang mampu menjalankanya “. (Qs. Ali Imran : 97)

Dan juga firman Allah:

وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ [البقرة : 196]

Artinya : ” Lakukanlah haji dan umrah secara sempurna karena allah”. (Qs. Al-Baqarah : 196)

Haji dan umrah hanya wajib dilakukan sekali seumur hidup, karena nabi hanya melakukan haji satu kali (yakni haji wada’) semenjak di turunkannya wahyu mengenai kewajiban haji, dan lagi saat nabi di tanya apakah haji harus di lakukan setiap tahun ?, beliau menjawab “seandainya aku mengatakan ya maka akan di wajibkan dan  kamu sekalian akan merasa keberatan”. Begitu juga saat sahabat saroqoh bertanya mengenai umrah yang telah dia lakukan apakah hanya untuk tahun itu saja ataukah untuk (menggugurkan kewajiban) selamanya ?, nabi menjawab “untuk selamanya”.

Baca lebih lanjut

Bagian Ketujuh Belas N I K A H


Definisi dan hukum nikah
Nikah menurut bahasa itu dapat diartikan berkumpul, bersetubuh, dan aqad, sedangkan Nikah menurut istilah syara’ adalah suatu aqad yang memiliki beberapa syarat dan rukun. Pada dasarnya hukum nikah adalah mubah (diperbolehkan), berdasarkan firman Alloh swt:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ …… (النساء : 3 )

Artinya : “maka nikahilah perempuan-perempuan yang baik bagimu …..” (QS. An-Nisa’ : 3)

Dan hadits Nabi saw :

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ أَبِيْ هِلاَلٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : تَنَاكَحُوْا تَكْثُرُوْا ، فَإِِنِّيْ أُبَاهِيْ بِكُمُ اْلاُمَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رَوَاهُ عَبْدُ الرَّزاق)

Artinya : dari said bin abi hilal bahwasanya nabi saw bersabda : “menikahlah kamu sekalian maka kamu akan menjadi banyak keturunan karena sesungguhnya aku akan membanggakan diriku dengan adanya kalian atas umat terdahulu pada hari qiamat”
(HR. Abdur Rozaq)

Namun ketika seorang lelaki sudah memiliki keinginan untuk segera melangsungkan pernikahan dan ia mempunyai biayanya (mas kawin, nafkah buat isteri pada hari pernikahan tersebut), maka hukumnya sunnah begitu juga bagi orang tua ketika anak perempuannya sudah berkeinginan untuk menikah sedangkan apabila belum berkeinginan untuk menikah atau tidak memiliki biayanya, maka hukumnya adalah makruh.
Keterangan ini berdasarkan hadits nabi saw ;

يا معشر الشباب مَنْ اسْتَطَاعَ منكم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ

Artinya : Wahai para pemuda Barangsiapa sudah mempunyai biaya pernikahan maka hendaknya ia menikah karna pernikahan itu dapat memalingkan mata dan menjaga alat kelamin (dari perzinahan) dan barang siapa tidak mempunyai biayanya, maka hendaknya berpuasa karena itu dapat meredam nafsu syahwatnya”. Baca lebih lanjut

Bagian Keenam Belas CARA PENYEMBELIHAN


Dalil Penyembelihan

Penyembelihan merupakan suatu media yang diberlakukan oleh syara’ bagi umat islam dalam memperoleh kehalalan suatu binatang untuk dimakan. Hal ini berdasarkan firman Alloh swt;

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ [المائدة/3]

Artinya : “Diharamkan bagimu untuk memakan bangkai (setiap binatang yang halal baik hidup di darat maupun di udara yang mati dengan tanpa disembelih), darah, daging babi, binatang yang di sembelih bukan karena Alloh, binatang yang mati dengan cara dijerat lehernya, biatang yang mati dengan cara dipukul, binatang yang mati dengan cara dilemparkan, binatang yang mati akibat di adu dengan bintang lain, binatang yang mati sebab dimakan binatang buas kecuali binatang-binatang yang mati karena telah kamu sembelih”.

Hikmah penyembelihan

Hikmah disyari’atkannya penyembelihan adalah untuk membedakan antara daging yang halal dengan yang haram.

Rukun-rukun penyembelihan

Rukun penyembelihan terbagi menjadi empat macam yaitu;

1. Orang yang menyembelih

Syaratnya adalah harus orang islam (baik sudah dewasa atau masih kecil namun sudah tamyiz) atau kafir ahli kitab (yahudi dan nasroni yang masih berpedoman pada kitab taurot dan injil yang asli) baik keturunan Israil atau bukan.Namun bila keturunan Israil disyratkan tidak diketahui nya nenek moyang mereka memeluk agama tersebut setelah diutusnya nabi yang menaskh agama mereka dan bila bukan keturunan Israil disyaratkan diketahuinya nenek moyang mereka memeluk afgama tersebut sebelum diutusnya nabi yang menaskh agama mereka. Hal ini berdasarkan firman Alloh ta’ala :

وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ

Artinya : “Dan makanannya orang-orang kafir ahli kitab (yahudi dan nasroni) itu halal bagimu”

Hewan yang disembelih oleh orang gila, anak kecil yang belum tamyiz, orang buta, dan orang bisu (meskipun bahasa isyaratnya tidak memahamkan) juga hukumnya halal, namun makruh menurut keterangan yang telah ditetapkan oleh imam syafi’i. lain halnya hewan yang disembelih oleh kafir selain ahli kitab seperti kafir majusi (penyembah api), penyembah berhala, dan orang murtad (keluar dari agama islam), maka hukum memakannya adalah harom berdasarkan keterangan firman Alloh diatas.

Imam Nawawi dalam kitab majmu’ menerangkan bahwa tingkatan orang yang paling berhak (paling utama) untuk melakukan penyembelihan adalah orang islam laki-laki yang berakal kemudian orang islam perempuan, kemudian anak kecil laki-laki dari golongan islam, kemudian kafir ahli kitab, kemudian orang gila, orang orang mabuk dan anak kecil yang belum tamyiz.

2. Hewan yang disembelih

Secara garis besar hewan terbagi menjadi dua macam yaitu :

a. Hewan yang tidak boleh untuk dimakan seperti keledai, anjing, babi, hewan yang bertaring dan berkuku tajam

b. Hewan yang boleh untuk dimakan seperti sapi, kambing , ayam , belalang dan hewan yang hanya hidup dalam air.

Hewan yang boleh untuk dimakan itu terbagi menjadi dua yaitu :

 Hewan yang hanya boleh dimakan jika sudah melalui proses penyembelihan terlebih dahulu seperti sapi kambing ,ayam .

 Hewan yang boleh dimakan dengan tanpa harus disembelih terlebih dahulu seperti belalang dan hewan yang hidupnya hanya dalam air seperti ikan dan udang .

Kewajiban menyembelih ini berdasarkan firman Alloh surat al ma’idah ayat 3 :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ ………………. إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ [المائدة/3]

Artinya : “Diharamkan bagimu memakan bangkai (hewan yang mati tanpa disembelih secara syara’), darah dan daging babi …………………… kecuali hewan yang telah kamu sembelih”

(QS. Al Ma’idah : 3)

Baca lebih lanjut

Bagian Kelima belas ‘A Q I Q A H


Definisi Dan Hukum ‘aqiqah

‘Aqiqah, merupakan akar kata dari ‘aqqa- ya’uqqu, yang berarti nama rambut seorang bayi yang baru dilahirkan. Sedangkan menurut istilah fuqoha’, ‘aqiqah merupakan sebuah ungkapan untuk binatang yang disembelih atas kelahiran seorang anak yang dilaksanakan pada hari ketujuh setelah kelahiran. Melaksanakan ‘aqiqah hukumnya sunat muakkad bagi mereka yang berkewajiban menafkahi anak tersebut, seperti ayah, kakek, atau yang lain. Dalam sabdanya Rasululloh SAW menegaskan ;

الْغُلَامُ مُرْتَهَنٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ السَّابِعِ وَيُحْلَقُ رَأْسُهُ وَيُسَمَّى { رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ }
Artinya : “Seorang anak tergadaikan dengan ‘aqiqahnya . Di hari ketujuh ‘aqiqah disembelih, rambut anak dicukur, kemudian diberi nama”.( HR. Tirmidzi )

Waktu Pelaksanaan ‘aqiqah
Waktu pelaksanaan ‘aqiqah dimulai ketika sang bayi terlahir ke dunia sampai masuk waktu ia baligh. Apabila disaat lahir sampai masa 60 hari seorang ayah tidak berkecukupan untuk melaksanakan ‘aqiqah, maka anjuran ber’aqiqah telah gugur. Apabila ia berkecukupan, maka yang afdlol baginya adalah ;
• Ber’aqiqah di hari ke-07 setelah kelahiran sang bayi. Apabila sang bayi meninggal dunia, tetap dianjurkan untuk ber’aqiqah apabila sebelumnya ada kesempatan dan kemampuan untuk melaksanakannya, meskipun meninggal sebelum hari ke-07.
• Apabila tidak melaksanakannya di hari ke-07, dianjurkan pada hari ke-14 , ke-21, dan seterusnya sampai ia baligh.

Setelah sang anak baligh dan orang tuanya belum melaksanakan ‘aqiqah, dianjurkan baginya ber’aqiqah untuk dirinya sendiri.

Prosesi ‘aqiqah
1. Yang terbaik, ber-‘aqiqah dengan dua kambing untuk bayi berjenis kelamin laki-laki, dan satu kambing untuk bayi berkelamin perempuan
2. Proses penyembelihan dilaksanakan bertepatan dengan terbitnya matahari, seraya berdo’a ;
بِسْمِ اللَّهِ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُمَّ مِنْك وَإِلَيْك اللَّهُمَّ هَذِهِ عَقِيقَةُ فُلَانٍ
Artinya : “ Dengan nama Alloh( aku ber’aqiqah ), Alloh maha besar. Ya Alloh, ( ‘aqiqah ini merupakan nikmat ) dariMu, dan ( aku mendekatkan diri dengan ‘aqiqah ini ) kepadaMu. Ya Alloh ! ini adalah ‘aqiqah si fulan”

3. Dimasak dengan cita rasa manis dan disedekahkan kepada fakir miskin dengan cara mengirimkan kepada mereka. Sedapat mungkin tulang belulangnya tidak terpecah, malainkan dipotong sesuai dengan persendian .
4. Setelah binatang disembelih, rambut sang bayi dicukur gundul dan rambutnya ditimbang kemudian bersedekah emas sesuai kadar timbangan tersebut .Namun menurut sebagian ulama makruh mencukur gundul bayi perempuan
5. Memberikan nama yang baik , sebagaimana anjuran Rasulullah ;
إنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَحَسِّنُوا أَسْمَاءَكُمْ
Artinya : “ sesungguhnya di hari kiamat, kalian akan dipanggil dengan namamu dan nama orang tuamu, oleh karenanya, baguskanlah namamu ”

6. Meminyaki rambut sang bayi dengan minyak wangi

Perbedaan ‘Aqiqah Dengan Qorban
Pada dasarnya ‘aqiqah memiliki beberapa persamaan dengan qorban seperti jenis, umur, kesehatan binatang yang disembelih, kadar yang boleh dimakan, berhukum wajib apabila dinadzari, dan lain sebagainya. Namun juga ada perbedaannnya antara lain :
1. Tidak harus diserahkan kepada faqir miskin dalam kondisi mentah, bahkan sunat diberikan dalam kondisi sudah dimasak
2. Menjadi milik orang yang menerima ‘aqiqah, meskipun ia berstatus kaya, sehingga boleh menjualnya atau mensedakahkan kembali.
3. Tidak mengenal batas waktu, berbeda dengan qorban

Catatan :
1. Ketika sang istri dalam kondisi kritis hendak melahirkan, sunat dibacakan ;
1] Ayat kursi.
2] Ayat 54 surat al-A’raf, yakni ;
إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَى عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ [الأعراف/54]
3] Surat mu’awwidzatain.
4] Memperbanyak do’a berikut :
لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ ، لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ ، وَرَبُّ الْأَرْضِ ، وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ”
2. Apabila sang istri sulit melahirkan, maka tulislah do’a berikut ini ;
اُخْرُجْ أَيُّهَا الْوَلَدُ مِنْ بَطْنٍ ضَيِّقَةٍ إلَى سِعَةِ هَذِهِ الدُّنْيَا ، اُخْرُجْ بِقُدْرَةِ اللَّهِ تَعَالَى الَّذِي جَعَلَك فِي قَرَارٍ مَكِينٍ إلَى قَدَرٍ مَعْلُومٍ { لَوْ أَنْزَلْنَا هَذَا الْقُرْآَنَ عَلَى جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ . هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ . هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ . هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ } . { وَنُنَزِّلُ مِنْ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ }
– Tulis di atas mangkuk yang baru
– Lebur dengan air
– Minumkan pada wanita hamil tersebut dan percikkan pada wajahnya. [] Baca lebih lanjut

Bagian keempat belas K o r b a n


Definisi Dan Hukum Berqorban

Udlhiyyah, atau yang biasa dikenal dengan nama qorban, merupakan ungkapan untuk sebuah binatang yang disembelih di hari raya dan hari-hari tasyrîq dalam rangka mendekatkan diri kepada Alloh. Berqorban hukumnya sunat mu’akkad bagi seorang muslim, baligh, berakal, merdeka, dan mampu untuk berqorban , disamping sebagai syi’ar agama. Oleh karenanya, bagi orang yang berkecukupan, dianjurkan untuk senantiasa menunaikan qorban . Dalil disunatkannya berqorban merujuk pada ;

1. Firman Alloh SWT
وَالْبُدْنَ جَعَلْنَاهَا لَكُمْ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ [ الحج : 36 ]
Artinya : “ Dan telah Kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syiar Allah, “.(QS. Al-Hajj : 36)

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ [ الكوثر : 2 ]

Artinya : “ Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqorbanlah”. (QS. Al-Kautsar : 2)

2. Sabda Rasululloh SAW.

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُتِبَ عَلَىَّ النَّحْرُ وَلَمْ يُكْتَبْ عَلَيْكُمْ { رواه عكرمة }
Artinya : “ Nabi bersabda :”aku diwajibkan untuk berqorban dan qorban tidak diwajibkan atas diri kalian . (HR. Ikrimah )

مَا عَمِلَ ابْنُ آدَمَ يَوْمَ النَّحْرِ مِنْ عَمَلٍ أَحَبَّ إلَى اللَّهِ تَعَالَى مِنْ إرَاقَةِ الدَّمِ وإنَّهَا لَتَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِقُرُونِهَا وَأَظْلَافِهَا وَإِنَّ الدَّمَ لَيَقَعُ مِنْ اللَّهِ بِمَكَانٍ قَبْلَ أَنْ يَقَعَ عَلَى الْأَرْضِ فَطِيبُوا بِهَا نَفْسًا { رواه التِّرْمِذِيِّ }

Artinya : “ tiada amalan anak Adam yang paling disukai oleh Alloh SWT di hari raya qorban selain mengalirkan darah ( karena berqorban ). Sesungguhnya di hari kiamat ia akan datang lengkap dengan tanduk dan teracaknya dan sesungguhnya darah tersebut akan jatuh di salah satu tempat di sisi Alloh SWT sebelum menetes di bumi. Maka berqorbanlah dengan penuh keihlasan ”. ( HR. Tirmidzi ) Baca lebih lanjut

Bagian kedua belas Z a k a t


Definisi dan hukum zakat
Zakat secara bahasa mengandung arti berkembang, bertambahnya barokah, dan pembersih . Sedangkan secara istilah adalah nama sebuah harta tertentu yang dikeluarkan untuk menyucikan harta atau jiwa, dengan praktek-praktek tertentu dan diberikan terhadap golongan yang tertentu pula ( delapan golongan ). Kewajiban berzakat tertuang jelas dalam;
1. Al-Qur’an, yakni;

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ [ البقرة : 43 ]
Artinya :”Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’. ( QS. Al-Baqarah : 43 )

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ [ التوبة : 103 ]
Artinya : “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan berdo’alah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketemtraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”( QS. At-Taubat :103 )

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ ، [ الْبَيِّنَةِ : 5]
Artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam(menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan meunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”( QS. Al-Bayyinat : 05 )

2. Sunnah Nabi, yakni Hadits riwayat Bukhâri Muslim;

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ ( متفق عليه )
Artinya :” Rasulullah SAW bersabda;”( agama ) islam didirikan atas lima hal, bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji ke baitulloh, dan puasa Ramadlan”. ( Muttafaq alaih )

3. Ijma’ para ‘Ulama
Semua ulama sepakat bahwa zakat merupakan suatu kewajiban bagi segenap orang islam apabila telah memenuhi syarat, sehingga orang yang mengingkarinya dihukumi keluar dari islam ( kafir ) .
Baca lebih lanjut

Bagian Kesebelas J a N A Z A H


Pendahuluan

Salah satu dari Lima Rahasia Tuhan adalah datangnya ajal atau kematian. Kedatangannya tidak dapat dideteksi oleh apapun dan siapapun. Oleh karena itu, amat wajar apabila seorang muslim selalu dianjurkan agar senantiasa mengingat-ingat datangnya pedang maut yang setiap saat dapat ditebaskan ke leher sang Khalifah Dunia serta mempersiapkan diri sebaik-baiknya menyambut kematian dengan bekal yang memadai. Prosesi Kematian seseorang mengalami beberapa fase, yakni sakit, sakaratul maut, dan hembusan nafas terahir. Yang kesemuanya memerlukan perawatan yang berbeda. Dibawah ini akan kita coba mengupasnya satu persatu.

Sakaratul Maut Dan Penanganannya[1]

Ada beberapa hal yang sunat dilakukan bagi orang yang merawat calon mayit ketika mendekati ajal ( sakaratul maut ), yaitu :

  1. Dihadapkan ke arah Qiblat dengan cara direbahkan dengan  posisi miring pada lambung sebelah kanan, jika posisi tersebut sulit dilakukan, maka dimiringkan ke kiri. Apabila posisi miring juga sulit, maka direbahkan telentang dengan menghadapkan wajah dan telapak kakinya kearah Qiblat, dan posisi kepala agak d tinggikan dengan di beri semisal bantal atau penyangga lain.
  2. Menalqinnya ( menuntun ) dengan kalimat Tauhid, yakni لا إله إلا الله. dengan cara yang halus dan tanpa ada paksaan. Baca lebih lanjut
%d blogger menyukai ini: