Pembaharuan Agama


Ketika keintlektualan lebih mengedepankan nafsu serta semangat yang menggebu dengan dalih memurnikan agama tanpa disertai dengan pemahaman agama secara benar maka yang terjadi justru pembaharuan-pembaharuan yang menyimpang dari ajaran yang telah dibawa oleh baginda Nabi Muhammad SAW. Pada pembahasan ini akan mengetengahkan pembaharu-pembaharu (mujaddid) Islam yang telah melakukan banyak penyimpangan dari ajaran Islam yang murni.

FAHAM IBNU TAIMIYYAH
Di akhir masa 600 H, muncullah seorang laki-laki yang jenius yang telah banyak menguasai berbagai jenis disiplin ilmu, ia adalah Taqiyuddin Ahmad ibn Abdul Hakim yang lebih di kenal dengan Ibnu Taimiyyah. Ia di lahirkan di desa Heran, sebuah desa di Palestina dari suku kurdi pada tahun 661 H. Ia sezaman dengan Imam Nawawi (seorang ulama fiqih terbesar dalam madzhab syafi’i). Baca lebih lanjut

Iklan

LEGITIMASI AHLISSUNAH WAL JAMAH


Kerangka

1.Mulai kapan “nama” ahli sunah muncul?

2.Siapakah mereka ?

3.Arti Penting mengikuti jamaah

4.Masalah tauhid adalah ijtihadi, maka di sana memungkinkan adanya perbedaan, di sinilah ijma’ menjumpai titik urgensinya.


Perpecahan umat Islam menjadi beberapa aliran, sebenarnya sudah diramalkan oleh Nabi dalam hadits-hadits yang banyak diriwayatkan para muhadditsin.[1] Diantaranya hadits yang diriwayatkan Imam Anas bin Malik yang berbunyi:

قال أن بني إسرائيل افترقوا على إحدى وسبعين فرقة وأن أمتي   ستفترق   على اثنين وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة فقيل يا رسول الله وما هذه الواحدة قال فقبض يده وقال الجماعة وقرأ واعتصموا بحبل الله جميعا

Nabi bersabda: ” Sesungguhnya Bani Israil akan terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan. Dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan. Semuanya akan masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Kemudian para sahabat bertanya: ” Siapakah golongan yang selamat itu wahai Rosulullah?” Seraya  menggenggam tangan Anas bin Malik, Nabi menjawab: Mereka adalah jama’ah[2]. Kemudian Nabi membacakan ayat –yang berarti –  berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah.

Apakah tali allah itu? Dan siapakah jamaah yang dimaksud Rosulullah? Menyikapi peristiwa ini, para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan tali Allah. Qatadah ra. dan yang lainnya menafsiri tali Allah – sebagai sesuatu yang    diperintahkan untuk selalu kita pegang teguh –. Tafsir inilah yang sesuai dengan apa yang diriwayatkan Imam Abu Sa’id al-Khudri.

Sementara, Ibnu Zaid menafsiri  tali Allah sebagai agama Islam. Namun, menurut al-Tsa’labi, perbedaan tafsir ini bukanlah perbedaan yang mendasar, karena dua tafsiran yang baru saja disebutkan dan tafsiran -tafsiran yang lain saling berdekatan substansinya. Karena jika kita membaca potongan ayat yang dibaca Nabi selanjutnya, di sana terdapat larangan Allah berpecah-belah pada kita. Dari larangan ini, al-Tsa’labi berkesimpulan, bahwa yang dimaksud dengan perpecahan yang dilarang Nabi adalah perpecahan yang di dalamnya sama sekali tidak terdapat toleransi. Al-Tsa’labi mencontohkan perpecahan yang dilarang Nabi sebagaimana perpecahan yang membawa fitnah dan perpecahan dalam masalah akidah. Perpecahan ini jelas kontra produktif dengan makna jama’ah itu sendiri. Baca lebih lanjut

Mengenal Ayat – Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat


Untuk memahami tema ini sebagaimana mestinya, harus diketahui terlebih dahulu bahwa di dalam Al Qur’an terdapat ayat-ayat muhkamat dan ayat-ayat mutasyabihat. Allah ta’ala berfirman :

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
(سورة آل عمران : 7)

Artinya : Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur’an) kepada Muhammad. Di antara isi)nya ada ayat-ayat muhkamat, itulah Umm Al Qur’an (yang dikembalikan dan disesuaikan pemaknaan ayat-ayat al Qur’an dengannya) dan yang lain ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya sesuai dengan hawa nafsunya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya (seperti saat tibanya kiamat) melainkan Allah serta orang-orang yang mendalam ilmunya mengatakan : “kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu berasal dari Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran darinya kecuali orang-orang yang berakal” (Q.S. Al Imran : 7)

Ayat-ayat Muhkamat : ayat yang dari sisi kebahasaan memiliki satu makna saja dan tidak memungkinkan untuk ditakwil ke makna lain. Atau ayat yang diketahui dengan jelas makna dan maksudnya. Seperti firman Allah :

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ (سورة الشورى : 11)

Artinya : Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya)“. (Q.S. asy-Syura: 11)

وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (سورة الإخلاص : 4)

Artinya : Dia (Allah) tidak ada satupun yang menyekutui-Nya“. (Q.S. al Ikhlash : 4)

هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا (سورة مريم : 65)

Artinya : Maknanya: “Allah tidak ada serupa bagi-Nya“. (Q.S. Maryam :65)

Ayat-ayat Mutasyabihat : ayat yang belum jelas maknanya. Atau yang memiliki banyak kemungkinan makna dan pemahaman sehingga perlu direnungkan agar diperoleh pemaknaan yang tepat yang sesuai dengan ayat-ayat muhkamat. Seperti firman Allah :

 الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
(سورة طه : 5)

إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ (سورة فاطر : 10)

Makna ayat kedua ini adalah bahwa dzikir seperti ucapan لآ إله إلّا اللهakan naik ke tempat yang dimuliakan oleh Allah, yaitu langit. Dzikir ini juga akan mengangkat amal saleh.

Pemaknaan seperti ini sesuai dan selaras dengan ayat muhkamat لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْء (سورة الشورى 11) Jadi penafsiran terhadap ayat-ayat mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat muhkamat. Ini jika memang berkait dengan ayat-ayat mutasyabihat yang mungkin diketahui oleh para ulama. Sedangkan mutasyabih (hal yang tidak diketahui oleh kita) yang dimaksud dalam ayat وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ (سورة آل عمران : 7) Menurut bacaan waqaf pada lafzh al Jalalah الله adalah seperti saat kiamat tiba, waktu pasti munculnya Dajjal, dan bukan mutasyabih yang seperti ayat tentang istiwa’ ( Q.S. Thaha : 5). Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW bersabda :

اعملوا بمحكمه ، وآمنوا بمتشابهه (حديث ضعيف ضعفا خفيفا)

Artinya :Amalkanlah ayat-ayat muhkamat yang ada dalam Al Qur’an dan berimanlah terhadap yang mutasyabihat dalam Al Qur’an“. Artinya jangan mengingkari adanya ayat-ayat mutasyabihat ini melainkan percayai adanya dan kembalikan maknanya kepada ayat-ayat yang muhkamat. Hadits ini dla’if dengan kedla’ifan yang ringan.

Baca lebih lanjut

ADAKAH MUJTAHID DIMASA KINI ?


Seiring dengan kemajuan zaman, sering kita jumpai manusia-manusia yang mengabaikan, memandang sebelah mata dalam arti tidak mau mengakui keberadaan Madzahibul Arba’ah. Bahkan secara eksplisit mereka berani memploklamirkan diri sebagai golongan yang memiliki potensi dan layak menyandang title mujtahid mutlak. Mereka berkeyakinan mampu memutuskan permasalahan-permasalahan agama yang dihadapi dengan hanya berpegang pada Al Qur’an dan Al Hadits menurut interpretasi yang mereka miliki. Hal ini sesuai dengan slogan yang sering di gembor-gemborkan oleh Ibnu Taimiyah dan para pengekornya “Marilah kita kembali pada Al Qur’an dan Al Hadits, Marilah kita buka kembali pintu ijtihad dan marilah kita buang jauh-jauh pintu taqlid”. Slogan ini kemudian di dengungkan oleh orang-orang yahudi yang beratribut Islam(22)

Baca lebih lanjut

SIAPAKAH YANG BERHAK MENYANDANG AHL AS-SUNNAH WAL ‎JAMAAH ‎?


A. ISTILAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

Setelah mengetahui makna dari masing-masing lafadz Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah, ‎perlu diketahui bahwa kata Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah ialah lafadz yang digunakan oleh ‎para Ahli Hadits, Sufiyyah, Asy’ariyyah, dan maturidiyah sebagai nama dari kepribadian ‎mereka. Sebab mereka meyakini bahwa apa yang mereka lakukan sejalur dengan ajaran ‎Rasulullah SAW dan para sahabatnya, hanya saja seiring perjalanan waktu, nama ini menjadi ‎simbol bagi para pengikut ke empat golongan tersebut. Sehingga sewaktu nama ini di ‎ucapkan secara mutlak maka dipastikan hanya terarah pada mereka. Keterangan ini di ‎kutip dari kitab Ittihafus Sadah pada permulaan bab Ar – risalah Al – qudsiyyah.‎ Baca lebih lanjut

MENGENAL LAFADZ AL QUR’AN


LAFADZ DALAM GRAMATIKA ARAB

Menginterpretasi bahasa Al Qur’an sangat diperlukan penguasaan terhadap beberapa fan ilmu yang berkaitan dengan sastra yang ada dalam Al Qur’an, hal ini karena sastra Al Qur’an sangatlah tinggi dan tidak tertandingi. Pada hakikatnya ilmu-ilmu semacam Nahwu, Balaghoh, Arudh berasal dari Al Qur’an itu sendiri sehingga  tidak bias disangsikan bahwa salah satu syarat dalam menggali suatu hokum (ijtihad) dari Al Qur’an ataupun Al Hadits harus menguasai ilmu gramatika dan sastra arab. Oleh karena itu perlu menyisipkan sebuah pasal yang mengupas mengenai lafadz.

Dalam memahami suatu maqolah kadang tidak sesuai dengan kehendak orangnya, karena sangat mungkin tidak memperhatikan atau bahkan tidak tahu bentuk dari setiap lafadz sebuah maqolah, sehingga konsekwensinya tidak jarang akan terjadi kesimpangsiuran di antara kedua belah pihak, yang berbicara menghendaki arti majaz, namun pendengar mengartikan dengan makna yang lain. Hal itu dikarenakan ketidak tahuan tentang bentuk setiap kata, maka dari itulah sangat perlu sekali untuk mengetahui klasifikasi lafadz-lafadz musta’mal.

Dalam bentuk ilmu gramatika arab ada istilah lafadz yang memiliki arti  musta’mal dan lafadz yang memiliki arti muhmal. Dari keduanya yang bisa diklasifikasikan ialah lafadz yang musta’mal. Baca lebih lanjut

Aqidatul Awam, Wasiat Rosululloh SAW


Kitab Nazhom Aqidatul awam karangan Syech Ahmad al marzuqi bermula dari mimpi Syech Ahmad Marzuki  pada malam jumat pertama di bulan Rajab tahun 1258  yang bertemu dengan Rosululloh saw dan para sahabatnya, dalam mimpi tersebut Rosululloh saw berkata kepada Syech Ahmad al marzuki “Tulislah Nadzhom Tauhid “  barang siapa yang menghafalnya dia akan masuk kedalam surga dan mendapatkan segala macam kebaikan yang sesuai dengan Al quran dan Sunnah .” Syech Ahmad marzuki pun bingung dan bertanya kepada Rosululloh saw ” Nadzhom apa ya Rosululloh..??. Para sahabat menjawab ” Dengarkan saja apa yang akan Rosululloh saw ucapkan ” . Nabi Muhammad saw berkata ” Ucapkan..

أبـْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ والـرَّحْـمَنِ

Maka Syech Ahmad Marzukipun mengucapkan

أبـْـدَأُ بِـاسْمِ اللهِ والـرَّحْـمَنِ

Sampai dengan akhir Nadzhom yaitu

وَصُحُـفُ الـخَـلِيلِ وَالكَلِيمْ

فِيهَـا كَلامُ الْـحَـكَمِ الْعَلِيمْ

Nabi Muhammad saw pada saat itu mendengarkan bacaan Syech Ahmad almarzuki, maka saat itupula Syech Ahmad al marzuki terbangun dari tidurnya dan Beliau baca apa apa yang terjadi dalam mimpinya, dan ternyata Nadzhom tersebut telah terekam rapih dari awal sampai akhir nadzhom.

Nadzhom tauhid yang telah diberikan Rosululloh kepada Syech Ahmad marzuki , beliau tuangkan dalam sebuah kitab yang diberi nama “Aqidatul Awam” ( Aqidah untuk orang awam ) . Selang beberapa waktu lamanya Syech Ahmad Al marzuki bermimpi kembali bertemu dengan Rosululloh saw , dan Rosululloh saw berkata ” Bacalah apa yang telah kau kumpulkan di hatimu ( pikiranmu)”, lalu Syech Ahmad Marzuki berdiri membacanya dari awal sampai akhir Nadzhom  dan para Sahabat rosululloh di samping nabi muhammad saw mengucapkan “Amiin” pada setiap bait bait nadzhom ini dibacakan . Setelah selesai Syech Ahmad Marzuki menyelesaikan bacaanya, nabi Muhammad saw bekata kepadanya dan mendokannnya:” Semoga Alloh memberimu Taufiq kepada hal-hal yang menjadi Ridho-Nya dan menerimanya itu darimu dan memberkahi kamu dan segenap orang mukmin dan menjadikannya berguna kepada Hamba hamba Alloh swt amiinn”. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: