LEGITIMASI AHLISSUNAH WAL JAMAH

Kerangka

1.Mulai kapan “nama” ahli sunah muncul?

2.Siapakah mereka ?

3.Arti Penting mengikuti jamaah

4.Masalah tauhid adalah ijtihadi, maka di sana memungkinkan adanya perbedaan, di sinilah ijma’ menjumpai titik urgensinya.


Perpecahan umat Islam menjadi beberapa aliran, sebenarnya sudah diramalkan oleh Nabi dalam hadits-hadits yang banyak diriwayatkan para muhadditsin.[1] Diantaranya hadits yang diriwayatkan Imam Anas bin Malik yang berbunyi:

قال أن بني إسرائيل افترقوا على إحدى وسبعين فرقة وأن أمتي   ستفترق   على اثنين وسبعين فرقة كلها في النار إلا واحدة فقيل يا رسول الله وما هذه الواحدة قال فقبض يده وقال الجماعة وقرأ واعتصموا بحبل الله جميعا

Nabi bersabda: ” Sesungguhnya Bani Israil akan terpecah menjadi 71 (tujuh puluh satu) golongan. Dan sesungguhnya umatku akan terpecah menjadi 72 (tujuh puluh dua) golongan. Semuanya akan masuk ke dalam neraka kecuali satu golongan. Kemudian para sahabat bertanya: ” Siapakah golongan yang selamat itu wahai Rosulullah?” Seraya  menggenggam tangan Anas bin Malik, Nabi menjawab: Mereka adalah jama’ah[2]. Kemudian Nabi membacakan ayat –yang berarti –  berpegang teguhlah kalian semua pada tali Allah.

Apakah tali allah itu? Dan siapakah jamaah yang dimaksud Rosulullah? Menyikapi peristiwa ini, para ulama berbeda pendapat tentang apa yang dimaksud dengan tali Allah. Qatadah ra. dan yang lainnya menafsiri tali Allah – sebagai sesuatu yang    diperintahkan untuk selalu kita pegang teguh –. Tafsir inilah yang sesuai dengan apa yang diriwayatkan Imam Abu Sa’id al-Khudri.

Sementara, Ibnu Zaid menafsiri  tali Allah sebagai agama Islam. Namun, menurut al-Tsa’labi, perbedaan tafsir ini bukanlah perbedaan yang mendasar, karena dua tafsiran yang baru saja disebutkan dan tafsiran -tafsiran yang lain saling berdekatan substansinya. Karena jika kita membaca potongan ayat yang dibaca Nabi selanjutnya, di sana terdapat larangan Allah berpecah-belah pada kita. Dari larangan ini, al-Tsa’labi berkesimpulan, bahwa yang dimaksud dengan perpecahan yang dilarang Nabi adalah perpecahan yang di dalamnya sama sekali tidak terdapat toleransi. Al-Tsa’labi mencontohkan perpecahan yang dilarang Nabi sebagaimana perpecahan yang membawa fitnah dan perpecahan dalam masalah akidah. Perpecahan ini jelas kontra produktif dengan makna jama’ah itu sendiri.

Sedangkan perpecahan (baca: perbedaan) yang berhubungan dengan masalah-masalah fiqh (furu’iyyah) tidak termasuk domain yang dilarang Nabi. Bahkan, perbedaan  inilah yang dimaksud Nabi sebagai perbedaan yang membawa rahmat. Sebagai bukti dari pernyataan ini, dalam realitanya, memang banyak perbedaan-perbedaan tajam yang terjadi diantara para sahabat Nabi. Padahal mereka satu kata dan satu tujuan untuk melawan agama di luar Islam. Perbedaan masalah furu’iyyah yang tejadi diantara para sahabat Nabi ini adalah perbedaan umat beliau yang membawa rahmat. Maka menjadi jelaslah bahwa perpecahan dalam bidang akidah adalah hal yang sangat dilarang oleh Nabi. Sementara kita masih tetap mendapat toleransi dalam perbedaan yang berhubungan dengan masalah-masalah furu’iyyah.[3]

Dari analisa ini kita dapat menarik satu kesimpulan sementara, bahwa perbedaan yang berhubungan dengan masalah yang tidak prinsipil tidak akan mengeluarkan seseorang dari arti jama’ah yang dimaksud Nabi. Dengan kata lain perbedaan yang berkisar pada masalah furu’iyyah tidak dapat menjadi legitimasi akidah seseorang cacat.[4]

Untuk melacak siapakah yang dimaksud jama’ah ini, secara tegas Nabi bersabda: mereka adalah siapapun yang selalu berpegang teguh terhadap apa yang telah diajarkanku dan para sahabatku. Dari pernyataan ini, Nabi telah menunjukkan bahwa para sababat beliaulah yang berhak kita teladani dalam masalah tauhid. Hanya dalam diri merekalah tercermin pribadi-pribadi jama’ah yang tidak pernah berselisih paham dalam masalah akidah.

Bercermin pada kehidupan sehari-hari para sahabat, kita akan sampai pada kesimpulan bahwa yang yang dimaksud dengan jama’ah adalah orang yang tidak berbeda pandangan dan keyakinan dalam masalah akidah, menentukan baik dan buruk, syarat-syarat kenabian/kerasulan, hukum mencintai sahabat Nabi maupun hal-hal prinsip lain yang senada, dengan ahli kebenaran. Masalah-masalah hal inilah yang sering memantik pen-takfir-an antara satu aliran dengan aliran yang lain. Atau dengan kata lain, dalam hal inilah antara golongan yang satu dengan yang lain kerap kali berpecah belah sehingga mereka sudah tidak layak untuk disebut jama’ah.

Kehidupan sehari-hari para sahabat, seperti telah disinggung di muka, sangat jauh dari pen-takfir-an, mereka seia sekata dalam masalah akidah yang sangat esensial ini.

Menyikapi perpecahan yang terjadi dikalangan umat Islam, al-Qurthubi berkata: perpecahan – itu identik dengan – kehancuran. Sedangkan jamaah adalah faktor utama keselamatan. Perbedaan adalah hal yang pasti akan dan selalu dialami manusia, oleh karena itu. Namun ada batas tertentu yang dapat ditolerir dalam agama. Oleh karena itu, Ia setuju dengan apa yang dituturkan al-Tsa’labi, bahwa perbedaan yang dilarang Allah adalah perbedaan yang dapat memantik perpecahan.[5]

Dalam kitabnya, Imam Ibnu Katsir menandaskan, hadits-hadits yang menerangkan tentang perpecahan umat Islam menjadi berbagai aliran sangat banyak riwayatnya. Diantaranya adalah hadits yang berhubungan dengan ayat yang menerangkan tentang keadaan manusia kelak di hari kiamat.

Dalam ayat itu disebutkan, waktu itu manusia terbagi menjadi dua golongan, yaitu manusia yang bersinar wajahnya dan manusia yang wajahnya buruk menghitam. Dari ayat inilah ditemukan tafsiran Ibnu Abbas, mengenai siapakah dua golongan tadi. Ibnu Abbas menafsirkan dengan tafsiran yang sangat gamblang. Menurutnya, mereka yang berseri-seri wajahnya kelak di hari kiamat adalah ahli sunnah wal jama’ah, dan yang dimaksud dengan orang-orang yang menghitam wajahnya adalah ahli bid’ah dan ahli firqah.[6]

Dari tafsir yang dikemukakan Ibnu Abbas ini kita dapat menyimpulkan bahwa sebenarnya nama ahli sunnah wal jama’ah sudah ada sejak zaman sahabat nabi, namun belum resmi dan perlu menjadi sebuah nama tersendiri untuk membedakan dengan aliran lain. Namun pada saat yang lain, yakni pada saat umat Islam terpecah belah, nama ini baru diperlukan untuk melegitimasi aliran ini, sekaligus untuk membedakan ahlussunah waljama’ah dari aliran-aliran lain.

Menurut Syaikh Hasyim Asy’ari, yang menukil pendapat Al-Syihab al-Khofaji dalam kitabnya Nasim al-Riyadl, yang dimaksud dengan golongan yang selamat (firqah najiyah) adalah Ahlussunah wal-Jama’ah. Lebih tegas lagi bahwa mereka adalah Abu al_hasan al-Asy’ari dan jama’ahnya.

Ketika ditanya apakah jumlah 73 ini dapat diketahui secara pasti, Abu al-Faraj al-Juzi menjelaskan, bahwa yang mereka ketahui hanyalah perpecahan yang terjadi dan hal-hal prinsip (ushul) yang menjadikan mereka berpecah belah. Dalam berkembangannya setiap golongan yang berpecah belah terus mengalami dinamisme dalam beberapa sekte, oleh karena itu secara jujur ulama mengakui, nama–nama aliran tentu dapat terus berubah sesuai dengan peralihan generasi dan perpindahan tempat.

قال أبو الفرج الجوزي فإن قيل هذه الفرق معروفة فالجواب أنا نعرف الإفتراق وأصول الفرق وأن كل طائفة من الفرق انقسمت إلى فرق وإن لم نحط بأسماء تلك الفرق ومذاهبها فقد ظهر لنا من أصول الفرق الحرورية والقدرية والجهمية والمرجئة والرافضة والجبرية وقال بعض أهل العلم أصل الفرق الضالة هذه الفرق الست وقد انقسمت كل فرقة منها اثنتي عشرة فرقة فصارت اثنتين وسبعين فرقة

تحفة الأحوذي ج: 7 ص: 332

 باب ما جاء في افتراق هذه الأمة    قوله تفرقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة أو اثنتين وسبعين فرقة شك من الراوي ووقع في حديث عبد الله بن عمرو الاتي وإن بني إسرائيل تفرقت على اثنتين وسبعين ملة شك والنصارى مثل ذلك أي أنهم أيضا تفرقوا على إحدى وسبعين فرقة أو ثنتين وسبعين فرقة وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة المراد من أمتي الإجابة      وفي حديث عبد الله بن عمرو الاتي كلهم في النار إلا ملة واحدة وهذا من معجزاته صلى الله عليه وسلم لأنه أخبر عن غيب وقع      قال العلقمي قال شيخنا ألف الامام أبو منصور عبد القاهر بن طاهر التميمي في شرح هذا الحديث كتابا قال فيه قد علم أصحاب المقالات أنه صلى الله عليه وسلم لم يرد بالفرق المذمومة المختلفين في فروع الفقه من أبواب الحلال والحرام وإنما قصد بالذم من خالف أهل الحق في أصول التوحيد وفي تقدير الخير والشر وفي شروط النبوة والرسالة وفي موالاة الصحابة وما جرى مجرى هذه الأبواب لأن المختلفين فيها قد كفر بعضهم بعضا بخلاف النوع الأول فإنهم اختلفوا تكفير ولا تفسيق للمخالف فيه فيرجع تأويل الحديث في افتراق الأمة إلى هذا النوع من الاختلاف      وقد حدث في آخر أيام الصحابة خلاف القدرية من معبد الجهني وأتباعه ثم حدث الخلاف بعد ذلك شيئا فشيئا إلى أن تكاملت الفرق الضالة اثنتين وسبعين فرقة والثالثة والسبعون هم أهل السنة والجماعة وهي الفرقة الناجية انتهى باختصار يسير     قوله وفي الباب عن سعد وعبد الله بن عمرو وعوف بن مالك أما حديث سعد فلينظر من أخرجه وأما حديث عبد الله بن عمرو فأخرجه الترمذي بعد هذا الحديث


[1]  Dengan redaksi yang sedikit berbeda, al-Turmudzi juga meriwayatkan hadits yang statusnya shahih;

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال تفرقت اليهود على إحدى وسبعين فرقة أو اثنتين وسبعين فرقة والنصارى مثل ذلك وتفترق أمتي على ثلاث وسبعين فرقة قال الترمذي هذا حديث صحيح. Dalam hadits ini umat Islam diramalkan akan terpecah dalam 73 (tujuh puluh tiga) golongan.

[2]  Hal ini juga sesuai dengan apa yang ditafsiri Ibnu al-Mubarok.

[3]  Tafsir al-Tsalabi I/ 295

[4]  Tafsir al-Qurthubi XXII/130

[5]  Tafsir al-Quthubi  IV/159

[6]  Tafsir Ibnu Katsir, I/391. Walaupun ada tafsiran yang sedikit berbeda dengan tafsir Ibnu Abbas, yang menyatakan bahwa orang-orang yang menghitam wajahnya adalah orang-orang munafiq (hipokrit), sebagaimana yang ditafsirkan Hasan Al-Bashri. Namun tafsir ini tidak jauh substansinya dengan tafsir Ibnu Abbas, karena orang munafik juga layak mendapatkan ancaman yang disebutkan dalam ayat ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: