Pengalaman Spiritual Syaikh Izzuddin Ibn Abdis Salam

Imam Sya’roni memberikan penjelasan yang beliau nuqil dari Syaikh Izzuddin Ibn Abdis ‎Salam “Karomah (khowariqul Adah) merupakan salah satu bukti kongkrit bahwasannya ‎para sufi menjalani prinsip dasar agama secara optimal yang mana hal ini tidak terjadi pada ‎fuqoha’ (ahli fiqih) kecuali jika mau menempuh jalan yang telah dilalui oleh para sufi”. ‎Statement ini beliau (Syaikh Izzuddin Ibn Abdis Salam) nyatakan setelah beliau berguru ‎pada Syaikh Abu Hasan As Syadzily.‎

Sebelum menjadi murid Syaikh Abu Hasan As Syadzily, beliau mengingkari jalan yang ‎ditempuh oleh para sufi sembari berkomentar “Apakah wusul (sampai) kepada Allah SWT ‎bisa ditempuh dengan selain Al Qur’an dan As Sunnah”. Namun setelah beliau ‎merasakan apa yang telah di alami oleh para sufi dan beliau mampu mematahkan rantai ‎yang terbuat dari besi dengan hanya menggunakan secarik kertas dimana ini merupakan ‎salah satu karamah yang di anugerahkan oleh Allah SWT kepadanya, maka barulah beliau ‎membenarkan dan memuji para sufi setinggi langit.‎

Semua uraian di atas merupakan hakikat tasawuf dan biografi para shadiqin dari kaum ‎sufi.‎

Akan kami bahas mengenai orang-orang yang mengklaim dirinya sebagai seorang sufi yang ‎hanya menampakkan atribut-atribut kesufiannya dan sebagainya, karena sesungguhnya ‎mereka hanya mengaku-ngaku saja dan tidak memenuhi syarat untuk menempuh jalan ‎sufiyyah.‎

Telah maklum adanya bahwa bila suatu perbuatan tidak memenuhi persyaratan maka ‎perbuatan tersebut tidak di anggap sah. Semisal shalat, tidak bisa di anggap sah apabila ‎yang mengerjakannya dengan tanpa adanya wudlu’. Sehingga merupakan kesalahan besar ‎apabila para sufi disamaratakan dengan para pendusta yang bisanya cuma mengklaim ‎bahwa dirinya adalah ahli sufi. Hal ini sama artinya menghukumi sesuatu dengan yang lain ‎seperti halnya orang yang melihat gambar yang terpampang di dinding kemudian ia ‎berkata “Ini kuda (sambil menunjuk pada gambar tersebut), setiap kuda dapat meringkik, ‎maka kesimpulannya gambar kuda yang terpampang di dinding bisa meringkik juga”. ‎Analogi semacam ini dinamakan Sabsathoh, yaitu qiyas yang terbentuk dari beberapa ‎qadliyah kadzibah, yang biasanya digunakan oleh orang-orang yang mengingkari terhadap ‎para sufi untuk mengelabuhi terhadap orang yang tidak mengerti ilmu logika. Bahkan ‎merupakan kekeliruan bila saufiyyah diatasnamakan bagi orang-orang yang mengklaim ‎bahwa dirinya sebagai ahli tasawwuf. Karena memvonis sesuatu yang bersifat kulli (global) ‎dengan hukum ba’di (sebagian). Hal ini laksana seorang yang melihat buaya sedang ‎menggerakkan rahang bagian atasnya, kemudian ia berinisiatif bahwa hal itu merupakan ‎karakter dari seekor binatang, kemudian iapun menyimpulkan bahwa setiap bianatang ‎pasti menggerakkan rahang atasnya ketika sedang melahap mangsanya.‎

Kesimpulan tersebut bagi yang sedikit bernalar tentu akan menyalahkan analogi semacam ‎ini. Analogi di atas juga di aplikasikan pada suatu kejadian disaat seseorang melihat orang ‎gila kemudian ia berkata “Ini orang gila, sedang ia manusia” kemudian ia menyimpulkan ‎‎“bahwa setiap manusia itu gila” maka tidak diragukan lagi bahwa dirinyalah yang gila.‎

Ulasan di atas cukuplah kiranya dijadikan jawaban dan bukti bagi orang-orang yang ‎mendapat taufiq dari Allah SWT, lain halnya bagi orang yang keras kepala dan tidak ‎mendapatkan hidayah dari Allah SWT, mereka tidak mau menerima dalil, hujjah ataupun ‎bukti-bukti kongkrit. Bahkan semua itu mereka anggap sebagai pemanis bibir dan penghias ‎kata untuk mengelabuhi masyarakat awwam.‎

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: