MENGENAL LAFADZ AL QUR’AN

LAFADZ DALAM GRAMATIKA ARAB

Menginterpretasi bahasa Al Qur’an sangat diperlukan penguasaan terhadap beberapa fan ilmu yang berkaitan dengan sastra yang ada dalam Al Qur’an, hal ini karena sastra Al Qur’an sangatlah tinggi dan tidak tertandingi. Pada hakikatnya ilmu-ilmu semacam Nahwu, Balaghoh, Arudh berasal dari Al Qur’an itu sendiri sehingga  tidak bias disangsikan bahwa salah satu syarat dalam menggali suatu hokum (ijtihad) dari Al Qur’an ataupun Al Hadits harus menguasai ilmu gramatika dan sastra arab. Oleh karena itu perlu menyisipkan sebuah pasal yang mengupas mengenai lafadz.

Dalam memahami suatu maqolah kadang tidak sesuai dengan kehendak orangnya, karena sangat mungkin tidak memperhatikan atau bahkan tidak tahu bentuk dari setiap lafadz sebuah maqolah, sehingga konsekwensinya tidak jarang akan terjadi kesimpangsiuran di antara kedua belah pihak, yang berbicara menghendaki arti majaz, namun pendengar mengartikan dengan makna yang lain. Hal itu dikarenakan ketidak tahuan tentang bentuk setiap kata, maka dari itulah sangat perlu sekali untuk mengetahui klasifikasi lafadz-lafadz musta’mal.

Dalam bentuk ilmu gramatika arab ada istilah lafadz yang memiliki arti  musta’mal dan lafadz yang memiliki arti muhmal. Dari keduanya yang bisa diklasifikasikan ialah lafadz yang musta’mal.

KLASIFIKASI LAFADZ-LAFADZ MUSTA’MAL

            Lafadz musta’mal secara keseluruhan digolangkan menjadi dua, Hakikat dan Majaz, kemudian masing-masing dari keduanya di bagi menjadi tiga :

  • Lughowi
  • Syar’i
  • Urfi

Sedangkan Urfi di bagi lagi menjadi dua, yaitu Urfi Khos (khusus) dan Urfi ‘Am (umum). Kesimpulannya masing-masing dari lafadz hakikat dan majaz memiliki empat bentuk yaitu :

a. Hakikat Lughowi                                         a. Majaz Lughowi

b. Hakikat Syar’I                                             b. Majaz Syar’i

c. Hakikat Urfi Khos                                       c. Majaz Urfi Khos

d. Hakikat Urfi ‘Am                                        d. Majaz Urfi ‘Am

DEFINISI

Hakikat adalah lafadz yang digunakan untuk menunjukan makna asal seperti lafadz أسد  (macan) dan قمر (rembulan), شمس (matahari).

Keterangan:

Dalam memahami makna lafadz hakikat tidak butuh pada qorinah (tanda), karena memang lafadz tersebut tidak menyimpang dari makna yang semestinya. Dengan demikian, lafadz lafadz yang mempunyai dua arti atau lebih (musytarok) tergolong lafadz hakikat, karena semua makna dari lafadz yang musytarok adalah asal. Kendatipun tetap harus adanya suatu qorinah ketika menghendaki salah satu dari makna lafadz musytarok. Namun qorinah tersebut difungsikan untuk menentukan salah satu arti yang dikehendaki, bukan untuk membelokkan lafadz dari makna sebenarnya. Lain halnya dengan qorinah lafadz majaz yang memang difungsikan untuk membelokkan lafadz dari makna yang sebenarnya. Contoh semisal lafadz Ainun, diantara maknanya adalah mata air, mata, matahari atau benda yang lain. lafadz Qor’u bias diartikan suci atau haidl.

Majaz adalah: Lafaddz yang digunakan untuk menunjukkan makna yang bukan asal (makna yang tidak semestinya dimiliki) dikarenakan adanya suatu hubungan (alaqoh) diantara makna asal dengan makna lain serta adanya qorinah yang menuntut untuk dikehendaki makna lain seperti lafadz رأيت أسدا يتكلّم  , lafadz أسدا pada contoh ini merupakan majaz karena makna yang dikehendaki bukan binatang buas melainkan lelaki pemberani. Berikut ini beberapa alasannya :

  1. Karena adanya alaqoh atau persamaan antara أسد dan رجل شجاع yakni keduanya sama dalam sifat keberaniannya.
  2. Karena adanya qorinah lafdziyah yaitu lafadz يتكلّم yang menuntut untuk dikehendaki arti lain yang bukan asal, karena secara rasio tidak mungkin binatang dapat bicara.

 

Keterangan:

Lughowi          : Lafadz yang dicetak oleh ahli lughot (bahasa)

Syar’i               : Lafadz yang dicetak oleh ahli syar’i

Urfi                 : Lafadz yang dicetak oleh ahli urfi

Urfi Khos        : Lafadz yang dipindah dari arti lughot oleh golongan tertentu

Urfi ‘Am         : Lafadz yang dipindah dari arti lughot oleh golongan umum

Urfi khos dalam prakteknya ketika digunakan oleh ahli syar’i untuk sebuah makna tertentu maka lafadznya akan disebut sebagai lafadz syar’i seperti contoh تراويح untuk menunjukkan sholat tertentu.

CONTOH – CONTOH

  1. Hakikat dan Majaz Lughowi

Seperti lafadz أسد yang dicetak secara lughot untuk menunjukkan binatang buas. Maka ketika di artikan untuk lelaki pemberani lafadz tersebut disebut majaz lughowi.

  1. Hakikat dan Majaz Syar’ie

Seperti lafadz صلاة yang dicetak oleh syar’I untuk menunjukkan makna ibadah yang telah ditentukan. Ketika di artikan do’a maka lafadz صلاة dinamakan majaz syar’i.

  1. Hakikat dan Majaz Urfi Khos

Seperti lafadz فعل yang dibuat oleh golongan ulama nahwu untuk menunjukkan arti zaman dan pekerjaan. Ketika lafadz tersebut dikehendaki makna pekerjaan maka disebut majaz urfi khos.

  1. Hakikat dan Majaz Urfi ‘Am

Seperti lafadz دابّة yang telah dibuat oleh golongan umum untuk menunjukkan makna binatang berkaki empat. Ketika digunakan untuk menunjukkan makna manusia maka lafadz tersebut disebut majaz urfi ‘am.

METODE MENGARTIKAN LAFADZ MUSTA’MAL

            Cara untuk mengetahui makna dari suatu lafadz ditinjau dari segi lughowi  syar’i dan ‘urfinya ialah dengan melihat kebiasaan orang yang mengucapkan lafadz tersebut, jika yang mengucapkan lafadz dari golongan ahli lughot maka wajib mengartikannya menurut kebiasaan mereka yaitu makna lughowi, begitu seterusnya.

Dengan demikian lafadz syar’i (lafadz-lafadz yang dibuat oleh Allah I untuk mengkhitobi orang-orang mukallaf) wajib di arahkan pada makna syar’i, kendatipun lafadz tersebut mempunyai arti urfi atau lughowi atau bahkan kedua-duanya, seperti lafadz صيام yang tercantum dalam firman Allah I meskipun memiliki makna lughowi yaitu imsak (menahan diri) secara mutlak, namun karena digunakan oleh Allah I yang statusnya adalah Syari’ ( Dzat yang membuat syari’at) maka wajib mengartikan lafadz tersebut sesuai makna syar’inya yaitu menahan diri dari sesgala sesuatu yang bias membatalkan puasa.

Diwajibkannya mengarahkan lafadz yang memiliki makna lughowi pada makna syar’i dikarenakan makna syar’i merupakan urfinya syari” (pembuat syari’at), sebab makna syar’i merupakan urfinya syari”.

 Catatan:

  1. Ketika suatu lafadz tidak memiliki makna syar’i atau memilikinya, hanya saja terdapat sesuatu yang memalingkannya dari makna tersebut, maka harus di arahkan pada makna urfi umum.
  2. Apabila tidak mungkin diartiakan secara urfi umum baik karena lafadznya tidak memiliki makna urfi umum atau memilikinya tapi ada sesuatu yang menghalangi untuk di artikan secara urfi umum, maka harus di arahkan pada makna lughowi dan tidak boleh menggunakan makna yang lain. Demikian pula lafadz-lafadz yang digunakan oleh ahli urfi khos, maka harus di di artikan sesuai dengan arti yang berlaku di kalangan ahli urfi tersebut, seperti ucapan ahli nahwu “ الفاعل مرفوع lafadz ini wajib di artikan sesuai makna yang telah diketahui dalam ilmu nahwu.

Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya, yakni wajib mengarahkan suatu lafadz pada urfinya mutakallim (orang yang berbicara), maka perlu diketahui bahwa lafadz sunnah memiliki banyak arti, dalam hal ini ada beberapa persepsi yang dikemukakan oleh para ulama terkemuka, diantaranya :

  • Imam Majduddin Muhammad Ibni Ya’qub Al Fayruzzabadi As Syairosi dalam kitabnya yang bernama Kamus Muhith menuturkan “ Lafadz sunnah memiliki beberapa makna, di antaranya adalah wajah, pipi, bulat wajah, bentuk wajah, kening, perilaku, karakter dan jenis kurma yang ada di Madinah. Sunnah ketika di nisbatkan kepada Allah I bisa di artikan hukum, printah dan larangan”.
  • Sayyid Murtadlo Azzabidi dalam kitab Ittihafus sadah syarah Ihya Ulumuddin mengutarakan “ Sunnah ialah jalan yang ditempuh (Thoriqoh Nabawiyyah).

Sunnah secara therminology juga memiliki beberapa makna, di antaranya:

—       Perjalanan hidup Nabi Muhammad r

—       Suatu hukum yang ketika dilakukan akan mendapatkan pahala, dan tidak disiksa apabila ditinggalkan

Lafadz Jama’ah secara etimologi adalah lafadz yang menunjukkan suatu kumpulan dari tiga individu atau lebih seperti contoh جماعة الناس (golongan manusia), جماعة الطير (kumpulan burung), جماعة الظباء (komunitas kijang) dan lain-lain.

Sedangkan secara therminologi lafadz جماعة memiliki beberapa makna, di antaranya :

—       Bentuk shalat yang terdapat suatu hubungan antara imam dan makmumnya dengan memenuhi beberapa criteria

—       Komunitas Muslim yang terdiri dari para ulama, para cendekiawan yang kesemuanya sepakat mengikuti seorang Imam yang terpilih dengan memenuhi beberapa criteria yang sudah tercantum dalam konteks Hadits:

من فارق الجماعة شبرا فمات فميتته ميتة جاهلية   –   رواه مسلم

Artinya : Barangsiapa yang memisahkan diri dari komunitas dengan sejengkal kemudian meninggal, maka kematiannya dihukumi seperti matinya orang jahiliyyah

HR Imam Muslim

والله أعلم بالصواب

i

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: