Khatamun Nubuwah (Nabi Penutup)

KHATAMUN NUBUWAH (NABI PENUTUP)

Konsep Khatamun Nubuwah (Nabi Penutup) yaitu Muhammad SAW adalah dasar Iman yang tidak bisa ditawar-tawar. Tidak ada tafsiran apapun tentang dasar keimanan ini. Penyelewengan terhadap dasar pokok ini akan membawa risiko yang sangat fatal dalam Islam. Dr. Muhammad Iqbal, seorang ilmuan terkemuka Pakistan dengan tegas mengatakan : “Masyarakat mana saja yang mengaku adanya nabi penutup selain Muhammad SAW dan mengaku sebagai umat Islam, mereka adalah kafir.

Karena itu setiap Muslim berkewajiban menghadapinya sebagai ancaman yang sangat serius terhadap persatuan Islam. Prinsip Khatamun Nubuwah menjadi kemustian yang menopang sendi-sendi kehidupan umat Islam.

Diutusnya Nabi dan Rasul oleh Allah SWT adalah kemustian hukum, karena dengan cara itu manusia dituntun kepada jalan yang benar, sesuai dengan janji Allah SWT kepada Adam AS, ketika diturunkan kemuka bumi (Al-Baqarah 38). Karena keimanan kepada Nabi Muhammad SAW adalah salah satu ajaran pokok, maka pengingkaran terhadap dasar pokok ini dikategorikan kafir.

Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul penutup dibuktikan dengan ajarannya yang sempurna, komprehensif, terakhir mencakup seluruh aspek hidup manusia, sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat An-Nahl 89. Dan Al-Qur’an, yaitu kitab suci yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW diturunkan dengan bahasa yang jelas, uraian yang sempurna, keterangan yang nyata, tepat sasaran, dan menjawab seluruh kebutuhan manusia dan dicontohkan langsung oleh Rasulullah SAW. Dengan kesempurnaan kitab suci ini, maka tidak memerlukan lagi adanya kitab suci yang baru, karena itu pula tidak diperlukan adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW.

Keimanan kepada Khatamun Nubuwah adalah fundamental, dan menjadi pondasi yang kuat yang padanya berdiri bukan hanya struktur metafisika Islami tetapi bangunan seluruh kehidupan umat. Prinsip ini dipertegas lagi dengan firman Allah SWT surat Al-Ahzab 40, dan hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Sahabat Anas bin Malik RA. Seluruh ahli tafsir sepakat bahwa dengan ayat dan hadits ini maka kenabian telah ditutup. Karena itu, kalau ada yang nengaku-ngaku sebagai nabi atau rasul maka orang tersebut adalah nabi atau rasul palsu, sesat dan menyesatkan.

Abu Bakar Shiddiq RA, seorang yang sangat lembut, ketika menjadi khalifah pertama setelah wafatnya Rasulullah SAW, dan muncul orang-orang yang mengaku sebagai nabi yaitu Aswad Ansi, Musyailamah, Tulaiha dan Sajah, maka tidak ada toleransi, kecuali memaksa mereka untuk kembali taubat, tapi karena mereka tetap menolak maka peranggun tidak bisa dihindari. Musyailamah dan Aswad Ansi terbunuh, sedang Tulaihah kembali kepada Islam, dan Sajah kemudian memeluk Islam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: