Tasawuf, dari kesalehan pribadi menuju kesalehan sosial

Biarkan tanganmu sibuk

menunaikan tugas-tugas di dunia ini,

dan biarkan hatimu sibuk dengan Allah Swt. (Dzikir)

[Syeikh Muzaffer Ozak]

Zaman terus bergerak dengan cepat menuju titik kehancurannya. Kebashirahan Nabi suci Muhammad Saw. benar-benar terbukti, jauh-jauh hari nabi Muhammad telah bersabda ; akan datang suatu masa kerusakan, dimana kebanyakan manusia lebih bersifat ‘lupus’ ketimbang ‘humannya’. Banyak manusia yang tidak bisa ‘memanusiakan’ manusia, sekadar contoh, di awal tahun baru hijriah ini, kaum zionis telah memporak-porandakan rakyat sipil yang tak berdosa, serangkaian roket menghunjam ke pemukiman-pemukiman penduduk sipil palestina. Entah apa motif di belakang serangkaian serangan Israel terhadap rakyat palestina??. Sebagian orang yang katanya disebut sebagai ‘pengamat Timur Tengah’ menilai hal itu (serangan Israel) merupakan persoalan kemanusiaan, sebagian lain berpendapat bahwa itu merupakan persoalan agama, terlepas dari itu semua, yang jelas manusia sekarang ini sedang terserang penyakit kronis yakni shock modernisme.

Seakan manusia hidup tidak punya nurani, sebab dunia menjadi sesuatu yang lebih dicintainya. Kesuksesan dan kegagalan manusia diukur dari kadar keduniawian. Padahal nabi juga telah bersabda, bahwa asal dari segala kerusakan adalah sebab manusia terlalu menyanjung dunia. Sebagaimana kita saksikan saat ini, manusia berlomba-lomba untuk menjadi hartawan, tragisnya segala cara dilakukan demi tercapainya kedudukan, KKN begitu dahsyat merajalela, penindasan kaum elit atas kaum lemah menggejolak di mana-mana, semuanya tidak lain karena satu tujuan yakni dunia.

Nun jauh di sana, di pojok-pojok sepi, di saung-saung sunyi, manusia sufi dengan damainya menjalani kehidupan dalam suasana yang tentram, mereka tidak terjangkit ketamakan dunia, sebab hati mereka tak mengenal apa yang disebut dengan keserakahan duniawi.

Adalah tasawuf, sebuah terma yang selalu menarik untuk dikaji, apalagi di jaman yang mayoritas para penghuninya sudah tidak lagi ‘taat’ kepada sang Khaliq. Terma tasawuf dalam kamus ulama-ulama islam ada yang berpendapat bahwa kata tersebut merupakan derivasi dari kata baku shuf (kain tenunan bulu domba), sebab pakaian yang terbuat dari tenunan bulu domba menunjukkan kezuhudan seseorang. Ada pendapat lain yang mengatakan bahwa kata tasawuf berasal dari kata shaff (barisan). Ada juga yang menyatakan bahwa terma tasawuf dinisbatkan kepada ahli shuffah (santri-santri nabi Muhammad SAW) yang membersihkan hatinya dari dunia. Dan mereka lebih memilih tinggal di serambi masjid rasulullah SAW. Akan tetapi pendapat yang paling kuat berdasarkan analisa Al-Busthy (salah seorang guru besar Syadzaliyyah) adalah pendapat yang mengatakan, bahwa tasawuf berasal dari kata shafa’ (beningnya hati).

Kajian tasawuf selalu berkembang mengikuti perubahan zaman,dulu tasawuf difahami sebagai salah satu metode menuju keshalehan pribadi. Para sufi zaman klasik mengasingkan diri untuk mencapai derajat suluknya. Zuhud pada mulanya merupakan kebutuhan personal dan pengasingan diri dari masyarakat. Keluarnya seorang sufi dengan cara mengasingkan diri akan terkesan negatif, jika ia hanya keluar dan mencukupkan diri sampai disitu.

Memang, secara spiritual manusia pada saat-saat tertentu butuh untuk mengasingkan diri dari kehidupan sehari-hari, supaya manusia membuat jarak lagi dengannya (dunia) dan kita bisa melihat kehidupan dengan lebih benar, artinya pengasingan diri sangatlah dibutuhkan untuk muhasabah atau introspeksi diri.

Di jaman yang para penghuni dunianya sudah terjerembab dalam kubang kegermelapan duniawi, tasawuf menempati posisi yang tidak dapat dikesampingkan. Pada masa sekarang ini peran tasawuf ‘dipaksa’ untuk mengikuti dinamika perkembangan jaman. Tasawuf harus inheren dengan realitas sosial. Para penikmat dan pengkaji tasawuf mencoba memaknai tasawuf tidak hanya sebagai metode mencari dan menemukan kesalehan pribadi dengan melalui zuhud, namun juga sebagai usaha atau lebih tepatnya ‘jalan’ untuk mencapai kesalehan sosial. Tasawuf dalam teropong ini harus memiliki sisi praksis positif yang bisa meningkatkan kualitas hidup dan ikut ambil bagian dalam menyerukan kepada masyarakat untuk berperan aktif dalam memakmurkan dan mensejahterakan kehidupan masyarakat.

Ada sesosok sufi bernama Sayyid Ahmad Rajab al-Rawi yang membangun masjid bernama “al-Dzahab”. Tokoh ini keluar dari dunia (mengasingkan diri) untuk merubah dunia, bukan keluar dari dunia untuk menjustifikasi bahwa ‘dunia itu hina’. Dan ia memerangi kehinaan, kebodohan dan kesesatan dunia. Ia meniggalkan dunia untuk kebaikan dunia.Ia meninggalkan keramaian dunia dengan pergi ke tempat terpencil, ia ‘mengubah’ masjid menjadi tempat kegiatan belajar dalam sebuah desa kecil yang bernama Rawa. Dia mengumpulkan anak-anak dan menghapuskan buta huruf sehingga berubahlah desa tersebut dari desa ‘buta huruf’ menjadi ‘desa melek huruf’.

Penutup

Sudah selayaknya tasawuf ikut ambil bagian dalam memberantas problem-problem sosial masyarakat seperti kemiskinan, kebodohan dan lain-lain, dan tentunya juga tidak mengabaikan kesalehan pribadi, hal ini harus dimulai dengan peningkatan kualitas masyarakat, karena jika tidak demikian, maka sebuah disiplin ilmu (tasawuf) tidak akan memiliki nilai apa-apa bila tidak memiliki peran dalam ranah sosial.

WAllahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: