Ada Apa Dengan Cinta ( A2DC )Tela’ah singkat dari Perspektif FIQH

A2DC adalah film yang membangkitkan kembali gairah perfilman Indonesia,bahkan Film yang mengangkat kisah kasmaran anak muda ini tercatat mampu menarik perhatian kurang lebih 1000.000 pasang mata dalam waktu satu minggu,rekor yang sangat fantastis.Lalu bagaimana A2DC dari kaca mata fiqh ?

Cinta !! Sebuah istilah yang tidak bisa didefinisikan secara baku karena cinta adalah misteri ( intaha DEWA Bintang lima), yang jelas tanpa definisi pun orang yang pernah meng alaminya akan tahu dan merasakan apa sebenarnya cinta. .

Lalu bagaimana pandangan fiqh tentang cinta ?.

Secara Implisit tidak ada rumusan spesifik dalam Islam mengenai cinta ,namun penulis disini ingin menceritakan salah satu cerita cinta yang dialami oleh pemuka agama Islam.

Konon, sudah menjadi kebiasaan Rasulullah SAW .setelah salat ashar beliau mampir ke tempat istri-istriNya secara bergantian.Suatu ketika saat beliau berada di tempat siti Hafshah binti Umar Nabi disuguhi madu karena kebetulan siti Hafshah baru mendapatkan bisyarah dari temannya, karena memang kegemaran beliau mengkonsumsi madu maka beliau cukup kerasan berdiam lama ditempat siti Hafshah.

Di sisi lain, ternyata kejadian itu membuat Sayyidatina Aisyah risih dan cemburu, beliau mengorek informasi dan ahirnya tahu bahwa Nabi SAW. disana disuguhi madu. Mengetahui hal tersebut Siti Aisyah melobi istri-istri Nabi yang lain yakni Shofiyyah dan Saudah. Siti Aisyah berkata : “ Kalau Suami kita Nabi Muhammad mampir ketempat kalian katakanlah –Wahai Nabi !! apakah baginda baru makan Maghafir ( sejenis makanan manis tapi baunya kurang sedap )- niscaya beliau akan menjawab -Tidak,aku baru saja makan madu di tempat Hafshah- lalu katakanlah -Wahai Baginda !! mungkin madu itu dihasilkan dari lebah yang mengisap pohon ‘Urfuth ( pohon yang baunya kurang enak dan berbuah maghafir ) buktinya baunya kurang sedap- “dan ternyata skenario Aisyah diterima oleh Saudah dan Shofiyyah.

Ketika Nabi Muhammad SAW. mampir ketempat Aisyah, Shofiyyah dan Saudah, mereka mulai berakting sesuai skenario Aisyah dan hasilnya mujarab karena keesokan harinya Nabi SAW.tidak mau lagi minum madu yang dihidangkan Hafshah, beliau memang benci terhadap bau yang kurang sedap walaupun sesungguhnya madu itu tidak bau, walhasil Nabi tidak lama ketika mampir di tempat siti Hafshah.

Dari cerita diatas dapat di simpulkan bahwa sah-sah saja seseorang bercinta karena itu memang manusiawi dan terjadi kepada siapapun termasuk Siti Aisyah yang notabenenya telah mendapatkan jaminan masuk surga bahkan beliau mau mengelabui saingannya karena cemburu dan cintanya. Bahkan dalam rumusan fiqh di jelaskan bahwa salah satu penyebab mati sahid ahirat ( menda patkan pahala orang mati sahid di ahirat ) adalah orang yang mati karena cinta dan rindu kepada orang lain selama ia dengan cintanya tetap tidak melakukan hal-hal yang di larang agama seperti tidak pacaran berduaan ( Hulwah ) dsb. dan ia mampu menyimpan rasa cintanya sehingga ia tidak mengungkap kannya.

Jadi kalau di tanya “ Ada apa dengan Cinta ?“ jawabannya adalah “cinta adalah mati Syahid.”

Referensi :

– Shohih Al Bukhori
– Hasyiyah Al Bajuri
Opini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: