Dihempas Gelombang Cobaan

Menjelang tahun 1940, di usia sekitar 40 tahun Kyai Djazuli kian tampak kokoh sebagai seorang pemimpin dan prospek (masa depan) perjuangannya nampak cerah. Keluarga yang sudah dikaruniai beberapa orang putra itu tampak harmonis dan bahagia, walaupun untuk tempat tinggal beliau masih menumpang di rumah Pak Iskandar, kakaknya. Keadaan ekonomi keluarga inipun masih tetap melarat.

Tuhan memang maha kuasa. Dia mampu berbuat apa yang tak pernah diduga oleh akal manusia. Kyai Djazuli bersama Bu Nyai telah diuji dengan kemiskinan dan aneka kepahitan hidup, keluarganya itu tak mengeluh atau panik bahkan semakin taqorrub (mendekat) kepada Allah SWT. Sudah saatnya hamba yang sabar seperti itu diberikan kelonggaran ekonomi dan untuk selanjutnya diberikan cobaan lagi dalam bentuk yang berbeda, karena selama hidup seorang insan tak pernah kosong dari cobaan bahkan semakin tinggi kedudukan seseorang semakin tinggi pula cobaan yang datang menimpa ibarat sebatang pohon semakin tinggi menjulang semakin kencang pula angin datang menerpa.

Suatu hari Ibu Naib Utsman (Ibu Kyai Djazuli) menawarkan sepetak kebunnya untuk dibeli oleh Kyai Djazuli, mengingat anaknya yang satu ini tidak punya sejengkal tanah sama sekali, karena warisan ayahnya telah dijual habis ketika ia pergi haji seperti yang telah dikisahkan di depan. Kyai Djazuli merasa heran melihat sikap ibunya, kok menawarkan sepetak kebun kelapa. Apa yang bisa diharap untuk membayar, padahal untuk makan sehari hari saja masih sangat kekurangan. Setelah berunding dengan istrinya ternyata Ibu Nyai mempunyai pandangan yang cukup berani, rupanya beliau selalu punya harapan.

“Jangan dulu bilang tidak mampu”, kata beliau seakan akan minta tempo untuk berfikir dan berusaha. Kemudian Bu Nyai berangkat ke rumah nyonya Sinder seorang cina yang tinggal di samping utara gedung Al Falah II sekarang ini. Beliau sudah berhubungan baik dalam soal bisnis kecil kecilan dengan cina ini. Di situlah Bu Nyai mencritakan perihal penawaran kebun kelapa tersebut. “Aku ingin membelinya tetapi aku tak punya uang,” cerita beliau kepada Cina itu. Mungkin Nyonya Sinder bisa memberikan advis pengalaman bisnis atau menunjukkan jalan keluar.

Ternyata cina sipit itu bisa juga baik hati. Tidak bakhil seperti umumnya kaum Tionghoa. “Sanggupi saja “ kata Nyonya Sinder. “Apa untuk membayar?”, tanya Bu Nyai. “Beres, nanti saya beri ngutang”, tegas si Cina. “Tapi untuk melunasi hutang itu bagaimana … Nyonya? tanya bu Nyai lagi. “Hasil panen kelapa itu setiap musim setorkan pada saya, akhirnya akan beres”, tandas Nyonya Sinder penuh percaya tanpa minta borg (jaminan sertifikat).10)

Transaksi jual beli segera terjadi, hak milik dari kebun kelapa itu beralih ke tangan Kyai Djazuli. Anehnya sejak itu panen kelapa dari kebun tersebut semakin meningkat, sehingga tak lama kemudian hutang sudah dapat dilunasi. Dan itulah awal adanya kepastian untuk memperoleh rizki secara berkala. Kyai Djazuli dan Ibu Nyai bisa menarik nafas dengan longgar, fikiran dan tenaga bisa terkonsentrasi sepenuhnya untuk mengembangkan Pondok. Bahkan kegiatan kegiatan dakwah di luar pondok yang sudah dirintis sejak awal berdirinya NU dimana beliau menjabat Ketua Syuriyah di tingkat Kecamatan, kini semakin ditingkatkan. Sekitar 1938 beliau memulai kegiatan diba’an dan tahlilan keliling di desa desa, suatu kegiatan yang berfungsi ganda. Di samping untuk mempengaruhi masyarakat yang tengah diracuni oleh maksiat kegiatan-kegiatan tersebut bertujuan untuk memancing simpati mereka terhadap Pondok Pesantren.11)

Karena nama Kyai Djazuli yang tersohor banyaklah tamu dari berbagai kalangan datang ke rumah beliau sebagaimana lazimnya seorang pemimpin. Lebih lebih Kyai yang cinta kebersihan dan selalu tampil rapi ini sangat supel dan amat menghormati tamu tamunya. Semua itu telah mengangkat derajatnya menjadi seorang pemimpin informal yang disegani oleh kalangan luas di samping ke’alimannya sebagai seorang ‘Ulama tidak diragukan lagi.

Oleh karena itu pengaruhnya jauli melebihi pengaruh almarhum ayahnya. Ayahnya (Pak Naib Utsman) hanyalah seorang Naib, walaupun tergolong pemimpin masyarakat tetapi sifatnya formal, kewibawaannya sebatas tugas yang diembannya. Pemimpin formal tak punya pengaruh apa apa untuk masyarakat luas.

Maka wajarlah kalau mereka mereka yang mencintai pangkat, kedudukan dan gila hormat di wilayah Ploso merasa khawatir kalau peranannya akan tergeser. Begitu juga halnya dengan para pecandu kesenian, judi dan perzinahan tidak rela melihat pondok berkembang di Ploso, sebab lambat laun akan menyebabkan kegiatan mereka terhalang. Maka rasa iri liati dan dengki yang ada di hati mereka meledak diiringi sikap kasar dan brutal bila mereka mendengar kegiatan-kegiatan religius yang berlangsung di Pondok. Bila suara adzan mengalun dengan merdu, mereka menjawabnya dengan cacimaki dan umpatan. Pada waktu itu belum ada pengeras suara, yang dipergunakan adalah terompet yang terbuat dari seng. Kalimat Allahu akbar … allahu akbar dijawab oleh Pak Carik secara angkuh dengan kalimat ejekan asu bahung … asu bahung (anjing menyalak).12)

“Gusti Allah ora perlu kowe bengoki, krentek atimu bae wis ngerti”, (Tuhan tak perlu kau teriaki, bisikan hatimu saja sudah diketahuinya), begitu komentarnya dengan gaya pembahasan tasauf sebagaimana layaknya seorang santri. Sebenarnya dia termasuk seorang alumni Pondok Mantenan Blitar, bahkan ia sangat menguasai kitab Bidayatul Hidayah karya Imam Ghozali. Keberaniannya bergaul dalam lingkungan Ploso yang penuh dengan maksiat menyebabkan jalannya tergelincir sesat, sehingga menjadi mustib bagi kaum santri, suatu sikap yang berbalik 180º. Hal ini pantas untuk menjadi renungan bagi para satitri. Kiranya tak benar membanggakan status sebagai santri atau mempunyai nasab yang baik. Ini semua bukan jaminan untuk keselamatan menuju sorga, maka kewaspadaan perlu terus ditingkatkan lebih-lebih menghadapi jagat raya jagat raya yang semakin kacau digoncang arus globalisasi sekarang ini.

Kebrutalan dan penghinaan tidak berhenti sampai di situ, orang orang dengki tersebut kerapkali melempari santri santri pondok yang berjalan jalan melintasi kampung. Tiba tiba batu melayang tanpa ada sebab yang pasti. Dan permasalahan permasalahan kecil yang timbul antara santri dan masyarakat selalu diperuncing agar mereka bisa menimpakan segala kesalahan ke pihak pondok dan Kyainya sampai pernah terjadi Pak Kepala Desa membawa belati terhunus sambil berteriak teriak di depan Kyai yang sedang mutholaah hanya karena persoalan kecil yang tak ada buktinya. Dan masih banyak jenis teror yang lain yang mereka lancarkan.

Memang tragis, permusuhan terhadap pondok ini dipelopori oleh kalangan pimpinan seperti Kepala Desa, Carik (Sekretaris Desa), Kepala kepolisian dan tokoh tokoh masyarakat lainnya, hal ini bisa terjadi karena ideologi mereka tidak sama dengan pondok, karena mereka adalah orang orang beraliran nasionalis, abangan dan komunis. Bahkan adiknya Pak Kepala Desa waktu itu termasuk orang penting di jajaran partai komunis. la seorang pemuda ganteng yang menjadi anak emasnya Aidit (Tokoh PKI) karena begitu dekat hubungannya. la pernah diutus ke RRC karena kedudukannya sebagai seorang tokoh sentral yang dicanangkan untuk menjabat Gubernur jawa Timur apabila pemberontakan G 30/S PKI berhasil.13)

Karena itulah pada awal perkembangannya, Al Falah bersama segenap tokoh tokoh pejuangnya sangat merasakan betapa pahitnya cobaan yang melanda. Sering terjadi Pondok sudah siap untuk menyelenggarakan acara acara pentingnya semacam Haflah (resepsi) akhir tahun terpaksa harus gagal begitu saja karena tidak mendapatkan izin dari pemerintah setempat, begitu juga dengan surat surat atau wesel pos yang terkirim lewat kantor Desa (zaman dahulu belum ditangani oleh pondok seperti sekarang) maka sudah biasa kalau wesel-wesel itu dipermainkan terlebih dahulu untuk mengacau ketentraman santri santri pondok. Padahal mereka diberi hak untuk mengambil potongan komisi.

Bagaimanakah sikap Kyai Djazuli menghaelapi semua itu? Hanya diam, beliau sangat sabar dan tawakal. Tidak pernah beliau membicarakan perbuatan perbuatan mereka itu atau mengadukannya pada pihak lain, apalagi akan memberikan balasan. Diam seribu babasa adalah jauh lebih baik daripada berkata kata yang mubazir.

Sebab bila mereka itu mendapat jawaban akan terjadilah konfrontasi yang merugikan pihak pondok. biarkan saja anjing menggonggong asal kafilah tetap berlalu.

Dakwah yang beliau praktekkan memang lebih menonjolkan dakwah bilhal (Perbuatan nyata) disamping dakwah billisan (dengan kata‑kata). Beliau tak suka memerintah orang lain untuk berbuat sesuatu yang beliau sendiri tidak mengerjakannya. Agaknya beliau faham betul bahwa:

لسان الحال انطق من لسان المقال

(Perbuatan nyata lebih mengena daripada perkataan lisan)

Dan yang pantas kita tiru adalah sikap beliau yang suka mengalah, lapang dada dan berjiwa besar terhadap orang yang memusuhinya. Ketika Pak Kepala Desa sedang sakit Kyai Djazuli datang menjenguk, begitu juga sikapnya terhadap Pak Carik, meskipun orang-orang tersebut sangat memusuhinya.

Konon, Pak Carik pernah bersumpah tak akan menginjak masjid Pondok itu selama hayatnya. Akan tetapi pada tahun 1955 terjadilah banjir terbesar sepanjang umur Brantas yang menyebabkan semua tempat tenggelam, hanya masjid yang selamat. Maka semua masyarakat berdesak-desakan berlindung di Masjid dan ternyata Pak Carik juga dengan terpaksa harus ke sana dengan menahan malu.

Kaki Pak Carik luka terkena pecahan kaca lemari di rumahnya sebagai akibat banjir besar itu, Ialu infeksi parah sampai merenggut nyawanya. Pemuka‑pemuka masyarakat Ploso berjejer berdiri tak ada yang berani sholat jenazah, karena mayat ini sangat diragukan keislamannya. Pada saat itulah Kyai Djazuli muncul di tengah‑tengah kerumunan mereka dan mengajak untuk sholat. “Bagaimana Kyai? ” tanya mereka keheran‑heranan.

Maka Kyai menjawab dengan tegas: “Niatnya begini….”

اصلى على من مات من المسلمين فى هذا اليوم ….الخ

(Aku sembahyang atas orang-orang muslim yang mati hari ini dan seterusnya …. )14)

Hilanglah keraguan dari mereka yang hadir dan merekapun kagum melihat kebesaran jiwa Kyai Djazuli yang selalu siap memaafkan siapapun, tak ada rasa benci dan dendam di hatinya.

Di saat fitnah, teror dan permusuhan yang dilontarkan oleh masyarakat luar pondok, ternyata perasaan pahit itu masih harus ditambah dengan datangnya keruwetan‑keruwetan di sekitar Kantor kenaiban yang dipinjam oleh pondok Pesantren. Para aparat kantor kenaiban menganggap bahwa pondok yang telah memiliki ± 100 orang santri itu dirasakan gaduh dan telah menjadi satu gangguan terutama dalam penggunaan masjid milik kenaiban. Ejekan dan kata‑kata yang menyinggung perasaan dilontarkan kepada pondok khususnya kepada pribadi Kyai.

Untuk mengatasi masalah inilah pada tahun 1939 segera dibangun komplek A (Andayani) sebuah asrama berlantai dua dilengkapi sebuah musholla (langgar) di depannya. Dengan tersedianya asrama D, C dan kini A beserta langgar yang merupakan hak milik pondok pesantren diharapkan santri dapat tentram mengikuti pengajian dan kegiatan‑kegiatan belajar lainnya. Ternyata pihak kenaiban masih tetap merasa terganggu dengan kehadiran pondok yang semakin dibanjiri oleh santri, terutama pada saat‑saat ada akad nikah. Para santri tentu saja tidak dapat dibendung ingin melihat pengantin, bukankah yang namanya pengantin mesti ditonton beramai‑ramai tak perduIi wajahnya seperti gareng atau bagong.

Akan tetapi permasalahan di atas punya hikmah yang menguntungkan bagi pondok, sebab beberapa tahun kemudian (sekitar akhir masa penjajahan Belanda tahun 1941) Kantor kenaiban diputuskan untuk pindah ke Mojo (6 km utara Ploso). Tentu saja perpindahan tersebut meninggalkan kekayaan yang berharga, di antaranya sebuah masjid, pendopo kenaiban, rumah‑rumah dan tanah pekarangan yang cukup luas dan untuk dapat memiliki kekayaan tersebut pihak pondok diminta untuk menyediakan tanah pengganti di Mojo. Untuk itu pondok mengeluarkan biaya 71 gulden Belanda.15)


14) Keterangan Mbah Munaris dan Mbah H. Abd. Ghoni.

15) Cerita KH. Zainuddin Djazuli diperkuat oleh dokumen santri awal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: