Mahalnya Gigih & Tawakkal

Konon dimasa Syaih Malik Bin Dinar masih hidup, terdapat dua orang kakak beradik beragama majusi, suatu ketika timbul uneg-uneg dibenak si adik tentang hakekat tuhannya yang selama ini disembah yaitu api, seolah ingin membuktikan kebenarannya.

Oleh karena itu kemudian dia berkonsultasi kepada si kakak. “kak ! kamu sudah menyembah tuhan kita (api) selama 73 th, begitu juga saya yang sudah menyembahnya selama 35 th, apa memang benar dia (api) selalu menjaga kita dan juga akan menyelamatkan kita ? aku ingin membuktikan kalau dia memang benar-benar tuhan kita” demikian Tanya si adik “lalu kamu ingin membuktikan dengan apa?” pertanyaan balik si kakak “gini! Kalau memang dia tuhan kita apakah dia juga akan membakar kita sebagaimana dia akan membakar orang yang tidak menyembahnya? Mestinya kalau dia memang tuhan kita, tidak mungkin dia akan membakar orang yang selama ini menyembahnya.

Oke aku setuju. Mari kita buktikan. “kamu dahulu, apa aku?” tantang si adik “kamu dulu saja, agar bisa marem” tepis si kakak. Kemudian si adik tanpa ragu-ragu membuktikan kebenarannya “Waduh” teriak si adik ketika tangannya terbakar. Ahirnya terkuaklah misteri yang selama ini nyumbat di otaknya. “selama ini aku selalu menyembahmu sesuai dengan prakteh ibadah yang benar bertahun-tahun, ternyata kamu masih menyakitiku” gumam si adik setelah tahu bahwa selama ini dia telah salah memilih kebenaran dari tuhannya. Dengan perasaan kecewa, dia barkata kepada kakaknya “Kak! Sekarang saatnya kita mencari tuhan yang maha pemurah, yang andaikan kita berdosa selama 500 th dia akan meleburnya dengan ibadah 1 jam dan minta ampun 1 kali”.

Setelah mereka berdua mengadakan sidang darurat, ahirnya mereka sepakat untuk pergi menghadap Syaih Malik Bin Dinar. Singkat cerita ahirnya mereka sampai ditempat beliau yang sedang berda’wah ditengah-tengah masyarakat. Mereka berdua mengamati dari kejauhan, lambat laun nurani mereka tergerak oleh nur islami yang penuh kadamaian. Jalan keselamatan telah tampak dipelupuk mata kuduanya.

Namun sayang tak selamanya kebenaran akan membawa hidayah pada orang yang telah merasakannya. Ternyata nur islami belum hinggap pada si kakak yang sebenarnya telah yakin akan kebenaran islam

Apa yang terjadi! Sikakak secara terang-terangan bersikukuh pada agama sesatnya, sembari berkata “sudah bulat tekadku tidak akan masuk islam, aku sudah menghabiskan umurku untuk menyembah api, apa nanti yang akan di omong keluargaku kalau aku masuk islam, huh ! lebih baik aku masuk neraka dari pada sampai dicela keluargaku” mendengar perkataannya si adik langsung membentaknya “jangan kau lakukan itu!!! Kalau hanya celaan dan omelan, paling juga tidak lama, tapi kalau neraka, selamanya tidak akan sirna”. Namun, dasar nurani sudah terlindas oleh karakter gengsi, apa nasehat dari si adik tak menyurutkan tekadnya, sampai ahirnya si adik melontarkan kata pamungkas karena jengkel “sudah! Apapun maumu itu terserah kamu, dasar orang sesat!”

Kemudian si adik meninggalkannya dan segera menuju kepada Syaih Malik Bin Dinar bersama keluarganya untuk masuk islam. Syaih Malik pun menyambutnya dengan sangat gembira dan hendak memberinya kebutuhan hidup bagi dia sekeluarga karena mereka datang dari jauh dan tak membawa bekal. Namun pemberian itu di tolak olehnya karena tidak ingin merepotkan.

Keesokan harinya, karena merasa tidak mempunyai makanan ahirnya si istri meminta pada sang suami untuk bekerja agar mendapatkan upah yang nantinya bisa untuk membeli makanan. Sang suami pun segera bergegas menuju pasar sebagaimana pinta si istri, namun sayang sekali, setelah sampai dipasar ternyata dia tidak mendapatkan pekerjaan. Tapi hal ini tidak menjadikan dia kecil hati, sejenak dia melamun, timbul pikiran positif dibenaknya ”ah mendingan aku sholat saja dari pada Cuma bengong begini” demikianlah yang dilakukannya untuk mengisi kekosongan harinya. Matahari terbenam, dia ahirnya kembali ke rumah dengan tangan hampa. Si istri yang sudah menunggu seharian bertanya “lho… kok kosong mas?” Tanyanya “aku sudah bekerja pada Sang Raja, namun belum di beri bayaran” kilah sang suami. Ahirnya pada malam itu mereka sekeluarga tidur dalam keadaan lapar.

Hari berikutnya, sang suami kembali menuju pasar dengan secercah harapan agar dapat memberi sesuap nasi untuk keluarganya,

Namun sayang, hari itu pun ceritanya tak berbeda dengan hari pertama, dan dia pun kembali mengisi kekosongannya dengan sholat persis yang dilakukannya pada hari sebelumnya. Ketika kembali pada istrinya dia berkilah lagi sembari berkata “Sang Raja menjanjikan padaku bayaran pada hari jum’at”. Sampai ahirnya datanglah esok harinya yaitu hari jum’at, sang suami kembali bergegas menuju pasar dengan segenab hati dan sangat berharap akan kesuksesannya. Namun… lagi-lagi dia gagal mendapatkan pekerjaan, dia pun tak patah semangat untuk tetap kembali sholat sebagaimana biasanya, namun setelah sholat dia berdo’a dengan sungguh-sungguh dengan mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke langit. “ya Allah, panjenengan telah memulyakanku dengan masuk islam dan memberiku mahkota dengan mahkota hidayah, dengan washilah agama mulya ini dan hari mulya ini, aku memohon kepada panjenengan untuk mencukupkan nafaqoh bagi keluargaku karena hamba telah malu dengan keluargaku dan aku khawatir kalau sampai timbul gejolak dihati mereka karena mereka masih baru masuk islam, Ya Allah kabulkanlah do’aku”

Sementara itu apa yang terjadi dengan keluarganya yang hanya terus-terusan menunggu dan menunggu tanpa ada kepastian yang menggembirakan. Memang benar keluarganya dalam kelaparan yang luar biasa karena beberapa hari tidak makan. Namun disaat-saat yang cukup genting ini tiba-tiba ada seorang laki-laki yang mengetuk pintu rumahnya, setelah dibuka pintu tersebut, ternyata dia adalah sorang pemuda yang tampan yang membawa kotak dari emas yang berisikan beberapa kantong dari emas seraya mengatakan “ambillah semuanya dan katakanlah pada suamimu bahwa semua ini adalah bayaran apa yang dilakukannya selama dua hari dan apabila dia mau melakukannya lagi maka kami akan menambahinya lagi” dengan wajah hingar bingar dia menerimanya setelah melihalnya ternyata didalamnya berisikan 1000 dinar, kemudian dia mengambil satu dinar dan membawanya ke toko emas yang mana penjualnya adalah orang nashroni. Setelah sampai disana dinar tersebut ditimbang, namun luar biasa satu dinar melebihi dua mistqol tidak seperti biasa, orang nashroni tersebut terheran-heran sambil mengamati nya. Subhanalloh (red) setelah diamati, dia tahu bahwa dinar tersebut pasti dari ahirat yang terlihat dari ukiran yang ada pada dinar itu. “dari siapa kamu mendapatkan dinar ini ? dan dari mana dia memperolehnya?” Tanya nashroni, kemudian si istri menceritakan kronologi dari dinar yang dia dapatkan. Astaghfirulloh.(red) “ajari aku untuk masuk islam” pinta nashroni tersebut setelah dia tahu tentang kehebatan islam. Tanpa basa-basi ahirnya nashroni tersebut nasuk islam setelah di ajari oleh si istri.

Singkat cerita, si istri membeli segala macam kebutuhannya dengan uang yang telah dia tukarkan. Di tempat lain sang suami yang belum tahu apa yang terjadi di rumah masih lesu karena belum mendapatkan apa-apa untuk makan keluarganya, setelah matahari terbenam ahirnya dia kembali kerumah dengan hanya membawa kantong yang diisinya dengan pasir. Dihatinya siap mengantisipasi permintaan istrinya yang tentunya akan di jawab bahwa dia telah, mendapatkan gandum untuk makan keluarganya.

Setelah sampai rumahnya, dia terheran-heran karena melihat rumahnya sudah rapi dengan segala perlengkapan rumah tangga dan mencium aroma masakan yang sangat lezat. Melihat hal ini, kantong yang telah dibawanya di taruh di pintu agar si istri tidak mengetahuinya. Setelah istrinya menyambut- nya dia menanyakan tentang apa yang terjadi dirumahnya, si istri pun menceritakannya dengan panjang lebar. Masya Allah setelah mendengar cerita dari istrinya dia langsung melakukan sujud syukur, setelah selesai ganti si istri menanyakan kantong yang dibawa suaminya. “sudahlah…! Tidak usah Tanya kantong tersebut” jawab sang suami dan segera bergegas ke pintu untuk membuang kantong yang dibawanya. Tapi apa yang terjadi, ketika isi dalam kantong hendak dibuang ternyata yang tadinya pasir sekarang berubah jadi gandum beneran. Subhanalloh, melihat hal itu sang suami sujud syukur untuk yang kedua kalinya atas karunia luar biasa dan seolah menjadi keajaiban dunia yang telah diberikan Alloh kepada dirinya sekeluarga.

Ahir cerita, keluarga tersebut semakin memperkokoh keimanannya dan semakin bersungguh-sungguh dalam beribadah dan tak lupa selalu tawakkal atas segala usaha.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: