DARI CINTA SAMPAI CITA-CITA TERCAPAI

Masyarakat modern benar‑benar telah mengakui betapa besar peranan wanita dalam pembangunan. Karena itulah Pemerintah Orde Baru perlu mengangkat seorang menteri perawan (Peranan Wanita).

Sumbernya memang dari ajaran Islam. Ingatlah bahwa Nabi Musa a.s. menatap sinar di bukit Tursina tatkala berjalan berdampingan dengan Safurah, istrinya yang tercinta. Begitu juga tatkala ayat lqro’ (ayat pertama) Al qur’an diturunkan, Rosululloh SAW. sangat butuh spirit dan dekapan Siti Khodijah. “Zarnmiltini, zammiltini” (selimuti aku, selimuti aku), sabda beliau sambil menggigil. Sejarah telah membuktikan babwa sukses yang dicapai para Nabi dan tokoh‑tokoh besar tidak lepas dari peranan wanita sang pendamping.

Bagaimana dengan Kyai Djazuli? seorang duda yang tak henti‑heiitinya dihempas gelombang cobaan?, rupanya beliau butuh pendamping sebagai teman berbagi rasa, tersenyum bersama tatkala senang dan teman berunding memecah aneka problema. Di samping itu beliau berfikir bahwa kelanjutan Pondok pesantren perlu disiapkan sejak dini dan salah satu cara yang banyak ditempuh adalah lewat jalur keturunan. Bukankah dari dua kali pernikahannya beliau belum memperoleh keturunan?

Sebagai warga masyarakat yang supel dalam bergaul Kyai Djazuli sering beramah tamah dengan Mantri Setjo Atmodjo, seorang mantri guru (Kepala Depdikbud) yang bertugas di kecamatan Ploso. Pak mantri ini berasal dari Nglorok Pacitan dan kemudian menikah dengan putri Kyai Imam Mahyin dari Durenan Trenggalek (keturunan Mbah Mesir bin Mbah Yahudo) semuanya adalah ‘Ulama-‘ulama terkenal di zamannya.

Dari Pak Mantri inilah KH. Ahmad Djazuli mendengar siapa sebenamya Roro Marsinah, seorang janda muda sholehah putri Kyai Imam Mahyin (adik ipar pak Mantri). Beberapa waktu yang Ialu si dia bercerai dengan Kyai Ihsan Jampes hanya karena kesalahpahaman. Ternyata perceraian itu membuatnya tersinggung, karena disamping putri kyai bangsawan, ia punya nasab cukup tinggi juga punya prinsip atau pendirian yang kuat. Tentu saja wataknya juga tergolong keras seperti layaknya sifat khas orang‑orang Durenan, dan sejak perceraiannya itu ia lebih mendekatkan diri kepada yang kuasa merenungkan apa salah dan kekurangan‑kekurangannya sambil istighfar mohon ampun. Sehari‑hari ia membaca Al qur’an di pusara Al Maghfurlah Kyai Imam Mahyin, ayahnya yang meninggal ketika ia masih berusia 17 tahun.6)

Tak pantas kalau kita katakan ia telah patah hati, namun bagaimanapun jua perceraian itu belum mampu ia lupakan, Kyai lhsan diakuinya memang ‘alim bahkan di kemudian hari beliau mampu mengarang kitab Sirojuttolibin sebuah syarah (komentar dan pengembangan) dari Minhajul Abidin karya Imam Ghozali yang akhirnya kitab tersebut tersebar luas di kalangan ummat Islam dunia terutama di Cairo dan Baghdad.

Roro Marsinah bertekad tak mau kawin lagi kalau tidak mendapatkan seorang pria yang mampu menandingi ke’aliman Kyai lhsan. Ganteng jelek tak jadi ukuran, kaya miskin tak jadi persyaratan yang penting ‘alim, kuat agamanya. Memang begitulah seharusnya pilihan seorang wanita yang punya keimanan kuat.

Akan halnya Kyai Djazuli sangat mendambakan wanita yang kuat agamanya syukur kalau nasabnya juga bagus. Perkara keibuan, menarik, suka humor, langsing, lincah, manis, montok dan sebagainya tak jadi soal. Namun Kyai muda yang tergolong The have not (ekonomi melarat) itu juga sangat mendambakan wanita yang tidak materialis.

Tuhan Yang Maha Tahu mendengar jeritan hati kedua hambanya yang berlainan jenis itu. Dikabulkannya do’a mereka dan diberinya jodoh. Pernikahanpun berlangsung tanpa didahului masa berpacaran atau masa saling menyesuaikan diri, tak ada upacara tukar cincin. Memang begitulah kisah dua pernikahan sebelumnya yang dialami oleh Kyai Djazuli. Bukankah Islam mengajarkan bahwa cinta kasih akan tumbuh dalam rumah tangga yang sah sebagai anugerah dari sang pencipta? Jadi Islam mengajarkan pacaran setelah nikah, bukan seperti yang dilakukan olch anak‑anak muda yang terbawa arus kebudayaan barat.

Akad nikah dan resepsi pernikahan berlangsung tanggal 15 Agustus 19307), kedua mempelai sama‑sama mensyukuri jodohnya yang tak meleset dari idaman semula. Keduanya saling menyelami dan saling menerima segenap kelebihan dan kekurangan masing‑masing. Cintapun bersemi, tumbuh perlahan tapi pasti dalam mahligai rumah tangga sakinah penuh rahmat. Roro Marsinah yang kini telah resmi menjadi Bu Nyai itu amat memaklumi akan kefakiran suaminya tercinta, oleh karena itu makan tiwul, gaplek dan sawut dengan lauk sambal kluwak tak mengendorkan cintanya. Dia bukan wanita mata duitan, ada uang abang sayang tak ada uang abang ditendang. Dimakannya makanan-makanan bergizi rendah itu dengan perasaan syukur, bukan keluhan. la sama sekali tak kaget berhadapan dengan kemelaratan, sebab ia telah ditempa oleh pengalaman hidupnya yang juga penuh derita. Sejak balita usia dua tahun ibunya telah dipanggil yang kuasa, ia tak sempat bermanja‑manja menikmati kasih sayang ibunya. Dan beberapa lama kemudian ayahnya kawin lagi sehingga ia yang merupakan anak kesebelas dan terkecil ini harus mengalami pahitnya sebagai anak tiri. Dan ketika usianya mencapai tujuh tahun ayahpun menyusul wafat, membuat hidupnya selalu dalam derita yang berkepanjangan. Walaupun ayahnya banyak meninggalkan warisan ia agaknya terlalu kecil untuk ikut campur urusan harta benda, sehingga ia tak mengerti hak miliknya.8)

Atas dasar persamaan sanggup menghadapi derita keluarga baru yang dibina Kyai Djazuli dengan istrinya dapat rukun dan damai. Namun sebagaimana layaknya sebuah keluarga, muncullah permasalahan rumah tempat tinggal karena tidak mungkin keduanya akan tinggal di bilik masjid kenaiban itu. Rupanya Bu Sholeh (kakak kandung beliau). merasa kasihan melihat nasib saudaranya, Ialu diberikannya tempat tinggal bagi pasangan baru itu. Konon tempat tinggal itu adalah sebuah lumbung yang terletak di kediaman Gus Fu’ sekarang ini. Lumbung itu kemudian dirubah menjadi rumah dengan membuat pintu ala kadarnya. Sungguh rumah yang sangat jauh untuk dikatakan layak dihuni apalagi untuk dikatakan sejahtera dari segi bendawi.

Menyesalkah Bu Nyai memilih Kyai miskin itu? Tidak, malahan sebaliknya dia merasakan suaminya adalah segalanya. Kyai Djazuli dikenalnya punya prestasi yang unggul di bidang Ilmu, sabar dan pandai bergaul sejak masih belajar di Pondok, bahkan pernah seperguruan dengan Kyai Ihsan Jampes ketika berguru kepada Syech Al Aidarus di Mekkah. “Pondok yang tengah dirintis suamiku harus sukses,” begitu tekadnya dalam hati sambil mengenang masa‑masa Ialunya yang luka. Sungguh dia wanita yang hebat, mampu mengobati hatinya dengan ibadah dan fastabiqul khoirot (berlomba‑lomba dalam kebagusan), bukannya patah hati lalu gantung diri.

Hubungan suami istri Kyai Djazuli semakin hangat saja setelah Ibu Nyai nampak hamil. Sungguh Kyai Djazuli sangat mengharapkan untuk segera punya keturunan, oleh karena itulah beliau kelihatan benar‑benar bersyukur ketika putri pertamanya lahir pada tanggal 7 September 1931. Diberinya nama Siti Azzah. Anak pertama itu bagaikan kaca cermin, ditimang selalu dan tak jemu untuk dipandang begitulah halnya Kyai Djazuli. Namun tatkala si mungil putrinya itu mulai belajar bicara dengan lucu-lucunya pada usia satu tahun Allah menghendaki lain. Putri itu meninggal dunia yang membuat hatinya menjadi amat pilu. Andaikan beliau tidak memiliki iman yang kuat niscaya hatinya akan terluka perih dan sulit untuk disembuhkan.

Satu setengah tahun kemudian lahirlah putra kedua yang diberi nama Hadziq, maka terobatilah rasa sedihnya karena ditinggalkan oleh Siti Azzah beberapa waktu yang Ialu. Namun rupanya Allah masih terus menguji ketabahan hati Kyai Djazuli dan istrinya, putra tersayang yang dicanangkan untuk menjadi penerus estafet perjuangan itu juga diambil oleh yang kuasa pada usia kecil 9 bulan. Kembali kesedihan menyelimuti rumah tangganya.

Kyai Djazuli beserta istri tercinta dan putrinya (Lailatul Badriyah)

Namun Kyai Djazuli dan istrinya tak pernah putus asa, sambil terus menerus berdo’a kepada Allah SWT. Tatkala ibu Nyai hamil lagi untuk yang ketiga kalinya, maka dukun bayi yang dipercaya untuk merawat sang bayi kali ini tidak sembarang dukun. Akan tetapi seorang dukun dari Trenggalek yang dahulu pernah berperan menolong ketika Ibu Nyai dilahirkan. Dukun ini menyarankan agar ari-ari si bayi jangan ditanam ke dalam tanah seperti yang dilakukan terhadap dua bayi yang telah Ialu, mulai bayi ketiga ini dan seterusnya ari‑arinya dibanyutkan di sungai Brantas. Sampai soal pemberian nama untuk bayi ketiga ini diserahkan kepada Kyai lain, maka diberilah nama Zainuddin sekaligus dalam rangka tafa’ul (agar ketularan) dengan Kyai Zainuddin Mojosari.

Suka dan duka datang silih berganti sebagai romantika kehidupan keluarga yang membuat Ibu Nyai perlahanlahan dapat melupakan pedihnya pengalaman masa lalunya. Akan tetapi semangatnya untuk berkiprah agar Al Falah terus jaya tetap membara, dasarnya bukan lagi yang lain‑lain, tetapi lillahi ta’ala. Bukankah sebagai seorang istri ia wajib untuk turut berjuang menegakkan cita‑cita suaminya sebagai wanita ia ingin menjadi tiang negara sebagaimana yang ditandaskan oleh Rasululloh SAW dalam haditsnya.

المرأة عماد اللاد واذاصلحت صلحت البلاد واذافسدت فسدت البلاد

Meskipun telah dikaruniai tiga orang anak keadaan perekonomian keluarga ini tetap saja miskin papa dan rumah tempat tinggal belum dimilikinya. Menurut sebuah riwayat pada masa‑masa itu Kyai Djazuli menumpang (Magersari : Jawa) di rumah pak Iskandar, kakaknya. Rumah itu sekarang menjadi kediaman KH. Zainuddin Djazuli. Melihat kemiskinan tersebut, sebagai seorang suami yang bertanggung jawab Kyai Djazuli berkeinginan untuk bekerja mencari nafkah meredakan derita rumah tangga.

Namun dengan tegas Ibu Nyai menyanggah: “Pun, Sampean ngaji mawon, kulo sing ngurusi sangu”,*) sejak itulah konsentrasi mengajar Kyai Djazuli terus meningkat, karena beliau dan pasangannya telah seia‑sekata untuk mengutamakan keberhasilan Al Falah mengalahkan persoalan-persoalan yang lain. Kyai Djazuli terus berfikir untuk kemajuan pesantren. Mengajar, matla’ah, sholat jamaah, sholat sunnat dilaksanakannya dengan istiqomah (ajek, rutin) sementara istrinya berusaha kecil‑kecilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, bermacam‑macam usaha telah dijalani seperti berjualan sayur‑mayur di depan rumah, berdagang kain keliling desa dengan berjalan kaki sambil menggendong dagangannya ala mbok jamu, membuka warung untuk santri dan usaha‑usaha lain yang halal.

Rumah ini dulu adalah rumah bu saleh disinilah Kyai Djazuli menumpang

Memang tak seberapa hasil yang diperolehnya, namun rizki yang halal benar‑benar punya kadar barokah yang tinggi. Buktinya, rizki yang sedikit itu telah cukup baginya walaupun dengan menu makanan sangat sederhana. Tiwul, sawut dan singkoiig rebus tergolong makanan bergizi rendah menurut pendapat umum dan para ahli gizi, akan tetapi makanan‑makanan itu tidak menyebabkan kekuatan ibadah keluarga Kyai Djazuli menjadi merosot.

Beban Ibu Nyai semakin terasa berat dengan lahirnya putra ketiga, keempat dan seterusnya. Di samping memikirkan roda perekonomian keluarga mencari nafkah banting tulang, beliau juga harus merawat dan membina putra‑putranya. Namun sungguh mengagumkan, kesibukan-kesibukan tersebut tidak membuat perhatiannya kepada Pondok Pesantren menjadi berkurang. Beliau berhati baja, tidak acuh terhadap perjuangan suaminya, peran aktifnya untuk kemajuan Pondok tak dapat dibilang kecil. Beliau tahu pasti kalau lonceng tanda pengajian atau beduk dipukul menyimpang dari jadwal sebenarnya dan tak segan‑segan beliau memberikan teguran. Ketika suaminya berangkat untuk menjadi imam sholat subuh misalnya, beliau keluar dari rumah untuk mengontrol santri‑santri yang punya gelagat tidak ikut jamaah atau membangkong. Dengan gaya khasnya beliau menegur dengan pertanyaan “Nyapo nggak jamaah?”*) Tentu saja si santri tak dapat menjawab karena sungkan dan grogi, maka beliau melanjutkan dengan kata‑kata “Omahmu kan adoh”**) sebagai nasehat kepada santrinya.

Masih soal disiplin Ibu Nyai, para Ustadz yang bertugas mengajar di kelas atau yang membantu mengasuh pengajian merasa sangat kesulitan untuk libur mengajar. Apabila ada Ustadz terdengar akan libur, beliau Ialu memanggil yang bersangkutan untuk ditanya model interogasi “Nyapo libur?” ***)tanya beliau seolah‑olah ingin tahu. Jika jawabannya adalah karena tidak enak badan, langsung beliau berkata : “Ta gaeno jamu, ben waras”****), sambil berlalu untuk mengolah ramuan jamu jawa. Setelah minum jamu sang Ustadzpun merasa sungkan dan malu, hingga akan memaksakan diri untuk menjalankan tugasnya.

Beliau faham siapa diantara para ustadz yang tergolong malas, maka beliau sendiri yang aktif memukul Ionceng pada jadwal-jadwal ustadz yang bersangkutan. Dan tidak hanya sampai di situ peran aktifnya untuk Al Falah. Bahkan beliaulah yang menjadi bagian keuangan Pondok yang mengurus anggaran belanja, semua itu dirangkap oleh beliau untuk lembaga Al Falah yang masih muda, di saat organisasi Pengurus Pondok belum teratur. Beliau terjun langsung berfikir dan bekerja sebagai pengurus, terkadang melakukan tugas keamanan, terkadang sebagai bagian keuangan.9)

Jarang ditemui Bu Nyai semacam itu, yang tidak hanya membantu suami di garis belakang (kasur, sumur dan dapur). Tetapi tampil mendamping suami di garis depan sebatas kodratnya sebagai wanita, tidak sampai mengalahkan suami dengan dalih emansipasi. Jasanya untuk Al FaIah hanya Allah yang mampu menghitungnya. Maka pantaslah kalau kita panggil namanya Ummul Ma’had. Bersama beliau cinta tergapai dan bersama beliau pula cita‑cita tercapai.


6) Cerita Mbah Munaris kedawung, dan cerita Mbah Nyai H. Rodliyah Djazuli kepada Pak Musleh.

7) Stanboek asal osoel dikeluarkan oleh Pemerintah Belanda.

8) Cerita Ibu Nyai Hj. Lailatul Badriyah Djazuli.

*) “Sudahlah, Bapak ngaji saja, saya yang mengurusi biaya”

*) “Mengapa tidak jamaah”

**) “Rumahmu kan jauh”

***) Mengapa libur?”

****) “Saya buatkan jamu biar sehat”

9) Cerita KH. Miftahul Ma’na Blitar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: