Si Gila Dari Madinah

Al kisah, nun jauh di jazirah arab , tepatnya di tanah haram Madinah Al Munawwarah tersebutlah seorang tua yang dikenal kurang waras dan dianggap aneh plus nyleneh oleh para penduduk disekitarnya karena tindak tanduknya yang kontrofersi dengan norma-norma adat yang berlaku disana.

Ia lelaki pendiam namun mulutnya selalu komat kamit mengucapkan kalimat-kalimat dzikir dimana pun dia berada, sehingga orang-orang disekitarnya menyangka dia berbicara sendiri seperti layaknya orang gila. Dia berbicara seperlunya saja, namun bila ditanya tentang suatu permasalahan, dia selalu menjawab dengan baik beserta nasehat-nasehat yang bermanfaat plus ta’bir-ta’bir dari berbagai macam kitab yang disebutkan dengan sangat  akurat, tajam dan terpercaya, dialah Abu Nasr Al Jauhany. Namun siapa sangka orang yang disebut sebagai si-gila itu adalah seorang wali min auliaillah.

Karomah beliau terlihat ketika krisis melanda kota Madinah. Diriwatkan oleh Ibnu Abi Fudaik, ia berkisah “ Kota Madinah pernah dalam keadaan krisis karena tidak turun hujan selama setahun, sehingga keadaan para penduduk Madinah sangat kritis dan memprihatinkan.

Dalam situasi seperti itu terbukalah keistimewaan wali-wali Allah SWT yang dulunya tidak diketahui orang. Ketika mereka keluar berduyun-duyun untuk berdoa meminta hujan, tiba-tiba Abu Nasr duduk sambil menundukkan kepala. Aku menyapanya : “ wahai Abu Nasr tidakkah kamu melihat apa yang dialami penduduk tanah haram Rosul ”. Dia menjawab: “ Ya …..”, lalu Abu Nasr menghadap Qiblat dan menelungkupkan wajahnya di debu,  sehingga wajahnya tampak putih berdebu, kemudian ia berdoa :”Ya Allah tuhan yang maha pengasih di dunia dan ahirat, berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarganya,  dan hilangkanlah musibah yang menimpa tanah haram Nabi Mu ini.”Demi Allah, ketika aku beranjak dari tempat itu, tiba-tiba langit menggelap. Aku memandang keatas, ternyata angkasa di penuhi dengan kawanan belalang yang kemudian turun ke seluruh penjuru tanah Madinah. Penduduk Madinah yang dalam keadaan kelaparan berpesta, mereka menumbuk, menggaraminya lalu memasaknya. Selama berhari-hari mereka terbebas dari krisis pangan yang menghimpit mereka dan tercukupi dengan makan belalang-belalang itu. Tak lama kemudian turunlah hujan membasahi selururuh penjuru kota.”

Dari hikayat di atas, bisa kita ambil hikmah bahwa kita tidak boleh menilai seseorang dari dhohirnya saja. Seringkali kita jumpai di sekitar kita orang-orang yang di anggap aneh,nyleneh bahkan di anggap gila, tapi jangan sembrono dengan mereka, siapa tahu mereka adalah waliyullah. Sosok seperti ini juga terdapat pada Mursyid tunggal Dzikrul ghofilin yaitu Al karim ibnul karim KH Hamim djazuli (Gus Mik) putra dari KH. Djazuli Utsman.

Secara logis dari realita yang terjadi, tidak mumgkin beliau seorang Wali, tapi siapa yang tahu bahwa amal ibadah beliau melebihi manusia pada umumnya yang menghantar beliau ke derajat yang sangat tinggi di sisi Allah. Beliau tidak peduli komentar miring tentang beliau karena di hatinya tidak ada yang lain kecuali Allah, semua perbuatan semata-mata untuk Allah لا موجود الا الله , لا مطلوبا الا الله, لا مقصود الا الله Itulah yang di pegang para Wali yang telah mencapai maqom fana’.Semoga kita bisa mengikuti jejak mereka, Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: