Eksklusivisme Pesantren Sebuah Persepsi Yang Keliru

Adalah eksklusivisme islam, sebuah terma yang berkembang dikalangan islam yang modernis, sebagai stigma yang melekat pada islam tradisional. Sebenarnya terma tersebut hanyalah reaktualisasi dari terma lama yang mungkin akan terdengar terlalu ekstrim serta berkesan membunuh bila diangkat saat ini. Yaitu fundamentalisme islam., apalagi setelah tragedi kemanusiaan yang menimpa AS di gedung WTC 11 Sep. beberapa tahun lalu , yang konon diklaim dilakukan kelompok ini, mereka (islam modernis) yang dalam hal ini berisi akademisi beranggapan bahwa islam tradisional yang di wakili orang pesantren adalah fenomena orang-orang yang bercakap-cakap di pojok ruangan, untuk menekan kontaminasi keimananya dari modernisasi yang telah dengan rakus mempersempit ruang gerak enclave kultur ini meminjam istilah immanuel sivan. Dengan visi yang sama mereka merasa nyaman, dengan cakap-cakap di pojok ruangan. Ketika merujuk pada pokok ajaran dan otentitas nilai-nilai idiologi mereka menganggap hanya merekalah yang mempunyai status valid sehingga menerapkan toleransi secara minimal dengan komonitas luar.

Inilah bentuk Eskapisme bahwa kaum sarungan yang takut menerima perubahan menerapkan GROUP& GRID.

GROUP untuk menjaga komitmen dengan kelompok, sedangkan GRID untuk membatasi / menyaring interaksi sosial kebudayaan dengan dunia luar. Dan pada tataran inilah EKSKLUSIVISME isla m yang menjadi terma baru dari fondamentalisme islam melekat pada pesantren.

Ada dua faktor penting pembentuk persepsi tersebut dilihat dalam konteks islam.

1) KEBUTUHAN DIALOG

Sejarah panjang umat islam dua dasawarsa pasca mangkatnya nabi Muhammad SAW ditandai dengan maraknya kelompok-kelompok yang berseberangan dan menemui puncaknya ketika terpolarisasinya umat kedalm dua kelompk besar Ali ra. Dan Mu’awiyah. Bentrok fisik yang berpangkal pada kebuntuan dialog intrea umat yang serta merta mengalami kritalisasi ketaka akumulasi perbedaan interpretasi yang bersifat metafolis atas Al-qur’an dan sunnah nabi sebagai dua buah sumber utama konstitusi islam plus kepentingan kelompok yang terbungkus didalamnya, menjadi awal yang baik untuk menbentuk perbedaan-perbadaan mengalami regresi hingga sekarang.Tentu saja secara praksis ada pasang surut yang terjadi hingga menemukan titik jenuh dalam kontak fisik tapi menyisakn perbedaan pada tataran interpretasi dan eksplorasi intelektual dalam metedeloginya kaum sarungan dan akademisi (orang-orang menempuh jalur pendidikan dalam sebuah universitas IAIN misalnya) adalah dua bentuk kotradiksi kongkrit dalam hal ini. ironis memang ketika ternyata pasang surut yang terjadi tidak bisa membongkar kebuntuan dialog pada tataran yang signifikan hingga melenium ke III ini. Era dimana  dialog yang menjadi karakteristik demokrasi telah menjadi asas bagian besar bangsa didunia dan tampak gemilang secar revolusionermerubah wajah dalam ranah bangsa tersebut dari teralienasi menjadi terbuka dan plural.

2)  DISTORSI INFORMASI

Sementara ini yang tampak dipermukaan dari wajah pesantren adalh sebuah sitem lama yang memasang filter untuk meminimalisasi perubahan atau pun perkembangan serta implikasi hukum yang ditimbulkan sehingga terkesan malu-malu untuk menerima sesuatu yang berbau sekular, agen barat atau pun istilah pembunuh lain untuk mengelak dari dialog. Dulu kita pernah mendengar terma zindiq

(من تمنطق فقد تزندق) dan dengan proses yang nyaris sama dengan terma eksklusivisme, terma zindiq berkembang dan mengalami halusisasi terminilogi menjadi sekular. Pesantren mengangkat terma ini untuk paling tidak menjaga jarak dengan apa yang disebut oleh para akademisi sebagai pembaruan.

Searang antri sebagai replik dari kultur universal pesantren juga mengangkat simbul-simbul yang menjadi trade mark mereka (peci dan sarung misalnya), identik dengan konservatsisme dan jamudisme,plus metodologi &literatur yang salaf (terminologi pesantren), maka sempurnalah kriteria (syarat masyrut)untuk menjadikan pesantren sebagai sub ordinat dari kelompok besarc Islam.

Berangkat dari dua faktor pendukung berkembangnya miss persepsi tadi dapat dimafhum bahwa juga dengan dua cara kita bisa mengikis sedikit demi sedikit opini yang tampil di permukaan dari yang semula diskreditatif menjadi disalienatif (paling tidak).

7 Tanggapan

  1. Menarik om…salam kenal.

  2. Numpang Mampir lan Copast

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: