Jari – Jari Yang Bersinar

Konon dahulu kala di suatu daerah yang bernama Qozwini, entah di negara mana daerah tersebut berada, yang jelas di sana pernah lahir salah seorang waliyulloh, Ulama’ yang kondang dengan kealimannya dalam ilmu Fiqh dan ajaran sufistik serta ilmu kalam yang begitu kental dan mendalam pada diri beliau.

Dialah Syeh Abdul ghoffar bin Abdul karim Al Qozwini pengarang kitab Al hawi Asshoghir, salah satu kitab yang sangat terkenal di kalangan Syafi’iyah.

Sebagai salah seorang kekasih Alloh, tentunya beliau pasti di karuniai karomah oleh Alloh SWT, terbukti seperti yang telah di kutip oleh Imam Nawawi di dalam kitabnya “Al Adzkar” Bahwa pernah suatu ketika Syeh Abdul Ghoffar pergi naik haji ke Baitulloh, secara kebetulan satu rombongan dangan Syeh Umar Syihabuddin yang juga salah satu waliyulloh yang berasal dari daerah Syahrowardi, daerah yang termasuk wilayah negara Irak yang pada saat ini di sana suasananya amat mencekam karena masih dijajah oleh Amerika serikat, yang di prakarsai oleh George Wolker Bush La’natulloh alaihi.

Sebenarnya Syeh Abdul Ghoffar tidak tahu bahwa Syeh Syihabuddin adalah seorang wali, namun tidak demikian halnya dengan Syeh Syihabuddin, terbukti beliau pernah dawuh pada jama’ahnya bahwa beliau mencium bau harum seseorang karena kealiman, kesufian dan kemulyaannya di sisi Alloh.

“Siapakah gerangan orang yang di puji oleh Syeh Syihabuddin ?” pertanyaan itulah yang berada di benak para jama’ah haji, dan setelah beberapa hari kemudian mereka memergoki Syeh Abdul Ghoffar yang sedang menulis sesuatu di kegelapan malam tanpa adanya sinar sedikitpun. Dan yang membuat mereka merasa kagum, jari- jari Syeh Abdul Ghoffar bersinar terang, sehingga beliau mampu menulis di suasana gelap gulita, mereka merasa yakin bahwa dialah orang yang di maksud oleh Syeh Syihabuddin, akhirnya mereka memberanikan diri menyapa Syeh Abdul Ghoffar.“Wahai orang yang mulia, anda di cari oleh Syeh Syihabuddin junjungan kami”, Dan setelah beliau mendatangi Syeh Syihabuddin, beliau di tanya “apa yang kamu tulis” ? Beliau menjawab “saya sedang menulis kitab yang saya beri nama “Al Hawi”.

Syeh syihabuddin melanjutkan   perkataannya “cepat selesaikan kitab itu”, kemudian Syeh Abdul Ghoffar merasa aneh, kenapa kok harus di percepat penulisan kitab tersebut dan beliau bertanya “kenapa kok demikian, memangnya ada apa ?”, Syeh Syihabuddin menjawab “karena waktumu tinggal sebentar lagi, aku senang kalau kitab itu sudah rampung sebelum kau meninggal”.

Akhirnya perkataan Syeh Syihabuddin betul- betul jadi kenyataan, setelah Syeh Abdul Ghoffar menyelesaikan tulisannya tak lama kemudian Inna lillahi wainna ilaihi roji’un pada tahun 605 H, beliau di panggil keharibaan Alloh SWT.

Nama beliau harum dan di kenang sampai sekarang, karena buah karyanya (Al Hawi Asshoghir).

Wahai kawula muda, yang perlu kita jadikan tauladan adalah bahwa dengan mencari kemulyaan di sisi Alloh, niscaya kita akan mendapat kemulyaan di dunia dan akhirot, buat apa dimulyakan dan di hormati oleh orang sekitar kita kalau disisi Alloh kita hina.

2 Tanggapan

  1. Posting bagus dan bermanfaat. Terus semangat menyuarakan kebenaran…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: