Info Masa’il Edisi Perdana

KONGLONG MLARAT
Kami warga I 08 mempunyai permasalahan yang berhubungan dengan bunga bank karena ta bungan kami banyak, jadi bunganya pun banyak.
Yang kami tanyakan:
Bolehkah bunga bank tadi digunakan untuk naik haji atau membayar zakat ?

(Warga Asrama Al Ittihad 08)

Jawab:
Transaksi anda dengan bank termasuk akad Qordlu (menghutangi bank) yang semestinya tidak boleh berbunga kecuali bunga tersebut tidak disebutkan dalam transaksi, maka bunga tersebut boleh digunakan untuk ONH dan membayar zakat.
Nb : Menghutangi orang lain dengan tanpa menyebutkan bunga tapi mengharapkannya hukumnya Makruh .
(قوله فسدالعقد) ومعلوم ان محل الفساد بحيث وقع الشرط فىصلب العقد اما لوتوافقا على ذلك ولم يقع شرط فى العقد فلا فساد (نهاية المحتاج الجزءالرابع ص 230 )
ولو اقرض من عرف برد الزيادة قاصدا ذلك كره فى اوجه الوجهين (نهاية المحتاج الجزء الرابع ص231 )

INDUSTRI DAN DAMPAKNYA

Akhir – akhir ini kita sering mendengar, membaca atau melihat dampak dari industrialisasi semisal pencemaran lingkungan, dan yang selalu menjadi korban adalah masyarakat yang berada di sekitar industri tsb. Seperti kasus Ajinomoto tahun kemarin .
Yang ingin saya tanyakan :
1. Bagaimana Fiqh memandang industrialisasi yang berkembang saat ini ? Pada satu sisi dia memberikan peluang kerja dan disisi yang lain dia memberikan dampak negatif ( seperti dengan semakin banyak kasus pencemaran lingkungan )
2. Apakah masyarakat yang terkena dampak pencemaran dapat mengajukan tuntutan ganti rugi kepada pabrik ?
3. Kalau dapat, bagaimana Fiqh mengaturnya (misalnya berapa jumlah ganti rugi yang bisa didapat ) ?
Jawab :
1. Fiqh membenarkan operasional industri selama masih sesuai dengan ketentuan syara’. Hal itu didasarkan atas kebebasan dalam memanfaatkan hak milik. Dampak negatifnya akan berpengaruh apabila operasional perusahaan melampaui batas kewajaran.
2. Boleh apabila pencemaran akibat industri tersebut melebihi batas kewajaran.
3. Besar kecilnya ganti rugi ditentukan oleh kesepakatan antara pihak perusahaan dan masyarakat. Kemudian jumlah tadi dibagi menurut prosentase hak milik masyarakat yang tercemar.
وعبارته : ( مسالة ب ) احدث فى ملكه حفرة يصب فيها ماء ميزاب من داره لم يمنع منه وان تضرر جاره برائحة الماء ما لم يتولد منه مبيح تيمم اذ للمالك ان يتصرف في ملكه بما شاء وان أضر بالغير بقيده المذكور وكذا إن أضر بملك الغير بشرط أن لا يخالف العادة في تصرفه كأن وسع الحفرة أو حبس ماءها وانتشرت النداوة إلي جدار غيره وإلا منع وضمن ما تولد منه بسبب ذلك.( بغية المسترشدين ص 142)
ولو أراد بناء تنور للخبز الدائم كما يكون في الدكاكين أو رحي للطحن او مدقات للقصارين لم يجز لأن ذلك يضر بالجيران ضررا ظاهرا لا يمكن التحرز عنه والقياس أنه يجوز لأنه تصرف في ملكه وترك ذلك استحسانا لأجل المصلحة اه.
( تبيين الحقائق شرح كنز الدقائق ج 4 ص 146 )
وانظر كيف يقسم المال المصالح به هل هو باعتبار الملاك أو االأملاك من غير نظر لكبير و صغير أو باعتبار قيم الأملاك إلي أن قال..والذي يظهر أنه يوزع المال علي عدد الدور ثم يوزع ما يخص كل بيت علي عدد رؤوس ملاكه فيما يظهر .إه ( حاشية الجمل ج 3 ص 362
)

WARTEG HALAL ENGGA’ ?
Di kota kami umumnya bermata pencaharian warteg ( warung tegal ). Dimana dalam pembelian lokasi warung dengan sistem fivty – fivty ( antara dua orang ) sebut saja Tejo dan Surti dan dalam praktek berdagang secara bergantian. Misalnya Tejo berdagang dari bulan Januari sampai Maret sedangkan Surti berdagang mulai April sampai Juni, begitu seterusnya.Dengan menggunakan modal sendiri – sendiri dan hasilnya pun sendiri – sendiri.
1. Apakah praktek diatas termasuk akad Musyarokah ?
2. Bagaimana perhitungan haul Tejo dan Surti dalam mengeluarkan zakatnya ?

(wong tegal)

Jawab :
1. Akad Musyarokah dalam Fiqh tidak ada, yang ada akad Syirkah. Dalam kasus Tejo dan Surti diatas ada dua peninjauan. Kalau ditinjau dari pembelian tanah, itu termasuk Akad Syirkah apabila sebelum pembelian tanah uang Tejo dan Surti dikumpulkan lalu diakadi Syirkah. Mengenai status tanahnya tergolong MAL MUSYTAROK ( harta bersama ) yang penggunaannya diatur sesuai dengan kesepakatan Tejo dan Surti. Sementara perdagangan yang mereka lakukan adalah hak sendiri-sendiri dan tidak termasuk Syirkah.
وعبارته : وشرعا ( اي والشركة شرعا ) ثبوت الحق في شئ لاثنين فأكثرعلي جهة الشيوع هذا والأولي أن يقال هي عقد يقتضي ثبوت ذلك اه.
(هامش بجيرمي علي الخطيب ج 3 ص 104 )
لايجوز لشريك ولا لغيره المطالعةفيالمشتريك الا باذن جميع الشركاء الكاملين اه ( الفتاوي الكبري ج 3 ص 82 )
والثالث أن يختلط المالين بحيث لايتميزان اه
(هامش الباجوري ج 1 ص 384 )

2. Karena Warteg Tejo dan Surti merupakan hak sendiri-sendiri, so pasti HAUL nya juga sendiri-sendiri dihitung dari awal berdagang. Keterangan masalah perincian haul berikut ibarotnya bisa dilihat di RIYADLUL BADI’AH.

GIMANA MBAGI ZAKAT ?
Bagaimana cara membagi zakat fitrah yang benar ? bayyin bayaanan tamman syafiyan !

(Voe’ad Vannanovic)

Jawab :
Pembagian zakat fitrah bisa dilaksanakan sendiri atau wakilnya dan juga bisa diserahkan kepada imam, amil ( BAZIS ). Jika dibagikan sendiri atau wakilnya ditafshil sebagai berikut:
 Bila Mustahiq Zakat ( fakir, miskin cs ) bisa diketahui jumlahnya dan harta mencukupi, maka pembagian zakat harus memenuhi tiga hal
a. Diberikan kepada semua golangan (fakir, miskin cs,red ) dengan nominal yang sama.
b. Dari masing-masing golongan dibagikan kepada semua indifidu yang ada.
c. Harta dari masing-masing golongan dibagikan kepada semua indifidu secara merata.
Berikut contoh pembagian zakat dengan Harta Rp. 150.000

Golongan Hak golongan Hak indifidu
2 orang fakir Rp. 50.000 @ Rp. 25.000
5 orang miskin Rp. 50.000 @ Rp. 10.000
10 org Ghorim Rp. 50.000 @ Rp. 5.000

 Apabila Mustahiq zakat tidak diketahui jumlahnya atau harta zakat tidak mencukupi, maka cara pembagiannya sama dengan yang diatas kecuali point b ( tidak wajib dibagikan semua indifidu yang ada ), tetapi minimal tiga orang.
Sebagian Ulama, seperti Imam Ashthokhory berpendapat cukup dibagikan kepada tiga orang saja bahkan sekelompok Ulama memperbolehkan pembagian zakat fitrah hanya kepada satu orang saja.


وعبارته : والحاصل يجب علي الإمام إذا كان هو المخرج للزكوات أربعة أشياء تعميم الأصناف والتسوية بينهم وتعميم أحاد كل صنف والتسوية بينهم وإذا كان المخرج المالك وجبت أيضا ماعدا التسوية بين الآحاد إلا إن انحصروا في االبلد ووفي المال بهم فإنها تجب أيضا اه.
(إعانة ج 2 ص 195 )
واختار جماعة من أصحابنا منهم الأصطخري جواز صرف االفطرة الي ثلاثة مساكين أو غيرهم من المستحقين اه. وعبارة االتحفة لكن اختار جمع جواز دفعها لثلاثة فقراء أو مساكين مثلا وآخرون جوازه لواحد . اه
( اعانة ج 2 ص 197 )

%d blogger menyukai ini: