Bincang – Bincang mengenai BENAR & SALAH

Berbicara “benar” dan “salah”, terlebih dahulu harus difahami, bahwa secara garis besar, “benar” terbagi menjadi dua; [1] “kebenaran sejati”, menurut sudut pandang Allâh dan RasulNya, dan [2] “kebenaran nisbi”, menurut sudut pandang manusia.

Kebenaran sejati adalah segala bentuk kebenaran yang bersumber dari firman Allâh SWT dan sabda RasulNya, sebab kedua pusaka peninggalan tersebut bersifat ma’shum (terjaga dari kesalahan). Namun perlu dimengerti, bahwa yang ma’shum (terjaga dari kesalahan) adalah makna yang dikehendaki oleh Allâh SWT dan RasulNya dibalik teks-teks wahyu tersebut. Sedangkan pemahaman seseorang akan teks-teks wahyu tersebut, sama sekali tidak bisa terjamin dari kesalahan, meski ia seorang mujtahid sekalipun.

Masalahnya adalah, teks-teks wahyu justru lebih didominasi oleh teks-teks yang bersifat multi interpretasi (dzannî al-dilâlah) daripada yang bersifat pasti (qath’î al-dilâlah). Padahal, usaha menangkap makna yang sejalan dengan kehendak Allâh SWT dan RasulNya, sehingga dapat menghasilkan sebuah kebenaran sejati, hanya bisa dipastikan apabila berdasarkan pemahaman atas nash yang Qath’i, bukan yang bersifat Dzannî. Artinya, pemahaman yang berseberangan dengan hasil pemahaman atas nash Qath’i dapat dipastikan “salah”. Sebab, teks wahyu yang bersifat pasti, tidak mungkin mengandung lebih dari satu makna. Sedangkan pemahaman yang berseberangan dengan nash Dzannî, tidak bisa divonis salah. Sebab, makna sesungguhya yang dikehendaki Allâh SWT dan RasulNya, di balik teks-teks wahyu tidak bisa diklaim sepihak menurut pemahaman seseorang. Hal ini karena teks wahyu model ini bersifat multi tafsir atau sarat makna.

Sedangkan kebenaran nisbi atau praduga adalah sesuatu yang diyakini benar menurut praduga seseorang, berdasarkan bukti-bukti ilmiyyah yang dapat dipertanggungjawabkan. Kebenaran seperti ini, dapat dihasilkan dengan beragam cara. Termasuk mengikuti pendapat ulama mayoritas. Dalam berbagai hal, pendapat mayoritas merupakan satu indikasi kuat, bahkan meyakinkan bahwa apa yang disampaikan adalah sebuah kebenaran. Sebab, salah satu keistimewaan umat Muhammad SAW adalah, mereka tidak akan pernah bersepakat dalam kesesatan. Artinya, ketika mereka sepakat akan suatu hukum, maka memang seperti itulah yang dikehendaki oleh Allâh SWT. Inilah yang disinyalir oleh sabda Rasulullâh SAW;

إِنَّ أُمَّتِي لاَ تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُ اخْتِلاَفًا ، فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ

Artinya :”Sesungguhnya ummatku tidak akan pernah bersepakat dalam kesesatan. Oleh karenanya, apabila kalian menjumpai perselisihan, maka ikutilah golongan mayoritas”

Kesimpulannya, statemen di atas tidak sepenuhnya benar. Sebab, bagaimanapun juga, -secara logika maupun dalil- pendapat mayoritas bisa dijadikan sebagai bukti bahwa apa yang disampaikan adalah sebuah kebenaran, selama tidak bertentangan dengan dalil pasti. Apabila bertentangan dengan dalil pasti, maka sudah barang tentu pendapat mayoritas tidak boleh diikuti, meskipun harus menanggung konsekuensi pahit, yakni teralienasi (terasingkan), termarjinalkan dalam kehidupan bermasyarakat, karena dianggap kolot, ketinggalan zaman, dan lain sebagainya. Inilah yang dimaksud dengan perkataan Ibn Mas’ûd RA;

الْجَمَاعَةُ مَعَ مَا وَافَقَ الْحَق وَإنْ كُنْتَ وَحْدَكَ

Artinya :”(Yang dimaksud dengan) jama’ah adalah bersama dengan sesuatu yang benar, meskipun kamu sendirian”

Bagaimana dengan QS. al-An’âm :116 yang secara tegas memberikan peringatan akan bahayanya mengikuti mayoritas, sebab bisa menyesatkan ? Apakah hal ini tidak bertentangan ? Disinilah liciknya. Sebagaimana kaum puritan atau sekte pinggiran pada umumnya, mereka gemar berlindung di balik ayat syubhat untuk disesuaikan dengan klaimnya, sehingga seakan-akan apa yang disampaikan berdasarkan dalil, padahal sesungguhnya ayat yang ia kutip, sama sekali jauh dari sasaran dan bukan pada tempatnya (takhrîf al-kalim ‘an mawâdli’ih) .

Antara sabda Rasulullâh SAW di atas dengan QS. al-An’âm :116, sama sekali tidak bertentangan. Yang dimaksud dengan “umatku” dalam hadîts adalah umat ijâbah, yakni umat yang iman kepada Allâh SWT dan Rasul-Nya. Sedangkan QS. al-An’âm :116 berbicara tentang orang-orang kafir. Artinya, obyek dari ayat tersebut adalah orang kafir, bukan orang muslim. Ayat ini turun, sebagai bantahan terhadap orang-orang kafir, ketika mereka berusaha menggoyahkan iman kaum muslimin dengan mengatakan; “Apakah kalian mau memakan binatang-binatang yang kalian bunuh, tetapi justru enggan memakan binatang-binatang yang dibunuh oleh Tuhan kalian (yakni binatang persembahan untuk berhala)?”

Larangan Allâh SWT mengikuti mayoritas manusia (kafir), didasari oleh kenyataan bahwa mereka beragama hanya didasarkan pada praduga mereka semata, bahwa tindakannya legal-formal. Padahal, kenyataannya, semua itu adalah kesesatan. Sebagaimana yang disinyalir oleh kelanjutan dari ayat tersebut;

إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Artinya :”Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)”

Lihatlah, dengan liciknya, kelompok puritan ini memotong dan menutup-nutupi –agar tidak kelihatan boroknya- kelanjutan ayat tersebut, yang berperan penting menjelaskan siapa sebenarnya yang dimaksud dengan “kebanyakan manusia” pada ayat tersebut. Hal ini ia lakukan, jelas sebagai upaya untuk mengelabui orang lain. Apabila kelanjutan ayat tersebut ia sebutkan, sudah pasti semua orang akan tahu, bahwa kelompok ini telah keliru dalam menerapkan sebuah ayat. Intinya. Semua ayat yang senada, tidak ada satupun yang mengarah kepada kaum muslim, semuanya berbicara tentang umat-umat terdahulu, seperti QS. Yûsuf :103.**kayla tuhibbuh Belhawa**

Wallohu A’lam Bisshowab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: