Bab III Menjadi Kyai Perintis Al Falah

MENGEMBAN AMANAH MENEBAR ILMU

Dari Karangkates Haji Djazuli Ialu pulang ke Ploso dengan diikuti seorang santrinya bernama Muhammad Qomar, lucunya santri itu tidak lain adalah kakak iparnya sendiri yang tak mau berpisah dengannya. Karena di Ploso ia belum memiliki tempat tinggal, maka ia bersama santri satu satunya itu tinggal di bilik utara masjid kenaiban. Seandainya yang menjabat naib waktu itu bukan Bapak Iskandar, kakak kandungnya sendiri mungkin ia tak boleh menempati bilik itu.
Pertengahan tahun 1924 dari seorang santri dan satu masjid ini Haji Djazuli mulai merintis pesantren. la meneruskan pengajian untuk anak anak desa sekitar Ploso yang sudah dimulainya dengan pulang pergi sejak ia masih berada di Karangkates. Jumlah murid pertama yang ikut mengaji ± 12 orang. Dengan ikhlas ia membimbing murid-muridnya demi menjalankan amanah yang dibebankan kepada orang yang sudah memiliki Ilmu. la merasa wajib menyebarkan ilmunya semata mata karena perintah Allah, bukan karena ambisi ingin menjadi tokoh yang disegani berpengaruh dan dihormati, apalagi untuk mencari keuntungan materi. Dibimbingnya santri yang sedikit itu dengan telaten dan penuh kesabaran lewat sistem sorogan, dibacakannya makna gandul (makna berbahasa jawa dari kitab kuning ala pesantren) kepada murid muridnya, Ialu disuruhnya murid murid itu mengulang makna tadi secara bergantian. Dibetulkannya apabila ada yang salah membaca dengan cara yang baik dan bijaksana, bahkan dengan senang hati ia menuliskannya di kitab murid muridnya apabila sang murid menyodorkan kitab beserta pulpen berikut tintanya. Diterangkannya materi pelajaran dan permasalahan dengan jelas dan tuntas.1)
Semangat yang ditunjukkannya ketika mengajar di hadapan berpuluh puluh orang ketika masih di Mojosari, Mekkah, Tebuireng, Tremas dan Karangkates tidak berbeda dengan menghadapi seorang santri di serambi masjid Dan begitu juga sikapnya ketika mengajar ratusan santri di kemudian hari. Sungguh ia mengajar bukan untuk sanjungan, namun semata mata demi perintah Allah.
Itulah rahasia keberhasilannya dan itulah modal awal satu satunya yang ia miliki. Tak ada modal harta sepersenpun, tak ada sejengkal tanah, yang dimilikinya, bahkan apa yang hendak dimakan besok pagi saja ia tak mengerti.
Di saat saat itu ia selalu ingat pesan Kyai Zainuddin, guru sekaligus mertuanya, “Le ngajiyo! senajan ora duwe santri”.*) Kata kata itulah yang selalu membakar semangatnya dan tak pernah padam selamanya. Bahkan. sampai terbawa bawa ke dalam mimpi, seringkali ia bermimpi didatangi oleh Kyai Zainuddin dan diperintahkan untuk mengajar ngaji.2) Dan di suatu malam ia bermimpi menggendong mayat, Ialu tiba tiba mayat tersebut hidup. Esok paginya ia menceritakan perihal mimpinya itu dan ia melanjutkan : “Jarene arep hasil sejane” (jadi akan berhasil rencananya), sebagaimana layaknya kepercayaan orang orang tua tentang ta’bir mimpi menggendong mayat.
Hari demi hari kian banyak orang yang tahu kalau Mas’udnya Kyai zainuddin alias blawong yang telah melanglang buana memburu ilmu dari ujung timur di Sidoarjo sampai ke ujung barat di Mekkah kini telah pulang menebarkan ilmunya di kampung kelahirannya, maka banyaklah anak anak desa sekitar bahkan dari wilayah yang agak jauh datang ke Ploso mengikuti pengajiannya.
Di penghujung tahun 1924 itu seorang santri Tremas bemama Abdullah Hisyam asal Kemayan (± 3 km selatan Ploso) datang bertamu kepada Haji Djazuli sambil membawa salam dan surat surat dari sahabat lamanya. Kedua orang yang merasa sama sama satu almamater (seperguruan) di Pondok Tremas itu beramah tamah sampai lama. Haji Djazuli bertanya tentang gurunya Hisyam, tentang kitab-kitab yang dikuasainya dan masalah masalah kesulitan yang dihadapinya. Setelah dialog terasa cukup, Ialu Haji Djazuli melanjutkan, “Sudahlah! tidak usah mondok ke sana ke mari, tinggal di sini saja ikut ngaji bersama saya, fainnalhuda hudallah.” “Alhamdulillah”, seru Hisyam dengan suara datar. Hisyam merasa senang sekali karena kepergiannya ke Tremas satu setengah tahun yang Ialu sebenarnya ingin mengikuti pengajian Haji Djazuli di samping Kyai Dimyathi, namun sayang sekali rencananya itu tak dapat terlaksana karena sesampainya di Tremas Haji Djazuli baru saja boyong (pulang ke Karangkates), maka Hisyam benar benar lega mendengar tawaran Haji Djazuli daii mantaplah ia mulai saat itu untuk berguru sambil mengajar membantu gurunya. Konon Hisyam bukanlah orang yang cerdas tapi berkat ketekunan dan kesabaran Haji Djazuli membimbingnya ditanmbah kemauannya yang membaja ia mampu tampil sebagai guru yang berbobot dan merupakan salah seorang pelopor berkembangnya Pondok Ploso di masa masa berikutnya. Bahkan setelah ia pulang ke kampungnya di dusun Kemayan ia menjadi Kyai yang cukup disegani.
Haji Djazuli semakin optimis (berbesar hati) akan berhasil mendirikan Madrasah dan Pondok Pesantren yang punya masa depan gemilang. Tiba tiba ia dipanggil oleh Kyai Zainuddin, guru sekaligus mertuanya, maka ia segera berangkat ke Mojosari. Tak pernah diduga sebelumnya Kyai Zainuddin berkata “Kowe biyen anakku, saiki yo anakku Mulo Pondok iki (Mojosari) terusno opo dene omahku, sawahku iki mbesok pandumen karo Zaini (putra angkat beliau).”*) Bak disambar petir di siang bolong, Haji Djazuli terperanjat di depan gurunya yang dihormatinya sekaligus mertuanya tercinta. Betipa tidak, ia sudah memiliki kemantapan hati untuk mendirikan Pondok di Ploso, sementara gurunya menginginkannya meneruskan Pondok Mojosari, suatu perbedan pendapat yang sulit dipecahkan.
Dengan sangat terpaksa ia menjawab dengan penuh kejujuran babwa ia sudah mantap untuk mendirikan Pondok di Ploso. Jawaban ini membuat Kyai Zainuddin kecewa dan marah. Bukankah sejak Haji Djazuli masih menjadi santri pengabdiannya terhadap Pondok Mojosari sudah ditekankan oleh Kyai dan agaknya Kyai sangat berharap agar Haji Djazuli benar benar tampil sebagai generasi penerus pimpinan Pondok Mojosari.
Haji Djazuli pulang ke Ploso dengan perasaan gundah, hatinya sedih karena telah berani menyakiti perasaan gurunya. la amat khawatir akan kelangsungan cita citanya tanpa mendapat ridlo dan dukungan dari gurunya sekaligus ayahnya yang telah berjasa besar dalam hidupnya. Namun apa hendak dikata perbedaan pendapat tak bisa dihindarkan.
Agaknya permasalahan berat yang dihadapi oleh Haji Djazuli ini sampai juga ke telinga Kyai Hasyim Asy’ari, sehingga beliau memerlukan diri untuk menjernihkan permasalahan dengan berperan sebagai penengah, beliau segera sowan (menghadap) kepada Kyai Mojosari dan menjelaskan duduk perkaranya dengan penuh diplomatis lagi bijaksana. “Sampun kersanipun menawi pancen Haji Djazuli kepingin badhe dhamel Pondok wonten Ploso nggih sak kersanipun”.*) begitu di antara kata yang disampaikan Kyai Hasyim Asy’ari. Kemudian hilanglah kesalahfahaman Kyai Mojosari dan beliau dapat mengerti serta akhirnya merelakan kehendak menantunya.3)

LIKU LIKU DI AWAL 19254)

Hilang sudah keraguan di hati dan mantaplah Haji Djazuli meneruskan perjuangannya membina dan mendidik murid muridnya. Maka dengan ucapan Bismillah dan bekal Tawakal dibentuknya sebuah Madrasah. Surat permohonan pemantauan kepada pemerintah Belanda untuk lembaga baru yang kemudian dikenal dengan nama Al Falah itu tertanggal 1 januari 1925. Karena Madrasah tersebut belum punya gedung maka tempat belajamya menggunakan serambi masjid. Inilah awal keberangkatan Haji Djazuli menjadi seorang Kyai di usia yang masih muda 25 tahun.
Hisyam sudah enam bulan digembleng oleh Kyai muda, banyak peningkatan yang diperolehnya dan siaplah ia untuk mengajar di tingkat yang lebih rendah, maka Kyai Djazuli memerintahkannya untuk mengajar di malam hari sehabis maghrib membawakan mata pelajaran Sulam taufiq, Risalatul Mubtadiin dan Bad’ul amali. Jadwal ini hanya berlangsung dua bulan untuk kemudian diganti waktunya menjadi malam hari dan ternyata setelah enam bulan berjalan diganti lagi menjadi jam delapan pagi. Begitulah awal perjalanan dari sebuah perjuangan yang masib harus beradaptasi dengan tuntutan kebutuhan murid yang dilayaninya. Memang menyebarkan llmu ibarat orang berdagang yang harus menyesuaikan diri dengan keinginan pembeli agar barangnya bisa laku.

Cerita tentang berdirinya Madrasah sudah terdengar di kalangan yang lebib luas hingga satu demi satu santri berdatangan dari berbagai desa dan santri santri yang berasal dari daerah yang jauhpun satu demi satu menetap di Ploso. H. Ridwan Syakur, Baedlowi dan Khurmen, ketiganya dari Sendang Gringging ditambah H. Asy’ari dan Berkah dari Ngadiluwih merupakan santri santri pertama yang menetap. Suasana sudah terasa ramai dan masjidpun terasa sesak yang menimbulkan permasalahan baru yaitu mendesaknya pengadaan ruang belajar yang memadai. Direncanakanlah pembangunan sebuah gedung Madrasah. Dengan segenap tenaga, fikiran dan jerih payah yang tak ternilai, Kyai Djazuli keliling desa guna mengumpulkan.dana untuk pembangunan tersebut. Beliau harus mengayuh sepeda berpuluh puluh kilometer sampai Kediri, Tulungagung, Trenggalek dan terkadang ke Blitar. Namun tak sia sia banyak hartawan dan dermawan mengulurkan tangan sehingga pembangunan segera bisa dilaksanakan. Akan tetapi di dunia ini tak ada jalan yang terus mendatar, sebanyak jalan yang menurun sebanyak itu pula yang mendaki. Begitulah dengan perjalanan awal Al Falah. Konon bersamaan dengan berlangsungnya pembangunan Madrasah Pak Iskandar kakak kandung beliau membeli sepeda fongres secara kredit, maka pecandu kesenian, perjudian dan se)enisnya yang merasa terancam dengan kehadiran Kyai baru itu benar benar mendapat bahan ocehan dan peluang untuk melancarkan serangan awal.5)
“Stop sumbangan untuk madrasah”, kata mereka. “Menyumbang sama saja dengan melancarkan angsuran kredit,” begitu bunyi fitnah yang disebarkannya, bahkan ada penduduk yang membelah kayu untuk disumbangkan kepada pembangunan. Di tengah perjalanan kayu tersebut dicegat dan sebagiannya dibawa kembali.
Kyai Djazuli tetap diam, seperti diamnya di masa kanak kanak. Kesabarannya begitu tinggi. Akan tetapi fitnah bukannya reda, justru semakin menusuk hati. Disebarkanlah isu babwa jalannya Madrasah Ploso itu tidaklah baik, karena gurunya kurang umur, kurang pintar, kurang sholeh dan sebagainya. Kyai Djazuli masih tenang tenang saja, namun diam diam beliau mempunyai taktik yang sangat jitu untuk menangkis serangan mereka. Diundanglah para Kyai dan pemuka masyarakat sewilayah kecamatan Ploso untuk mengadakan suatu rapat yang berkaitan dengan berdirinya Madrasah. Acara dibuka dengan pembacaan Al Qur’an oleh Abdullah Hisyam seorang santri beliau yang ditugaskan mengajar di Madrasah. Tentu saja kemampuan vokal (suara), tajwid dan lagunya memenuhi persyaratan. Setelah itu Kyai Djazuli memberi sambutan tentang permasalahan permasalahan yang tengah dihadapi, tetapi sebagian isi sambutan tersebut memperkenalkan siapakah Qori’ yang penampilannya cukup lumayan tadi. Saya berani menugaskannya mengajar karena bacaannya sudah bagus, sah untuk dijadikan imam sholat, tulisannya jelas dapat terbaca dan akhlaknya pun bagus.
“Saya menganggap dia cukup pantas. Adapun masalah-masalah kekurangan akan saya usahakan untuk diperbaiki”, begitulah sambutan beliau yang kemudian dilanjutkan dengan ungkapan sebagai berikut: “Akan tetapi terserah bapak bapak, kalau mengusulkan untuk diganti, ya saya akan ganti”, serentak hadirin menjawab: “Tidak, tidak perlu! sudah, sudah bagus”.

Tanpa komentar panjang, tanpa bertengkar apa lagi bentrokan fisik atau konfrontasi. Kyai Djazuli dengan bijaksana sudah menyelamatkan perjuangannya dari serangan fitnah, sebab dari hasil pertemuan itu isu isu negatif sudah tidak bisa mempengaruhi kalangan tokoh tokoh masyarakat khususnya tokoh agama.
Di tengah tengah badai topan kendala dan rintangan itu pembangunan terus berjalan dipimpin oleh seorang tukang bangunan bernama Hasan Hadi. Seluruh santri bahu membahu bergotong royong, begitu juga Kyai dan Ibu Nyai terlibat langsung sampai pembangunan sudah layak untuk ditempati, tinggallah semen untuk lantai yang tak terjangkau oleh dana. Tak ada rotan akarpun jadi, maka dipakailah batu bata merah untuk lantainya, sehingga Madrasah yang berlokasi di depan Masjid dan terdiri dari 2 lokal itu terkenal dengan sebutan Madrasah Abang (Madrasah Merah). Peristiwa ini terjadi pada tahun 1927, konon KH. Hasyim Asy’ari berkenan hadir pada acara selamatan/ syukuran pembangunan Madrasah tersebut, suatu peresmian yang sangat sederhana.
Lega sudah hati Kyai Djazuli, begitu pula para santri yang belajar. Mereka merasa tentram dan punya harapan untuk meraih ilmu dengan sukses dengan tersedianya fasilitas yang kian meningkat, sementara santri santri baru dari daerah yang jauh terus bertambah. Banyaknya santri yang menetap sudah tak tertampung lagi di Masjid sehingga timbullah permasalahan lagi yaitu pengadaan asrama (pondok) tempat bermukim bagi para santri. Maka pada tahun berikutnya (1928) dibangun pondok yang pertama kali yang diberi nama pondok D (Darussalam) yang disusul pada tahun berikutnya dengan pembangunan Pondok C (Cahaya) yang semula diperuntukkan sebagai tempat mujahadah bagi para santri.
Begitulah sepak terjang seorang ‘Ulama sejati yang mengajarkan ilmunya semata mata Lillahita’ala Ialu santri datang satu persatu berkerumun bagai tawon menyerbu gula. Santri itu dilayaninya dengan baik semata mata karena amanah Allah. Setelah santri santri berdesak desakan diperjuangkannya Madrasah dan asrama. Kini kita cap beliau sebagai ‘Ulama kuno, ‘Ulama kolot berjuang bagaikan siput tak punya rencana. Tetapi ketahuilah perjalanan seekor siput, walaupun perlahan tapi pasti. Sangat berbeda dengan generasi modern yang mendewa dewakan manajemen. Pondok dirancang dengan rencana matang, Ialu didirikan gedung permanen dengan fasilitas lengkap sembari memasang iklan di berbagai media. Namun fakta telah bicara, banyak terjadi gedung sudah mulai retak dan keropos sementara santri santrinya tak kunjung datang. Suatu bahan renungan bagi pejuang pejuang Pondok Pesantren.

Satu Tanggapan

  1. Beliau mmg tauladan bagi kita😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: