KEMBALI KE PESANTREN

Berangsur angsur kesehatan H. Djazuli pulih kembali setelah mendapatkan perawatan dan istirahat secukupnya, akan tetapi bagi H. Djazuli yang sedari kecil sudah ditempa untuk disiplin dan menghargai waktu, istirahat dirasakannya sebagai beban mental, disamping itu ia merasakan bahwa keadaannya yang menganggur telah menambah pemikiran bagi ibunya yang nampak semakin tua, timbul perasaan tidak enak dihatinya, apalagi telah melihat saudara saudaranya seperti Mas Iskandar, Zarkasi dan Miftah telah bekerja sebagai pegawai negeri dan telah berumah tangga dengan mapan, ia tak layak untuk terus di rumah, walaupun bagi ibunya sendiri tak menganggap apa apa.
Perasaannya ini sangat beralasan karena ia sudah dewasa dan warisan yang menjadi haknya telah dijual habi untuk haji, ia tak ingin menjadi beban bagi orang lain. Maka dengan berbekal semangat berangkatlah ia ke Tebuireng – Jombang setelah pamit dari rtumah dan singgah beberapa lama mohon izin di mojosari kepada Kyai Zainuddin mertuanya.
Ia memilih Tebuireng karena pada tahun 1923 itu, walaupun Organisasi Nu belum berdiri nama Kyai hasyim Asy’ari amatlah masyhur. Murid Kyai Kholil Bangkalan ini dikenal sangat alim ilmu hadits, disamping Pondok Tebuireng mempunyai nama yang harum karena reputasinya yang banyak menelorkan tokoh-tokoh Ulama dan Politisi di negara ini.
Tatkala H. Djazuli telah sampai di Tebuireng dan sowan (menghadap) kepada Kyai Hasyim untuk menyampaikan niatnya akan mempelajari ilmu terutama ilmu hadits, Kyai Hasyim malah menugaskannya untuk membaca (mengajar) Tafsir Jalalain. H. Djazuli tak bisa berbuat pura-pura bodoh di hadapan Kyai Hasyim. Sebab beliau tahu siapa H. Djazuli sebenarya yang tak lain adalah Mas’udnya Kyai Zainuddin Mojosari. Bukankah nama itu sudah dikenal di kalangan Pesantren, khususnya Ulama’ ulama’ yang karib dengan Kyai Zainuddin seperti Kyai Hasyirn.
“Kamu tidak usah mengaji, mengajar saja disini,” kata Kyai Hasim dengan tegas. Bukan hanya Tafsir yang ditugaskan kepadanya, tapi dipercaya juga untuk rnengajar di Madrasah.
H. Djazuli sebenarnya masih menyadari kebodohannya. Seperti itulah memang sikapnya sampai ia kelak menjadi ‘ulama besar. la selalu merasa bodoh, merasa baru menguasai setetes ilmu dari samudera ilmu yang tak ada batasnya. Itulah sebabnya ia selalu merendah dan masih selalu haus sampai kapanpun. Tugas mengajar yang diembankan kepadanya diterimanya dengan ikhlas semata-mata sebagai ta’dhim dan ia yakin dari tugas itu dapat dipetik banyak pelajaran dan pengalaman. lapun menjalankan tugasnya dengan baik, disiplin dan penuh tanggung jawab.
Kini Kyai Hasyim tidak mendengar cerita dari Kyai Zainuddin atau orang lain tentang kehebatan Mas’ud, tetapi sudah dibuktikannya dengan mata kepala sehingga bertambahlah kagum, cinta dan kepercayaan beliau. Konon, ketika itu baru berdiri Majelis Musyawaroh Riadlotut Tholabah (Majelis kerjasama antar Pondok Pesantren yang menyelenggarakan seminar seminar tentang permasalahan agama sesuai dengan konteks yang berkembang). Untuk mewakili Tebuireng dalam bahtsulmasail (seminar) H. Djazulilah yang dipilih oleh Kyai Hasyim. Berulang kali ia menghadiri Bahsulmasail diberbagai tempat seperti di Kenes, Surabaya, Semarang dan sebagainya. Di acara acara inilah ia banyak bertemu dengan tokoh tokoh berkaliber nasional. Suatu kesempatan yang baik baginya untuk berkenalan dan berhubungan dengan tokoh masyarakat sehingga wawasannya dapat berkembang sangat luas. la tidak hanya memiliki wawasan keagamaan dan keilmuan yang dalam, wawasan berbangsa dan bernegara juga dikuasainya.
Jelaslah dari derap langkahnya di Tebuireng H. Djazuli telah menimba banyak ilmu dan pengalamaii disamping ilmu Hadits yang menjadi tujuan pokoknya. Sebab disamping pengalaman luas di luar Pondok lewat forurn bahtsulmasail di atas ia terus ditempa dengan pengalaman pengalaman di dalam Pondok. Mengajar Tafsir merupakan study banding (komparasi) untuk memilih methode yang tepat dalam memberikan pengajian, sedangkan mengajar di Madrasah merupakan peluang emas untuk belajar sistem rnanajemen dan methode pendidikan Pondok yang baik.

DARI JOMBANG KE TREMAS LEWAT KARANGKATES

Prestasi H. Djazuli telah membuat banyak pihak mengacungkan jempol, bahkan banyak orang yang mempunyai anak gadis simpati ingin menjadikannya menantu. Andaikan Kyai Hasyim Asy’ari waktu itu punya anak gadis yang pantas dijodohkan, tentu beliau akan mengikat hubungan dengan murid andalannya yang sudah berstatus duda namun masih muda perkasa (23 th). Akan tetapi beliau tak berlepas tangan begitu saja, H. Djazuli diarahkannya menuju seorang sahabat akrabnya yaitu Kyai. Muharrom Karangkates (± 2 km dari Ploso), Kyai yang tergolong maju saat itu mempunyai anak gadis belia bernama Hannah. Isianya sekitar belasan tahun, usia yang terlalu kanak-kanak untuk menghadapi rumah tangga penuh tantangan. Namun dibalik itu Kyai Muharrom sependapat dengan Kyai Hasyim bahwa H. Djazuli tak boleh dilepaskan begitu saja, yang penting harus diikat sejak dini.
Karena alasan itulah tak lama setelah pernikahan berlangsung Kyai Muharrom menawarkan kepada sang menantu untuk kembali mondok bersama Jufri dan Makki, dua orang kakak iparnya. Sudah pasti H. Djazuli sang pemburu ilmu yang tak pernah mengenal lelah itu sangat senang mendengar tawaran mertuanya. Pesantren yang dituju adalah Tremas, sebuah pesantren yang terletak jauh di pelosok desa di kawasan kabupaten Pacitan yang waktu itu kendaraan sejenis bendipun tak dapat mencapainya. Untuk sampai kesana orang harus berjalan kaki beberapa lama. Untuk periode 1894 1934 M. Pondok Pesantren Tremas diasuh H. Dimyathi adik kandung sekaligus murid Syaikh Mahfudz Attarmasiy. Pondok Tremas menjadi sangat populer di zaman dahulu karena Kyai Kyainya yang benar-benar ‘alim, juga dipengaruhi reputasi (nama baik) Syaikh Mahfudz sebagai ‘Ulama kenamaan yang juga muallif (penulis) berpuluh puluh Kitab yang menjadi literatur di berbagai negara Arab dan Pondok pondok pesantren di Nusantara. Bahkan beliaulah putra Indonesia pertama yang mengajar di Masjidil Haram Makkah.23)
Tatkala sowan kepada kyai dalam rangka menyampaikan niatnya belajar, untuk kesekian kalinya H. Djazuli ditugasan memberi pelajaran. Bahkan kali ini tidak tanggung tanggung, Kyai Dimyathi menugaskannya untuk membaca sekaligus tiga kitab yang tergolong tebal tebal. Yang membuat dirinya grogi adalah ia datang ke Tremas tanpa membawa kitab, sehingga ia memberanikan diri untuk menghaturkan pada Kyai.
“Maaf saya tidak membawa kitab”, katanya mengelak, yang langsung dijawab oleh Kyai : “Tidak jadi soal, nanti bisa pinjam kitab saya”, maka diapun tidak dapat mengelak, mau tidak mau harus mengajar dengan membaca kitab Kyainya. Dan seperti yang terjadi di pondok pondok sebelumnya, kepercayaan mengajar ini juga membuat H. Djazuli tak dapat bersantai seperti santri santri biasa, dia harus lebih tekun. Mempengnya yang tak pernah surut membuktikan betapa cintanya kepada ilmu, melebihi cintanya kepada yang lain. Seolah olah ia telah berjanji setia kepada ilmu my love just for you, sehingga ia melupakan pelukan istrinya, agaknya Iezatnya madu ilmu melebihi nikmatnya bulan madu.
Di Karangkates Kyai Muharrom beserta istrinya dan Hannah putrinya menunggu dengan sabar. Sungguh kecintaan dan harapan Kyai Muharrom kepada sang menantu tak dapat diukur, sehingga beliau rela berkorban apa saja, mengalahkan cinta kepada anak kandungnya sendiri. Direncanakannya Pondok yang besar untuk H. Djazuli yang akan dibangun di areal tanah miliknya. Kyai Muharrom yakin bahwa masa depan menantunya adalah masa depan agama, keduniawian tak pemah dipikirkannya.
Akan tetapi lbu Nyai sebagai wanita yang normal mempunyai pandangan yang berbeda dengan suaminya. Disamping masa depan agama (Pondok Pesantren), Ibu Nyai ingin memikirkan masa depan dunia bagi pasangan muda menantu dan anaknya. Beliau yang berasal dari keluarga yang berada ini tak ingin anak cucunya hidup melarat, sengsara dan hina ekonominya. Jadi kehidupan dunia sangat perlu dipikirkan disamping kehidupan akherat. Bukankah kita butuh dunia hasariah, akherat hasanah?. Adalah sangat wajar kalau beliau memikirkan masalah ini sebagaimana pandangan wanita pada umumnya yang terkadang berlebihan terlalu khawatir akan nasib anaknya, bukan berarti beliau materialis.24)
Perbedaan pandangan yang kemudian menimbulkan kesalahpahaman itu terus berkelanjutan sampai H. Djazuli dan ipar iparnya pulang dari Tremas. Bahkan setelah ketiga kader calon tokoh pondok itu diterjunkan untuk mengajar, kesalahfahaman tadi berkembang menjadi cemburu, fasalnya pengajian pengajian yang diasuh oleh H. Djazuli selalu mendapat kunjungan lebih ramai dan antusias dari para santri, mengalahkan kedua putranya. Hal ini tentu menimbulkan gap (jurang pemisah) yang sulit dihindarkan, walaupun rumah tangga yang dibina H. Djazuli dan Hannah bisa berlangsung harmonis dan rukun.
Suatu cobaan berat diterimanya dalam memilih antara istri tercinta ataukah idealisme perjuangan mengembangkan ilmu, banyak sudah calon pemimpin kandas ketika dihadapkan pada wanita harta atau kedudukan. H. Djazuli adalah teladan yang pantas kita tiru, hatinya tak bergeming menerima tantangan tantangan seperti itu. Dia tetap memilih ilmu, suatu idealisme yang sudah diyakininya, mengaji dan hanya mengaji, itulah yang terpenting, perkara lain adalah kecil, perkara rizki adalah anugrah Tuhan semata, itulah prinsip yang dipegang oleh H. Djazuli dan itu pula pendiriannya, tatkala ibu mertuanya mengatakan dengan sinis: “Wong isane mung ngaji tok, sing kanggo ngopeni bojo iku apo … ?”*)
Akhirnya demi kemaslahatan bersama dan kelangsungan cita cita, H. Djazuli menjatuhkan talaq dengan sangat terpaksa setelah terlebih dahulu mohon pertimbangan dan restu ibunya di Ploso.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: