DERITA DI TANAH SUCI & KUDETA WAHABI

lbadah haji tengah berlangsung, setiap Jamaah hanyut dalam perasaannya masing masing, rukun demi rukun dari lbadah haji menyimpan nilai spiritual yang amat tinggi dan mendatangkan rasa khusu’ dekat dengan Allah. Sehingga banyak orang menangis menyesali dosa dosanya, disamping menangis haru mendapat kehormatan untuk datang memenuhi panggilannya, mereka bersyukur dan bahagia dapat menyempurnakan rukun Islam. Betapa dekat hubungan seorang hamba dengan Tuhannya di tempat yang mulia itu.
Tidak semua muslim bisa datang ke sana, banyak orang kaya raya meninggalkan dunia fana ini sebelum menunaikan ibadah haji, wajar kalau kita katakan para jamaah haji itu adalah manusia manusia pilihan.
Mungkin Mas’ud termasuk seorang jamaah yang pantas mensyukuri nasibnya melebihi jamaah jamaah yang lain. Betapa tidak, ia datang ke tanah suci bukan karena kekayaannya. la datang tersendat sendat berjuang mengatasi rintangan, sungguh ia bersyukur dan merasa lega bahwa dirinya yang serba kekurangan dapat menyempurnakan rukun Islam.
Di tengah tengah kekhusu’an ibadah haji itulah ia menerima khabar dari tanah air bahwa istrinya telah meninggal dunia “Innalillahi wa inna ilaihi rojiun”. Bagaikan disambar bledek (petir) berita tersebut menyayat kalbunya, sebagai hamba Allah yang baik hanya bersabar yang dapat ia lakukan.
Kini ia merasa sebatangkara, istri sudah tiada, harta sudah terjual habis, rumah memang tidak punya. “Apa yang hendak diharap lagi di tanah air?” pikirnya dalam hati, maka ia bertekad untuk berimukim di tanah suci Mekkah sampai kapanpun, untuk beribadah sambil menggali ilmu dan mengamalkannya. Karena sampai pertengahan abad 19 Mekkah masih merupakan pusat pengajaran ilmu-ilmu Salafiyah secara mendalam, sebab disana banyak pengajar ‘Ulama ‘ulama bertarap internasional. Hal itu tentu saja sangat menarik bagi Mas’ud seorang pemburu ilmu yang tak kenal puas dan lelah.

***

Perkenalan dengan Sablan dapat menghibur dan membesarkan hati H. Djazuli. Demikianlah namanya setelah sempurna menunaikan ibadah haji. la mengganti namanya sebagaimana tradisi yang sudah berlaku, lalu ditambahkannya nama ayahnya dibelakang, jadi lengkapnya H. Djazuli Utsman.
Sahlan sahabat barunya itu adalah seorang jemaah haji yang berasal dari Pagu Gurah Kabupaten Kediri yang tak jauh dari Ploso. Sungguh bahagia rasanya bertemu dengan teman sedaerah dirantau orang, perasaan bersaudarapun terjalin Dan Mas’ud kian bahagia mendengarkan keinginan Sahlan untuk menempuh pahit getirnya kehidupan dirantau orang, teman memikul tatkala berat dan menjinjing tatkala ringan.
Setelah beberapa lama hidup di negeri orang uang bekal telah habis, maka sepakatlah mereka berdua masuk bekerja sebagai tenaga administrasi pada seorang Syech Muzawir (biro travel urusan haji) yang terkait dengan instansi kerajaan, pekerjaan ini ia lakukan demi mendapatkan gaji untuk menyambung hidupnya. Di sela sela tugasnya yang menumpuk pergilah ia mengaji menambah ilmu, namun lama kelamaan mereka sadar bahwa tugas yang menumpuk telah menyita sebagian besar waktunya sehingga tujuan semula untuk menuntut ilmu telah terbengkalai.
Kedua orang sahabat itu berunding dan akhirnya mereka keluar dari pekerjaan. Diputuskannya untuk berguru kepada Syekh Al ‘alamah Al-‘Aidarus di Jabal Hindi Mekkah.18) Persoalan rizki di pasrahkan sepenuhnya kepada Allah SWT. Agaknya ia ingat bahwa Abu Hanifah r.a. pernaih meriwayatkan sebuah hadits Rasululloh SAW yang diterima dari seorang sababat beliau bemama Abdulloh bin Hasan Az zuaidy:
من تفقه فى الدين الله كفاه الله همه ورزقه من حيث لا يحتسب
(Barang siapa mempelajari agama Alloh, maka Alloh memenuhi cita citanya dan diberinya rizki dari arah yang tak disangka sangka).
Benar saja, tak lama kemudian para Mukimin yang ada di Mekkah berkumpul dan meminta H. Djazuli supaya bersedia memberikan pengajian untuk mereka. Rupanya Allah telah memenuhi janjinya untuk memberkati rizki kepada pengabdi ilmu, sebab dari merekalah H. Djazuli mendapatkan uluran tangan, jumlahnya memang tak seberapa, namun sudah mencukupi untuk menyambung hidup dan bekal menuntut ilmu.
Untuk tempat bernaung disewanya sebuah ruangan bawah dari rumah tingkat. Dia harus tidur bersama kumpulan arang dan barang-barang yang berserakan karena ruang yang disewanya itu adalah sebuah gudang. Menurut riwayat yang lain, tempat tinggalnya itu emperan pabrik yang telah rusak, dan didekatnya terdapat pohon-pohon kurma. Konon kabamya ada sedikit uang sisa yang ia miliki, jumlahnya tak seberapa hanya seringgit (Tak jelas apakah ringgit emas atau golden). Uang yang dipersiapkannya apabila ada keperluan mendesak itu dimasukannya ke dalam pelepah kurma yang sudah terpotong, lalu pelepah yang terisi uang itu dimasukannya kembali disela sela pelepah kurma yang masih utuh di batangnya. Ketempat itulah ia pulang untuk berganti pakaian atau merigambil alat alat belajarnya sambil tak lupa mengontrol uangnya, masihkah atau tidak. Apabila teman-temannya bertanya dimana tempat tinggalnya dan menyatakan ingin berkunjung maka ia menjawab: “Ah…. gak usah, kita ngaji dan ngumpul di Masjidil Harom saja”.
Menyimpan uang tersebut perlu ia lakukan karena pekerjaan tetap sudah tidak ada, kiriman dari rumah tak dapat diharapkan lagi mengingat harta warisan telah dijual babis, sementara ibunya masih menanggung sejumlah anak.19)
Nasib pilu yang dihadapi H. Djazuli sungguh membuat kita merasa iba, ia tak tahu apakah esok pagi ada atau tidak sepotong roti, sebutir kurma yang hendak dimakan terkadang ia ikut ambil bagian sedekah dari ransumransum yang disediakan oleh para dermawan Arab. Makan dan minum sekedarnya dengan makanan yang tak cocok bagi selera lidahnya semata mata untuk memperoleh kekuatan beribadah dan menuntut ilmu. Diterimanya makanan itu dengan rasa penuh syukur, karena itulah yang diberikan oleh Allah. Tak pemali ia mengeluh apalagi meneteskan air mata. Karena bagi H. Djazuli yang sudah terlanjur dimabuk kepayang oleh ilmu, segenap penderitaan yang dialaminya atau pedihnya perut yang keroncongan telah dapat dilupakannya bila ia berhadapan dengan kitab, dalam rangka belajar atau mengajar.

NESTAPA DI PADANG SAHARA20)

Waktu terus bergulir, tak terasa hampir dua tahun sudah H. Djazuli mendalami ilmu di Mekkah, kealiman yang dibawanya dan sudah diakui sejak ia di Mojosari semakin meningkat saja. Namun ia tak pernah menunjukkan bahwa dirinya telah ‘alim, tetap saja merendah dan tekun luar biasa, bahkan semakin merasa bodoh.
Akan tetapi pada tahun 1922 ia dan seluruh warga negara asing di Mekkah terpaksa tak dapat meneruskan pelajaran atau kegiatan, karena tahun itu terjadi kudeta (Perebutan kekuasaan) oleh kelompok Wahabi yang diprakarsai oleh Abd. Aziz As Suud. Perang saudara berkecamuk hebat dan diberlakukan hukum darurat perang. Karena situasi negara yang masih sangat rawan, pihak keamanan negara segera menangkap orang orang asing dan dipaksa kembati ke negara asalnya. Mendengar berita tersebut H. Djazuli merasa sedih dan sangat khawatir kalau sampai tertangkap dan dipulangkan. Pasainya selama berada di tanah suci belum pernah ia ziarah kemakam Rosul di Madinah, maklum ia tak punya biaya. Lalu diajaknya Sahlan beserta 5 orang teman lainnya untuk menerobos masuk ke Madinah secara nekat berjalan kaki. Mereka bertujuh sepakat berangkat dengan membawa sedikit bekal sambil mengalungkan Guriba (Kantong wadah air yang terbuat dari kulit kambing) dilehernya masing masing. Berjalanlah mereka melintasi padang pasir tandus yang amat luas, sebagai gerilyawan yang diburu oleh pemberontak Wahabi, apabila jejaknya diketahui niscaya mereka akan ditangkap dan gagallah rencananya. Sejatih mata memandang yang tampak hanya lautan pasir yang bergelombang akibat hembusan angin kencang, sesekali dijumpainya gunung gunung batu nan terjal. Tak ada pepohonan hijau yang mampu tumbuh disana karena terik panas matahari mencapai 40º 55º C, sementara air sangat sulit, lebih langka daripada premium, emas dan perak. Ada juga ditemuinya beberapa pohon kurma penuh debu yang hidup segan mati tak mau di pinggir pinggir perkampungan suku Baduwi. Sungguh pemandangan yang amat menyeramkan apalagi bagi rombongan yang berasal dari Indonesia itu, suatu negara yang beriklim sedang.
Namun keganasan padang pasir tak pernah membuat musafir itu mundur, tekadnya sudah begitu kuat untuk bertemu dan pamitan kepada Rosululloh sebelum dipaksa pulang oleh pemerintah. Walaupun untuk mencapai maksudnya mereka harus berjalan kaki menempuh jarak 498 km.
Mereka berjalan terus dengan tertatih tatih, apabila panas sudah mencapai terik yang terlalu menyengat sekitar jam 11.00 siang, mereka sudah tak tahan berjalan, maka segeralah mereka mencari tempat istirahat, mereka sangat senang jika menemukan tempat berteduh baik pohon atau timbunan batu dilereng gunung, apalagi disitu ada mata air yang biasa disebut Wadi, dapatlah mereka melakukan istirahat disana, mengisi persediaan air dan tertidur pulas. Namun jika mereka tidak menemukan tempat senyaman wadi, terpaksalah mereka berhenti dan tidur di tengah tengah padang pasir. Digalinya padang pasir itu Ialu masing masing mereka memendam badannya sampai batas leher, hanya kepala yang kelihatan. Maksudnya agar mereka tidak terserang HEAT STROKE (Penyakit bahaya akibat sengatan padang pasir yang punya kadar kelembaban amat rendah).
Namun yang paling mengagumkan dari kisah perjalanan ini, keteguhan hati mereka untuk tetap membuka pengajian disaat saat istirahat, bila memungkinkan mereka duduk melingkar dan H. Djazuli sebagai Ustadz memulai pembahasan. Kitab yang mereka kaji adalah Minhatul i’rob, sebuah kitab kecil tentang pelajaran nahwu. Namun sayang, kitab yang turut serta dalam perjalanan bersejarah itu terpaksa menjadi cacat, pasalnya H. Djazuli tak bisa meninggalkan kebiasaan merokok dan pinggir pinggir kitab itulah yang terpaksa disobek untuk membungkus tembakau.
Ditemuinya sekelompok Badui menggembalakan kambing. Di zaman dahulu orang Badui adalah suku bangsa Nomaden (Suku yang suka bertempat tinggal secara pindah pindah), mereka mengembara mencari tempat yang layak untuk kambing kambingnya. Pengembangan serta pendidikan untuk suku Badui sehingga menjadi suku yang bermukim tetap dan mengolah pertanian kurma baru dimulai setelah raja Abd. Aziz Bin Su’ud naik tahta.21)
Rupanya kelompok Badui tadi tertarik melihat rombongan orang orang asing tengah berjalan kaki dengan susah payah, orang asing itu kelihatan meringis kepanasan, agaknya mereka butuh pertolongan. Betapa senangnya H. Djazuli dan kawan kawannya setelah Badui tersebut menyapa mereka dan mempersilahkan singgah digubuknya. Di situlah sang musafir bisa tidur, sholat dan mengisi persediaan air, sementara Badui menyembelih seekor kambing untuk merceka. Mereka diberi makan sampai kenyang, kemudian diberikan bungkusan berisi makanan dan daging kambing untuk makanan di perjalanan. Masing masing menenteng sebuah bungkusan.
Mereka bisa tersenyum penuh rasa syukur, yakinlah mereka bahwa Allah benar-benar maha Pengasih dan Penyayang. Mereka yakin bahwa Allah pasti memberi rizki dengan caranya sendiri, walaupun di tengah pasir yang Iuas ini. Mereka tak pernah putus asa, perjalananpun terus dilanjutkan. Ternyata ada lagi kelompok Badui ditemtuinya. Badui kedua ini juga tertarik melihat iring iringan mereka, tetapi yang menarik bagi kelompok Badui ini adalah bungkusan bungkusan makanan dan barang bawaan mereka. Timbulah niat jahat dan kekasaran Badui yang sudah ditempa oleh alam yang gersang dan ganas, Badui mulai menyergap rombongan musafir sambil menjulurkan tombak dan memaksa rombongan segera menyerahkan diri. Namun sebelum insiden perampokan berlangsung salah seorang anggota rombongan dengan suara memelas menjelaskan kepada Badui itu dengan logat ‘Amiyyah:
انا فقير الجاوى بذى ارواح الى مدينة الرسول
(Kami fakir fakir dari tanah lawa akan berziarah ke makam Rosul).
Badui badui itu terketuk nuraninya, lebih lebih setelah memperhatikan keadaan musafir itu yang sangat membutuhkan pertolongan, malahan Badui tersebut Ialu mempersilahkannya istirahat dan memberinya makan minum.

***

Hari demi hari mereka berjalan dan terus berjalan, sandal sandal mereka sudah tak berfungsi lagi sementara kaki kaki mereka mulai membengkak, disobeknya surban atau celana untuk membalut kakinya agar dapat meneruskan perjalanan dan kesengsaraanpun kian terasa. Meneruskan perialanan bagi mereka adalah sungguh berat, namun akan kembali lagi ke Mekah sudah terlanjur jauh, akan berdiam di tengah gurun pasir juga sangat mustahil. Gurun pasir dirasakannya sangat kejam, tak ada warung atau kios tempat membeli keperluan, yang ada hanyalah dahaga dan hanya bersabar yang dapat mereka lakukan. Mereka mengharap semoga rasa haus di panas terik ini akan melepas dahaga baginya dihari kiamat nanti.
Kini mereka sudah tak punya apa apa lagi buat dimakan atau diminum, sementara mereka sudah sangat lapar dan haus, saat itulah H. Djazuli berkata kepada Sahlan dan kawan kawan: “Aku akan berdo’a kalian semua mengaminkan”, dan mereka pun berdo’a dengan khusuknya mohon pertolongan kepada Allah.
Tak lama setelah itu seorang berbaju putih memanggil-manggil dari kejauhan sambil berisyarat dengan tangan, orang tersebut mempersilahkan sang musafir masuk kedalam gua. Disana sudah disiapkan aneka makanan, lauk pauk dan buah buahan. Dan merekapun makan sepuas-puasnya kemudian tak lupa mereka diberi bungkusan dan air minum untuk persiapan di tengah jalan.
Peristiwa serupa terjadi berulangkali. Anchnya tempat makan tadi sudah hilang lenyap tatkala mereka menoleh ke belakang, yang ada tinggallah padang pasir. Ini baru disadarinya setelah peristiwa berulang kali, aneh tapi nyata sebagai bukti kekuasaan Tuhan.

***

Mereka merasa lega dan amat bersyukur setelah sebulan lebih terkatung katung dihempas derita akhirnya sampailah mereka di kota Madinah sekitar jam 16.30 sore, kota yang pernah menerima Rosul dan kaum Muhajirin dengan lemah lembut dan ramah tamah. Perlakuan itu juga yang mereka harapkan setelah memasuki kota.
Perihnya kaki yang sudah bengkak bengkak dengan parahnya tak tertahankan lagi disamping kelesuan dan kejenuhan perjalanan yang telah memuncak dan mereka membaringkan tubuh di suatu tempat tanpa perduli malu, sebagian mereka tertidur pulas kecapaian.
Tiba tiba lewat seorang wanita sedang menggendong madu, wanita itu agaknya juga masygul melihat pemandangan yang ganjil berupa orang orang asing tidur berserakan dengan pakaian kumal dan kaki bengkak, terbitlah rasa kemanusiaan dalam nuraninya, “Sungguh kasihan mereka”, bisik hatinya. Wanita itu berhenti tak jauh dari tempat sang musafir sambil melepaskan gendongannya di atas tanah. Dan masing masing musafir itu diberinya madu sekedarnya, madu Arab yang terkenal tinggi khasiatnya. Latu wanita tadi mempersilahkan para musafir untuk mampir di rumah keluarganya.
Seluruh anggota keluarga dan tetangga berkerumun menyambut musafir musafir yang sangat menyedihkan nasibnya ini, di tempat itulah mereka menginap, mendapatkan pelayanan makan dan pengobatan.
Kini mereka merasa puas telah dapat mencapai maksud hati untuk menghadap kepada Rosul yang mulia. Perihnya kaki yang bengkak dan pedihnya derita perjalanan terasa agak berkurang karena mengenang betapa beratnya perjuangan Rosul dan sahabat sahabatnya. Merekapun berziarah berulang kali selama berada di kota ini. Mereka mengharapkan safa’at di hari kemudian.
Hampir sebulan lamanya mereka di Madinah, sedangkan di Mekkah peperangan berangsur-angsur mereda. Kaum Wahabi berhasil menggulingkan pemerintah lama, maka resmilah berdiri kerajaan AS SU’UDIYYAH (Saudi Arabiyah). Walaupun peperangan sudah hampir usai, orang orang asing tetap dipaksa untuk pulang kembali ke tanah airnya.
Dan sejak berkuasanya Kaum Wahabi itulah Arab Saudi melarang kegiatan belajar mengajar untuk ajaranajaran lain termasuk Ahlussunnah Waljama’ah, sekaligus pengajaran kitab kuning. Yang diperbolehkan hanyalah pengajaran dan pengembangan ajaran Wahabi. Konon H. Djazuli dan kawan kawannya ditangkap oleh pihak keamanan di Madinah dan dipaksa untuk pulang lewat pengurusan konsulat Belanda. Petugas tak memberi kesempatan untuk berkemas kemas, pamitan atau mengurus barang, dan kitab kitabnya di Mekkah untuk dibawa pulang. Hanya kitab Dalailul khoirot yang terbawa pulang. Kitab tersebut beliau peroleh dari orang yang tak dikenal pada suatu tempat di Mekkah. Konon setelah beliau tanyakan tempat itu dahulu adalah kuburnya Syekh Ibrahim Attaimiy.
H. Djazuli telah sampai di Jakarta setelah berlayar berbulan bulan dengan kapal uap. Pemerintah memberikan uang transport dan sebelum berangkat ke Ploso kakinya mendapat pengobatan terlebih dahulu.
Tak seperti pak haji pada umumnya yang pulang bahagia d.engan wajah berseri seri memakai jubah, surban, igal dan pakaian pakaian kebesaran Arab lainnya. H. Djazuli datang tak dapat turun sendiri dari mobilnya karena kakinya yang masih sakit. Memakai baju deril yang sobek di sana sini, tak ada sanak famili, yang menjemput ke pelabuhan, karena tak ada orang yang menyangka ia akan pulang.22)
Semua orang terkejut menyaksikan kedatangannya dan merasa iba melihat haji baru itu digotong dari mobil yang mengantarnya. Suasana pilu dan sedih menyelimuti perasaan seluruh keluarga dan tak ada yang kuasa menahan air mata. Siapa yang tak terharu dan tersayat hatinya melihat keberangkatannya berbekal derita, di tanah suci dihempas derita yang begitu susah sampai pulangpun ternyata membawa oleh oleh derita. Tak ada kurma dan air Zamzam yang dibagi, sedangkan kitab kitab dan barangnya tak sempat dibawa pulang, semuanya ditinggal di Mekkah. Akan tetapi ia sebenarnya membawa oleh oleh yang jauh lebih berharga dari segala-galanya yaitu ilmu agama dan haji yang Mabrur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: