Bab II Masa Menuntut Ilmu Agama

HIJRAH KE PESANTREN

Mas’ud sudah resmi menetap di Batavia. Dari tempat yang jauh itu terkadang ia terbayang kampung halamannya. Teringat akan ayah ibunya, saudara‑saudaranya atau teman sebayanya. Dalam hati ia bertekad tak akan mengecewakan harapan orang tuanya. “Daku harus belajar dengan sungguh‑sungguh, aku harus berhemat agar orang tuaku tak memikul beban yang berat, aku harus pulang sukses, dengan menggondol nama kebesaran Dr. Mas Mas’ud Utsman. ” Pernyataan itulah yang selalu dicamkan dalam hatinya. la membayangkan betapa bangga dan bahagianya kedua orangtua dan saudara‑saudaranya bila kelak dirinya sukses menjadi seorang Sarjana, keluarganya akan turut terhormat.

Tiba‑tiba sepucuk surat datang. Sebuah surat dari Ploso. Kabar apa gerangan yang disampaikan oleh keluarganya dalam surat tersebut. Sebagaimana lazimnya seorang mahasiswa yang jauh dirantau, hatinya dag‑dig‑dug harap‑harap cemas, karena tak mampu menahan rasa penasaran.

Isi surat itu sungguh diluar dugaan, Mas’ud diminta segera pulang ke Ploso, padahal kehadirannya di Batavia belumlah lama.

Pak Naib beserta istri tengah menunggu kedatangan anaknya di Ploso. Dari hari ke hari sejak surat telah terkirim pasangan suami istri itu terus menunggu dengan sabar. Akhimya datang juga yang ditunggu‑tunggu.

Mas’ud merasa lega dan bahagia berada kembali di tengah‑tengah keluarganya, demikian pula kedua orang tuanya merasa bersyukur nienerima kedatangan anaknya dengan selamat. Pak Naib tahu kalau Mas’ud sangat lelah diperjalanan, oleh karena itu disuruhnya makan terlebih dahulu dan kemudian istirahat secukupnya. Rasanya belum pantaslah untuk melakukan pembicaraan serius dalam kondisi lelah seperti itu. Namun diam‑diam sebenarnya kedua orang tua itu menyimpan tanda tanya besar yang belum terjawab. Bagaimanakah perasaan Mas’ud dengan digagalkannya kuliah di Fakultas Kedokteran? Tidakkah anak itu kecewa atau putus asa? Dan macam‑macam peraasan berkecamuk di hati kedua orang tua itu.

Akan tetapi keduanya telah mantap dalam mengambil keputusan bahwa saran Kyai Ma’ruf mesti dilaksanakan dan tak dapat ditawar‑tawar. Doa selalu dipanjatkannya kepada Allah semoga Mas’ud diberi‑Nya petunjuk untuk menerima kebenaran.

Kemudian setelah semuanya merasa tenang, Pak Naib, Bu Naib dan Mas’ud duduk bersama, layaknya bagaikan sidang kecil‑kecilan. “Ada yang perlu kita bicarakan,” begitulah Pak Naib & mengawali pembicaraan. Lalu Pak Naib menceritakan apa yang teriadi selama Mas’ud tidak ada di rumah. Bahwa Kyai Ma’ruf tidak nienyetujui perihal kuliahnya di Fakultas Kedokteran, Orang tua itu menjelaskan keinginan nya agar Mas’ud melepaskan cita-citanya untuk menjadi dokter. Kini dia harus pindah kedunia baru, dunia Pondok Pesantren. Mas’ud terdiam sambil merunduk hormat, tetapi dalam benaknya dia tengah memikirkan jawaban apa yang akan disampaikannya. Rasanya tak mungkin dia akan membantah keinginan orang tuanya, lebih‑lebih pencetusnya adalah Kyai Ma’ruf seorang ‘ulama yang disegani oleh setiap orang termasuk Pak Naib serta Mas’ud sendiri. Apalagi sebagai anak yang berbakti kepada ibu bapaknya tak akan ada pilihan lain kecuali menyerah sebulat‑bulatnya mentaati apa yang diperintahkan kedua orang tuanya.

Kemudian Mas’ud menjawab dengan pasti tanpa ada keraguan, dia tak keberatan dengan kehendak orang tuanya. Suatu jawaban yang tulus ikhlas bukan atas dasar keterpaksaan.

Pak Naib dan Bu Naib sangat terharu dan senang. Alhamdulillah, gayung telah bersambut. Seketika itu beliau terkenang kemballi kepada nasihat‑nasihat Kyai Ma’ruf. Dahulu Kyai itulah yang menganjurkan kepadanya untuk rajin‑rajin bersilaturohmi dengan pari ‘ulama agar anaknya menjadi orang alim, Ialu Kyai itu pula yang menganjurkan Mas’ud untuk pindah ke Pesantren. Harapan-harapannya sebagai orang tua diwarnai perasaan optimis, mungkin Mas’ud inilah yang akan muncul sebagai kenyataan dari firasat Kyai Ma’ruf. Pak Naib hanyut dengan perasaannya sendiri, dalam hati beliau berdo’a semoga anaknya benar‑benar menjadi anak yang sholeh, berilmu dan beramal. Sehingga kelak dihari akhirat anak ini akan tampil sebagai penolong dari segala kesulitin yang menimpa. Beliau terus berdo’a dan berdo’a.

Bagaimana dengan Mas’ud? Kecewakah ia ? Cengsi kah ia dikatakan dokter droup out? Tidak! Tidak sania sekali, Mas’ud h.ukan anak kecil lagi. Dia sudah etikup de‑wasa menghadapi berbagai persoalan. Dia percaya orang tuanya punya niat yang baik, cinta dan kasih orang tuanya tak pernah diragukannya. “Ridlo orang tua jaminan kesuksesan,” begitu semboyannya. Dia nampak sangat siap untuk segera memasuki pintu gerbang Pondok Pesantren.

***

Mas’ud memasuki dunia Pondok Pesantren setelah menginjak dewasa, usianya sudah mencapai hampir 16 tahun. Tetapi pemuda yang selalu haus dahaga akan ilmu pengetahuan itu bergumam It’s never late to learn (Tak ada istilah terlambat untuk belajar). Bukankah Rasulullah Saw telah bersabda :

اطلب العلم من المهد الى اللحد

“Tuntutlah ilmu sejak dari buaian ibu sampai ke liang lahad.” Nabi Muhammad Saw telah mencanangkan Long life education jauh sebelum dunia barat menemukannya.

Dengan ucapan bismillahirrohmannirrohim berangkatlah ia ke Pondok Gondanglegi diantarkan Pak Naib dengan mengendarai dokar yang ditarik si Konang. Maka resmilah Mas’ud diterima sebagai murid KH Ahmad Sholeh Condanglegi Nganjuk, seorang ulama yang terkenal alim dalam bidang ulumul qur’an.

Di Pondok inilah Mas’ud mendalami ilmu‑ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an khususnya tajwid disamping ia juga belajar kitab Al‑Ajrumiyah pelajaran tata bahasa Arab tingkat dasar dan lebih dikenal dengan nama ilmu Nahwu.1

Perlu diketahni bahwa ada sesuatu yang ajaib yang hanya dapat dirasakan oleh orang‑orang yang belajar ilmu agama dengan penuh kesungguhan disertai dengan himmah yang tinggi. Ketika telah diperoleh kefahaman, kemudian ilmu itu masuk ke dalam dada, meskipun cuma setetes terasa nikmat luar biasa, tenang dan tenteram terasa dihati, seolah‑olah perkara lain tak ada artinya sama sekali. Sangat berbeda dengan belajar ilmu‑ilmu dunia saja, kian menumpuk pengetahuan yang didapat malahan seringkali mendatangkan kegelisahan. Terbayanglah ijazah, terbayanglah gelar, kekuasaan, kemewahan dan istri cantik. Dan tatkala ilmu‑ilmu dunia telah sampai pada klimaksnya, jadilah pemiliknya seorang pakar yang dikagumi. Lambat laun sang pakar merasakan kehebatan dirinya, terkadang dianggaplah dirinya sebagai The best (yang terbaik) dan tak terkalahkan lagi sedangkan orang lain dianggap sepele dan bodoh. Itulah awal kesombongan dan keangkuhan yang membawa kesesatan. Tidak jarang yang akhirnya tergelincir tidak menjalankan ibadah lupa pada Tuhan.

Agaknya sejak di Gondanglegi Mas’ud sudah merasakan nikmat dan lezatnya ilmu agama, dia telah mabuk kepayang di lautan ilmu Allah yang tidak mengenal batas. Bukankah sebelum masuk Pesantren dia telah mengalami bagaimana rasanya menjadi pelajar dan mahasiswa? dipuja dan disanjung oleh orang lain. Semua itu tak ada artinya sama sekali apabila dibandingkan dengan kenikmatan yang dirasakan di Pesantren.

Diapun berjanji dalam hati untuk bersungguh-sungguh menekuni pelajaran. Konon, selama belajar di Pondok Mas’ud tak pernah tidur dengan sengaja. la hanya tidur apabila tertidur. Hampir seluruh waktunya untuk belajar dan terus belajar. Itulah sebabnya dia sudah mampu menguasai ilmu‑ilmu Al-Qur’an dan kitab Al‑Ajrumiyah hanya dalam tempo 6 bulan saja.2)

***

Dasar ilmu Nahwu sudah dikantonginya di Gondanglegi. la ingin mencari lagi dasar ilmu shorof, sebab ada makalah yang mengatakan Nahwu adalah apak ilmu pengetahuan sedang shorof adalah ibunya. Berarti Mas’ud baru berhasil meraih bapak ilmu, pantaslah kalau ia segera pamit dari Gondanglegi untuk selanjutnya belajar di Pondok Sono‑Sidoarjo.3) Pondok kedua yang dimasukinya ini sangat terkenal menonjol dalam bidang ilmu shorof khususnya pelajaran Tashrifan, Di Pondok inilah Mas’ud khusus belajar tashrif. Tidak didapatkan keterangan yang pasti mengenai. berapa lama ia belajar di Pondok ini, yang jelas tidak sampai setahun.

Akhirnya ia kembali lagi ke daerah Nganjuk ingin melanjutkan di Pondok Mojosari, berguru kepada Kyai Zainuddin yang sangat masyhur dimasa itu. Namun sebelumnya dia sempat mondok di Sekarputih Nganjuk untuk beberapa lama menimba ilmu dari KH Abdul Rohman pengasuh pondok tersebut. Pemuda Mas’ud sang pendatang baru di dunia Pondok Pesantren ini nampaknya benar‑benar haus akan ilmu agama, ia ingin mengejar ilmu dimanapun berada dari satu tempat ke tempat yang lain. Bagaikan seorang pemburu yang tak mengenal ngarai, tebing dan jurang.

MOJOSARI PENUH KENANGAN

Mengiktiti kisah panjang perjalanan hidup pemuda Mas’ud belumlah lengkap kalau tidak mengungkap cerita Pondok Mojosari sekaligus Kyai Zainuddin pengasuhnya, karena dipondok inilah Mas’ud menemui jati dirinya sebagai calon ulama dikemudian hari. Ke pondok inilah dia melanjutkan petualangan mencari ilmu setelah dari Gondanglegi, Sono dan Sekarputih. Dari tujuh pondok yang disinggahinya selama hidup pondok inilah yang paling lama ia huni. Sampai akhirnya ia mempersunting putri angkat Kyai Zainuddin guru utamanya. Apabila anda hanya menggunakan akal, mungkin tak akan percaya kalau Pondok Mojosari telah menelorkan banyak ulama. Apalagi kita hanya memandang lewat kacamata sistem pendidikan modern belaka.

Pondok berusia tua yang didirikan oleh KH. Ali Imron beratus‑ratus tahun yang lampau ini memang tergolong cukup antik dan aneh (kontroversial). Bila anda datang bertamu kesana mungkin akan merasa kaget atau asing. Seringkali ada tamu atau santri baru yang datang langsung disambut oleh para santri Mojosari, Ialu digendong beramai‑ramai sambil dibacakan sholawat. Bila santri barit ini berani membalas dengan kata‑kata kontan dimasukkan kedalam kamar dan diambilkan pentung, kemudian penggojlokan dilanjutkan. Tidak main‑main apabila masih berani juga bisa dipentung sungguhan sampai tunduk.4)

Oleh‑oleh berupa rokok, jajan atau uang recehan tak segan‑segan diminta oleh santri dan dikeroyok dibagi rata beramai‑ramai. Saat penulis mengadakan penelitian ke pondok ini, suasana semacam itu masih terjadi.

Banyak tamu menjadi malu, jengkel bahkan marah, sehingga mengadukan hal ini Iangsung kepada Kyai. Pada zaman Kyai Zainuddin’ masih memangku pondok, beliau sering memarahi santrinya yang bertingkah kurang etis tersebut, bahkan sampai memukul‑mukul dengan tongkat. Akan tetapi tradisi itu tak pernah sembuh, hanya sempat berkurang dan kambuh lagi. Akhirnya Kyai pasrah menganggapnya sebagai suatu suratan pembawaan dari pondok Mojosari. “Biarkah saja mereka nakal, ibarat padi mereka inasih muda wajarlah kalau tengadah, nanti jika mereka sudah berisi akan merunduk dengan sendirinya,” begitu ungkapan beliau.5)

Namun santri Mojosari mengaku bahwa sama sekali tak ada maksud negatif apalagi akan menyakiti kepada para tamu atau santri baru, gojlokan hanyalah suatu tradisi yang maksudnya untuk melatih kesabaran dan memperkuat mental dalam menerima cobaan. Sebagaimana layaknya perpeloncoan untuk mahasiswa baru di universitas.

Suasana setiap hari di Pondok Mojosari sangat berbeda dengan pondok‑pondok Salafiyah pada umumnya. Di pondok ini tidak nampak santri‑santri tekun belajar, melakukan riyadloh atau tirakat puasa, ngrowot, mutihan dan sebagainya. Banyak santri yang bergerombol bersenda gurati, ngobrol dengan bebas, yang penting mereka mengaji dengan tertib dan rajin sholat berjamaah.

Namun bukan berarti permasalahan ukhuwah sesama santri diabaikan. Bahkan suasana keakraban dan persamaan nasib nampak sangat menonjol. Tidak ada seorang santripun dapat menyimpan jajan untuk dimakan besok pagi, semuanya mesti dibagi‑bagi.

Ada lagi yang lebih antik, pada zaman dahulu belum ada fasilitas kamar mandi dan WC, jadi para santri seluruhnya mandi ke sungai. Sudah lumrah bagi santri Mojosari apabila telanjang bulat dari kamarnya bergerombol menuju sungai, padahal santri‑santri pada zaman itu sudah besar‑besar, suatu pemandangan yang sungguh mengerikan. Terkadang mereka ke sungai sambil mencari ikan dan tentu saja hasilnya buat dimakan keroyokan. Solidaritas (persaudaraan) sesama santri tidak hanya sampai disitu, sudah menjadi kebiasaan pula apabila mereka merokok terjadilah salome (satu batang ramai‑ramai) dan banyak lagi contoh yang lain.6)

***

Keantikan Pondok Mojosari ini ada asal usulnya.7) Alkisah, KH Ali Imron asal Grobogan Purwodadi Semarang tatkala masih muda pergi berguru kepada Kyai Salimin di Lasem Jawa Tengah. Suatu malam Kyai Salimin keluar melihat‑lihat santrinya yang tengah nyenyak tidur dilokasi pondok. Tiba‑tiba beliau melihat pancaran sinar yang keltiar dari balik sarung seorang santri. Beliau mendekati santri tersebut dan sarungnya diikatkan, Ialu esok paginva semua santri ditanya. Ternyata si empunya sinar adalah Ali Imron. Oleh karena itu setelah dirasa cukup ilmu yang diperoleh Kyai Salimin memilihnya menjadi menantu dan menugaskannya untuk membuka hutan di daerah Nganjuk dan kemudian didirikan Pondok Pesantren yang tak lain adalah Pondok Mojosari sekarang ini.

Demi pengabdian kepada ilmu dan ta’dzim kepada gurunya, Kyai Ali Imron berangkat menuju lokasi yang diperintahkan. Dijalaninya tirakat luar biasa sampai bertahun‑tahun lamanya di tengah hutan belantara yang sangat angker. Menghadapi para penghuni rimba raya yang terdiri dari macan, ular jin dan hantu bukan perkara yang ringan. Rupanya Kyai Ali Imron sangat dekat dengan Allah Sang pemilik hutan dan jagat raya, sehingga tak satupun makhluk jahat yang sanggup merintanginya dan akhirnya sukseslah beliau mengemban amanat guru sekaligus mertuanya. Tirakatnya benar‑benar mengeluarkan daya kekuatan bathin yang luar biasa dan doa‑doanya sangat makbul.

Di tengah‑tengah tirakat yang amat berat itulah beliau mengucapkan rangkaian kalimat nadzar. “Santri‑santri yang belajar di Pondok ini kelak, tak perlu puasa dan tirakat macam‑macam, seluruh tirakat aku yang menanggung. Pokoknya mereka mau mengaji dengan tekun disini, Insya Allah diberkahi”. Sebuah nadzar yang makbul dan menjadi kenyataan dikemudian hari.

Mantapnya keyakinan para santri Mojosari akan keampuhan nadzar Kyai Ali Imron lambat laun membawa warna lain di Pondok Mojosari. Para santri benar‑benar tidak menjalani tirakat semata‑mata mengandalkan tirakatnya sang pendiri pondok. Ciri khas ini terus berkesinambungan dari generasi ke generasi sampai sekarang. Tak terkecuali pada priode kepemimpinan KH. Zainuddin, tatkala Mas’ud menuntut ilmu di pondok tersebut.

SIAPAKAH KYAI ZAINUDDIN?

KH. Zainuddin berasal dari Padangan Bojonegoro ‑ jatim dimasa mudanya ia belajar di Pondok Langitan Babat, Sudah menjadi tradisi yang baik di kalangan para ulama untuk menjodohkan putrinya dengan santri‑santri berbobot., Begitu pula dengan Kyai Zainuddin, karena prestasinya yang menonjol beliau Ialu dijadikan menantu oleh gurunya, kemudian diutus untuk meneruskan kepemimpinan Pondok Mojosari.

Beliau tampil pada urutan kelima sebagai pengasuh terhitung dari KH Ali Imron sang pendiri pondok. Berkat kepribadian dan kepemimpinan Kyai Zainuddin yang agung nama pondok Mojosari melejit ke segenap penjuru.

Beliau dikenal oleh masyarakat sebagai waliyulloh, namun aktivitas sehari‑harinya tak beda dengan petani-petani desa yang bersahaja, karomahnya tak pernah dibuat pameran. Bahkan beliau lebih nampak sebagai seorang ulama syari’ah yang kokoh, tugas‑tugasnya dijalankan dengan disiplin dan istiqomah. Setelah selesai mengajar di malam hari, sekitar pukul 22.00 beliau istirahat dan bangun jam 02.00 akhir malam, beliau menjalankan tahajjud, tilawatil Qur’an dan lain‑lain, mendekatkan diri kepada Allah Swt sampai menjelang shubuh. Terkadang selepas ibadah tengah malam, beliau keluar dari rumah mungkin sebagai refreshing dari rasa penat. Lalu beliau berputar‑putar di sekitar pekarangan yang dipadati dengan pohon buah‑buahan. Beliau mengumpulkan sawo, jambu dan sebagainya yang jatuh akibat bosok atau sisa kelelawar. Makanan itu cukup Iezat untuk sarapan ternaknya besok pagi. Tatkala fajar menyingsing beliau berkeliling membangunkan santri di Pondok, disebutnya nama masing‑masing santri yang dibangunkannya. Begitu banyak nama santri yang mampu beliau hafal. Apabila musini dingin telah tiba, biasanya santri agak sulit bangun pagi, untuk mengatasinya Kyai Zainuddin tak pernah kehilangan taktik. Beliau keliling membawa wadah air dan selembar serbet. Serbet yang sudah dibasahi itu kemudian ditempelkannya atau diteteskan airnya ke tubuh siapa saja yang belum bangun, tak peduli tamu atau bukan. Beliau memang memiliki sifat humor sehingga santri‑santri menjadi sangat akrab dengannya. Santri yang terkejut merasakan tetesan air sangat dingin itu mulai bergerak bangun, namun lucunya Kyai Zainuddin dengan sigap segera bersembunyi di balik pintu tak beda dengan anak‑anak yang bermain kucing‑kucingan. Apabila si santri merapikan kembali selimut atau sarungnya, karena enggan bangun, dengan sangat sabar beliau mengulangi tetesan-tetesan berikutnya sampai akhirnya si santri bangun dengan sendirinya. Untuk santri‑santri yang masih juga membandel diteteskannya minyak tanah dari sumbu lampu kaleng bekas yang dipergunakan para santri zaman listrik belum menyebar itu. Si santripun bisa marah seketika sambil berteriak: “Wo nakal ! Mbeling nganggo lengo gas.”

Dan si santri hanya bisa tersenyum tersipu‑sipu malu ketika tahu pelakunya adalah Kyai yang mengajak sholat. Begitu juga ketika adzan Dhuhur berkumandang Kyai Zainuddin naik ke masjid lebih awal dan dengan penuh kesabaran beliau memanggil‑manggil santrinya selama hampir satu jam. “Ayo sholat Co, Ayo sembahyang Co,” seru beliau berulang‑ulang.8)

Pengajian yang beliau asuh amat banyak, dari kitab kecil sampai yang besar. Usai pengajian di pagi hari beliau mengganti pakaian dan memegang sapu. Disapunya halaman, kandang sapi, kandang kambing, ayam, bebek dan kuda. Beliau sangat suka memelihara binatang dari sapi sampai kucing, seakan‑akan rumahnya mirip kebun binatang. Walaupun ada pembantu yang bertugas merawat dan memberi makan binatang‑binatang peliharaannya, beliau sendiri turun tangan membagi‑bagi makanan menunjukkan bahwa Kyai ini benar‑benar seorang penyayang binatang. Kedisiplinannya pada kebersihan sungguh mengagumkan, sehingga kandang-kandang binatang itu tak terkesan kotor sama sekali, apalagi halaman atau kamar-kamar rumahnya.

Adalah budi pekerti yang pantas diteladani disaat-saat kita sebagai umat Muhammad merasa bangga punya agama yang menjunjung kesucian dan kebersihan. Akan tetapi rumah kita lebih kotor dari orang Majusi. Kita gantung kaligrafi bertuliskan sabda Nabi Saw

النَّظَفَةُ مِنَ اْلاِيْمَانِ

Namun sampah berserakan dibawahnya. Kyai Zainuddin tidak hanya pandai menganjurkan sunah Rosul, tetapi beliau praktekkan sendiri dalam kehidupan, sesuai dengan nasihat yang sering disampaikannya kepada para santri Co, ojo Iali karo ayat :

أَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ

(Apakah kamu perintah orang lain untuk berbuat baik, padahal kamu melupakan dirimu sendiri)

Syariat Islam dijalankannya dengan nyata dan konsekuen. Untuk keperluan hidup sehari‑hari beliau mengolah tanah pertanian secukupnya, beliau sendiri sering memegang pacul menanam singkong, jagung atau pisang. Beliau tidak menunjukkan tingkah khoriqul ‘adah dihadapan masyarakat.9)

Akan tetapi sepandai‑pandai menyimpan durian, tercium juga baunya. Begitu juga halnya Kyai Zainuddin, banyak ulama arif mengakui kewaliannya. Pada suatu ketika KH Hasyim Asy’ari (Pendiri dan Rois Akbar NU) membuat surat edaran untuk meluruskan acara perayaan Maulid Nabi, berhubung Mauludan di Pondok Mojosari dinilai kurang Islami. Konon para santri Mojosari mengadakan pertunjukan wayang wong, kuda lumping, pencak, ketoprak dan sebagainya untuk memeriahkan perayaan Maulid. Seponsornya adalah santri‑santri dari Blitar, Jombang, Ponorogo dan Banyumas. Setelah surat edaran siap dikirim, malam harinya Kyai Hasyim bermimpi bahwa alim ulama seluruh Indonesia sholat berjamaah di sebuah masjid jami. Dengan jelas beliau melihat yang bertindak selaku imam adalah Kyai Zainuddin Mojosari. Surat edaran tersebut praktis tidak jadi dikirim, sebab pada dasarnya Kyai Hasyim cukup segan terhadap Kyai Zainuddin yang merupakan guru dari KH. Wahab Hasbullah pendiri NU dan Rois Aam setelah KH. Hasyim Asy’ari.* Tentu saja terdapat rasa sungkan ditubuh NU untuk mengatur (menegur) gurunya sendiri.

Ketenaran nama Kyai Zainuddin ternyata membawa dampak lain. Sehubungan dengan kewaliannya itulah, banyak orang datang mohon ijazah do’a, namun beliau tetap mengaku tidak punya do’a khusus dan memang seperti itulah yang dapat disaksikan, beliau bukan ahli thoriqot. Bila ada orang yang datang minta ijazab do’a beliau spontan menjawab . “Enggih sampun kulo ijazahi”. Entahlah apakah memang benar sudah atau belum Wallobu a’lam bishshowab.

HARI‑HARI PERTAMA DI MOJOSARI

Gaung Pondok Mojosari menggema terdengar di segenap penjuru, banyak ulama merupakan alumni pondok ini bahkan hampir setiap alumni pondok ini setelah pulang mesti mengajar bagaimanapun bentuknya. Antik dan unik merupakan identitas pondok Mojosari yang sudah tak asing lagi dan diakui oleh masyarakat. Maka datanglah para santri dari daerah‑daerah yang jauh di Pulau jawa seperti Surabaya, Banyumas, Cirebon dan sebagainya. Walaupun demikian jumlah santri pada masa Kyai Zainuddin terbatas antara 200 sampai 250 orang.

Tentu saja Mas’ud yang selalu mengikuti informasi pesantren mengetahui secara detail tentang Pondok Mojosari karena pondok yang pertama kaii dimasukinya adalah Gondanglegi dimana Kyai Sholeh pengasuhnya masih mempunyai hubungan keluarga dengan Kyai Mojosari. Nampaknya Mas’ud telah lama menyimpan keinginannya untuk menjadi santri pondok favorit ini, dan iapun datang ke Mojosari. Sayang perjalanannya tak mulus, ia harus menerima kenyataan dan bersabar memecahkan problema yang menimpa dirinya. Masalahnya bekal yang diberikan Pak Naib tak mencukupi untuk tinggal di Pondok. Uangnya terlalu minim untuk dapat membayar iuran kamar dan biaya‑biaya yang lain. Mas’ud memang anak yang nerimo dan tak suka membebani orang tuanya. Oleh karena itu ia tak pemah minta dana tambahan. Dengan bekal sedikit itu dia ingin terus maju, Dimana ada kemauan disitu ada jalan seolah‑olah begitulah prinsipnya. Bukankah jalan menuju sorga itu dipenuhi onak dan duri ? Sebagaimana sabda Rosululloh Saw

خُفَّةِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهْوَاتِ (رواه مسلم)

(Sorga itu dikelilingi dengan duka derita, dan neraka itu dikelilingi dengan hawa nafsu (Muslitn)

Mengingat ketidakmampuan membayar inilah maka ja memutuskan untuk tinggal di langgar Pucung yang terletak tidak jauh di selatan pondok. Dari tempat inilah ia mengikuti kegiatan belajar di pondok dengan pulang pergi.10)

Menurut riwayat yang lain bertempatnya Mas’ud diluar pondok gara‑gara ia takut menerima gojlokan. Memang gojlokan yang biasa diterima oleh para santri baru seperti telah dipaparkan sebelumnya cukup mengerikan. Sehingga banyak yang bertahan tinggal di Pondok cuma sehari semalam saja. Bayangkan, ada santri baru diketahui takut melihat ulat, malahan semakin ditempelkan ulat di tubuhnya. Tanpa sadar santri tersebut berteriak‑teriak berlari tunggang langgang dalam keadaan telanjang.

Sementara diam‑diam Kyai Zainuddin selalu memperhatikan gerak‑gerik santri baru yang berasal dari Ploso ini. Agaknya ada sesuatu yang menarik pada diri Mas’ud dan suatu ketika terjadilah pertemuan dan dialog :*)

Kyai Zanuddin          : “Co, endang ning pondok”

Mas’ud                    : “Kulo boten gadah sangu Yai”.

Kyai Zainuddin          : “Ayo, Co … besok kowe arep dadi Blawong, Co!”

Mas’ud tidak mengerti apa artinya Blawong, namun ia hanya diam seribu bahasa, rupanya ia tengah berfikir tentang posisinya yang amat sulit, hendak ke pondok uang kiriman tak akan cukup sebaliknya jika tetap di Langgar Pucung berarti tidak taat pada gurunya. Oleh karena itu predikat Blawong untuk dirinya hanya melintas sekilas dibenaknya. la sudah mengerti bahwa Kyai Zainuddin sering memberi julukan kepada santri barunya dan selanjutnya Kyai itu lebih suka memanggil dengan nama julukan ketimbang nama aslinya. Tentu saja bukan sekedar guyonan, akan tetapi sebagai seorang waliyullah beliau dikenal dapat menembus hal‑hal yang bersifat bathiniah, termasuk pribadi dan hari depan masing‑masing santrinya.

Sumber yang lain menceritakan bahwa sebeltim Mas’ud sowan (menghadap) Kyai, terlebib dahulti Kyai berangkat ke Ploso untuk menemui Pak Naib sekeluarga, “Mas’ud itu Blawong”, kata Kyai Zainuddin kepada Pak Naib.

“Tolong supaya benar‑benar diperhatikan kebutuhannya”.11)

Lucunya ketika Mas’ud sowan kepada Kyai, bukan Mas’ud yang menyampaikan salam dari orang tuanya di Ploso, melainkan Kyai Zainuddin terlebih dahulu mengawali pembicaraan dengan mengatakan “Salam dari ibu‑bapakmu “.

Agaknya Kyai Zainuddin menganjurkan Mas’ud pindah ke pondok bukan sekedar basi‑basi. Sampai tiga kali beliau mendesak Mas’ud untuk bertempat di pondok sampai akhirnya murid itu benar‑benar taat pada perintah gurunya. Kyai menempatkannya di sebuah kamar berslama sama Zaini, Sobiri dan Baidowi yang temasuk orang-orang dekat Kyai sekaligus murid-murid kesayangan beliau yang kelak dikemudian hari tampil sebagai Kyai sukses di tempatnya masing‑masing.12)


GARA‑GARA FATHUL QORIB KIAN SPIRIT13)

Sudah setahun lebih Mas’ud tidak pulang. Sebagaimana anak rantauan dia kangen kepada keluarga, rindu akan kampung halaman. Pikirannya terasa kurang konsentrasi kepada pelajaran, maka pulanglah ia ke Ploso untuk bersilaturrohmi dengan ayah‑ibu, saudara dan sanak famili. Tentu saja Pak Naib sekeluarga merasa sangat senang menerima kedatangannya berhubung lama sudah tak jumpa. Masing‑masing dapat melepaskan perasaan rindunya dan saling menceritakan keadaan selama perpisahan.

Sudah bisa dipastikan Pak Naib mesti melahirkan kebiasaannya dengan menyembelih ayam. Namun kali ini lebih istimewa, yang disembelih bukan sembarang ayam, tetapi ayam jago yang sudah dikebiri, berarti bukan sekedar untuk Mas’ud, agaknya seperti ada acara penting.

Betul saja, ternyata Pak Naib mengadakan selamatan atas pulangnya Mas’ud dari Pondok. Diundangnya pemuka Masyarakat dan dua orang Kyai yaitu Kyai Pondok Kemayan dan Kyai Pondok Kalianyar, tak ada yang tahu apa niat Pak Naib dengan acara kendurinya.

Pada jam yang ditentukan para undangan telah duduk dengan rapi, Mas’ud dipanggil untuk ikut makan bersama. Tiba‑tiba setelah acara jamuan makan usai, Pak Naib menyampaikan maksud acara.

“Nyuwun sewu Pak Kyai,” kata Pak Naib menghadap dua orang Kyai di depannya. Semua mata tertuju ke arah Pak Naib. “Anak saya ini sudah setahun di Pondok Mojosari, coba Pak Kyai uji kemampuannya, apakah sudah bisa mengaji atau belum?” lanjut Pak Naib yang membuat para hadirin serentak tercengang. Sementara Mas’ud tertunduk, gemetar, kaget dan gugup karena merasa dirinya belum punya kemampuan apa‑apa. Hampir saja apa yang barusan dimakannya berhamburan keluar dari mulutnya.

Dia tidak bisa menghindar, kecuali harus membaca kitab taqrib yang disodorkan kepadanya. Sejak itu Mas’ud bertekad tak akan pulang kalau belum siap dengan kemampuannya. Apabila rasa rindunya kepada keluarga sudah tak tertahan lagi atau ada keperluan yang sangat mendesak terpaksalah ia pulang ke rumah Roihah, adiknya yang sudah menikah dengan H. Abdul Hamid di desa Kemayan (empat km ke arah selatan Ploso). Dari sanalah ia mengutus adiknya untuk menyampaikan pesannya ke Ploso.

Pengalaman digojlok ayahnya waktu pulang sangat membekas di hatinya. Betapa tidak, di hadapan publik orang‑orang terpandang ia harus menanggung malu, mentalnya benar‑benar diuji. Peristiwa itu tak akan dapat ia lupakan, sehingga ia semakin takut untuk menyia‑nyiakan waktunya, ia harus belajar lebih giat lagi.

Tiba‑tiba Kyai Zainuddin memanggilnya dan menugaskannya untuk membaca (mengajar) kitab Fathul Qorib. Sekali lagi ia menjadi kaget dan menanggung beban moral yang amat berat. Mas’ud memberanikan diri menyatakan kepada Kyai babwa dirinya belum siap. Namun Kyai mengatakan selanjutnya : “Co, sampean manut mawon. Sampean sekedar berdagang, sing bakul kulo” (Mas kamu menurut saja. Kamu sekedar pelayan dari dagangan saya. Majikan yang memiliki dagangan adalah saya). Yang dimaksud dengan dagangan adalah Ilmu. Akhirnya Mas’ud tak mampu mengelak dan harus belajar dan berusaha dengan segenap kemampuannya untuk menjalani perintah gurunya. Namun dua peristiwa di atas merupakan cambuk spirit baginya untuk berpacu lebih maju. Tak ada waktu untuk hura‑hura, tak ada kesempatan untuk ugal‑ugalan.

SUKA DUKA DI MOJOSARI14)

Mas’ud terus semakin giat belajar, seakan‑akan tak pernah mengenal lelah, tidurnya hanya sedikit dan temannya yang paling akrab adalah kitab, pulpen dan tempat tinta berukuran besar. Pengalaman pahit diuji ayahnya membawa pengaruh besar bagi jiwanya. Lebih‑lebih setelah peristiwa itu Mas Miftah, kakaknya sering menuduh dirinya gagal belajar di Pondok. Hatinya malu dan terkadang sedih. Itulah sebabnya tatkala Kyai Zainuddin menugaskannya untuk mengajar Fathul Qorib, dia terkejut, tertunduk merendah sambil berucap: “Kulo dereng saget nopo‑nopo, Kyai!”*)

Namun Kyai Zainuddin yang arif‑billah itu sudah faham, siapa sebenamya Mas’ud, termasuk kemampuan yang sudah dicapainya. Seperti biasanya Kyai Zainuddin sering bercerita dan memberi nasehat di sela‑sela pengajiannya. Kerap kali beliau tiba‑tiba berkata: “Co, kancane ngaji iki Blawong, co! “**) tanpa menunjuk kepada siapa-siapa. Tetapi Mas’ud merasa dalam hati kalau yang ditujukan oleh Kyai adalah dirinya. Dan para santripun lama kelamaan mengerti siapa Blawong diantara mereka.

Karena penasaran Mas’ud scring bertanya kepada teman‑temannya apakah artinya Blawong, tak ada yang dapat memberi jawaban dengan pasti. Dan agaknya ia tak puas sebelum mendapat jawaban sebenarnya, Ialu ditanyakannya kepada orang‑orang tua. Ternyata Blawong adalah burung perkutut mahal yang bunyinya sangat indah dan merdu. Si Blawong itu dipelihara dengan mulia di Istana Kerajaan Brawijaya dan tentu saja ia turut naik tahta menjadi raja seluruh perkutut di wilayah kekuasaan Brawijaya bahkan raja seluruh burung margasatwa di rimba belantara. Di samping alunan suaranya yang mengagumkan, tak ada seorangpun yang berkata‑kata tatkala Si Blawong sedang berkicau, semua menyimak suaranya. Seolah‑olah burung itu punya pengaruh dan kharisma luar biasa Tidak hanya sampai disitu pujian yang diterima oleh Mas’ud, adalagi yang lebih unik. Mbah Abu Hamid dari desa Ngetos‑Nganjuk sering datang di Pondok Mojosari, beliau mengaku murid Kyai Zainuddin. Beliau juga dikenal sebagai seorang Waliyulloh yang berprilaku Khoriqul ‘adah (di luar kebiasaan). Bila Mas’ud berjalan hendak mandi ke sungai, Mbah Abu menghampirinya dan terkadang berputar‑putar mengitari santri berprestasi ini sambil menirukan ayam jago yang sedang kukuruyu (keluruk: Jawa). Suatu ketika Mbah Abu bertingkah lebih aneh lagi, tiba‑tiba beliau memukul kentongan Pondok dan beduk sambil berteriak‑teriak laksana suporter tinju yang penuh semangat.

“Jagoku Ploso, nek kalah tak pesteni mulih”,*) seru beliau berulang‑ulang. Tak ada yang mengerti apa sebenarnya maksud Mbah Abu. Mungkin kelak Mas’ud akan menjadi jago (tokoh) di tengah‑tengah masyarakatnya wallohu’alam.

Blawong dan jago adalah dua julukan yang disandang oleh Mas’ud, membuat namanya kian harum di kalangan sesama santri dan semakin dicintai oleh Kyai. Kepada Syihabuddin yang menjabat pengurus Pondok waktu itu Kyai Zainuddin mengintruksikan agar Mas’ud diberikan keistimewaan (kehormatan) tidak boleh ikut kerja apabila ada gotong royong. Tetapi Syihab tak perduli, tetap semua santri harus bergotong royong tanpa kecuali. “Perkara Mas’ud calon Kyai, itu kan soal nanti”, Tandas Syihab dengan tegas. Kyai Zainuddin nampaknya tahu sikap Syibab dan kembali beliau memperingatkan. “Kelak kamu akan tahu bahwa Mas’ud itu benar‑benar seorang ‘Ulama besar”, kata Kyai dengan mantap.

Bagaimana dengan diri Mas’ud? banggakah ia? sikapnya biasa‑biasa saja bahkan semakin menunduk tawadlu’. Pujian dan penghormatan tidak membuat dirinya takabbur atau merasa dirinya punya kelebihan Ialu meremehkan orang lain. Dia tidak ongkang‑ongkang menunggu ilmu ladunni turun dari langit, walau pun Kyai Ma’ruf Kedunglo, Kyai Zainuddin (gurunya) dan Mbah Abu Hamid yang merupakan tiga auliya’ telah menandaskan dirinya akan jadi seorang’Ulama di kemudian hari, justru sebaliknya pujian‑pujian itu diterimanya sebagai beban moral, ia harus dapat meningkatkan prestasinya dan untuk itulah dia harus tekun belajar sepanjang waktu, bukankah ia hanyalah anak pegawai negeri, tak memliki nasab Kyai. Satu‑satunya yang dapat dijadikan andalan hanyalah ketekunan dan kesungguhan berikhtiar.

Tak ada jalah mendatar atau menurun terus menerus di dunia ini. Terkadang ditemui tanjakan, jurang dan tebing, terkadang turun silih berganti. Seperti itulah jalan hidup setiap insan di dunia ini dan Mas’ud‑pun mengalaminya. Mengenang derita sengsara yang ia jalani benar‑benar membuat hati kita merasa iba dan terenyuh.

Pak Naib memberi jatah biaya hanya Rp. 5 sebulan, tanpa membawa beras dan lauk pauk dari rumah. Padahal di zaman itu rata‑rata santri berbekal Rp. 10,‑ terkadang masih ditambah lauk pauk dan beras. Maksud Pak Naib tentu saja baik, untuk melatih anaknya agar terbiasa berhemat, hidup sederhana dan tahan menderita disamping tanggungannya memang banyak. Bayangkan saja putraputrinya ada 13 orang.

Karena bekalnya dibawah standar, konon setiap hari ia hanya makan satu piring kecil (lepek: Jawa) yang dimasaknya dengan menggunakan kaleng kecil (semacam kaleng susu kental manis cap bendera/indo milk). Kaleng tersebut dipanaskan diatas nyala lampu. Lauk pauknyapun sekedar untuk pelicin masuknya nasi melewati kerongkongan. Terkadang ontong (jantung pisang) yang diberi bumbu ala kadarnya, satu ontong bisa sampai lima hari. Terkadang daun luntas yang dipetiknya dari pagar dioleskan pada sambal yang rasanya kocar-kacir tak karuan dan terkadang lauk pauknya sambal kluwak. Bahkan sering kali hanya makan dengan garam saja. Sungguh jauh untuk dikatakan ni’mat apalagi Iezat. Mas’ud yang bekas calon dokter itu bukannya tak mengerti akan ilmu gizi, tetapi keadaanlah yang memaksa harus demikian.

Rupa‑rupanya Kyai Zainuddin mengerti derita yang dihadapi oleh Mas’ud. Bertambahlah kasih sayang dan cinta beliau kepada santri pujaannya itu. Sering kali Mas’ud menerima kiriman.makanan dari rumah Kyai. Alhamdulillah, betapa syukur dan ni’matnya bagaikan menghadapi hari raya.

Menurut sebagian riwayat di pertengahan mondok di Mojosari inilah meninggalnya Pak Naib Ustman, ayahnya tercinta. Musibah ini membuat kesedihan yang dalam di hatinya. Dia merasa belum dapat membalas budi orang tuanya, belum sempat ia tunjukkan prestasi puncak berupa kesuksesan setelah tamat dari Pondok. Disamping itu ia merasa kehilangan tempat mengadu tatkala menghadapi problema kehidupan. Kini tinggallah ibunya, seorang wanita yang harus tabah menanggung beban berat mengasuh 13 putra dan putri. Suatu tanggung jawab yang amat berat bagi seorang wanita tua seperti ibu Naib.

Mas’ud merasa terharu bereampur pilu dalam hati, semakin khusu’ ia berdo’a kepada Alloh SWT, semoga kiranya orang tua itu mendapat ampunan dan yang masih hidup diberi kesabaran dan ketabahan menjalani kehidupan.

Terbetiklah hatinya bagaimana langkah untuk meringankan beban ibunya, ia ingin mandiri. Maka muncullah idenya yang menarik, ia membeli kitab‑kitab kuning yang masih kosong, Ialu dengan tulisannya yang sudah terkenal bagus, indah dan rapi diberinya makna sangat jelas, makna gandul ala pesantren yang mudah dibaca dan dipahami. Untuk keperluan inilah ia memiliki tempat tinta berukuran besar. Banyaklah santri yang tertarik utituk memiliki hasil kreasinya. Lalu dijualnya kitab tersebut, tentu saja dengan harga berlipat, sampai kitab kecil semacam fathul qorib laku Rp 2,50,‑ (seringgit) suatu jumlah yang lumayan bagi Mas’ud, sudah cukup untuk biaya hidup 15 hari. Seorang sahabatnya yang sampai sekarang masih memiliki dagangan berharga itu adalah Kyai Jufri Prambon Nganjuk.

MACANPUN TUNDUK KEPADA BLAWONG15)

Sakit perut ingin buang hajat sudah tak dapat ditahan lagi. Mas’ud bingung karena di Pondok tak ada WC. Hendak ke sungai terlalu jauh dan gelap gulita, karena kejadian ini tiba‑tiba muncul di waktu malam hari. Akhirnya tanpa berfikir panjang ia berlari‑lari kecil, Ialu berjongkoklah ia dibawah pohon petai besar yang teletak di kebun dekat Pondok. Menurut perasaannya ia memegang salah satu dari akar petai yang menjalar di atas tanah. Setelah rasa mules agak berkurang ia memandang dengan teliti kearah depan. Di kegelapan malam itu akhirnva tampak yang ia pegang itu bukan akar petai, tetapi moncong seekor macan yang tengah berbaring. Tersentak ia terkejut dan segera meninggalkan tempat itu dengan berjalan cepat dan perasaan ngeri.

Pohon petai besar dan rindang itu memang angker. Konon menurut orang‑orang yang mengerti tentang dunia makhluk halus di pohon itu terletak Istana kerajaan jin. Makhluk halus itu sudah bermukim berabad‑abad lamanya dan sering mengganggu santri Pondok. Setidaknya ada seorang santri yang menjadi gila setiap tahun akibat ulah makhluk halus.

Tetapi Mas’ud tak apa-apa, jiwa raganya yang bersih dari maksiat dan ibadahnya yang tekun telah menghantarkannya dekat dengan Allah Sang Maha Raja dari segala jin dan manusia. Macan jadi‑jadian dari jin jahat itu tak berdaya apa‑apa, tunduk kepada Sang Blawong.

BLAWONG JADI RAJA

Salah satu faktor yang menunjang suksesnya Rasululloh SAW dalam perjuangan menyebarkan agama Allah adalah persatuan yang utuh antara beliau dengan sahabat‑sahabatnya terutama sahabat empat yang dikenal dengan nama Khtilafaur‑Rosyidin. Hal ini dicapai karena adanya hubungan keluarga yang dijalin lewat tali pernikahan. Abu Bakar As‑Shiddiq dan Umar Bin Khottob r.a adalah mertua‑mertua beliau, Ustman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib adalah menantu‑menantu beliau.

Mempererat hubungan dengan para kader perjuangan Islam yang telah dicontohkan oleh Rosululloh SAW ini dikemudian hari diwariskan sebagai suatu tradisi oleh para ‘Ulama warotsatul anbiya. Di Pondok Pesantren sudah lazim terjadi santri‑santri yang punya prestasi menonjol dan berakhlaq mulia dijodohkan dengan putri atau keluarga Kyai. Dan Kvai Zainuddin adalah salah satu contohnya.

Empat tahun sudah Mas’ud di Mojosari. Berkat ketekunannya hampir seluruh fan (vak) sudah dikuasainya dengan baik. Kyai Zainuddin merasa lega melihat santri andalannya itu benar‑benar telah memenuhi harapannya. Sungguh tak dapat duraikan dengan kata‑kata. Betapa bangganya seorang guru apabila menyaksikan muridnya punya prestasi, lebih‑lebih dikalangan Pesantren. Bukankah Ilmu yang tumbuh dan berkembang di dada santrinya merupakan jariyah yang pahalanya terus mengalir untuk sang guru sampai jasad sudah terkubur?

Begitulah kebanggaan Kyai Zainuddin kepada Mas’ud berakibat lebih lanjut, seakan‑akan ia tak bisa melepaskannya lagi. Mas’ud bagi beliau adalah kader yang diharapkan dapat mengorbitkan Mojosari lebih lanjut. Maka muncullah niat beliau untuk menjodohkan Mas’ud dengan ning Badriyah putri Kyai Khozin Widang Langitan‑Babat (ipar Kyai Zainuddin). Gadis yang semula anak ipar ini dijadikan putri angkat oleh Kyai Zainuddin dan dibesarkan di Mojosari berhubung beliau tak memperoleh keturunan. Beliau tak ingin terlambat mendapatkan Mas’ud, khawatir kalau didahului oleh orang lain.

Sementara Mas’ud yang berpenampilan gagah dan berparas tampan itu belum berfikir terlalu jauh tentang teman hidup, terlebih‑lebih lagi usianya baru menginjak ± 19 th. Ketekunan dan cintanya pada ilmu telah menyelamatkan dirinya dari hayalan & lamunan betapa indahnya belahan jiwa tambatan jantung. No time for love merupakan prinsip yang ia pegang teguh selama masih menuntut ilmu, karena wanita dianggapnya penggoda paling rawan bagi seorang pencari ilmu.

Akan tetapi Mas’ud tak mampu mengelak tatkala Kyai Zainuddin tiba‑tiba memanggil dan mengutusnya pulang ke Ploso. “Sampaikan salamku pada ibumu,” kata beliau mengawali pesan. “Sampaikan kepadanya bahwa kamu akan saya jadikan menantu”.

Sungguh Mas’ud tak bisa berbuat apa‑apa dihadapan gurunya yang agung. la pamit sambil menghela nafas panjang.

***

Kini Mas’ud sudah pulang ke Ploso dan sedang berada di tengah‑tengah keluarganya, semua duduk mengerumuninya karena dia terlalu lama tak pulang. Tatkala suasana cukup tenang, dia menyampaikan salam dan pesan Kyainya.

“Salam Pak Kyai Bu”, katanya yang langsung dijawab: “Alaika wa’alaihimus salam “, oleh ibunya “Kulo dipun utus nyampaeaken pesan, bilih Pak Kyai mundut kulo dados menantu”, katanya melanjutkan (Saya diutus untuk menyampaikan pesan Pak Kyai bahwa saya akan diambil menjadi menantu).

Sebelum ibunya memberi tanggapan yang pasti, Mas Miftah tersentak dan tiba‑tiba berkata dengan lantang : “Kowe mondok isih pirang dino, wis pingin kawin … arep dadi mantune Kyai, isomu opo? ” (kamu mondok baru berapa hari saja sudah pingin kawin. Bisamu apa?). Ternyata ungkapan Mas Miftah di atas cukup diperhatikan dan mempengaruhi keputusan rembukan keluarga ini. Memang Miftah diakui sangat cerdas dan lincah sehingga memegang peranan di keluarganya terutama setelah Pak Naib meninggal.16)

Mas’ud kembali lagi ke Mojosari dengan membawa keputusan keluarga bahwa dirinya belum siap untuk menikah. Namun Kyai Zainuddin tak mau menerima keputusan itu. Beliau memerlukan diri untuk datang ke Ploso.

Di Ploso seluruh keluarga menyambut Kyai dengan penuh hormat, lebih‑lebih kali ini ada topik pembahasan yang istimewa. “Sing momong niku kulo, kulo langkung ngertos pribadi santri setunggal‑setunggalipun”,*) tegas Kyai dengan gayanya yang khas. Semuanya bungkam diam seribu bahasa, termasuk Mas Miftah. Dan pembicaraanpun dilanjutkan membahas tehnik pelaksanaan, hari resepsi dan seterusnya.

***

Malam resepsi telah tiba. Dua sejoli Mas’ud dan Badriyah telah bersanding, resmi dinobatkan menjadi raja dan ratu semalam. Seluruh mata memandang ke arah pelaminan. Si Blawong benar‑benar menjadi raja.

Para undangan dari kalangan ‘Ulama, Umaro’, Tokoh masyarakat dan handai taulan telah pula datang sementara suara gendang bertalu‑talu mengiringi barisan anak-anak muda yang bernyanyi sambil berlenggak lenggok memainkan kipas di tangannya. Kesenian ‘ruddat’ yang mengenakan seragam gaya Turki ini memang sengaja didatangkan dari Langitan oleh Kyai demi memeriahkan acara resepsi. Malam sejuta rasa, semua bergembira. Mojosari berubah seketika dipadati oleh lautan manusia, hingar bingar suara lagu dan gendang, diselingi teriakan dan tepuk tangan para hadirin. Suatu resepsi yang tergolong meriah dan megah di kala itu.

Siapapun dapat menyaksikan betapa Kyai Zainuddin sangat mengagumi Mas’ud, Resepsi inilah buktinya, beliau benar‑benar mewujudkan rasa syukurnya yang luar biasa. Kini guru agung itu telah menjadi satu dengan murid kesayangannya lewat tali pernikahan. Dan sejak itulah Mas’ud sangat populer dengan sebutan Mas’udnya Kyai Zainuddin, Bukan Mas’ud Ploso atau Mas’udnya Pak Naib.

PANGGILAN NABI IBRAHIM

Setelah beberapa lama di Mojosari, sepasang pengantin baru itu hendak pulang ke Langitan. Kyai Khozin pengasuh Pondok Langitan diam‑diam juga punya rencana yang sama dengan Kyai Zainuddin. Kyai Khozin ingin agar menantunya yang tersohor ‘alim itu mengajar di Pondoknya dan kelak akan tampil sebagai penerus perjuangan beliau. Rencana itu ternyata diketahui oleh Pak Chasbulloh seorang yang ‘alim dan berperilaku khoriqul adah. Tak seorangpun yang berani melanggar perintah atau larangannya, termasuk Kyai Khozin sendiri. Sudah banyak buktinya orang jadi kuwalat karena melanggar atau meremehkan perintahnya.

“Sampean kedah ning kutho, Inggih! saben jam sekawan sonten nganti jam songo. Ngangge niki”,*) kata Pak Chasbulloh kepada Mas’ud sambil menunjuk bendi (dokar) mewahnya. “Nyaine diajak, ben marem”**) katanya melanjutkan. Mas’ud hanya dapat mengangguk sambil berucap “Inggih “.

Setiap jam 4 sore sebuah bendi mewah beserta kusirnya telah siap menjemput Mas’ud dan istrinya untuk kemudian berangkat berputar‑putar di kota Babat. Orang memandang betapa asyiknya dua sejoli itu, berbulan madu dengan kendaraan mewah bersantai ke kota bagaikan sepasang merpati. Namun orang tak pernah mengerti betapa jenuhnya Mas’ud hanya melakukan kegiatap monoton yang itu‑itu saja setiap hari. Lalu kesempatan itu dipergunakannya untuk berziarah ke makam seorang ‘Ulama di Babat, di tempat itulah dia munajat kepada Alloh setiap hari dan pulang pada waktu yang sudah ditentukan. Lama kelamaan Mas’ud jenuh juga, dia tak mengerti apa tujuan Pak Chasbulloh memerintahkannya berputar-putar di kota. Hendak pamit pulang ke Ploso tak berani, apalagi akan pindah ke Pondok lain. “Apa tujuanku setiap hari begini”, kata batinya yang penuh tanda tanya. Padahal ia sangat senang andaikata diberi kesempatan untuk mengajar atau membuka pengajian di Pondok Langitan, demi mengembangkan ilmunya dan mengamalkannya.

Di tengah kebingtingannya itu timbullah niatnya untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Pak Chasbulloh merestuinya, begitu juga istrinya tercinta. Maka pulanglah ia ke Ploso untuk mohon izin dan berunding dengan ibunya.

“Haji?” seru ibunya kaget tatkala ia mengungkapkan persoalannya. “Le …, le ! Opo sing arep di enggo haji?”*) lanjut ibu yang merasa tak punya kemampuan itu. “Warisan kulo disade sedoyo, Bu”**) tandas Mas’ud dengan singkat.

Akhirnya diputuskan bahwa Mas’ud positif berangkat haii. Sawah seluas (l/2 bahu : Jawa) beserta sapi hak miliknya dijual habis ternyata belum mencukupi untuk membayar ONH (ongkos naik haji) sebesar 115 golden, maklum waktu itu sedang terjadi krisis ekonomi dimana uang amat sulit didapat karena harga barang‑barang sangat murah. Namun dalam hati kecilnya Mas’ud yakin apabila Nabi Ibrabim a.s telah memanggil tak ada satu kekuatanpun yang dapat menghalangi. Ikhtiar mesti terus dilakukan sambil bertawakal kepada Alloh.

Adalah tidak mudah bagi Mas’ud untuk sampai Baitulloh, di tengah‑tengah kerumitan mencari kecukupan uang ONH itu istrinya jatuh sakit di Langitan, akan tetapi tekad Mas’ud tak pernah goyah. Diyakininya bahwa semua kesusahan yang menimpa ini hanyalah cobaan bagi semua perbuatan mulia. Hatinya tegar bagaikan batu karang di tengah lautan yang tak bergeming dihempas ombak.

Hari keberangkatan sudahlah tiba, namun persoalan belum bisa dipecahkan. Tanpa diduga sebelumnya Kyai Zainuddin (mertuanya) menyodorkan seiumlah uang, konon besarnya 100 golden suatu jumlah yang amat besar untuk zaman itu lebih‑lebih disaat situasi ekonomi sedang kacau. Tak berlebihan bila dikatakan bahwa beliaulah pengganti Almarhum ayahnya (Pak Naib).17)

Alhamdulillah, betapa syukurnya Mas’ud dan segenap keluarga. Rupanya Allah telah menyaksikan kesabaran hambanya menerima cobaan, Ialu diberinya jalan keluar. Panggilan Ibrahim benar‑benar untuk Mas’ud. Labbaika Allohumma Labbaika, rombonganpun berangkat beriring-iring sembari deru sholawat bergema di udara. Mereka menuju desa Kras dengan berjalan kaki menempuh jarak 4 km, dan Kyai Zainuddin Mojosari yang sejak semalam menyempatkan diri menginap di Ploso ikut serta berjalan kaki dan seterusnya ikut mengantar ke Surabaya. Di Pelabuhanpun Kyai Mojosari itu bermalam sampai kapal benar‑benar berangkat. Puluhan ribu tangan melambai-lambai, tak tertahan tetesan air mata keharuan mengalir dalam rangka melepas keberangkatan tamu Alloh. Semoga kembali lagi dengan selamat dan mendapatkan haji Mabrtir.

MENGHAFAL DI KAPAL

Pelayaran Surabaya Jeddah dengan menggunakan kapal uap tak secepat pesawat jet DC 10 atau Boing 747 sekarang ini. Tiga bulan lamanya terapung‑apung diatas laut. Pelayaran adalah suasana yang biasanya membuat orang menjadi sedih, menghayal dan rindu. Mas’ud tak mau membiarkan fikirannya melayang‑layang tak berguna. Bila memikirkan istrinya yang sedang sakit di Langitan sedihlah ia, dikuatkannya hatinya untuk bertawakkal kepada Alloh bersabar menerima cobaan.

Lalu kesempatan di kapal yang luang dipergunakannya untuk menghafal bait‑bait syair (nadhom) uqudul juman, sebuah kitab tertinggi dalam bidang Balaghoh. Sungguh Mas’ud tak pernah menyia‑nyiakan waktu berlalu tanpa belajar, karena ia bersemboyan bahwa kunci utama mencari ilmu adalah Mempeng (sungguh‑sungguh). Dan itulan yang dilakukannya sejak kecil.


1 Keterangan Mbah Burdah Jombang dan KH. Manshur Sholeh Mojosari.

2) Cerita Kyai Syihabuddin kepada Pak Salam.

3) Keterangan Mbah Burdah Jombang. Menurut sumber lain, Pondok Siwalan Panji Sidoarjo

4) Keterangan Mbah Masruri Mojosari

5) Cerita KH. Manshur Sholeh Mojosari, Beliau mengenang masa-masa nakalnya di Mojosari

6) Cerita Mbah Masruri, KH. Manshur Sholeh dan lain-lain.

7) Dikisahkan oleh KH. Manshur Sholeh Mojosari.

8) Dikisahkan oleh KHA. Djazuli Utsman kepada Pak Musleh.

9) KH. Manshur Sholeh, Mbah Masruri dan Mbah Burdah.

* Keterangan :

Pada waktu KH. Hasyim Asy’ari istilah yang dipakai adalah Rosi Akbar tapi sepeninggal beliau para penerusnya merasa riskan menyandang gelar Rois Akbar, lalu diganti dengan istilah Rois Aam.

10) Cerita KH. Manshur Sholeh Mojosari.

*) Kyai Zainuddin             : “Mas, ayo pindah ke Pondok”

Mas’ud                         : “Saya tidak punya bekal Kyai”

Kyai Zainuddin             : “Ayolah Mas, kelak kamu akan jadi Blawong”

11) Keterangan Kyai Ma’ruf Mursyidi Ponorogo

12) Keterangan Mbah Burdah Jombang

13) Cerita KHA. Zainuddin Djazuli, diterima dari H. Abd. Hamid Kemayan (ipar KHA. Djazuli Utsman suami Roihah)

14) Dirangkum dari keterangan KH. Manshur Sholeh, Mbah Burdah, Mbah H. Abd. Ghani, dll.

*) Saya belum bisa apa-apa Kyai”

**) Mas, temannya ngaji ini adalah Blawong”

*) Jago saya dari Ploso, kalau kalah saya pastikan pulang”

15) Kisah Kh. Manshur Sholeh dan Mbah H. Abd. Ghani

16) Cerita Mbah Burdah Jombang

*) “Yang mengasuh adalah saya, jadi saya lebih mengerti pribadi masing-masing santri”.

*) “Kamu harus ke kota setiap hari jam 4 sore sampai jam 9 malam, pakai bendi ini”.

**) “Istrinya diajak biar puas”

*) “Nak……nak……! apa yang dipakai untuk haji?”

**) “Warisan saya dijual semua, Bu”

17) Keterangan Mbah Burdah Jombang dan Pak Musleh

Satu Tanggapan

  1. […] Di Pondok inilah Mas’ud mendalami ilmu‑ilmu yang berkaitan dengan Al-Qur’an khususnya tajwid disamping ia juga belajar kitab Al‑Ajrumiyah pelajaran tata bahasa Arab tingkat dasar dan lebih dikenal dengan nama ilmu Nahwu.1 […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: