Bagian Keenam Belas CARA PENYEMBELIHAN

Dalil Penyembelihan

Penyembelihan merupakan suatu media yang diberlakukan oleh syara’ bagi umat islam dalam memperoleh kehalalan suatu binatang untuk dimakan. Hal ini berdasarkan firman Alloh swt;

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ [المائدة/3]

Artinya : “Diharamkan bagimu untuk memakan bangkai (setiap binatang yang halal baik hidup di darat maupun di udara yang mati dengan tanpa disembelih), darah, daging babi, binatang yang di sembelih bukan karena Alloh, binatang yang mati dengan cara dijerat lehernya, biatang yang mati dengan cara dipukul, binatang yang mati dengan cara dilemparkan, binatang yang mati akibat di adu dengan bintang lain, binatang yang mati sebab dimakan binatang buas kecuali binatang-binatang yang mati karena telah kamu sembelih”.

Hikmah penyembelihan

Hikmah disyari’atkannya penyembelihan adalah untuk membedakan antara daging yang halal dengan yang haram.

Rukun-rukun penyembelihan

Rukun penyembelihan terbagi menjadi empat macam yaitu;

1. Orang yang menyembelih

Syaratnya adalah harus orang islam (baik sudah dewasa atau masih kecil namun sudah tamyiz) atau kafir ahli kitab (yahudi dan nasroni yang masih berpedoman pada kitab taurot dan injil yang asli) baik keturunan Israil atau bukan.Namun bila keturunan Israil disyratkan tidak diketahui nya nenek moyang mereka memeluk agama tersebut setelah diutusnya nabi yang menaskh agama mereka dan bila bukan keturunan Israil disyaratkan diketahuinya nenek moyang mereka memeluk afgama tersebut sebelum diutusnya nabi yang menaskh agama mereka. Hal ini berdasarkan firman Alloh ta’ala :

وَطَعَامُ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ حِلٌّ لَكُمْ

Artinya : “Dan makanannya orang-orang kafir ahli kitab (yahudi dan nasroni) itu halal bagimu”

Hewan yang disembelih oleh orang gila, anak kecil yang belum tamyiz, orang buta, dan orang bisu (meskipun bahasa isyaratnya tidak memahamkan) juga hukumnya halal, namun makruh menurut keterangan yang telah ditetapkan oleh imam syafi’i. lain halnya hewan yang disembelih oleh kafir selain ahli kitab seperti kafir majusi (penyembah api), penyembah berhala, dan orang murtad (keluar dari agama islam), maka hukum memakannya adalah harom berdasarkan keterangan firman Alloh diatas.

Imam Nawawi dalam kitab majmu’ menerangkan bahwa tingkatan orang yang paling berhak (paling utama) untuk melakukan penyembelihan adalah orang islam laki-laki yang berakal kemudian orang islam perempuan, kemudian anak kecil laki-laki dari golongan islam, kemudian kafir ahli kitab, kemudian orang gila, orang orang mabuk dan anak kecil yang belum tamyiz.

2. Hewan yang disembelih

Secara garis besar hewan terbagi menjadi dua macam yaitu :

a. Hewan yang tidak boleh untuk dimakan seperti keledai, anjing, babi, hewan yang bertaring dan berkuku tajam

b. Hewan yang boleh untuk dimakan seperti sapi, kambing , ayam , belalang dan hewan yang hanya hidup dalam air.

Hewan yang boleh untuk dimakan itu terbagi menjadi dua yaitu :

 Hewan yang hanya boleh dimakan jika sudah melalui proses penyembelihan terlebih dahulu seperti sapi kambing ,ayam .

 Hewan yang boleh dimakan dengan tanpa harus disembelih terlebih dahulu seperti belalang dan hewan yang hidupnya hanya dalam air seperti ikan dan udang .

Kewajiban menyembelih ini berdasarkan firman Alloh surat al ma’idah ayat 3 :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ ………………. إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ [المائدة/3]

Artinya : “Diharamkan bagimu memakan bangkai (hewan yang mati tanpa disembelih secara syara’), darah dan daging babi …………………… kecuali hewan yang telah kamu sembelih”

(QS. Al Ma’idah : 3)

Sedangkan dasar tidak diwajibkannya menyembelih belalang dan ikan atau yang sejenisnya adalah firman Alloh swt :

أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ [المائدة/96

Artinya : “Dihalalkan bagimu memburu hewan yang hidup dalam air dan memakannya sebagai kenikmatan yang diberikan oleh Alloh pada kamu semua”

Dan hadits yang diriwayatkan imam Baihaqi dari Abdullah ibn ‘Umar ra :

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ : الْجَرَادُ وَالْحِيتَانُ وَالْكَبِدُ وَالطِّحَالُ.

Artinya : “Dari sahabat abdulloh ibnu umar bahwasanya Nabi bersabda “dihalalkan bagi kami memakan dua bangkai dan dua darah yaitu belalang, ikan-ikan, hati, dan limpa”.

Hukum menyembelih ikan yang berukuran besar yang daya tahan hidupnya lama itu sunnat karena untuk mempermudahkan pengolahannya, sedangkan untuk ikan yang berukuran kecil hukumnya makruh karena penyembelihan tersebut sia-sia dan mempersulit diri tanpa menghasilkan faidah

3. Alat penyembelihan

Alat yang harus digunakan dalam penyembelihan adalah setiap benda tajam yang mampu untuk melukai hewan yang akan disembelih seperti besi, tembaga, bambu, kaca, dll maka setiap hewan yang disembelih dengan menggunakan benda diatas itu hukumnya halal untuk dimakan. lain halnya jika penyembelihan itu dilakukan dengan menggunakan gigi, kuku, dan tulang maka hukum memakannya adalah harom keterangan ini berdasarkan hadits nabi saw :

مَا أَنْهَرَ الدَّمَ وَذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ فَكُلُوهُ مَا لَمْ يَكُنْ سِنًّا أَوْ ظُفُرًا وَسَأُحَدِّثُكُمْ عَنْ ذَلِكَ أَمَّا السِّنُّ فَعَظْمٌ وَأَمَّا الظُّفُرُ فَمُدَى الْحَبَشَةِ (رواه البخارى ومسلم)

Artinya :”Segala sesuatu yang dapat mengalirkan darah dan disebutkan nama Allah pada hewan yang disembelih dengan sesuatu tersebut maka makanlah hewan tersebut selama sesuatu yang mengalirkan darah tadi bukan gigi dan kuku dan akan aku katakan apa alasannya. sesungguhnya gigi merupakan tulang manusia, sedangkan kuku adalah pisaunya kaum Habasyah”

( HR. Bukhari & Muslim )

Syarat-syarat penyembelihan :

1. Memotong keseluruhan hulqûm (saluran pernapasan) dan marî’ (saluran pencernaan)

2. Penyembelihan tersebut murni karena Alloh Ta’ala

3. Hewan yang disembelih masih mempunyai sifat hidup yang menetap (hayât mustaqirrah) atau belum sekarat. Syarat ini berlaku untuk hewan yang mengalami hal hal yang bisa menyebabkan kematian, seperti tertabrak, memakan tumbuh tumbuhan yang membahayakan .

Tanda-tanda hewan masih mempunyai hayât mustaqirrah adalah;

 Adanya gerakan yang sangat keras setelah penyembelihan ,

 Darah keluar memancar

Sedangkan apabila hewan tersebut tidak mengalami hal- hal yang bisa menyebabkan kematian, maka tidak disyaratkan memiliki hayât mustaqirrah, seperti hewan yang sakit, maka tetap halal meskipun setelah disembelih tidak mengalirkan darah dengan deras atau tidak ada gerakan yang keras.

4. Adanya kesengajaan untuk menyembelih hewan yang akan disembelih, Sehingga apabila tidak ada kesengajaan (semisal pisau yang dipegang jatuh mengenai leher hewan dan mengakibatkan kematian hewan tersebut), maka hukum memakannya haram.

Bila penyembelihan tidak memenuhi persyaratan diatas maka status hewan yang disembelih adalah bangkai dan haram dimakan.

Catatan :

Bila adanya hayât mustaqirrah masih diragukan, maka hukum hewan yang disembelih adalah haram dimakan menurut qaul ashah

Kesunnatan dalam menyembelih :

1. Mempertajam pisau, sebagaimana keterangan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam muslim :

إذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَةَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

Artinya : “Apabila kalian melakukan penyembelihan maka lakukanlah dengan cara yang baik dan hendaknya mempertajam (mengasah) pisaunya dan membaringkan hewannya”.

( HR. Muslim )

2. Orang yang menyembelih mengerahkan tenaganya dalam artian saat menyembelih pisau digerak-gerakkan dan disertai dengan tekanan.

3. Penyembelih Menghadap ke qiblat

4. Lehernya hewan yang akan disembelih dihadapkan ke qiblat. terlebih kalau hewan yang akan disembelih merupakan hewan qorban, ‘aqiqah atau dam ihrâm

5. Membaca Tasmiyah ( بِسْمِ اللهِ ) dan Shalawat Nabi ( الّلهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ) saat akan menyembelih, berdasarkan firman Alloh swt :

فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ [الأنعام/118]

Artinya : “Maka makanlah hewan yang disembelih dengan menyebut nama Alloh”( QS. Al-An’am :118)

Sedangkan kesunnatan membaca sholawat adalah karena segala sesuatu yang disunnatkan untuk menyebut nama Alloh, disunnatkan pula menyebut nama rasulNya saw, seperti menyebutkan nama Alloh dan RasulNya saat adzan dan shalat.

Adapun dasar tidak diwajibkannya membaca tasmiyah adalah firman Alloh swt :

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمْ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ ……………… إلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ

Artinya :” Diharamakan bagimu memakan bangkai dan darah …….. Kecuali hewan yang telah kamu sembelih”

Sedangkan mengenai firman Alloh :

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرْ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

Artinya : “Dan janganlah kamu memakan hewan yang disembelih dengan tanpa menyebut nama Alloh dan sesungguhnya memakan hewan trersebut merupakan kefasikan”

Menurut ahli balaghoh ayat ini tidak mengindikasikan akan wajibnya membaca tasmiyah saat menyembelih, akan tetapi menjelaskan bahwa penyembelihan yang dilakukan dengan niat karena selain Alloh (semisal niat untuk dibuat sesajen bagi mahluk ghaib) itu mengakibatkan haramnya hewan yang telah disembelih dengan dalil وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ( sesungguhnya memakan hewan tersebut merupakan kefasikan) . Ulama’ sepakat bahwa memakan sembelihan orang islam yang tidak menyebut nama Alloh tidak termasuk kefasikan, sehingga مِمَّا لَمْ يُذْكَرْ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ ditafsiri dengan sesuatu yang menyebabkan fasik, yakni penyembelihan bukan karena Alloh.

Barang siapa yang menyembelih hewan karena Alloh untuk menghindari kejahatan jin maka diperbolehkan dan hewan tersebut hukumnya halal.

6. Memotong saluran pernapasan dan pencernaan yang berada tepat pada pangkal leher (leher bagian bawah) apabila hewan yang disembelih berleher panjang seperti unta, burung kasuari, angsa dll

7. Menegakkan unta saat disembelih dengan bertumpu pada tiga kakinya, sedangkan satu kaki yang lainnya ditekuk. Menurut imam nawawi yang ditekuk adalah kaki kiri. Pendapat beliau berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh abu daud ;

أَخْبَرَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَابِطٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ كَانُوا يَنْحَرُونَ الْبَدَنَةَ مَعْقُولَةَ الْيُسْرَى قَائِمَةً عَلَى مَا بَقِيَ مِنْ قَوَائِمِهَا

Artinya ; “abdul al rahman bin sabith memberiku khabar bahwa rosulullah dan para sahabat pernah menyembelih seekor unta badanah yang di tekuk kaki kirinya(yang bagian depan) dan unta tersebut berdiri dengan kaki belakangnya”

8. Memotong saluran pernapasan dan pencernaan pada leher bagian atas untuk hewan yang tidak berleher panjang seperti sapi, kambing, kuda, keledai dll dan membaringkan tubuhnya atas lambung yang sebelah kiri sedangkan kaki-kakinya diikat kecuali satu kaki sebelah kanan supaya hewan tersebut mudah dalam mengerak-gerakkannya

9. Tidak memutus bagian yang melebihi saluran pernapasan dan pencernaan serta dua otot yang mengapit kedua saluran tsb.

10. Tidak memutus kepala hewan yang disembelih, tidak mengulitinya, tidak memindahkannya ketempat lain, tidak menahannya setelah disembelih, jika hewan yang disembelih belum mati, sedangkan apabila sudah mati maka diperkenankan (tidak makruh) untuk melakukan keempat hal diatas

11. Tidak memecah tulangnya hewan yang disembelih

12. Membaringkannya dengan pelan-pelan setelah tiba ditempat penyembelihan

13. Tidak mengasah pisau (alat untuk menyembelih) dihadapan hewan yang akan disembelih

14. Tidak menyembelih hewan lain dihadapan hewan yang akan disembelih

Hal-hal yang diharamkan

15. Haram penyembelih baca بسم محمد , بسم الله وبسم محمد atau بسم الله ومحمد رسول الله dengan membaca jer pada lafad ومحمد karena ada kesan menyekutukan Alloh dengan Nabi Muhammad,dan bila di sengaja menyekutukan akan mengakibatkan keharaman hewan yang telah disembelihnya. Sedangkan apabila tujuannya adalah agar mendapatkan berkah dengan perantara menyebutkan nama nabi muhammad maka hukumnya tidak harom sebagaimana tidak haromnya mengucapkan بسم الله ومحمد رسول الله dengan membaca rofa’ pada lafad ومحمد

16. Haram memakan hewan yang disembelih oleh kafir ahli kitab yang penyembelihannya karena nabi Isa al masih atau karena selain Alloh

17. Haram memakan hewan yang disembelih orang islam yang penyembelihannya karena nabi muhammad saw atau karena ka’bah atau karena selain Alloh, bahkan apabila ada tujuan mengagungkan dan menyembahnya, maka akan mengakibatkan kekufuran sedangkan apabila tujuan menyembelih karena ka’bah atau para rosul adalah mengagungkan keduanya dari segi ka’bah adalah baitulloh, dan para rasul adalah utusan Alloh, maka hukumnya boleh

18. Haram memakan hewan yang disembelih karena semisal jin (sesajen) dengan maksud agar tidak mendapatkan gangguannya. Lain halnya jika penyembelihan tersebut tetap karena Alloh ta’ala sedangkan tujuannya agar Alloh menjaganya dari kejelekan jin. []

Satu Tanggapan

  1. mengapa binatang yang tidak disembelih hukumnya haram.????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: