PLOSO DI MASA SILAM

Berantas adalah sungai yang sangat terkenal sejak dahulu kala. Airnya yang deras dan terus menerus mengalir sepanjang musim telah berjasa banyak untuk kehidupan. Daerah sekitar yang dilintasinya menjadi subur, pendudukpun hidup makmur karena dapat mengolah pertanian dan perkebunan dengan lancar. Disamping itu sungai besar ini masih memberikan sederet manfaat yang lain seperti tersedianya ikan ikan segar penuh gizi, sumur penduduk tak pernah mengenal kering meskipun terjadi kemarau yang amat panjang, pasirnya tersebar dimana-mana sebagai bahan material pembangunan dan sebagainya.

Di pinggir sungai inilah terletak desa Ploso 15 km kearah selatan kota Kediri. Pertengahan abad ke-19 desa ini masih merupakan desa yang sepi, penduduknya masih jarang dan tidak nampak banyak rumah di pinggir jalan. Dahulu kala orang merasa enggan membuat rumah di pinggir jalan karena dianggap kurang tenang dan mereka tak suka anak anaknya banyak berbelanja. Tak berlebihan apabila kita membayangkan alangkah damainya warga Ploso dimasa yang silam. Tuhan telah menyediakan segala kebutuhan mereka dalam kadar yang cukup, mereka dengan leluasa menjalankan hidup serta bebas rnenghirup udara segar dialam yang terbuka, seakan akan ini telah membuat mereka lupa pada situasi penjajahan yang tengah mencekam bangsa Indonesia di zaman itu.

Berbeda dengan rakyat yang hidup di Jawa Tengah khususnya Yogyakarta, Magelang, Muntilan dan sekitarnya. Wilayah kerajaan Mataram ini cukup lama dilanda peperangan, mulai tahun 1825 1830. Perang gerilya yang dipelopori oleh para ‘ulama membuat penjajah Belanda menjadi kuwalahan, lumpuh dan kian menyimpan dendam. Dengan siasatnya yang licik, Belanda dapat menangkap sang Pangeran dan kemudian membuangnya ke Manado.

Namun berakhimya perang bukanlah membawa suasana tenang dan damai, malahan sebaliknya Belanda semakin kejam dan biadab. Berbagai taktik dilancarkan untuk menumpas sisa sisa kader Pangeran Diponegoro misalnya perekonomian rakyat diporak porandakan dengan jalan menarik upeti dan pajak yang tinggi, rnenyokong tuan tuan tanah, mernbiarkan perjudian sehingga rakyat menjadi lemah, kelaparan dan kepaelan timbul di mana mana. Belanda sangat khawatir akan terjadinya lagi perang sabil yang serupa.

Banyak penduduk yang sudah tak tahan lagi menghadapi derita panjang dan terpaksa hijrah meninggalkan kampung halamannya tercinta. Sebagian mereka berangkat menuju Jawa Timur. Mereka mencari tempat pemukiman baru yang memenuhi syarat kehidupan ke segenap pelosok Jawa Timur secara terpencar pencar. Tentu saja Ploso termasuk tempat yang dipilih oleh sebagian mereka karena subur dan damainya sebagaimana diungkapkan di atas. Sejak itulah penduduk Ploso mulai ramai.

Ada tingkah yang menarik sekali dari para penduduk baru ini, secara adat mereka diharuskan menanam pohon sawo di depan rumahnya paling tidak sebatang akan lebih baik apabila menanam dua batang, tiga batang atau lebih. Hal ini sebagai bukti sejarah atau simbul yang menunjukkan asal mereka dari Jawa Tengah, itulah sebabnya di zaman dahulu di daerah Ploso dan sekitarnya banyak dijumpai pohon sawo.

Seiring dengan ramainya penduduk, meningkat pula kegiatan perekonomian, maka terbentuklah Pasar Pahing tempat berjual beli barang barang keperluan sehari hari, sandang pangan sampai kepada hewan ternak, pasar Pahing ini cukup ramai dikunjungi oleh masyarakat, karena merupakan pasar satu satunya untuk kawasan sekitarnya.

Peluang bisnis di Ploso ini tidak luput dari intaian orang orang Cina. Tuhan memang menakdirkan bangsa Tionghoa bermata sipit, akan tetapi penglihatannya benar benar tajam terhadap dunia bisnis, maka bagaikan semut semut yang mengerumuni gula berbondong bondonglah orang orang Cina ke Ploso demi mencari keuntungan materi. Mereka membuat rumah di pinggir jalan sambil membuka toko, mendirikan industri kopra, penggilingan kopi, padi dan sebagainya. Ploso yang semula merupakan desa terpencil telah berubah lebih maju.

Faktor terpenting yang membuat Ploso menjadi semarak adalah terletaknya ibukota Onder District (kecamatan) di sana. Kantor kantor pemerintah, masjid pemerintah, rumah rumah dinas, sekolah dan lain-lain telah berdiri dibarengi dengan pola kehidupan masyarakat yang mulai mengikuti ala perkotaan, dan berkembangnya masyarakat campuran yang terdiri dari para pegawai, cina, pedagang, petani dan sebagainya di Ploso telah menumbuhkan kehidupan skuler (jauh dari agama). Mereka memeluk Islam tetapi Islam abangan alias Islam KTP, tidak menjalankan ibadah bahkan tidak sedikit yang berfaham komunis dan anti agama.

Mereka berlomba lomba mengejar kehidupan duniawi bekerja keras membanting tulang semata mata untuk memuaskan nafsu. jiwa mereka menjadi kering dan gelap karena tidak mendapat siraman agama. Faktor inilah yang kiranya mendorong tumbuhnya grup grup kesenian rakyat sebagai pelampiasan refresing (hiburan) di sela sela kepenatan kerja setiap hari. Namun pada akhirnya kesenian tersebut terus berkembang dalam berbagai bentuknya, sehingga Ploso menjadi pusat kesenian rakyat pada zaman dahulu. Aneka kesenian dapat dijumpai seperti wayang wong, wayang kulit, jaranan pegon, jaranan jawa, ludruk, ketoprak, ande ande lumut sampai kepada tari ledek.

Sudah merupakan kelaziman bahwa aktivitas kesenian biasanya diikuti oleh berbagai tindakan kemaksiatan. Begitu juga halnya dengan kesenian-kesenian di Ploso. Para pemain belum merasa mantap tampil di atas panggung kalau belum meneguk tuak dan arak. Minuman keras bagi mereka mempunyai khasiat untuk menguatkan mental sehingga hilanglah rasa malu atau grogi dihadapan para penonton. Tak jauh berbeda dengan ledek yang semula merupakan tarian yang dilakukan oleh wanita seksi dengan sedikit membuka aurot dibagian dada, berduet seenaknya bersama seorang pria yang dipilihnya lambat laut telah menjurus kepada perzinahan. Birahi yang mula mula timbul dari lirikan mata dan senggol senggolan ringan seringkali dilanjutkan di luar arena. Begitulah kemaksiatan terus berkembang dengan bebas meracuni masyarakat bagaikan kuman kuman virus yang menimbulkan wabah penyakit, lebih lebih saat itu para pemimpin formal seperti lurah, carik dan sebagainya tidak pernah melarang bahkan turut sebagai pelaku aktif. Perjudianpun merajalela. Di malam Pahing hampir tak ada orang tidur, suasana Ploso mirip pasar malam. Gendang ramai bertalu talu, mereka berdendang lemah gemulai, tertawa ria dengan aneka pertunjukan dan lakon, sementara kelompok yang lain asik bermain ular kodok, othok (sejenis dadu) dan permainan judi yang lain. Sambil menghitung hitung taruhan dan meramal kemenangan mereka meneguk tuak dan arak bermabuk mabukan. Bahkan minuman keras belum membuat mereka puas, mereka baik laki laki ataupun perempuan banyak yang kecanduan menghisap seretan (candu yang dimasukkan ke dalam sebuah wadah, setelah dibakar Ialu disedot melewati sebuah pipa panjang). Nikmatnya narkotika telah membuat mereka lupa segala galanya. Mereka bisa tertawa ria dan juga bisa mabuk kepayang terlena sesuka perutnya. Mereka tak ingat lagi bahwa Brantas dan alam sekitarnya yang indah lagi makmur adalah karunia Alloh yang wajib disyukuri.

Mereka telah dijerat oleh hawa nafsunya untuk meneruskan kamaksiatannya, yang sangat dimurkai Alloh.

Itulah Ploso dimasa silam. Kini tinggallah puing-puing sejarah pengenang nostalgia. Namun sebuah masjid dan pendopo kantor kenaiban (KUA) masih tegar berdiri dengan utuh. Hanya saja fungsinya telah berubah menjadi pusat pendidikan PP. Al Falah.

ANAK PEGAWAI NEGERI

ANAK PEGAWAI NEGERI

Setiap Kamis sore si Konang meluncur dengan kecepatan sedang, keluar dari Ndalem Pengulon (rumah kepala KUA) di Ploso. Kuda gagah dan sehat itu dengan setia menarik dokar milik Pak Naib. Pemandangan ini tentu saja sangat menarik pada pertengahan abad 19. Dimasa kendaraan rnodern belum berkembang itu, dokar termasuk jenis kendaraan langka dan mewah, bayangkan saja di Ploso hanya ada dua buah dokar yang dimiliki penduduk.

Kemanakah Pak Naib bersama si konang dan dokarnya pergi setiap Kamis sore? Rupa‑rupanya Mas Moh. ‘Ustman bin Mas Moh. Sahal yang lebih populer dengan sebutan Pak Naib itu telah memiliki kebiasaan rutin yang dilakukannya sampai menjelang wafatnya. Kisahnya bermula dari pertemuannya dengan KH. Ma’ruf Kedunglo, seorang lulama yang masih ada hubungan famili dengannya. Suatu ketika KH. Ma’ruf memberi saran : “Utsman ! apabila kamu ingin anak‑anakmu kelak menjadi orang yang berilmu, beramal dan bermanfaat, rajin‑rajinlah bersilaturrahmi dengan para ‘alim ‘ulama. Kalau tidak anakmu, Insya Alloh cucumu yang alim.” Begitulah nasihat KH. Ma’ruf yang identik dengan ungkapan Syaikhul Imam Sadiduddin Asy‑Syairaziy dalam kitab Ta’limul muta’allim sebagai berikut:

من اراد ان يكون ابنه عالما فاليكرم الغرباء من الفقهاء وان لم يكن ابنه عالما فحافدوه عالما (تعلم المتعلم)

Sejak itulah Pak Naib menjalani kebiasaan rutinnya berangkat setiap sore Kamis menuju rumah-rumah ‘ulama secara silih berganti sejauh yang mampu dijangkau oleh kuda yang bernama si KONANG, terkadang beliau baru pulang setelah larut malam.[1]

Kekhawatiran Pak Naib akan masa depan putra-putrinya sangat beralasan, betapa tidak, dari pernikahannya dengan Mas Ajeng Muntoqinah binti M. Syafi’i beliau dikaruniai tujuh orang putra dan enam orang putri. Jumlah tiga belas orang merupakan jumlah yang cukup besar dan perlu pemikiran serius. Ketigabelas putera dan puteri tersebut adalah :

  1. Iskandar                                                8.   Masjhud
  2. Zarkasi                                                  9.   Ardani
  3. Miftahul ‘arifin                                        10. Siti Roihah
  4. Siti Maimunah (Bu Soleh)                        11. Siti Fatonah
  5. Siti Halimah                                           12. Siti Aminah
  6. Abdulloh                                                13. Bairudin
  7. Mas’ud (KH. Ahmad Djazuli)

Yang menjadi kekhawatiran Pak Naib bukanlah masa depan duniawi, karena sebagai golongan ambtenar (pegawai negeri) di zaman Belanda akan mudah mendapat fasilitas masuk sekolah dan akhirnya diberi kesempatan untuk menjadi pegawai negeri. Sebagaimana nasib dirinya yang tak mengalami banyak kesulitan untuk diangkat menjadi naib semata‑mata karena ayahnya adalah seorang naib.

Ayahnya itu bernama Mas Moh. Sahal penghulu naib distrik Mojoroto Kediri, yang sejak masih muda sudah menjadi sekretaris naib sehingga orang memanggilnya “TIB JOKO” (Berasal dari Katib Joko = Sekretaris yang masib jejaka). Anehnya panggilan ini tetap melekat sampai tua, meskipun beliau sudah lama naik pangkat menjadi penghulu naib.

Identitas keluarga pegawai bagi Pak Naib Utsman dan putra putrinya semakin kental, disebabkan Ajeng Muntoqinah (istrinya) adalah keturunan penghulu Distrik Brebek Nganjuk, Namanya Mas Moh. Syafi’ie. [2]

Harapan Pak Naib tentang nasib dunia putra‑putranya bukanlah harapan yang kosong, sebab kelak dikemudian hari Bupati Danu Diningrat yang menguasai wilayah karesidenan Kediri benar‑benar meluluskan SK kepegawaian empat orang putra Pak Naib yaitu Iskandar, Zarkasi, Miftah dan Masyhud. Pengangkatan pegawai negeri atas pertimbangan keturunan (Familier System ) sangat menonjol pada zaman Belanda.

Sesungguhnya masa depan yang menjadi pemikiran Pak Naib adalah masa depan yang amat panjang di akhirat nanti. Bukankah sebagai orang tua beliau dituntut bertanggungjawab terhadap iman dan agama anak‑anaknya? Lebih‑lebih beliau hidup bersama anak‑anaknya di Ploso, satu lingkungan yang tidak mendorong sama sekali terhadap kehidupan beragama. Bagaimana jadinya apabila putra‑putrinya tidak dibekali dengan iman dan akhlak alkarimah? Bagaimana perjalanan hidup anak‑anaknya bila tidak diiringi do’a dan ridlo orang tua serta barokah ‘ulama?

Kiranya saran KH. Ma’ruf sangat tepat dan meresap di kalbu Pak Naib, dan itulah yang dijalankannya demi masa depan putra‑putrinya.

SI KECIL YANG PENDIAM [3]

Mas’ud, demikian nama kecil KHA. Djazuli Utsman, dilahirkan pada tanggal 16 Mei 1900 di Ploso. Di desa yang ramai dengan aneka kemaksiatan itulah dia dibesarkan. Namun lingkungan Ploso yang rusak memiliki hikmah yang tersendiri baginya. Sebab orang tuanya memberikan pengawasan dan bimbingan super ketat penuh kewaspadaan, sejak kecil ditanamkan disiplin yang tinggi dan terus menerus disiramkan bekal keimanan kedalam jiwanya yang baru tumbuh. Lebih‑lebih ayahnya memang dikenal sebagai orang yang berwatak keras, ditambah dengan gaya pendidikan yang dipakainya adalah pendidikan Belanda yang tidak jauh berbeda dengan gaya pendidikan militer yang penuh disiplin, ketat dan streng.

Halaman rumah pak Asrab tergolong sangat luas buat tempat bermain bagi anak‑anak kampung, disamping letaknya yang strategis di pusat desa. Tempat yang terletak berseberangan jalan dengan rumah Pak Naib itu (± 200 m ke arah Selatan) tak pernah lowong dari kurnpulan anak-anak kampung yang tengah melampiaskan kebebasan masa kecilnya. Sepak bola, kasti, nekeran (main kelereng), cirak (main kemiri) dan lain‑lain permainan dilakukan dengan suka cita dan tawa riang. Mereka main sepanjang hari karena kebanyakan rnereka tidak bersekolah. Sungguh senang anak‑anak itu, mereka dapat rnenikmati masa kecilnya dengan bebas tanpa ikatan apapun.

Seringkali Mas’ud bersama saudara‑saudaranya datang ke tempat tersebut untuk turut bermain bersama teman-teman sebayanya. Putra‑putra Pak Naib itu diterima dengan senang hati oleh anak‑anak yang tengah bermain. Mereka lebur jadi satu, seolah‑olah tak ada jurang pemisah diantara mereka, memang putra‑putra Pak Naib termasuk pandai menghormati teman yang lain, begitulah yang ditanamkan oleh ayahnya, Pak Naib Utsman setiap hari.

Abdulloh, Masjhud, Ardani dan kawan‑kawan bermain sepak bola, terkadang bermain kasti. Mereka bermain dengan begitu lincah dan cekatan. Namun berbeda dengan Mas’ud, Putra Pak Naib yang satu ini tak begitu suka dengan permainan keras, dia lebih senang dengan nekeran dan cirak. Permainan ini nampak ringan, kecil dan sepele. Namun bila kita perhatikan, bagaimana membidikkan kelereng satu agar tepat mengenai sasarannya ternyata bukanlah hal yang gampang. Begitu juga dengan permainan cirak, bagaimana mungkin sebiji kemiri yang ada di tangan menyentuh kemiri yang terletak di tanah dengan lemparan tangan dari jarak yang cukup jauh, kalau tidak mengerahkan konsentrasi penuh dan kejelian yang tinggi, belum aturanaturan permainannya yang amat rumit menyerupai permainan bilyard modern. Billyard dan golf tergolong permainan elit yang sangat penting bagi para eksekutif (pimpinan). Tak kurang dari para Presiden, Menteri‑menteri, Direktur‑direktur utama menyisihkan waktunya untuk datang ke gelanggang karena dengan permainan tersebut mereka bisa refresing dan menumbuhkan gairah kerja baru untuk mensukseskan tugas penting.

Rupanya permainan nekeran dan cirak amat tepat bagi Mas’ud si kecil yang pendiam tak ada orang tahu bahwa dibalik diamnya Mas’ud tersimpan mutiara kehebatan. Tak pernah disangka kalau kelereng dan kemiri merupakan awal keberangkatan pribadinya untuk menjadi orang yang luar biasa di kemudian hari.

Bahkan karena pendiam dan suka mengalah terhadap anak‑anak yang nakal, Mas’ud disepelekan dan dianggap bodoh serta tolol oleh Miftah, kakaknya sendiri. Namun ternyata tuduhan kakaknya diterima dengan penuh lapang dada, dijadikannya sebagai cambuk untuk lebih tekun menata pribadinya dan mempertinggi cita‑citanya.

Matahari hampir menempel di ketinggian gunung Wilis yang berada diarah barat Ploso, sebentar lagi matahari akan tenggelam dan gelaplah seluruh desa. Namun kumpulan anak‑anak yang tengah asyik bermain itu tak perduli. Mereka terus bermain dan bermain. Tiba‑tiba Abdulloh, Mas’ud, Masyhud dan Ardani keluar dari permainan dan segera pulang. Putra‑putra Pak Naib ini tak dapat turut bermain sampai selesai, tidak sebebas anak‑anak yang lain. Apabila mereka tidak pulang sampai batas waktu yang telah ditentukan pasti Pak Naib akan bertindak keras menghukum mereka.

Sesungguhnya Pak Naib mengerti bahwa masa kecil adalah rnasa indah, karena itulah beliau tak dapat mengurung anak‑anaknya bagaikan burung dalam sangkar sepanjang hari. Kebebasan bermain perlu diberikan, Namun dibalik itu beliau sadar babwa masa kecil adalah masa untuk membentuk pribadi, masa penentuan warna bagi anak‑anaknya yang masih polos, kebebasan harus ada batasnya.

Iman, akhlaq, serta disiplin perlu ditanamkan sejak usia masih dini.

DI BANGKU SEKOLAH UMUM

Putra Naib ingin menjadi dokter

Dengan surat keputusan tanggal 8 Maret 1819, gubernur jendral Van der Capellen memerintahkan mengadakan penelitian tentang pendidikan masyarakat Jawa, dengan tujuan meningkatkan kemampuan membaca dan rnenulis di kalangan mereka. Namun hasil penelitian tersebut tidak segera dilaksanakan, mungkin pemerintah kolonial Belanda masih ingin melihat bangsa Indonesia tetap bodoh dan lernah sehingga mudah ditindas. Hampir seabad kemudian barulah rencana tersebut direalisir, tepatnya pada tahun 1870 pemerintah kolonial Belanda melaksanakan ethische politick (Politik balas budi). Inspektur pendidikan pribumi segera dibentuk dan dibukalah pendidikan rakyat pada tahun 1888. Sekolah‑sekolah yang dibentuk Belanda ini hanya mengajarkan ilmu‑ilmu umum, tujuannya semata‑mata memenuhi kebutuhan pernerintah Belanda untuk mencetak pegawai‑pegawai yang setia kepada pemerintahnya. Tidak sembarang rakyat dapat masuk sekolah, pemerintah kolonial hanya memberi kesempatan kepada kelornpok kecil bangsa Indonesia yang terdiri dari anak‑anak pegawai, bangsawan dan tuan‑tuan tanah.[4]

Nampaknya Belanda sangat khawatir akan munculnya orang‑orang pintar yang akan tarnpil sebagai pelopor dan pejuang bangsa untuk menggulingkan kekuasaan penjajah. Karenanya kesempatan belajar sangat dibatasi, demi melestarikan kekuasaan dan penjajahan.

Mas’ud termasuk anak yang beruntung, begitu juga anak‑anak Pak Naib yang lain. Setidaknya ada dua faktor yang memudahkan dirinya masuk sekolah. Pertama karena ia putra pegawai negeri dan kedua karena gelar MAS yang tercantum di depan namanya merupakan gelar bangsawan yang diakui secara hukum oleh pemerintah kolonial.

Hari demi hari Mas’ud terus berkembang seperti anak-anak yang lain. Usianya memasuki 6 ‑ 7 tahun ketika petugas sekolah memerintahkan kepadanya untuk melingkarkan tangan kanan diatas kepala sehingga menyentuh telinga kiri. Alhamdulillah, telinga itu telah tersentuh dan resmilah ia diterima sebagai murid Sekolah Desa di Ploso. Hanya itulah testing baginya, sekedar untuk menentukan usia bisa masuk sekolah di tingkat dasar.

Sekolah desa sering disebut Sekolah jawa karena memakai bahasa Jawa, sebagaimana halnya madrasah-madrasah yang disebut dengan nama Sekolah Arab, karena mengajarkan huruf dari bahasa Arab, khususnya sekolah desa Ploso lebih dikenal dengan nama Sekolah Cap Jago. Sekolah satu‑satunya diwilayah onder distrik Ploso ini diperuntukkan bagi lima desa yaitu Ploso, Tambi Bendo, Kraton, Kedawung dan Maesan. Masing‑masing desa diberikan jatah hanya lima orang anak yang dapat masuk sekolah. Begitulah sulitnya memperoleh pendidikan dimasa penjajahan.

Tiga tahun lamanya Mas’ud duduk dibangku cap jago dan kemudian ia meneruskan ke Inlandsche Vervolgshool, suatu sekolah lanjutan dengan masa pendidikan selama dua tahun.[5]

Agaknya Mas’ud semakin rajin dan tekun belajar, tidak pernah ia mengandalkan atau membanggakan kecerdasan Otak yang dimilikinya. Hampir seluruh waktunya untuk belajar. Pikirannya mulai sadar bahwa bimbingan dan pengarahan ayahnya yang keras dan disiplin sejak ia masih kecil tak perlu diterirna dengan perasaan jengkel atau terpaksa menurut lantaran takut dimarahi. Ayahnya adalah benar, semuanya dilakukan orang tua itu demi kebaikan putranya, demi masa depan buah hatinya. Oleh karena itu ia kini lebih banyak menimang‑nimang buku, ketimbang kelereng atau kemiri.

Setelah Inlandsche Vervolgschool diselesaikannya dengan angka memuaskan Mas’ud melanjutkan ketingkat SLTA, dia masuk Hollandsch‑Inlandsche School (HIS) di Cringging ‑ Grogol Kediri, Sekolah ini lebih dikenal dengan sebutan sekolah ongko kaleh. Lagi‑lagi pemuda Mas’ud termasuk murid yang menonjol dalam pelajaran. Bahasa Belanda dikuasainya dengan baik, begitu juga aljabar (matematika), Ilmu ukur dan pelajaran‑pelajaran yang lain. Terbuktilah diamnya Mas’ud adalah laksana lautan tenang dan dalam yang menyimpan banyak mutiara, hal ini membuat Pak Naib Utsman sangat bersyukur dan bangga melihat prestasi anaknya yang satu ini. Sejak itu Mas’ud mendapat tempat tersendiri di hati ayahnya.[6]

Sebagaimana telah disinggung di muka, Pak Naib nampaknya telah mempersiapkan putra‑putranya untuk terjun sebagai pegawai negeri. Itulah sebabnya Iskandar, Zarkasi, Miftah, Abdulloh, Masyhud dan lain-lain tidak melanjutkan ke tingkat pendidikan yang tinggi‑tinggi, bahkan ada yang berhenti hanya sampai sekolah desa. Setelah itu putra-putra Pak Naib ini dimasukkan ke pesantren. Sebagai caIon‑calon naib mereka disyaratkan memiliki bekal ilmu agama sekedamya, karena seorang naib adalah pemimpin formal dalam bidang agama di tengah‑tengah masyarakat yang dituntut untuk faham dengan permasalahan‑permasalahan agama yang digelutinya. Namun yang paling pokok, Pak Naib ingin anak‑anaknya memahami ilmu-ilmu agama, akidah yang kuat dan akhlak yang mulia. Sebab di sekolah‑sekolah Belanda kurikulum yang diajarkan seratus persen menjurus kepada ilmu‑ilmu dunia yang sekuler, tidak membahas masalah ketuhanan, wawasan kebangsaan dan akhlaq alkarimah. Bahkan yang lebih ditekankan adalah ketrarnpilan‑ketrampilan administrasi bukannya keilmuan. Memang tujuan pendidikan Belanda adalah untuk mencetak pegawai yang setia kepada pemerintahannya.

Akan tetapi pak naib mempunyai rencana istimewa untuk Mas’ud, karena putra yang satu ini mempunyai prestasi yang memuaskan, tekun belajar dan baik budi bahasanya, lnilah calon pembawa harum nama keluarga di kemudian hari, dia harus diberi kesempatan untuk melanjutkan pendidikan setinggi mungkin. Setelah diadakan rembukan keluarga Mas’ud diizinkan melanjutkan studi ke Stovia (Fakultas Ul) sekarang di kota Batavia (Jakarta). Berangkatlah ia dengan menumpang kereta api diantarkan beberapa orang keluarga. Sungguh hal yang langka di zaman itu, sehingga banyak orang merasa kagum, tak ketinggalan kepala stasiun Kediri memerlukan diri untuk memberi hormat ketika sang calon mahasiswa sampai di stasiun. Seorang calon dokter terhormat dan orang penting di tengah-tengah bangsa yang melarat, sebuah jabatan yang akan meningkatkan status sosial menuju strata yang amat bergengsi.[7]

FIRASAT SANG KYAI MA’RIFAT

Tak lama berselang Pak Naib kedatangan tamu. Kyai Ma’ruf Kedunglo, seorang ‘ulama yang dihormatinya datang berkunjung, sungguh Pak Naib merasa suka cita mendapat kehormatan dikunjungi kyai. Pak naib memang terkenal sebagai orang yang sangat menghormati ‘ulama. Status pegawai negeri dan gelar bangsawan yang disandangnya tak pernah membuat dirinya sombong atau meremehkan para kyai, tidak seperti umumnya sikap pegawai-pegawai Belanda. Pegawai Belanda biasanya ikut‑ikutan kepada Belanda tulen yang lebih menghormati priyayi (bangsawan) ketimbang ‘ulama. Karena strategi kepemimpinan pemerintah kolonial Belanda adalah lebih mengfungsikan tokoh masyarakat yang priyayi dan melakukan permusuhan terhadap para ‘ulama seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol, Teuku Umar dan sebagainya.

Saking hormatnya kepada ‘ulama, konon Pak Naib suka memelihara ayam jago yang sudah dikebiri. Ayam yang menjadi gemuk dan empuk dagingnya itu sengaja disiapkannya untuk suguhan apabila ada kyai‑kyai yang datang ke rumahnya. Para tamu yang ‘ulama selalu diperlakukannya dengan sangat mulia, untuk memberikan pelayanan yang prima Pak Naib ikhlas berkorban apa saja, bahkan sampai menjual pakaiannya apabila tidak punya uang. Tatkala sang kyai kelihatan penat atau ngantuk dipersilahkannya istirahat di kamar dan Pak Naib akan sangat berbahagia apabila sang kyai berkenan bermalam di rumahnya. Penghormatannya hampir menyerupai pelayanan hotel berbintang lima. Betapa tidak, seluruh putra-putranya harus turut menghormat kepada kyai bahkan ketika kyai sedang tidur tak seorangpun yang diperkenankan memasuki rumah demi ketenangan dan ketentraman sang tamu. Tidak sampai disitu penghormatan Pak Naib, salah seorang putranya ditugaskan untuk piket menjaga kyai yang tengah tidur, kalau‑kalau ditengah malam ada keperluannya. Apabila sang Kyai merasa sungkan atau enggan dengan penghormatan tersebut (istirahat atau tidur di ruangan pribadi Pak Naib), maka Pak Naib tak segan‑segan membongkar ranjang dan kasur Ialu dikeluarkan ke tempat yang dikehendaki oleh Kyai, begitulah perangai Pak Naib dan suasana seperti itulah yang berlangsung tatkala Kyai Ma’ruf berkunjung, suasana sopan, ramah penuh kekeluargaan.[8]

“Pundi Mas’ud?”, tanya Kyai Ma’ruf mengawali pembicaraan dengan bahasa Jawa yang halus menanyakan kemanakah Mas’ud. Pak Naib menjawab: “Ke Batavia, dia melanjutkan sekolah di jurusan kedokteran”. Lalu dengan gayanya yang khas Kyai Ma’ruf mulai memberikan saran “Saene Mas’ud dipun aturi wangsul, larene niku ingkang prayogi dipun lebetaken pondok”. (Sebaiknya ia dipanggil pulang, anak itu cocoknya dimasukkan pondok pesantren), kata Kyai Ma’ruf. Rupanya beliau memiliki firasat tentang diri Mas’ud, agaknya beliau mengerti apa yang pantas bagi masa depan putra Pak Naib itu.

Dapatkah ungkapan Kyai Ma’ruf itu dipercaya dan dijadikan pegangan? Rupanya akal tidak dapat menerima ramalan nasib semacam itu. Secara rasional masyarakat modern banyak yang meninggalkan dan tidak mempercayai akan karomahnya para wali dengan alasan tidak masuk akal (tidak rasional). Mereka hanya mau mempercayai kepada barang‑barang yang bisa di indera. Ketahuilah bahwa Kyai Ma’ruf adalah salah seorang murid sukses Kyai Kholil Bangkalan yang sangat tersohor kewaliannya. Dan sesungguhnya para ‘ulama telah sepakat bahwa setiap insan tidak hanya memiliki mata lahiriyah (mata kepala) saja, tetapi juga memiliki mata bathiniyah (mata hati). Mata bathiniyah penglihatannya lebih tajam dari pada mata lahiriyah. Kalau mata lahiriyah hanya dapat melihat wama, bentuk benda, sinar dan sebagainya dari jarak yang dekat. Sedangkan mata bathiniyah dapat menjangkau hal‑hal yang tak terbatas sampai ke alam metafisika (alam ghoib) dan dapat pula menjangkau peristiwa‑peristiwa yang belum terjadi. Hal tersebut bilamana dimiliki oleh hamba Allah yang sholeh namanya Ma’unah, dan bila dimiliki oleh para wali namanya Karomah, bilamana dimiliki para nabi namanya Mu’jizat, tapi bilamana dimiliki oleh orang yang dzolim namanya Istidroj. Kyai Ma’ruf adalah salah satu diantaranya yang memiliki penglihatan melebihi Teleskop teropong bintang milik Badan Meteorologi dan Geofisika sekalipun. Jadi Kyai ‘Arif tersebut bukanlah tukang tenung, ahli nujum, dukun atau peramal nasib, tapi itu semua ma’unah. yang diberikan oleh Allah SWT. Karena itulah Pak Naib tidak bisa berbuat apa‑apa, selain menyetujui saran tersebut meskipun hal ini diluar pertimbangan akalnya.


[1] Cerita dari Ibu Naib Utsman kepada ibu Alfiyah, diterima oleh Pak Salam.

[2] Dikutip dari Stanboek pemerintah Belanda.

[3] Dirangkum dari cerita Mbah Burdah dan Kyai Kholil.

[4] Karel A. Steenbrink, Pesantren Madrasah Sekolah, LP3ES Jakarta.

[5] Keterangan Mbah Munaris Kedawung

[6] Keterangan Mbah Burdah Jombang

[7] Keterangan Mbah Burdah dan KH. Zainuddin Djazuli.

[8] Keterangan KH. Zainuddin Djazuli, Kyai Asmuni Zainal Ali dan Pak Salam.

3 Tanggapan

  1. […] Sejak itulah Pak Naib menjalani kebiasaan rutinnya berangkat setiap sore Kamis menuju rumah-rumah ‘ulama secara silih berganti sejauh yang mampu dijangkau oleh kuda yang bernama si KONANG, terkadang beliau baru pulang setelah larut malam.[1] […]

  2. […] Sejak itulah Pak Naib menjalani kebiasaan rutinnya berangkat setiap sore Kamis menuju rumah-rumah ‘ulama secara silih berganti sejauh yang mampu dijangkau oleh kuda yang bernama si KONANG, terkadang beliau baru pulang setelah larut malam.[1] […]

  3. […] Sejak itulah Pak Naib menjalani kebiasaan rutinnya berangkat setiap sore Kamis menuju rumah-rumah ‘ulama secara silih berganti sejauh yang mampu dijangkau oleh kuda yang bernama si KONANG, terkadang beliau baru pulang setelah larut malam.[1] […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: