Bertafakkur Mengikuti Ajakan Al-Qur’an

Disadari atau tidak, dalam kehidupan sehari-hari manusia itu selalu melakukan tafakkur. Terbersit dalam hati kita suatu waktu manakala betapa sempurnanya bola-bola langit yang ada di galaksi, mereka saling berputar pada porosnya tanpa menabrak satu sama lain. Terbayangkan bagaimana jadinya bumi ini jika tidak ada gunung? Maka dengan mudahnya kita akan dihempaskan oleh angin, juga bagaimana makhluk bersel satu bisa menjadi embrio kehidupan?
Mengenai hal ini Allah SWT berfirman dalam surat Al-Ghosyiyah 17 yang artinya: “Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana ia di ciptakan, dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan? Maka berilah peringatan, Karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan, Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka, Tetapi orang yang berpaling dan kafir. Maka Allah akan mengazabnya dengan azab yang besar. Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka”.
Islam senantiasa memerintahkan para pemeluknya untuk berfikir dan bertafakkur. Dengan berfikir dan bertafakkur, diharap para penganut agama Allah SWT ini semakin mampu dalam meningkatkan Iman dan Taqwa.
Tafakkur jika di kelola dengan baik, akan menjadikan seorang hamba semakin dekat kepada Allah SWT. Ada berbagai macam cara dapat dilakukan oleh seorang hamba sebagai rutinitas sehari-hari, di antaranya mulai berpikir, merenung dan mengambil pelajaran di setiap waktu dan kesempatan baik siang maupun malam hari, sehingga hamba tersebut mampu membuat perubahan terhadap dirinya.
Adapun waktu yang paling tepat untuk melakukan tafakkur adalah saat yang tenang, sepi dari keramaian. Saat hati merasa jernih dan tentram juga tepat untuk tafakkur, yaitu tengah malam sebab waktu tersebut sangat tepat dan dominan untuk hadirnya hati dan khusyu’.
Sayyidina Ali Bin Abi Thalib RA berkata: “Tidak ada nilai ibadah seperti bertafakkur, bertafakkur itu sebagian dari pelita hati, jika telah hilang maka tidak ada sinar baginya”, juga pernah dikatakan pula bahwa: “bertafakkur sesaat, adalah lebih baik daripada ibadah selama setahun”.
Sedangkan ruang lingkup berpikir itu banyak sekali, di antaranya: Pertama, memikirkan tentang keindahan dan kesempurnaan ciptaan Allah SWT yang sangat menakjubkan, dan kekuasaan-Nya baik yang tampak maupun yang tersembunyi, serta apa saja tanda-tanda dari kekuasaan Allah yang tersebar luas di hamparan langit dan bumi. Berpikir semacam ini akan meningkatkan kema’rifatan (pengenalan) terhadap Allah SWT, sifat dan keagungan nama-Nya, dan merupakan cara berpikir yang paling mulia. Allah SWT mendorong hal itu dengan firman-Nya: “Ingatlah kamu sekalian terhadap nikmat-nikmat Allah, agar kalian beruntung (berbahagia). QS Al-A’raaf 69. Buah dari tafakkur seperti ini adalah penuhnya hati dengan rasa cinta kepada Allah SWT dan selalu bersyukur kepada-Nya, baik secara lahir maupun batin sebagaimana hal ini dicintai dan diridhai Allah SWT.
Kedua, juga hendaknya kita bertafakkur tentang keteledoran dan kekurangan kita dalam beribadah kepada Allah SWT serta tentang keberanian kita untuk melanggar-Nya dan penyodoran diri kita terhadap murka Allah dikarenakan dengan kemaksiatan yang kita lakukan. Allah SWT berfirman: “Dan tidaklah aku ciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku”. (QS Adz-dzaariyat 56). Tafakkur semacam ini akan menghasilkan rasa takut kepada Allah SWT serta akan membawa si hamba untuk menyalahkan dan menghina akan nafsunya yangselama ini telah melalaikannya dari Allah. Juga akan menjadikan si hamba giat, bersemangat beribadah dan menjauhkan diri dari maksiat pelanggaran kepada Allah SWT.
Ketiga, bertafakkur terhadap luasnya pengetahuan Allah terhadap apa yang kita lakukan, lihatlah betapa Allah Maha Melihat dan Mengetahui apapun yang tersimpan pada diri kita. Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Dan Dia (Allah) selalu bersama kalian dimanapun kalian berada, Dan Allah mengetahui (melihat) apapun yang kalian lakukan”.QS Al-Hadiid 4). Buah dari tafakkur semacam ini adalah akan menumbuhkan rasa malu kepada Allah SWT sehingga si hamba akan selalu berada di sebuah tempat dimana Allah senang jika dia berada di tempat itu dan dia akan lariatau menghindar dari tempat dimana Allah tidak rdha jika dia berada di tempat itu.
Keempat, bertafakkur tentang kehidupan dunia yang sangat singkat dengan segala gangguan dan rintangan yang mengitarinya, begitu banyak bencana dan musibah sera betapa cepat hilang dan rusak. Demikian pula hendaknya kita bertafakkur tentang akhirat, bagaimana kenikmatan dan keabadian, dunia sangatlah singkat, sedang akhirat adalah abadi dan kekal selamanya.
Pilihlah dari keduanya tempat tinggal untuk kita, yang pasti hamba yang sadar dan memahami kehidupan ini akan memilih dan meyakini, bahwa akhiratlah tempat tinggal abadi sedang dunia hanya ibarat jembatan atau titian yang menyampaikannya pada akhirat atau dengan ibarat lain di dunia hanya ibarat seorang musafir yang beristirahat di bawah pohon untuk menghilangkan kepenatan, lalu setelah usai istirahatnya dia akan meninggalkan pohon itu dan melanjutkan perjalanan. Bertafakkur semacam ini akan menghasilkan kezuhudan di dunia, tidak rakus dan tamak untuk mendapat semua kenikmatan duniawi. Dan membuahkan semangat dan hasrat yangkuat untuk mencapai kebahagiaan di akhirat
Kelima, adalah tafakkur tentang dekatnya kematian kita serta penyesalan dan kekecewaan yang tiada terhingga jika kita keluar dari dunia tanpa bekal dan modal yang memadai karena dunia terlewatkan begitu saja tanpa di isi dengan amal ibadah.
Setiap makhluk pasti akan mati, manusia, jin, binatang bahkan tumbuh-tumbuhan sekalipun. Tiada yang kekal selain Allah SWT. Kemana kita berada, disana kematian selalu mengintai, semakin bertambah usia semakin dekat ajal menjemput kita. Allah SWT berfirman: “Katakanlah: sesungguhnya kematian yang selama ini kalian melarikan diri dariny,a dia akan menemui kalian. Kemudian kalian akan dikembalikan kepada Allah SWT yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, kemudian Dia akan menerangkan apa yang telah kalian kerjakan”. (QS Al-Jumu’ah 8).
Buah dari tafakkur ini adalah pendeknya angan-angan, sehingga si hamba tidak akan terperdaya oleh rayuan syaitan dan hawa nafsunya yang selalu membisikkan pada hatinya kenikmatan dunia dan kejayaan. Selain itu dia akan memperbaiki dirinya yang selama ini teledor dalam ibadah, sehingga dengan tafakkur ini dia akan menambah bekal menghadap kepada Allah SWT, ingatlah bahwa dunia ini hanya sebatas jembatan untuk menuju akhirat. Di kehidupan sana terdapat tempat-tempat yang harus kita lalui dan rintangan-rintangan yang harus kita jalani. Maka tiada cara terbaik kecuali berbekal dengan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA berkata: “Barang siapa yang masuk kubur tanpa bekal, maka dia ibarat mengarungi samudera tanpa perahu, dia akan binasa dan terhinakan”. Na’udzubillah min dzalik!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: