Bagian Kedelapan SHALAT JUM’AT

Pendahuluan
Shalat jum’at diwajibkan pada malam isro’ sewaktu Rosululloh masih berada di Makkah, namun belum bisa dilaksanakan, karena jumlah umat islam waktu itu masih sedikit, dan da’wah islamiyyah masih sembunyi-sembunyi.

Syarat-syarat Dalam Melaksanakan Shalat Jum’at
Dalam shalat jum’at ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh seseorang yang akan melaksanakan shalat jum’at dan persyaratan yang terkait dengan keabsahan shalat jum’at.

Syarat-syarat Bagi Pelaku :
Syarat wajib
Yaitu ketentuan yang harus terpenuhi, untuk menentukan bahwa pelaku adalah orang yang terbebani perintah wajib menjalankan shalat jum’at.  Jumlahnya ada 6 ( enam ) :
Islam
Mukallaf (baligh, berakal)
Lelaki
Merdeka
Mukim
Tidak memiliki udzur jama’ah

Syarat Sah
Yaitu ketentuan yang harus dipenuhi agar shalat jum’at yang dilaksanakan orang tersebut sah. dalam hal ini syarat tersebut adalah islam dan mukallaf. Jadi, perempuan maupun musafir, tetap sah shalat jum’atnya.

Syarat In’iqod (legalitas)
Yaitu ketentuan yang harus dipenuhi oleh seseorang agar  shalat jum’at didaerahnya dinyatakan sah dan legal, jumlahnya ada 6 ( enam ) yaitu :
Islam
Mukallaf (baligh, berakal)
Lelaki
Merdeka
Mustawthin (berdomisili didaerah pelaksanaan shalat jum’at).Yang dimaksud adalah orang yang tidak berpindah ke tempat lain dalam masa tertentu. Oleh karena itu mengecualikan orang yang menetap disuatu daerah untuk keperluan tertentu yang suatu saat akan kembali ke daerah asalnya, seperti pedagang, santri dsb

Syarat-syarat Sah Penyelenggaraan Shalat Jum’at :
Agar penyelenggaraan shalat Jum’at dihukumi sah, harus memenuhi enam syarat berikut ;
1. Waktu dluhur
Shalat Jum’at harus dilaksanakan pada waktu dluhur, oleh karena itu apabila waktu dluhur telah habis dan sudah masuk waktu ‘ashar, maka harus mengqodloinya dengan shalat dzuhur empat rokaat.

2. Darul Iqomah (daerah domisili )
Shalat jum’at harus dilaksanakan di tempat yang sudah berstatus sebagai daerah tempat domisili (pemukiman) para pelaku shalat jum’at, seperti desa, dukuh, kota dsb meskipun penyelenggaraannya tidak dimasjid.

3. Tidak didahului atau bersamaan dengan jum’atan lain di daerahnya.
Dalam aturan yang semestinya, jum’atan harus diselenggarakan pada satu tempat dalam satu daerah, baik daerah yang kecil maupun besar karena untuk mensyi’arkan jum’atan didaerah tersebut, selain itu agar bisa menjalin persatuan antara umat islam. Namun apabila dirasa sulit mengumpulkan penduduk dalam satu tempat, maka boleh untuk menyelenggarakan jum’atan lebih dari satu tempat, walaupun masih dalam batas wilayah satu daerah, karena  hal tersebut tergolong udzur.
Faktor yang menjadikan udzur dalam hal ini, dapat dikelompokkan menjadi 3 ( tiga ) bagian yaitu:
Daerah tersebut terlalu luas
Terlalu banyak jumlah penduduknya
Terjadi permusuhan antara beberapa golongan di daerah tersebut

Apabila terdapat udzur diatas, maka shalat jum’at yang diselenggarakan di beberapa tempat hukumnya sah sesuai dengan kadar kebutuhan untuk menyelenggarakannya. Sebaliknya apabila tidak terdapat udzur diatas maka yang dihukumi sah adalah shalat jum’at yang lebih dahulu, sedangkan shalat jum’at yang didahului dihukumi tidak sah dan wajib mengulangnya dengan shalat dluhur.

4. Terdapat 40 orang ahli jum’at
Empat puluh orang tersebut harus terdiri dari orang yang sudah memenuhi syarat in’iqod jum’atan ( lelaki, mukallaf, merdeka, Mustawthîn ) mulai khutbah dimulai sampai berakhir shalat jum’at.

5. Berjamaah
Syarat berjama’ah disini, minimal satu roka’at sempurna, dalam arti ma’mum yang tertinggal roka’at pertama dan bisa menyelesaikan roka’at kedua secara sempurna dengan berjama’ah, masih dihukumi sah. kemudian setelah imam salam, dia hanya menambah satu roka’at, karena masih dianggap shalat jum’at. Berbeda apabila ma’mum menjumpai imam setelah imam selesai rukû’ pada roka’at kedua, maka dia harus mengikutinya sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan imam, dan setelah imam salam ia harus menambah empat roka’at, hal ini karena dia dianggap telah fawt ( kehilangan ) shalat jum’atnya sehingga yang dilaksanakan pada dasarnya adalah shalat dluhur dengan empat roka’at.

6. Melaksanakan Khutbah sebelumnya

Syarat-syarat Khutbah Jum’at
Dilaksanakan pada waktu dzuhur
Dilaksanakan sebelum shalat jum’at
Berdiri bagi Khatîb (orang yang khutbah) apabila mampu
Duduk diantara dua khutbah
Suci dari hadats dan najis
Menutup aurat
Muwâlah (kontinyu) antara rukun-rukunya, dua khutbah, dan antara khutbah dengan shalat jum’at
Mengeraskan suara khutbahnya agar dapat didengar oleh 40 orang ahli jum’at
Rukun-rukun khutbah dengan berbahasa Arab

Rukun-rukun Khutbah
Secara keseluruhan jumlahnya ada 5 ( lima ), namun untuk tiga rukun pertama harus dilaksanakan pada khutbah pertama dan kedua, yaitu :
Membaca hamdalah.
Minimal kalimat hamdalah harus terangkai dari dua kata, [1] kata pujian, [2] Dzat yang dipuji. Dua kata tersebut apabila dirangkai akan menjadi  الْحَمْدُ ِللهِ . perlu diingat bahwa dua kata tersebut harus memenuhi ketentuan berikut ;

·    Dalam menyebutkan Asmâ’ A’dzam (nama Tuhan, dzat yang dipuji), harus  memakai lafadz atau nama yang khusus diperuntukkan bagi dzat yang maha tinggi, penguasa alam semesta dan tidak boleh disandang oleh mahluk, yakni lafadz الله . tidak boleh diganti dengan yang lain seperti الْرَّحْمَن / الْعَلِيْم dan lain sebagainya.
·    Dalam menyebutkan kata pujian, harus menggunakan lafadz-lafadz yang berasal dari akar kata hamd, meskipun bentuknya berfariasi, sepertiالْحَمْدُ  /نَحْمَدُ / حَمْدًا, dan lain sebagainya. Tidak boleh diganti dengan lafadz lain meskipun artinya sama, seperti نَشْكُرُ اللهَ dan lain sebagainya.

Membaca sholawat pada Rasulullah SAW.
Seperti ;
أَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ (Ya Allah! Karuniailah kesejahteraan atas junjungan kami nabi Muhammad)

Dalam membaca sholawat harus menggunakan lafadz-lafadz yang berasal dari akar kata al-Shalâh,   meskipun shighatnya tidak sama, lain halnya dalam membaca lafadz مُحَمَّد, boleh dengan memakai nama lain dari Nabi Muhammad SAW, seperti أَحْمَد / الْعَاقِب / الرَّسُول  dll, Contoh :
أَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ/ صَلاَةً وَسَلاَمًا عَلَى الْعَاقِبِ اَوِ الْحَاشِرِ

Berwasiat untuk taqwa kepada Allah SWT
Seperti;
اتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى  ( Bertaqwalah kepada Allah ta’ala.)

Dalam wasiat tidak harus menggunakan lafadz diatas, boleh memakai lafadz-lafadz lain asalkan berisikan nasehat, seperti أَطِيْعُوا اللهَ dsb.

Mendo’akan para mu’min untuk kebaikan diakhirat (dalam khutbah kedua)
Seperti ; أَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ (Ya Allah, ampunilah orang-orang yang beriman baik laki-laki maupun perempuan ) dan lain sebagainya

Membaca ayat al-Qur’ân
Dianjurkan membaca ayat yang ada kaitannya dengan isi khutbahnya. Jumlahnya tidak terbatas, asalkan ayat tersebut dibaca secara sempurna, tidak terpotong.

Hal Yang Dianjurkan Bagi Jama’ah Jum’at Ketika Khutbah Sedang Dilaksanakan :
Menghadap ke arah khatîb
Memperhatikan dan mendengarkan khutbah dengan sungguh-sungguh
Tidak berbicara
Mempercepat shalat ketika khatîb telah naik ke mimbar apabila orang tersebut terlanjur telah melakukan shalat. Apabila khatîb telah naik mimbar maka tidak boleh memulai shalat sunnat, karena memberi kesan berpaling dari jum’atan, kecuali bagi orang yang baru masuk masjid, maka dia tetap disunahkan shalat tahiyyatul masjid dengan dipercepat

Ritual-ritual Khusus Hari Jum’at
Bagi orang yang hendak melaksanakan shalat jum’at disunahkan beberapa hal :
Mandi jum’at, waktunya mulai fajar shodiq sampai waktu khatîb naik ke mimbar
Berangkat pagi-pagi
Memakai pakaian terbaik, dan dianjurkan yang berwarna putih
Memakai ridâ’
Memakai parfum
Memperbanyak bacaan surat al-Kahfi (pada hari dan malam jum’at)
Memperbanyak bacaan sholawat (pada hari dan malam jum’at)
Memperbanyak berdoa (pada hari dan malam jum’at)

Hal-hal Yang Diharamkan Pada Hari Jum’at Bagi Orang Berkawajiban Melaksanakan Shalat Jum’at
Melakukan transaksi, seperti jual beli dan lain-lain pada waktu adzan menjelang khuthbah (adzan kedua).
Melakukan perjalanan setelah fajar hari jum’at, kecuali ada dugaan bahwa orang tersebut bisa melaksanakan jum’atan diperjalanannnya.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: