FENOMENA PERPECAHAN ISLAM


Perpecahan dimasa Khalifah Ali bin Abi Thalib

Pada masa Baginda Rasulullah SAW, umat Islam merupakan umatun wahidah,umat yang selalu teguh terhadap ajaran-ajaran RasulullAh SAW. Pada saat itu umat Islam tidak pernah menemukan perbedaan pendapat yang bisa menyebabkan terjadinya perpecahan, perhimpunan-perhimpunan serta rasa fanatismeyang berlebihan terhadap golongan tertentu dalam hal aqidah ataupun amaliyah. Kenyataan ini sesuai dengan pujian Allah SWT sang penguasa jagad raya yang di abadikan dalam ayat :

كنتم خير امة اخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر الأية (ال عمران : 110)

Setelah Baginda Rasulullah SAW wafat, Sahabat Abu Bakar As Shidiq, dibai’at sebagai penerus perjuangan yang telah tertata rapi, kemudian dilanjutkan sahabat Umar bin Khotob. Pada masa itu (masa pemerintahan Abu Bakar dan Umar bin Khotob) tidak tampak wujudnya perbedaan dalam bentuk apapun di antara umat, kecuali faham-faham tertentu yang disebarkan oleh golongan yang tidak diperhitungkan, perbedaan itupun tidak mempunyai makna yang berarti, karena propaganda yang dipublikasikan tidak bersumber dari dalil-dalil yang otentik. Baru pada masa kepemimpinan sahabat Utsman bin Affan perbedaan yang berkembang makin nampak jelas, sehingga kenyataan yang terjadi pada masa itu membuat integritas umat mulai retak, terlebih masa khalifah berada di pundak sahabat Ali bin Abi Thalib perpecahan, perbedaan, serta tuntutan yang terjadi di antara umat sudah sampai pada titik klimaks, sehingga pada akhirnya lahirlah dua golongan (valium) yang saling bersebrangan yaitu :
• Valium Khawarij
• Valium Syi’ah

B. Khawarij dan ajaran-ajaran yang menyimpang

Valium ini adalah valium yang memisahkan diri dari pemerintahan sahabat Ali bin Abi Thalib. Disisi lain valium ini juga menampakan permusuhan serta memposisikan diri sebagai penentang pemerintahan (menyeru untuk memerangi sahabat Ali bin Abi Thalib).
Istilah khawarij sendiri sebenarnya tidak berhenti sampai disitu, karena pada hakikatnya istilah ini sah diletakkan sebagai predikat tetap bagi setiap valium yang mempunyai persamaan misi, visi serta ideology dengan valium khawarij yang lahir pada masa khalifah Ali bin Abi Thalib, baik pada masa sahabat maupun tabi’in.
Ajaran-ajaran Faham Khawarij yang bertentangan dengan faham Ahlis Sunnah Wal Jama’ah antara lain :

• Khalifah Ali bin Abi Thalib tidak syah setelah peristiwa tahkim dan beliau kafir karna menerima tahkim.
• Sayyidah Aisyah RA terkutuk karna peperangan jamal melawan Khalifah Ali bin Abi Thalib.
• Semua orang yang menentang aqidah Khawarij adalah kafir, halal darahnya, istri dan anak serta hartanya.
• Ibadah termasuk rukun iman.
• Barang siapa yang tidak melakukan shalat, puasa, zakat dll maka dia adalah kafir.
• Orang yang sakit atau sudah tua yang tidak ikut perang sabilillah, maka menjadi kafir dan wajib dibunuh.
• Semua dosa adalah besar, tidak ada yang namanya dosa kecil atau dosa besar.
• Anak-anak orang kafir yang mati masih kecil masuk neraka.

C. Syi’ah dan Fanatisme
Valium ini adalah valium yang meyakini sahabat Ali bin Abi Thalib sebagai public figure yang mempunyai kapasitas dan keutamaan di atas para khalifah Islam sebelumnya. Rasa cinta dan fanatisme yang berlebihan mendorong valium ini berani menciptakan ideology dan propaganda yang tidak komptibel dengan sunnah Nabi r , sehingga menyebabkan valium ini akhirnya tereliminasi dari golongan Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah yang merupakan satu-satunya firqoh yang selamat di antara 73 golongan yang ada.
   Definisi, Akar Historis dan Sekte-sekte Dalam Syi’ah
• Secara terminologis, Syi’ah adalah kaum muslimin yang menganggap pengganti Nabi Saw. merupakan hak istimewa keluarga Nabi (dalam hal ini ‘Ali KW dan keturunannya), dan mereka yang dalam bidang pengetahuan dan kebudayaan Islam mengikuti mazhab Ahlul Bait.
Dr. Muhammad ‘Imarah menegaskan bahwa sekadar merasa cinta kepada ahli bait saja tidak cukup untuk menggolongkan seseorang sebagai Syi’ah. Seseorang baru bisa dikatakan Syi’ah, menurutnya lagi, jika ia telah mengimani bahwa Ali KW. (23SH-40H/600M-661M) telah ditunjuk sebagai pengganti Rasulullah Saw. dengan nash dan washiat.
Tentang awal kemunculan Syi’ah dalam pentas sejarah dunia Islam, para penulis dan sejarawan terbagi dalam dua varian:
Varian pertama: Berpendapat bahwa tasyayyu’/syi’ah adalah mazhab pertama yang tumbuh dalam Islam, dan telah muncul pada masa Rasulullah Saw., dan nama Syi’ah adalah nama sekte pertama yang timbul dalam Islam. Sahabat-sahabat yang digolongkan Syi’ah adalah: Abu Dzar al Ghifari r.a., Salman Al Farisi r.a, Miqdad bin Aswad, dan ‘Ammar bin Yasir RA. Pendapat seperti itu tampak pada M.H. Thabathaba’i, Muhammah Jawwad al Mughniyah, M.H. Al Kasyif al Ghitha dan ulama-ulama Syi’ah lainnya. M.H. Kasyif al Ghitha malah mengatakan bahwa adalah Rasulullah Saw. sendiri yang telah menanamkan akar Syi’ah.
Varian kedua: Berpendapat bahwa jika yang dimaksud adalah Syi’ah dalam pengertian terminologis, maka ia baru timbul pasca kepemimpinan ‘Ali KW. dalam rentang waktu yang cukup panjang. Pendapat ini tampak pada penulis-penulis non-Syi’ah. Terutama Mu’tazilah, mereka mengatakan bahwa Syi’ah yang dikenal sekarang ini baru timbul pada masa Imam Ja’far Shadiq (80-148H/599M-765M). Melihat data-data yang ada, kedua pendapat di atas dapat digabungkan menjadi satu kesimpulan: Bahwa jika yang dimaksud dengan terma Syi’ah adalah sekadar fenomena keinginan sebagian orang untuk mengangkat ‘Ali KW. sebagai khalifah, maka betul ia adalah mazhab pertama yang dikenal dalam sejarah Islam dan telah tumbuh pada masa akhir hidup Rasulullah Saw. dan awal kekhalifahan Abu Bakar RA. Namun, jika yang dimaksud dengan terma Syi’ah adalah sebuah mazhab besar dengan segala teori, pendapat dan perjalanan historisnya, maka ia baru timbul pada penghujung masa ‘Utsman RA, dan awal masa ‘Ali KW.
Dalam masa hidup Ali KW, menurut Abu Nasywan al Himyary, Syi’ah yang mendukung ‘Ali KW dalam perang Jamal dan Shiffin dapat diklasifikasikan dalam tiga varian kecenderungan.
Pertama: Adalah kecenderungan mayoritas Syi’ah saat itu, adalah kelompok yang mengakui kekhalifahan Abu bakar RA dan ‘Umar RA. Mereka juga mengakui kekhalifahan ‘Utsman RA hingga pada masa di mana ‘Utsman RA telah melakukan perubahan dan melakukan hal-hal yang mereka anggap telah menyimpang.
Kedua: Kelompok yang lebih kecil dari kelompok pertama. Mereka berpendapat bahwa runtutan kekhalifahan setelah Rasulullah Saw. adalah Abu Bakar RA, ‘Umar RA dan ‘Ali KW. Sedangkah kekhalifahan ‘Utsman RA tidak mereka akui. Oleh karena itu, menurut al Jahidz, pada masa awal Islam, yang dinamakan syi’i adalah orang-orang yang mendahulukan ‘Ali KW atas ‘Utsman RA. Sehingga, menurutnya lagi, saat itu dikenal ada Syi’i dan ‘Utsmani. Yang pertama adalah orang-orang yang mendahulukan ‘Ali KW atas ‘Utsman RA, sedangkan yang kedua adalah orang yang mendahulukan ‘Utsman atas ‘Ali KW.
Ketiga: Kelompok yang paling kecil. Yaitu mereka yang menganggap bahwa orang yang paling utama memangku kekhalifahan setelah Rasulullah Saw adalah ‘Ali KW.
Dari ketiga kecenderungan di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa mayoritas pendukung Syi’ah tidak melebihkan ‘Ali atas semua sahabat Rasulullah Saw. Namun mereka hanya melebihkannya atas ‘Utsman. Dan, pelebihan mereka atas ‘Utsman itupun bukanlah sebuah konsensus pemikiran yang diamini oleh semua pendukung Syi’ah, namun mayoritas mereka melebihkannya atas ‘Utsman RA. setelah ‘Utsman RA melakukan tindakan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang mereka anggap telah melanggar sunnah Rasulullah Saw. dan dua khalifah sebelumnya. Dan, tentu saja apa yang sedang berlangsung pada masa tersebut adalah sebuah proses tarik-menarik antar masing-masing kekuatan politik dengan masing-masing pendukungnya. Sesuatu yang logis terjadi dalam sebuah sistem masyarakat di manapun berada.
Perang Jamal dan Shiffin yang berakhir dengan arbitrase, yang kemudian mendorong timbulnya Khawarij dan Murji’ah, ditambah dengan pembantaian Karbala, mendorong mereka untuk mencari akar ideologis mereka sendiri. Sejarah memang telah mencatat betapa perlakuan dan nasib yang menimpa mereka amat malang. Pasca perang Shiffin yang merenggut kekuasaan politik mereka, diteruskan dengan pembantaian Karbala dan terbunuhnya Husein RA, sejarah memang tampak tidak berpihak kepada mereka. Setelah tragedi-tragedi yang menyedihkan tersebut, mereka masih terus dihantui pengejaran serta pembantaian secara massal terhadap Ahli Bait Rasulullah Saw. dan pendukungnya.
Dalam buku Khilafah dan Kerajaan yang ditulis oleh Abu al A’la al Maududi, kita akan merasakan kesedihan yang dalam (atau malah menangis) ketika membaca penuturan penulis tentang perlakuan-perlakuan kejam yang telah menimpa keturunan Rasulullah Saw. Dengan cukup jelas ia menguraikan kejadian demi kejadian yang menimpa Ahlu Bait Rasulullah Saw.
Dalam masa-masa tersebut, terjadi kristalisasi klasifikasi in group dan out group dalam Syi’ah. Penentuan siapa kita dan siapa orang luar kita makin mengental, terutama proses pembentukan konsep ideologis dan metode mempertahankan diri. Contoh menarik bagi yang terakhir adalah dibentuknya konsep taqiyyah sebagai upaya untuk mempertahankan diri, kepercayaan, harta benda, dan harga diri. Syaikh al Anshari mendefinisikan taqiyah sebagai berikut: Menjaga diri dari perlakuan buruk dari orang lain dengan menyetujui perkataan dan perbuatannya yang bertentangan dengan kebenaran. Sehingga terjadi kemudian transformasi kekuatan politik menjadi sebuah sistem ideologi (teologi) dalam Syi’ah.
Pada masa ‘Ali k.w, pendukung (syi’ah) beliau tidak menggunakan nash-nash al Qur’an dan Hadist untuk menjustifikasikan keberhakan ‘Ali k.w. dan keturunannya sebagai pemegang kekhalifahan. Hal itu ditunjukkan oleh sikap ‘Ali Kw yang membai’at Abu Bakar r.a., ‘Umar r.a, dan ‘Utsman r.a. Karena jika benar ada nash yang jelas-jelas menunjuk ‘Ali k.w. sebagai pengganti Rasulullah Saw. tentunya ‘Ali Kw. tidak akan membai’at orang lain untuk memangku jabatan itu sebanyak tiga kali, tanpa pernah menyinggung nash-nash itu. Namun, dalam proses transformasi Syi’ah dari sebuah kekuatan politik menjadi sebuah ideologi (teologi), kita dapati kemudian semua kecenderungan politis dan teologis Syi’ah telah mempunyai “mantel” baik dari al Qur’an maupun Hadist.
Tentang al Qur’an, penghampiran teologis Syi’ah dalam al Qur’an tampak dalam klaim yang sering didengungkan bahwa Syi’ah mempercayai adanya pengurangan dan penambahan Al Quran. Walaupun pendapat itu, saat ini, ditolak oleh banyak ulama-ulama Syi’ah, namun pada dataran realitas, klaim tersebut dapat menemukan justifikasinya karena ia memang tertulis dalam kitab-kitab yang mu’tamad dalam Syi’ah. Salah satu bentuk pengurangan Al Quran, menurut Syi’ah adalah penghapusan nama ‘Ali k.w. dalam Al Quran. Misalnya adalah dalam QS. Al Ahzab: 71. Menurut riwayat al Kulayni –dalam kitabnya al Kâfi 31– seharusnya tertulis: Wa man yuthi’i Allah wa rasûlahu (fî wilâyati ‘Aly wa al aimmah ba’dahu) faqad fâza. Bentuk lain penghampiran teologis Syi’ah pada Al Quran adalah dengan menafsirkan dan mentakwilkan Al Quran sesuai dengan konsep-konsep mazhab tersebut. Misalnya dalam tafsir al Mîzân karya M.H. Thathaba’i, kita dapati: ketika sampai pada QS. Al Imran: 163. firman Allah Swt: Hum darajâtun `inda Rabbihim, ia menafsirkan: Dari ash-Shadiq: Orang -orang yang mengikuti keridlaan Allah Swt. adalah para imam. Mereka, demi Allah! adalah derajat-derajat di sisi Allah bagi orang mu’minin. Dengan loyalitas dan kecintaan mereka kepada kami, Allah Swt. akan melipat gandakan ganjaran pahala mereka dan mengangkat derajat mereka. Sedangkan orang-orang yang mendapatkan kemurkaan Allah Swt. adalah orang yang mengingkari hak `Ali dan hak imam-imam Ahli Bait. Oleh karena itu mereka mendapat murka Allah Swt.
Dalam tataran hadist, penghampiran teologis terhadap konsep-konsep Syî`ah makin mengental. Di sini, kita memang dituntut untuk lebih banyak lagi mencurahkan perhatian dan energi. Karena konsep-konsep ilmu hadist Syi’ah berlainan atau malah, dalam beberapa segi, berseberangan dengan konsep hadist dalam wacana keilmuan Ahlu Sunnah.

D. Spesifikasi Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah

Istilah Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah populer di kalangan umat Islam, terutama didasarkan pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Tirmidzi, dan Ibn Majah dari Abu Hurairah yang menegaskan bahwa umat Yahudi akan terpecah menjadi 71 golongan, umat Nashrani akan terpecah menjadi 72 golongan dan umat Islam akan terpecah menjadi 73 golongan. Semua golongan tersebut masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan, yaitu orang-orang yang mengikuti Rasulullah Saw dan para sahabatnya”. Dalam pandangan As-Syihâb Al-Khafâjî dalam Nasâm ar-Riyâdh, bahwa satu golongan yang dimaksud (tidak masuk neraka) adalah golongan Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah. Pendapat ini dipertegas oleh Al-Hâsyiah Asy-Syanwâni, bahwa yang dimaksud dengan Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah adalah pengikut Imam kelompok Abûl Hasan Asy’ari dan para ulama madzhab (Imam Hanafi, Imam Syafi’I, Imam Maliki dan Imam Hanbali).
Pandapat Asy-Syanwâni ini memang cukup beralasan, karena untuk memahami Al-Quran dan sunnah perlu dilakukan penggalian (al-istinbâth) yang mendalam dan sungguh-sungguh (ijtihâd). Sementara untuk melakukan proses istinbâth secara langsung kepada Al-Quran dan sunnah, diperlukan berbagai kualifikasi keilmuan yang mendalam. Atau dengan kata lain, untuk menjadi seorang mujtahid, diperlukan berbagai penguasaan ilmu yang tidak sedikit. Maka, di sinilah relevansi dan kontekstualitas seorang muslim dalam mengikuti metodologi (madzhab manhaji) maupun produk pemikiran (madzhab qauli, natâij al-Ijtihâd) yang telah dikembangkan oleh para ulama madzhab
Melihat realita yang terjadi, terminologi Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah akhirnya dibakukan bagi setiap individu yang selalu menetapkan ajaran-ajaran baginda Rosululloh r dan para Sahabatnya sebagai sandaran dan pijakan hukum baik dalam konstelasi (seluk beluk) aqidah, amaliyah dan akhlaq al qolbiyah. Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah pun sebenarnya mempunyai spesifikasi (perincian) yang berfariasi :


AL MUTAKALLIMIEN

Golongan ini adalh golongan yang meletakkan dalil-dalil naqli ataupun dalil aqli sebagai pijakan dalam pembahasan aqidah, untuk menolak faham-faham yang dikembangkan oleh ahli bid’ah.

AL FUQOHA’
Predikat ini diperuntukan untuk para personal yang mencurahkan kemampuan intelektualitasnya dalam konteks amaliyah yang bersifet ubudiyah.

AL MUHADDITSIEN

Golongan ini adalah golongan yang bertugas mengumpulkan beberapa hadits nabawi sekaligus menentukan kategori shohih, hasan ataupun dlo’if.

AL MUTASHOWWIFIEN
Predikat ini diperuntukkan bagi setiap individu yang selalu menjaga kontinuitas dalam menjalankan ibadah yang besifat dzohir maupun batin dengan cara mensucikan hati dari akhlaqul madzmumah dan menghiasinya dengan akhlaqul karimah.
Syaikh Ibnu Kholdun dalam kitab Muqoddimahnya menyatakan “Esensi hukum-hukum fiqih merupakan kongklusi konkrit dari beberapa dalil syar’ie yang keberadaannya tidak akan pernah lepas dari kontrapersepsi di antara para mujtahidin. Hal ini disebabkan karena para mujtahidin sendiri mempunyai orientasi dan prespektif yang berbeda-beda dalam menyimpulkan dan menganalisa tiap-tiap dalil dan bentuk problemantika yang ada, sehingga para muqollidin mempunyai kebebasan untuk melakukan hak privasinya dalam menentukan pilihan kepada siapa dia akan betaqlid, namun disaat masalah taqlid ini menyentuh eksistensi para A’immtul arba’ah manusia sepakat untuk menetapkan A’immatul arba’ah sebagai para muqollad yang layak untuk diikuti, karna para Imam di atas diyakini mampu menjadi pilar bagi agama sebagai sumber-sumber pengambilan hukum dalam menentukan setiap keputusan.
Secara esensial A’immatul arba’ah sebenarnya mempunyai kapabilitas dan kreadibilitas yang jauh lebih bonafid dalam bidang ilmu aqidah, hadits dan af’alul qolbi, tetapi berhubung pada masa itu ilmu fiqih merupakan ilmu yang paling urgen (penting) untuk dikaji dan dikembangkan, akhirnya para imam ini lebih terfokus untuk menggeluti ilmu fiqih, dan realita ini hanya bisa diketahui oleh setiap individu atau instansi tertentu yang telah melakukan ekplorisasi dan vertifikasi (penelitian dan pembahasan) mengenai sejarah tentang para imam ini.

Dengan demikian, istilah Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah dimaknai sebagai suatu konstruksi pemikiran (pemahaman) dan sekaligus praktek keagamaan (Islam) yang didasarkan pada tradisi (sunnah) Rasulullah r , para sahabatnya dan para ulama mazhab, sekalipun yang terakhir ini lebih bersifat sekunder. Dengan lain kata, yang dimaksud dengan Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah tidak selalu identik dengan suatu mainstream aliran pemahaman tertentu dalam tradisi pemikiran Islam. Oleh karena itu, penyebutan beberapa aliran dalam tulisan ini, tidak secara otomatis menunjukkan paham-paham yang paling benar atau paling identik dengan Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah. Justru di sini perlu ditegaskan, bahwa yang terpenting dari pemikiran keagamaan Ahl as-Sunnah wa al-Jamâ’ah adalah konsistensinya dengan tradisi keagamaan yang dipraktekkan Rasulullah r dan para sahabatnya. Sementara dalam konteks taqlid, di sini lebih bersifat instrumental. Artinya, signifikansi taqlid, baik dari sisi metodologis (madzhab manhaji) maupun produk pemikiran-keagamaannya (madzhab qauli, natâij al-Ijtihâd) lebih dimaksudkan untuk membantu dalam memahami Al-Quran dan sunnah, ketimbang diletakkan sebagai satu-satunya sumber.

والله أعلم بالصواب

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: