Bagian Kelima MANDI

Definisi mandi
Mandi menurut etimologi (bahasa) berarti mengalirnya air pada suatu benda. Sedangkan menurut terminologi (istilah) fiqh, mandi adalah mengalirnya air pada keseluruhan badan dengan niat tertentu.

Hal-hal yang mewajibkan mandi
Ada enam hal yang menyebabkan wajib mandi. Tiga dari enam hal tersebut dialami oleh laki-laki maupun perempuan, yaitu :
1. Bersetubuh
Yakni masuknya penis ( hasyafah) atau kadarnya (Bagi orang yang tidak memiliki penis, baik karena pembawaan atau karena terpotong) pada lubang kemaluan perempuan ataupun anus, walaupun anusnya sendiri, meskipun tidak sampai mengalami ejakulasi.
2. Keluar sperma
Dalam kondisi dan bentuk apapun, keluarnya sperma mewajibkan mandi, baik sedikit dan berwarna merah seperti darah atau tidak. baik sperma itu keluar karena bersetubuh atau bukan, baik dalam keadaan tidur ataupun sadar, baik keluarnya disertai merasakan nikmat atau tidak, dan baik keluarnya melalui kemaluan atau bukan, seperti orang yang pecah tulang belakangnya dan spermanya keluar lewat tulang yang pecah tersebut.

Cairan yang keluar dari lubang kemaluan seseorang, adakalanya berupa air seni, madzi, wadzi, juga sperma. Masing-masing memiliki konsekuensi hukum berbeda. Karenanya, perlu diketahui secara seksama karakter dari keempat hal diatas, agar tidak terjadi salah persepsi. Dalam pembahasan Najis, telah disinggung pengertian madzi dan wadzi. Kali ini yang akan dipaparkan adalah tentang sperma secara definitif maupun ciri khasnya.

Sperma adalah cairan berwarna putih kental yang keluar karena dorongan syahwat yang memuncak. Ciri-ciri sperma adalah :
a. Terasa nikmat atau memancar disaat keluar
b. Dalam kondisi masih basah, berbau seperti roti
c. Dalam kondisi kering berbau seperti putih telur

3. Meninggal dunia.
Setiap orang yang meninggal dunia, wajib untuk dimandikan, kecuali ;
a. Syahid ,
Seseorang yang meninggal sebagai syahid, haram untuk dimandikan, karena darahnya merupakan saksi akan ke-syahid-annya. Syahid adalah orang-orang yang meninggal dunia dalam kancah peperangan melawan orang-orang kafir karena meluhurkan agama Alloh. Syahid terbagi menjadi tiga, [1] Syahid dunia dan akhirat, [2] Syahid dunia, [3] Syahid akhirat. Untuk syahid kategori pertama dan kedua haram untuk dimandikan dengan alasan sebagaimana diatas. Sedangkan Untuk syahid kategori ketiga hukumnya wajib dimandikan
b. Orang kafir
c. Bayi prematur
Bayi prematur yang meninggal dunia, tidak wajib dimandikan, apabila ;
1. Terlahir kurang dari enam bulan
2. Tidak ditemukan tanda-tanda kehidupan
3. Belum berbentuk manusia.( selengkapnya, baca dalam pembahasan memandikan mayit )

Dan tiga hal selanjutnya hanya dialami orang perempuan, yaitu :
1. Haidl, Haidl menurut terminologi Fiqh adalah Darah yang keluar dari kemaluan wanita ( otot pangkal rachim ), karena pembawaan, artinya bukan karena sakit atau melahirkan, serta keluarnya di usia yang memungkinkan chaidl yakni sembilan tahun hijriyyah kurang lima belas hari
2. Nifas, Nifas adalah : Darah yang keluar setelah lahirnya anak ( kosongnya rahim dari bayi ), dengan syarat keluarnya darah sebelum lewat lima belas hari terhitung dari keluarnya sang bayi
3. Melahirkan

Fardlu – fardlu mandi
1. Niat, hal ini harus dilakukan bersamaan dengan awal membasuh anggota badan, jadi seandainya seseorang niat mandi setelah membasuh anggota tubuh semisal tangan, maka basuhan tangan tersebut harus diulangi. Sedangkan lafadz niatnya adalah sebagai berikut ;
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الأَكْبَرِ فَرْضًا للهِ تَعَالىَ
Artinya : ” Aku nia mandi untuk menghilangkan hadats besar semata-mata karena Alloh Ta’ala ”
2. Menghilangkan najis yang terdapat pada anggota badan jika najis itu ‘ainiyyah, jika berupa najis hukmiyyah, tetap wajib menurut imam Rafi’i, sedangkan menurut imam Nawawi tidak wajib.
3. Meratakan air keseluruh anggota tubuh bagian luar, baik berupa kulit ataupun rambut (baik rambut itu tipis ataupun tebal ). Untuk mengetahui air merata atau tidak, cukup dengan persangkaan ( dzon ). jadi, tidak harus meneliti secara seksama bahwa air benar-benar merata

Anggota tubuh yang wajib dibasuh ketika mandi wajib meliputi ;
• Lipat-lipatan badan
• Kulit kuncup bagian dalam, bagi orang yang belum dikhitan.
• Bagian kemaluan wanita yang terlihat ketika ia jongkok.
• Daerah sekitar lubang anus, yakni kulit-kulit bagian pinggir yang saling bertemu ketika lubang anus tertutup, atau dalam bahasa arab dikenal dengan nama multaqa al-manfadz.
• Lubang telinga.
• Lubang hidung, apabila hidungnya terpotong ( growong-jawa ) dan terlihat dari luar.

Ketika mengalirkan air ke seluruh tubuh, periksalah seluruh bagian tubuh dari ujung kaki sampai rambut, jangan sampai ada sesuatu yang dapat menghalangi sampainya air pada kulit, semisal cat, kotoran yang berada di bawah kuku, dll. Bagi seseorang yang berambut gimbal atau yang terikat( digelung-jawa ), wajib menguraikan rambutnya apabila air tidak bisa masuk kedalamnya.

Kesunnatan-kesunnatan mandi (Lihat Kasyifah al-Saja Hal. 60) :

1. Membaca basmalah (Basmalah ini boleh diniati dzikir, atau tidak diniati apa-apa).
2. berkumur dan menghisap air ke dalam hidung.
3. menghilangkan kotoran.
4. Berwudlu dengan sempurna sebelum mandi dengan niat melakukan kesunnatan mandi, jika tidak mempunyai hadats kecil, namun jika mempunyai hadats kecil, maka wudlunya diniati menghilagkan hadats kecil.
5. Meneliti daerah-daerah yang sulit terjangkau air, seperti telinga, bagian bawah kuku, dll selama air bisa menjangkau daerah tersebut. Apabila tidak, maka meneliti daerah-daerah tersebut hukumnya wajib.
6. Menggosok-gosok badan dengan menggunakan tangan keseluruh anggota badan yang mampu dijangkau oleh tangan .
7. Muwâlah atau menyegerakan basuhan, dalam artian segera membasuh anggota tubuh berikutnya sebelum anggota tubuh yang baru saja dibasuh mengering.
8. Mendahulukan anggota badan sebelah kanan.
9. Mendahulukan anggota tubuh bagian atas.
10. Tidak meminta bantuan orang lain kecuali apabila ada udzur
11. Meletakkan tempat air yang besar di sebelah kanan dan yang kecil di sebelah kiri
12. Tatslîts, yakni mengulangi basuhan tiap-tiap anggota tubuh sebanyak tiga kali.
13. Menghadap kiblat apabila keadaannya tidak telanjang.
14. Berada di tempat yang aman dari percikan air.
15. Nyela-nyelani : jawa rambut sebelum membasuhnya, karena hal tersebut bisa menghindarkan seseorang dari isrof (berlebihan dalam menggunakan air).
16. Membaca syahadat diakhir mandi.

Hal-hal yang dimakruhkan
Kemakruhan dalam mandi, sama dengan kemakruhan wudlu, seperti terlalu berlebihan dalam menggunakan air, mendahulukan anggota tubuh sebelah kiri, dll.

Mandi sunnat
1. Mandi Jum’at
Mandi jum’at hanya disunatkan bagi mereka yang hendak menunaikan ibadah shalat jum’at. Waktu pelaksanaannya mulai terbit fajr shâdiq sampai masuk waktu melakukan sholat jum’at. Hanya saja, yang paling baik dilaksanakan sesaat sebelum berangkat ke masjid, karena fungsi mandi jum’at adalah untuk menghilangkan bau yang tak sedap ketika berkumpul dengan jama’ah.

2. Mandi karena sholat ied (hari raya ),
Bagi orang yang ingin menunaikan shalat ied maupun tidak, disunatkan mandi pada tanggal 01 syawal atau 10 dzul hijjah dalam rangka menyambut hari raya. Waktu pelaksanaannya mulai tengah malam ( kira-kira jam 24.00 keatas ) sampai terbenamnya matahari. Namun yang lebih utama dilakukan setelah fajar.

3. Mandi karena meminta hujan.
Bagi orang yang hendak menunaikan shalat istisqo’, disunatkan mandi terlebih dahulu. Sedangkan waktu pelaksanaannya adalah :
• Dimulai ketika hendak menunaikan shalat istisqo’ bagi orang yang melakukan shalat istisqo’ sendirian.
• Dimulai ketika para jama’ah sudah mulai berkumpul, bagi orang yang melakukan shalat istisqo’ secara berjama’ah.
dan akan habis ketika sholat istisqo’ selesai.

4. Mandi karena melihat gerhana
Waktu disunatkannya dimulai ketika awal terjadinya gerhana sampai terang kembali seperti sediakala.

5. Mandi karena memandikan mayyit
Seseorang yang telah memandikan janazah, baik jenazah tersebut berstatus muslim maupun kafir, disunatkan mandi. Waktunya dimulai setelah selesai memandikan mayyit sampai dia berpaling dari mayyit tersebut . Kesunatan ini juga berlaku bagi orang yang men-tayammum-i mayyit, dikarenakan orang tersebut telah menyentuh badan yang sudah tidak bernyawa sehingga membuat dia lemah dan air akan menguatkannya kembali.

6. Mandi karena masuk islam
Mandi ini tergolong sunat bagi mereka yang memeluk islam dan tidak mengalami junub atau haidl disaat kafir. Apabila disaat masih berstatus kafir mereka pernah mengalami dua hal tersebut, maka mandi mereka tidak lagi tergolong sunat, melainkan wajib menurut pendapat ashoh.

7. Mandi karena sembuh dari gila atau epilepsy
Mandi ini tergolong sunat apabila disaat mengalami kegilaan atau epilepsy tidak pernah mengeluarkan sperma. Apabila pernah mengeluarkannya, maka mandinya tergolong wajib.

8. Mandi ketika hendak melakukan ihram
Mandi ini berlaku mutlak, baik bagi orang baligh atau belum, berakal maupun orang gila, orang yang suci ataupun dalam masa haidl. Jika orang yang hendak melakukan ihram tersebut tidak menemukan air, maka disunatkan baginya melakukan tayammum.

9. Mandi karena memasuki kota Makkah Bagi orang yang ingin melakukan ihram, baik ihram hajji maupun ihram umroh
10. Mandi karena hendak melakukan wuquf di Arafah
11. Mandi karena hendak mabit (menginap) di Muzdhalifah.
12. Mandi karena hendak melempar tiga jumrah, yakni Jumrah Kubro, Wustho, dan Aqobah pada hari-hari tasyriq, sedangkan untuk jumroh Aqobah pada hari raya idhul adha tidak disunatkan mandi karena masih terlalu dekat waktunya dengan mandi dikarenakan melakukan wuquf.
13. Mandi karena hendak melakukan thowaf.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: