Sirah Ibnu Hisyam

Nama aslinya adalah Abdul Mulk Ibnu Hisyam Ibnu Ayyub Al Himyari al Ma’arifi (Ma’arif ialah salah satu kabilah terbesar dari Yaman).  Sebagian ulama’ lain mengatakan marga Ibnu Hisyam adalah al Dzuhali (sebuah kabilah yang di nisbatkan kepada Dzuhali Ibnu Syaiban). Tidak di ketahui secara pasti tahun berapa beliau di lahirkan, namun yang pasti beliau di lahirkan dan tumbuh dewasa di Bashroh, setelah menimba ilmu di kota kelahirannya ini, akhirnya beliau menguasai dan mahir tentang sastra arab, sehingga tak heran beliau menyandang gelar an Nahwiy (ahli nahwu). Sedang untuk pengetahuan siroh nabi (ilmu sejarah) beliau berguru kepada Yunus Ibnu Habib (w. 182 H.), Abi Ubaidah Ma’mar Ibnu al Mutsanna (w. 218 H.), Abi Mihroz Kholf Al Ahmar (w. 180 H.), dan Abi Zaid al Anshori (w. 210 H.).

Setelah belajar pada ulama’-ulama’ Bashroh beliaupun pergi ke Mesir untuk menyebarkan ilmunya, bahkan beliaupun menjadi salah satu ulama’ besar di Mesir dalam bidang sastra (sya’ir). Dan menurut al Suhaili dalam kitab al Roudl al Unf, Ibnu Hisyam wafat pada tahun 213 H. namun kalau menurut Ibnu Katsir dalam al Bidayah wal Nihayah-nya bahwa wafat Ibnu Hisyam adalah pada tahun 218 H.

SIRAH IBNU HISYAM

Seperti yang telah di jelaskan di atas, buku “Sirah” karya Ibnu Hisyam pada asalnya adalah buku “sirah” milik Ibnu Ishaq yang di revisinya, sehingga Sirah Ibnu ishaq ini merupakan buku induk tentang sejarah kehidupan nabi. Disamping menjelaskan kehidupan masyarakat arab setelah kedatangan Islam, disana juga terdapat sekelumit cerita-cerita tentang kehidupan orang arab pra islam. “Sirah Ibnu Ishaq” ini lebih tepat di sebut sebagai sebuah dokumen yang menyimpan perjanjian-perjanjian serta peperangan-peperangan yang pernah terjadi dahulu, sehingga dengan rinci di situ di sebutkan siapa saja mereka yang ikut terlibat dalam peperangan tersebut dari kedua belah pihak, serta apa saja yang terjadi di antara mereka. Selain nilai sejarah, buku ini juga menyimpan kekayaan sastra yang tinggi, karena dalam buku ini Ibnu Ishaq mencantumkan banyak sya’ir yang pernah masyhur, seperti sya’ir-sya’ir yang dulu muncul dalam peperangan atau dalam kejadian-kejadian yang lain.

Kemudian berangkat dari rasa simpati dan ta’jub pada buku Siroh ini, Ibnu Hisyam bertekad untuk merevisi dan menyebarkannya pada masyarakat muslim dengan bentuk yang baru. Dengan kemampuannya, Ibnu Hisyam tidak serta merta menerima semua yang di tulis Ibnu Ishaq. Banyak hal yang tidak di setujuinya dalam tulisan Ibnu Ishaq. Ini dapat di lihat dari perkataannya ketika menjelaskan metodenya dalam merevisi buku ini : “Saya mengawali buku ini dengan cerita nabi Isma’il Ibnu Ibrohim, sebagai moyang nabi Muhammad, serta putra-putra Isma’il secara berurutan sehingga nasabnya sampai pada nabi Muhammad, dan dari tulisan Ibnu Ishaq ada yang saya hapus (tidak saya tulis lagi), yakni; cerita-cerita yang tidak ada hubungannya dengan nabi, dan cerita-cerita yang tidak menjadi Asbab al Nuzul dari turunnya ayat Al Qur’an atau tidak menjadi penjelasan / bukti dari ayat Al Qur’an, hal ini saya lakukan agar lebih ringkas. Syi’ir yang di tulis Ibnu Ishaq namun tidak di kenal di kalangan ulama’ ahli syi’ir juga saya hapus”. Selain itu Ibnu Hisyam juga menyisipkan banyak tambahan yang dianggapnya penting sebagai penyempurna.

PERHATIAN PARA ULAMA TERHADAP SIRAH IBNU HISYAM

Buku inipun selanjutnya mendapat perhatian sangat besar dari ulama’ ahli sejarah setelahnya. Ini terbukti dengan banyaknya ulama’ yang memberikan komentar (Syarah) pada karya Ibnu Hisyam ini. Salah satunya adalah Abul Qosim Abd al Rohman al Suhaili al Andalusi (w. 581 H.) dan kitab syarahnya ini diberi judul al Raudl al Unf, mulai di cetak di mesir oleh percetakan al Jamaliyyah pada tahun 1332 H. (1914  M.). Ada juga ulama’ yang meringkasnya seperti yang di lakukan oleh al Burhan Ibrahim Ibnu Muhammad Ibnu al Marhal yang di beri judul al Dzakhiro fi Mukhtashor al Sirah.

Selain komentar dan ringkasan, ada juga ulama’ yang mengubahnya dalam bentuk nadzom / si’ir, contohnya seperti Abu Nasr al Khordlowi (w. 663 H), Abd al Aziz Ibnu Ahmad (w. 697 H.), dan Abu Ishaq al Anshori al Tilmasi (w. 793 H.).

Hal itu merupakan bukti bahwa karya Ibnu Hisyam ini merupakan buku yang sangat penting, sehingga mendapat perhatian besar dari para ulama’

About these ads

Satu Tanggapan

  1. Assalamu ‘alaikum wr wb
    Izin copy akhwan, untuk tambahan artikel saya…
    Jazzakallah khairan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.556 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: