Bagian Kesebelas J a N A Z A H

Pendahuluan

Salah satu dari Lima Rahasia Tuhan adalah datangnya ajal atau kematian. Kedatangannya tidak dapat dideteksi oleh apapun dan siapapun. Oleh karena itu, amat wajar apabila seorang muslim selalu dianjurkan agar senantiasa mengingat-ingat datangnya pedang maut yang setiap saat dapat ditebaskan ke leher sang Khalifah Dunia serta mempersiapkan diri sebaik-baiknya menyambut kematian dengan bekal yang memadai. Prosesi Kematian seseorang mengalami beberapa fase, yakni sakit, sakaratul maut, dan hembusan nafas terahir. Yang kesemuanya memerlukan perawatan yang berbeda. Dibawah ini akan kita coba mengupasnya satu persatu.

Sakaratul Maut Dan Penanganannya[1]

Ada beberapa hal yang sunat dilakukan bagi orang yang merawat calon mayit ketika mendekati ajal ( sakaratul maut ), yaitu :

  1. Dihadapkan ke arah Qiblat dengan cara direbahkan dengan  posisi miring pada lambung sebelah kanan, jika posisi tersebut sulit dilakukan, maka dimiringkan ke kiri. Apabila posisi miring juga sulit, maka direbahkan telentang dengan menghadapkan wajah dan telapak kakinya kearah Qiblat, dan posisi kepala agak d tinggikan dengan di beri semisal bantal atau penyangga lain.
  2. Menalqinnya ( menuntun ) dengan kalimat Tauhid, yakni لا إله إلا الله. dengan cara yang halus dan tanpa ada paksaan. Sedangkan orang yang menalkin sebaiknya bukan salah satu dari ahli waris. Ketika ia sudah mengucapkan kalimat diatas, talqin jangan sampai diulangi, kecuali apabila ia mengucapkan kata-kata yang lain setelah mengucapkan kalimat tauhid tersebut. Hal ini bertujuan agar akhir kalimat yang ia ucapkan berupa kalimat tauhid.
  3. Dibacakan surat yasin dengan suara yang keras atau surat al-Ra’d , namun dengan suara yang lirih, sebagaimana yang di anjurkan oleh Rasulullah SAW[2].

Sedangkan tindakan yang perlu dilakukan tepat setelah mayit meninggal adalah :

1.  Memejamkan mata mayit[3]. Seraya berdo’a :

بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

Artinya : Dengan nama Alloh dan sesuai dengan agama rasulillah saw. Ya Alloh, ampunilah dia ( mayit ), berilah rahmat dan sejahtera kepadanya, angkatlah derajatnya dalam golongan orang-orang yang memperoleh petunjuk, jadikanlah orang-orang yang datang setelahnya sebagai orang yang tertinggal(dalam kebajikan). Ampuni kami dan ia wahai penguasa jagat raya, lapangkan dan sinarilah  kuburnya  ”.

2.  Mengikat kepala mayit secara vertikal dari arah dagu dan kemudian tali di lingkarkan ke atas dengan tali simpul berada diatas kepala, hal ini bertujuan agar mulut mayit bisa di katupkan. dan hendaknya tangan mayit di posisikan seperti orang yang shalat.
3.  Melemaskan persendian ( ros – rosan ) mayit dengan cara menekuk persendian tersebut berulang kali. Tindakan ini bertujuan agar jasad mayit tidak kaku sehingga sulit dirawat.

4.  Melepaskan pakaian mayit yang dikenakan ketika meninggal, sebab pakaian tersebut bisa mempercepat proses pembusukan.

5.  menutup jasadnya dengan kain tipis. Kedua ujung kain dilipat ke bawah kepala dan kaki agar tidak tersingkap ketika tertiup angin.

6.  Menaruh sesuatu yang agak berat di atas perut mayit agar perutnya tidak membesar.

7.  Meletakkan jasadnya di tempat yg tinggi ( dipan dsb ). Agar suhu tubuhnya tidak cepat berubah karena pengaruh tanah

8.  Menghadapkan mayit kearah Qiblat dengan tata cara seperti di atas[4].

9.  Memperbanyak do’a-do’a yang berisi permohonan ampunan dan rahmat untuknya, seperti ;

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ

Artinya : Ya Alloh, ampunilah dia ( mayit ), berilah rahmat dan sejahtera kepadanya, angkatlah derajatnya dalam golongan orang-orang yang memperoleh petunjuk, jadikanlah orang-orang yang datang setelahnya sebagai orang yang tertinggal(dalam kebajikan). Ampuni kami dan ia wahai penguasa jagat raya, lapangkan dan sinarilah  kuburnya  ”.

Klasifikasi Mayit Dan Cara Penanganannya

Tajhiz yang meliputi memandikan, mengkafani, menshalati dan mengubur hukumnya adalah fardlu kifayah bagi setiap orang yang mengetahui kematiannya. Sedangkan cara merealisasikannya disesuaikan dengan status keberadaan si mayit.

1. muslim al-syahîd

Yaitu orang islam yang meninggal karena memerangi orang-orang kafir.

Cara pentajhizan-nya meliputi :

a.  Tidak boleh dimandikan dan di-shalati.

b.  Dikafani dengan pakaian yang digunakan. Dan jika tidak cukup menutupi keseluruhan tubuhnya, maka ditambah dengan kain yang lainnya.

c.  Darah yang berada di atas tubuhnya tidak boleh dibersihkan.

2. Siqth al-muslim

Yakni janin yang terlahir sebelum memasuki usia enam bulan.

Jika ia meninggal setelah menginjak usia enam bulan, atau belum namun sebelum meninggal ada tanda-tanda kehidupan pada diri janin tersebut maka ia ditajhiz layaknya orang dewasa.

Jika tidak di temukan tanda-tanda kehidupan namun kelihatan berbentuk manusia, maka pentajhizan-nya hanya meliputi :

  1. Memandikan.
  2. Menkafani.
  3. Mengubur.

Apabila tidak terdapat tanda kehidupan dan tidak kelihatan berbentuk manusia , maka tidak ada kewajiban apapun. Hanya saja sunat ditutupi dengan kain dan dikebumikan[5].

3. Muslim selain Syahîd dan Siqth.

Ada empat kewajiban terhadap mayit seperti ini.

  1. Memandikan
  2. Mengkafani
  3. Menshalati
  4. Mengubur.

4. Kafir dzimmy[6], Mu’ahad[7], Mu’amman[8]

Kewajiban orang islam terhadap mayit seperti ini hanyalah mengkafani dan menguburnya. Boleh memandikannya dan haram menyalati.

5. Kafir Harbi, Murtad, Zindik.

Bagi seorang muslim, tidak ada kewajiban apapun yang harus ia lakukan apabila menemukan mayit dengan status sabagaimana diatas.

Memandikan Mayit.

Ketika mayit sudah positif meninggal, ia harus segera dimandikan apabila ada kehawatiran mayit akan cepat membusuk ketika ditunda. Ada beberapa tanda kematian yang dapat kita ketahui melalui  tubuh si mayit, diantaranya adalah :

  • Kedua telapak kaki melunak ( nglembreh ), tidak dapat ditegakkan
  • Hidung miring
  • Kedua telapak tangan keluar dari persendian
  • Pelipis cekung
  • Kulit wajah memanjang / mulur
  • Testis (Buah dzakar) mengecil ke atas, sedang kulit pembungkusnya tergurai ke bawah

Skala prioritas orang yang memandikan

Apabila mayit berjenis kelamin laki-laki, maka yang diprioritaskan untuk memandikannya adalah sesuai dengan urut-urutan berikut :

1.   Bapak 9.   Anak paman Kandung
2.   Kakek 10. Anak paman seayah
3.   Anak 11. Imam atau orang yang ditunjuknya.
4.   Cucu anak laki-laki 12. Dzawil arham
5.   Saudara Kandung 13. Laki-laki lain
6.   Saudara seayah 14. Istri
7.   Paman kandung 15. Perempuan mahram
8.   Paman seayah

Sedangkan apabila mayit berjenis kelamin perempuan, maka yang diprioritaskan untuk memandikannya adalah sesuai dengan urut-urutan berikut :

  1. Kerabat wanita yang memiliki hubungan mahrom[9] dengan mayit.
  2. Wanita yang berhak mendapatkan warits wala’ dari mayit.
  3. Para wanita yang tidak memiliki hubungan kerabat.
  4. Suami mayit.
  5. Urutan terahir adalah para lelaki yang memiliki hubungan mahrom. Sedangkan lelaki yang tidak memiliki hubungan mahrom, seperti keponakan laki – laki mayit tidak berhak memandikannya.

Tata cara memandikan mayit

Paling minimal memandikan mayit adalah dengan menghilangkan najis yang ada pada tubuhnya, kemudian meratakan air keseluruh tubuhnya, mulai rambut sampai pada bagian-bagian yang sulit dimasuki air, seperti bagian yang nampak dari kelamin wanita tatkala sedang jongkok atau daerah di bawah kulup laki-laki yang tidak khitan.

Adapun tata cara memandikan yang paling sempurna adalah sebagai berikut[10] :

  1. Orang yang memandikan (Ghosil) hendaklah orang yang dapat dipercaya / ahli dalam menangani pelaksanaan memandikan mayit.
  2. Pada waktu memandikan diusahakan sedapat mungkin tidak melihat pada aurat mayit.
  3. Apabila ketika memandikan melihat sesuatu yang bagus pada diri mayit, maka sunnat untuk dibicarakan. Namun sebaliknya apabila melihat sesuatu yang buruk pada diri mayit, maka tidak boleh dibicarakan, sebab hal itu termasuk Ghibah ( ngrasani ).
  4. Mayit dibawa ketempat yang sunyi sekira tidak ada orang yang masuk kecuali yang memandikannya, orang orang yang membantunya, serta walinya.
  5. Sebelum dimandikan hendaknya ditutupi dengan kain yang tenunannya tidak rapat agar air bisa mengalir ke tubuh si mayit.
  6. Mayit diletakkan di tempat yang tinggi agar tidak terkena percikan air atau basuhan yang telah mengalir dari tubuhnya dengan posisi tidur terlentang seraya menghadap qiblat, Tengkuk diangkat sedikit agar air dapat mengalir, Yang biasa berlaku di masyarakat si mayit di pangku oleh beberapa orang tergantung berat dan besarnya mayit , dan kaki orang yang memangku hendaknya di alasi dengan semisal bata agar tidak terkena percikan air yang mengalir dari mayit.
  7. Mayit disandarkan kelutut orang yang memandikan ( Ghosil ) sehingga condong ke depan.
  8. Tangan kanannya memegang pundak mayit  untuk menahan tubuh mayit , sedangkan ibu jarinya diletakkan ditengkuk mayit untuk menyangga kepalanya .
  9. Kemudian perut mayit ditekan dengan tangan kiri agar kotoran yang ada di dalam perutnya keluar, biasanya yang menekan perut mayit adalah orang yang bertugas memangku agar yang memandikan bisa leluasa dalam menuangkan air dan membersihkan kotoran.
  10. Mayit direbahkan telentang kembali untuk dibersihkan Qubul, Dubur, dan daerah sekitarnya dengan tangan kiri yang telah terbungkus kain , Kemudian mengambil kain berikutnya (atau kain tadi namun telah disucikan) untuk membersihkan gigi dengan jari telunjuk dan lubang hidung dengan jari kelingking.
  11. Mayit di-wudlu-kan sebagaimana orang yang masih hidup dengan melaksanakan rukun – rukun berikut kesunatannya dengan niat :

نَوَيْتُ الْوُضُوءَ الْمَسْنُونَ لِهَذَا الْمَيِّتِ للهِ تَعَالىَ

Artinya : “ aku niat wudlu sunat untuk mayit ini karena Alloh ta’ala “

Dan yang perlu di perhatikan adalah ketika membasuh tangan, hendaknya telapak tangan mayit yang tadinya memegang pergelangan harap di angkat agar air bisa merata ke daerah tersebut , dan saat berkumur atau saat memasukkan air ke hidung, jangan sampai air masuk ke dalam dengan cara kepala mayit hendaknya agak di angkat.

12.  Membasuh kepala dan hendaknya telinga mayit di tutup dengan jari agar tidak kemasukkan air. Yang berlaku di masyarakat agar pembasuhan lebih bersih mereka juga menggunakan shampo , jenggot mayit juga dibasuh dan disisir perlahan-lahan. Jika ada rambut yang rontok sunnat diambil dan nanti diletakkan di dalam kain kafan, .

13.  Membasuh anggota badan depan mayit yang sebelah kanan mulai dari leher sampai ujung kakinya. Kemudian dilanjutkan pada bagaian yang sebelah kiri.

14.  Mayit dimiringkan ke kiri untuk membasuh bagian belakang mulai dari tengkuk sampai ujung kaki. Kemudian dimiringkan ke kanan untuk membasuh bagian yang sebelahnya, dalam hal ini, pemangku mayit hendaknya berhati-hati dalam memegang tubuh mayit agar tidak terjatuh.

15.  Semua basuhan pertama (no 13 & 14) di atas disunnatkan memakai air widara, sabun atau sejenisnya.

16.  Basuhan kedua memakai air murni (tanpa campuran) sebagai pembilas (pembersih).

17.  Basuhan ketiga memakai air yang sudah dicampur sedikit kapur barus yang sekira tidak sampai merubah keadaan air sambil disunnatkan niat :

نَوَيْتُ أَدَاءَ الْغُسْلِ عَنْ هَذَا الْمَيِّتِ للهِ تَعَالىَ

Artinya : “ Aku niat memandikan mayit ini karena Alloh ta’ala”

Jika menginginkan pembasuhan sampai sembilan kali maka pembasuhan seperti diatas diulang tiga kali.

Jika menginginkan hanya lima kali basuhan maka urutannya sebagai berikut ;

  1. Air widara, sabun atau sejenisnya.
  2. Air pembilas.
  3. Basuhan ke-tiga, ke-empat dan ke-lima memakai air yang sudah dicampur dengan sedikit kapur barus.

Dan jika menghendaki tujuh kali basuhan maka urutannya :

  1. Air widara, sabun atau sejenisnya.
  2. Air pembilas.
  3. Air widara, sabun atau sejenisnya.
  4. Air pembilas.
  5. Basuhan ke-lima, ke-enam dan ke-tujuh dengan memakai air yang telah dicampur dengan sedikit kapur barus[11].

18.  Setelah dianggap cukup, persendian mayit kembali dilemaskan kemudian sekujur tubuhnya dikeringkan dengan menggunakan semisal handuk.

Mayit yang tidak mungkin dimandikan, baik karena kesulitan mendapatkan air atau karena alasan yang lain, semisal ;

1. Terbakar dan dihawatirkan akan merontokkan daging mayit apabila dipaksakan untuk dimandikan

2. Terkena racun yang dikhawatirkan dapat menular.

3. Tidak ada yang bersedia memandikan kecuali orang lain ( bukan mahrom si mayit ) yang berbeda jenis kelaminnya,

Maka harus ditayamumi sebagai pengganti.

Tata cara mentayammumi terhadap mayit adalah sebagai berikut :

  1. kedua tangan Mutayammim di letakkan di atas debu.
  2. Tangan kanan diusapkan pada wajah mayit disertai niat :

نَوَيْتُ أَدَاءَ التَّيَمُّمِ عَنْ هَذَا الْمَيِّتِ

Artinya : “ aku niat melaksanakan tayammum atas nama mayit ini “

3.  Tangan kiri mutayammim diusapkan pada tangan kanan mayit.

4.  Kemudian mutayammim mengambil debu lagi untuk pengusapan tangan kiri mayit.

Mayit yang dalam kondisi belum dikhitan dan di bawah kucur ( kulup : jawa ) terdapat najis yang tidak bisa disucikan kecuali dengan memotongnya, maka kucur tidak diperbolehkan untuk dipotong, dan menurut Imam Romli, setelah mayit dimandikan dan dikafani langsung saja dikubur tidak usah di shalati, karena najis yang tidak bisa dihilangkan tersebut tidak bisa diganti dengan tayammum. Namun menurut Ibnu Hajar, di dalam keadaaan seperti itu tayammum bisa diproyeksikan  sebagai pengganti dari ketidakmungkinan untuk menyucikan najis yang ada di bawah kucur tadi. Karenanya menurut beliau, mayit seperti ini tetap wajib dishalati.

Jika dari tubuh mayit terus menerus mengeluarkan najis, menurut Qaul Ashoh tetap harus disucikan meskipun dia telah dikafani. Dan tidak sah di shalati jika pada tubuh atau kafan tadi masih ada najisnya. Namun menurut Imam Baghowi, tidak wajib menghilangkan najis yang keluar setelah mayit dikafani. Bahkan – masih menurut beliau – bila najis tersebut terus menerus keluar, segera saja mayit dimandikan, lalu tempat keluarnya najis disumbat kemudian dikafani  dan secepatnya dishalati. Sebagaimana yang terjadi pada diri orang yang  Salis al baul.

MENGKAFANI MAYIT

Bentuk dan model kafan

Mengkafani mayit wajib menggunakan kain yang boleh dipakai oleh mayit pada masa hidupnya, oleh sebab itu,  mayit laki-laki dan khuntsa ( orang yang berkelamin ganda ) tidak boleh dikafani dengan sutra, sedangkan menggunakannya untuk mengkafani mayit perempuan dan anak kecil ( shobi ) hukumnya makruh, seperti halnya menggunakan kain yang terlalu mahal atau kain yang berwarna, sebab hal itu dinilai terlalu berlebihan. Adapun kain yang dipergunakan untuk mengkafani mayit sebaiknya disesuaikan dengan kondisi mayit ketika wafat, jika dia wafat dalam kondisi kaya maka  dikafani dengan kain yang bagus, jika dalam kondisi sederhana, maka dikafani dengan kain yang sederhana pula, demikian pula halnya jika wafat dalam kondisi miskin, maka dikafani dengan kain sederhana sesuai dengan kondisi dan kemampuannya.

Sebagaimana dalam sub bahasan memandikan mayit, dalam mengkafani juga dikenal istilah bentuk minimal dan maksimal. Minimal mengkafani mayit cukup dengan menutup auratnya dengan selembar kain. Sedangkan bentuk maksimal mengkafani mayit adalah dengan menggunakan tiga helai kain ( baik bagi laki-laki atau perempuan ) yang memiliki ukuran lebar dan panjang sama, sesuai dengan hadits ;

كُفِّنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ثَلَاثَةِ أَثْوَابٍ يَمَانِيَّةٍ بِيضٍ لَيْسَ فِيهَا قَمِيصٌ وَلَا عِمَامَةٌ  { رَوَاهُ الشَّيْخَانِ }

Artinya :“ Rasululloh SAW dikafani dengan menggunakan tiga lapis kain yamani yang berwarna putih tanpa qomis dan surban. ”

( HR. Bukhari Muslim )

Jika dikafani dengan lima lapis, maka ada dua cara :

1. Tiga lapis seperti di atas di tambah dengan gamis dan surban.

2. Dua lapis, izar ( kain penutup bagian tubuh antara pusar dan lutut), gamis dan surban.

Sedangkan apabila mayit seorang perempuan atau huntsa ( waria ), yang afdol dikafani dengan lima lapis kain sebagaimana yang telah dilaksanakan Rosululloh SAW terhadap putri beliau Ummu Kultsum. Lima lapis kain tersebut terdiri dari kebaya, kerudung, baju kurung, dan dua lapis kain.

Tata Cara Mengkafani Mayyit

Sebelum mayit diangkat dari tempat pemandian, siapkanlah kain kafan yang telah dibubuhi  wewangian. Lalu mayit di letakkan di atasnya dengan terlentang dan di sedekapkan. Kesemuanya dilakukan dengan pelan dan halus. Semua anggota sujud (kening, kedua telapak tangan, kedua lutut, jari – jari kaki bagian bawah) dan lubang-lubang yang ada pada tubuh mayit, seperti hidung, telinga, mata,  mulut, penis atau vagina ditutup dengan kapas yang telah diberi wewangian. Demikian pula sela-sela jari baik kaki atau pun tangan, dan luka yang berlubang 

Keterangan

Yang biasa berlaku di masyarakat memang menutupi seluruh wajah, hal tersebut di perbolehkan akan tetapi sebenarnya yang baik di tutupi hanya bagian–bagian yang kami sebutkan di atas.

Keterangan

Di masyarakat juga berlaku kebiasaan memberi kapas pada setiap persendian, tetapi sebenarnya yang baik adalah bagian–bagian yang di terangkan di atas.

Kemudian pantat mayit diberi kain yang disobek ujungnya kemudian ditarik sampai pinggul lalu diikat, setelah memasukan kapas yang diberi minyak wangi ke dalam belahan pantatnya.

Setelah hal-hal tersebut selesai dilakukan dengan sempurna, kain kafan mulai ditutup dengan urutan sebagai berikut ;

  1. Kain kafan sebelah kiri
  2. Kain kafan sebelah kanan
  3. Sebelah kiri lagi, kemudian sebelah kanan. Demikian seterusnya.

Keterangan

Bentuk lipatan kafan pada bagian tengah badan dengan model pengikatan yang miring agar tangan mayit tidak bergerak-gerak saat di bawa ke pemakaman, dan ujung simpul harap di letakkan pada sebelah kiri mayit agar memudahkan untuk di lepaskan nanti saat sudah di liang kubur

Berikut ini adalah cara melipat kain kafan untuk bagian kaki secara berurutan :

Selanjutnya, ujung masing-masing kain kafan yang berada pada sisi kepala dan kaki  mayit disatukan, kemudian diikat erat-erat dengan tali, agar tidak sampai lepas pada saat di bawa ke pemakaman.

Tidak dibenarkan menuliskan ayat-ayat suci Al-Qur;an atau Asma al- A’dhom (asma – asma Alloh) diatas kafan atau di atas kertas yang kemudian dimasukkan kedalam kafan. Kecuali memakai ludah atau air.

Sunnat dikafani dengan kain yang tebal, berwarna putih, bekas namun bersih, serta tidak kurang dari tiga lapis. Kecuali jika mayit mempunyai hutang melebihi hartanya dan di kafani memakai hartanya sendiri maka hanya satu lapis saja.

MENYHOLATI MAYIT

Pelaksanaan shalat di sini adalah dalam rangka menghormati dan mendo’akan mayyit. Teknis pelaksanaannya berbeda dengan shalat lain, karena semua rukun-rukunya dilaksanakan dengan berdiri, tanpa ada ruku’, sujud, dan duduk sama sekali.

Dalam urutannya, shalat janazah dilaksanakan setelah mayyit dimandikan dan yang lebih afdlol setelah mayit dikafani[12], kemudian setelah menshalati, prosesi selanjutnya adalah mengubur mayyit.

Hukum pelaksanaannya adalah fardlu kifayah, dalam arti, apabila dalam satu desa sudah ada satu orang yang melaksanakannya maka kewajiban bagi yang lain sudah gugur[13], sebaliknya apabila dalam satu desa tidak ada yang melaksanakan sama sekali, maka seluruh penduduk desa berdosa.

Syarat-syarat Shalat Janazah

Syarat-syarat shalat janazah dibagi menjadi dua :

  1. Syarat bagi musholli ( orang yang shalat ).

Dalam hal ini, syaratnya sama persis dengan shalat lainnya, yaitu harus suci dari hadats dan najis yang tidak dima’fu, mengahadap kiblat dan lain sebagainya.

  1. Syarat bagi mayyit atau janazah, yaitu :
  • Telah selesai dimandikan
  • Posisi mayyit berada didepan musholli dan jarak antara keduanya tidak kurang dari 300 dziro’ ( + 144 m )[14]
  • Tidak ada penghalang antara musholli dengan mayyit.

Rukun-rukun Shalat Janazah

  1. Niat
  2. berdiri bagi yang mampu
  3. Takbir empat kali
  4. Membaca fâtihah setelah takbir yang pertama
  5. Membaca shalawat pada Rasulullah setelah takbir kedua
  6. Mendo’akan mayyit setelah takbir ketiga
  7. salam

Teknis dan Tahap-tahap  Pelaksanaan Rukun :

1. Niat.

Niat harus disertakan dengan takbîratul ihrâm sebagaimana niat shalat yang lain. Yang terpenting dalam niat adalah menyebutkan keinginan menyolati mayyit dan menyebutkan status kefardluannya, tanpa harus menyebutkan nama si mayyit. Contoh niat :

أُصَلِّى عَلَى هَذَا الْمَيِّتِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ ِللهِ تَعَالىَ

2. Berdiri bagi yang mampu
3. Takbir Pertama

Takbir yang pertama adalah takbîratul ihrâm (yang disertai dengan niat). Teknis, tata cara maupun kesunnatannya  sama dengan takbîratul ihrâm dalam shalat lain.

Setelah itu membaca surat fâtihah bagi yang mampu. Apabila tidak bisa, maka diganti dengan surat maupun ayat yang lain, apabila masih tidak bisa, maka diam dengan kadar waktu sesuai durasi fâtihah.

Dalam shalat janazah, setelah takbîratul ihrâm tidak disunnatkan membaca do’a iftitâh, begitu juga surat lain setelah fâtihah, yang disunnatkan hanya membaca ta’awwudz sebelum fâtihah, hal ini karena secara prinsip, shalat janazah itu dikerjakan secara ringkas dan cepat.

4. Takbir Kedua.

Lalu membaca shalawat pada Rasulullah. Minimal membaca : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ, sedangkan yang afdhol, dengan memakai sighot shalawat Ibrâhimiyyah sebagaimana shalawat setelah tahiyyat dalam shalat lain. dan disunnatkan menggabung  sighot shalawat dengan sighot salam juga disunnatkan membaca hamdalah sebelum shalawat, dan kemudian diakhiri dengan mendo’akan orang – orang mu’min.

Secara akurat, sighot yang afdhol dalam rangkaian shalawat adalah sebagai berikut :

اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالمَِيْنَ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْت وَسَلَّمْتَ عَلَى سَيِّدِِنَا إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِِنَا إبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْت عَلَى سَيِّدِِنَا إبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِِنَا إبْرَاهِيمَ فِي العَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْد. أَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

5. Takbir Ketiga.

Lalu mendo’akan mayyit. Do’a disini haruslah berupa do’a ukhrawi atau untuk kebaikan mayyit di akhirat, tidak boleh dengan do’a yang berhubungan dengan dunia saja. Minimal dengan mengucapkan suatu lafadz yang bisa dikategorikan do’a. Sedangkan yang lebih afdhol adalah sebagai berikut[15]:

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ {لها} وَارْحَمْهُ {ها} وَعَافِهِ {ها}  وَاعْفُ عَنْهُ {ها}  وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ {ها}  وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ {ها}  وَاغْسِلْهُ {ها}  بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ , وَنَقِّهِ {ها}  مِنْ الْخَطَايَا , كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ {ها}  دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِه {ها} ِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ {ها}  وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ {ها}  وَأَدْخِلْهُ {ها}  الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ {ها}  مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

Apabila mayyitnya anak kecil, maka do’anya sebagai berikut :

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيِّنَا وَمَيِّتِنَا وَشَاهِدِنَا وَغَائِبِنَا وَصَغِيرِنَا وَكَبِيرِنَا وَذَكَرِنَا وَأُنْثَانَا اللَّهُمَّ مَنْ أَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَأَحْيِهِ عَلَى الإِسْلاَمِ وَمَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى الإِيمَانِ , اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ {ها}  فَرَطًا ِلأبَوَيْهِ {ها}  وَسَلَفًا وَذُخْرًا وَعِظَةً وَاعْتِبَارًا وَشَفِيعًا وَثَقِّلْ بِهِ {ها}  مَوَازِينَهُمَا وَأَفْرِغِ الصَّبْرَ عَلَى قُلُوبِهِمَا , وَلاَ تَفْتِنْهُمَا بَعْدَهُ {ها}  وَلاَ تَحْرِمْهُمَا أَجْرَهُ {ها}

6. Takbir keempat.

Lalu membaca do’a :

اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ {ها}وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ {ها}وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ {ها}

7. Membaca salam

Minimal :    السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ yang lebih afdhol : السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ

Sedangkan penambahan وَبَرَكَاتُهُ masih dihilafkan ulama

Kesunnatan – kesunnatan lain

a)      Mengangkat kedua tangan ketika takbir empat kali, sejajar dengan bahu dan setelah itu meletakkannya dibawah dada sebelah kiri sebagaimana dalam shalat yang lain

b)      Mengeraskan suara ketika takbir dan salam bagi imam dan muballigh

c)      Melirihkan suara ketika membaca fâtihah, shalawat dan do’a  meskipun shalat dilakukan pada tengah malam

Posisi orang yang menyolati harus berada dibelakang janazah, dengan ketentuan sebagai berikut :

Jika janazahnya laki- laki, maka posisi kepala mayit berada di sebelah selatan, sedangkan posisi Imam atau orang yang shalat sendirian berdiri tepat lurus dengan kepala mayit.

Jika janazahnya perempuan, maka posisi kepala mayit berada di sebelah utara,  sedangkan posisi Imam atau orang yang shalat sendirian berdiri tepat lurus dengan pantat mayit.

SHALAT GHOIB

Shalat ghoib adalah menyolati janazah yang tidak hadir didekat orang yang hendak menyolati. Hal ini disebabkan dua perkara :

1. Mayit berada jauh dari orang yang hendak menyolati

Dalam hal ini ulama’ terjadi perbedaan pendapat mengenai kategori jauhnya mayyit :

  • Menurut sebagian ulama’, kriterianya adalah sekira mayyit berada jauh diluar daerah musholli sehingga memberi kesan bahwa mayyit bukan penduduk daerah musholli
  • Menurut ulama’ yang lain, kategorinya adalah keberadaan mayyit diluar tempat yang wajib ditempuh bagi orang yang tayammum ketika tidak ada air (3,7 km).

2. Mayit sudah dikubur meskipun tidak jauh dari orang yang hendak menshalati.[16]

Niat shalat ghoib sebagai berikut :

أُصَلِّى عَلَى مَيِّتِ / جَنَازَةِ …….. الْغَائِبِ أَرْبَعَ تَكْبِيْرَاتٍ فَرْضَ كِفَايَةٍ ِللهِ تَعَالَى

Sebagaimana keterangan diatas, dalam menyolati mayit disyaratkan harus dimandikan terlebih dahulu, dalam shalat ghoib juga disyaratkan : musholli harus mempunyai dugaan kuat bahwa mayyit telah dimandikan, apabila masih ragu, musholli supaya menta’liq (menggantungkan) niatnya semisal:

أُصَلِّى عَلَى مَيِّتِ / جَنَازَةِ …….. الْغَائِبِ إِنْ غُسِلَ

Artinya : saya menyolati mayyit yang ghoib apabila telah dimandikan

Sedangkan teknis dan tata cara shalat, sebagaimana keterangan diatas.

Masbuk Shalat Janazah

Dalam shalat janazah, ma’mum juga bisa berstatus masbuq sebagaimana dalam shalat jama’ah yang lain. Kriteria maupun hukumnya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan shalat lain, hanya saja dalam shalat janazah yang menjadi tolok ukur ketertinggalan ma’mum yang bisa menyebabkan shalatnya batal adalah takbir, berbeda dengan jama’ah lain. Hal ini karena rukun dan teknis pelaksaannya memang tidak sama.

Hukum-hukum Ma’mum Masbuq dalam Shalat Janazah:

a        Ketika ma’mum menjumpai imam ditengah-tengah shalatnya, maka ia tetap harus melaksanakan rukun-rukun sesuai dengan urutan yang semestinya(urutan takbir dia sendiri) meskipun tidak sesuai dengan rukun imam.

b        Ketertinggalan ma’mum dari imam yang sampai menyebabkan shalatnya batal adalah satu takbir apabila tanpa ada udzur, dan dua takbir apabila ada udzur. Diantara udzurnya adalah : lambannya bacaan ma’mum dan lupa.

Contoh a & b : Ketika imam sedang membaca do’a pada mayyit (setelah takbir ketiga), ma’mum baru menempat pada barisan shalat, lalu ia melakukan takbirotul ihrom. Yang harus dilaksanakan ma’mum pada waktu itu adalah membaca fâtihah bukan membaca do’a sebagaimana imam, karena urutan rukun yang mestinya ia jalani adalah membaca fâtihah.

Apabila sebelum ia menyelesaikan fâtihahnya, imam sudah melakukan takbir selanjutnya, maka ia pun harus mengikutinya tanpa menyelesaikan fâtihahnya terlebih dahulu, karena sudah ditanggung oleh imam. Apabila ia tidak mengikutinya sampai imam melakukan takbir selanjutnya maka shalatnya batal.

c         Apabila ma’mum ketinggalan dari imam dan masih mempunyai tanggungan rukun yang belum ia selesaikan, maka harus diselesaikan setelah imam salam. Apabila hal yang menjadi tanggungan hukumnya wajib, maka hukum menyelesaikannya juga wajib. Apabila sunat, hukum menyelesaikan-nya juga sunat

d        Apabila ma’mum masbuq masih dalam tengah-tengah mengerjakan shalatnya, disunatkan mayyit tidak diangkat dahulu, karena menunggu masbuq tersebut selesai.

MEMAKAMKAN JANAZAH

Pada saat dibawa ke pemakaman posisi kepala mayit sunnat berada didepan. Sedangkan bagi seseorang yang melihat mayit yang sedang dibawa menuju kepemakaman sunnat membaca :

سُبْحَانَ الْحَيِّ الَّذِي لَا يَمُوتُ

Artinya : “ Maha suci dzat yang maha hidup dan tidak akan mati”

Atau :

هَذَا مَا وَعَدَنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ وَصَدَقَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ زِدْنَا إيمَانًا وَتَسْلِيمًا

Artinya : “ ini ( kematian )adalah sesuatu yang telah dijanjikan oleh  Alloh dan RasulNya kepada kami. Maha benar Alloh dan RasulNya. Ya Alloh, tambahkan pada diri kami keimanan dan berserah diri ”

Setelah sampai di pemakaman, keranda diletakkan di sebelah selatan lubang galian dengan posisi kepala mayit berada diutara. Kemudian mayit dikeluarkan mulai dari kepalanya. Bagi orang yang memasukkan kedalam pemakaman sunnat membaca :

بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Artinya : “ dengan nama Alloh dan sesuai dengan tuntunan agama Rasululloh SAW ”

Dan pada saat meletakkan sunnat membaca[17] :

اللَّهُمَّ أَسْلَمَهُ( هَا ) إلَيْك الْأَشِحَّاءُ مِنْ وَلَدِه( هَا ) وَأَهْلِهِ( هَا ) وَقَرَابَتِهِ( هَا ) وَإِخْوَانِهِ( هَا ) وَفَارَقَهُ( هَا ) مَنْ كَانَ يُحِبُّ قُرْبَهُ( هَا ) وَخَرَجَ( تْ ) مِنْ سَعَةِ الدُّنْيَا وَالْحَيَاةِ إلَى ظُلْمَةِ الْقَبْرِ وَضِيقِهِ وَنَزَلَ( تْ ) بِك وَأَنْتَ خَيْرُ مَنْزُولٍ بِهِ إنْ عَاقَبْته( هَا ) فَبِذَنْبِهِ( هَا ) ، وَإِنْ عَفَوْتَ عَنْهُ( هَا ) فَأَهْلُ الْعَفْوِ أَنْتَ أَنْتَ غَنِيٌّ عَنْ عَذَابِهِ( هَا ) ، وَهُوَ( هِيَ ) فَقِيرٌ( ةٌ ) إلَى رَحْمَتِك اللَّهُمَّ تَقَبَّلْ حَسَنَتَهُ( هَا ) وَاغْفِرْ سَيِّئَتَهُ( هَا ) وَأَعِذْهُ( هَا ) مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَاجْمَعْ لَهُ( هَا ) بِرَحْمَتِك الْأَمْنَ مِنْ عَذَابِك وَاكْفِهِ( هَا ) كُلَّ هَوْلٍ دُونَ الْجَنَّةِ اللَّهُمَّ وَاخْلُفْهُ( هَا ) فِي تَرِكَتِهِ( هَا ) فِي الْغَابِرِينَ وَارْفَعْهُ( هَا ) فِي عِلِّيَّيْنِ وَعُدْ عَلَيْهِ( هَا ) بِفَضْلِ رَحْمَتِك يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ

Artinya : “ Ya Alloh, ia ( mayit )telah diserahkan keharibaanMu oleh orang-orang kikir dari anaknya, keluarganya, dan kerabatnya. Ia telah berpisah dengan orang-orang yang sebenarnya ia suka kedekatannya. Ia telah meninggalkan lapangnya dunia dan kehidupan menuju gulita dan sempitnya alam kubur. Ia telah menghadapMu dan hanya engkaulah dzat terbaik untuk menghadap. Seandainya Engkau menyiksanya, maka itu semata-mata karena dosa yang ia perbuat. Dan andaikan engkau memberinya ma’af, tentu karena hanya engkaulah  dzat yang sanggup mema’afkannya. Engkau maha kaya ( tidak butuh ) untuk menyiksanya, sedang ia amat membutuhkan kasihMu. Ya Alloh ! terimalah segala kebajikannya dan ampunilah segala dosanya, serta sentosakan ia dari siksa kubur. Kumpulkanlah terhadapnya- dengan rahmatMu-rasa aman dari siksaMu, serta jagalah ia dari segala kegelisahan sebelum surga. Ya Alloh ! jadikanlah orang-orang yang datang setelahnya sebagai orang yang tertinggal(dalam kebajikan). Angkatlah ia di tempat tertinggi,  dan dengan belas kasihMu, wahai dzat penuh kasih!  ampunilah dirinya       ”

Setelah diletakkan, pipinya dibuka kemudian ditempelkan pada tanah. Semua ikatannya dilepas dan kaki serta wajahnya disandarkan pada dinding kuburan. Agar tetap menghadap kiblat, kepala mayit diganjal sesuatu dan sunnat  dibacakan surat al qodr tujuh kali.

Dan perlu diperhatikan, menurut qaul Mu’tamad adzan dan iqâmat tidaklah disunnatkan. Hanya qaul dlo’if yang mengatakan hal itu sunnat.

Setelah itu mayit di tutup dengan sejenis papan agar tidak terkena reruntuhan tanah yang akan dimasukkan.

Pada saat menutup tersebut para hadirin yang ada di sekitarnya sunnat mengambil tiga genggam tanah.

Pada saat pelemparan genggaman pertama membaca :

مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ ، الَّلهُمَّ لَقِّنْهُ عِنْدَ الْمَسْأَلَةِ حُجَّتَهُ

Artinya : “Dari bumi (tanah) Kami menjadikan kamu, Ya Alloh, tuntunlah ia hujjah ketika ditanyai “

Kedua membaca :

وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ، الَّلهُمَّ افْتَحْ أَبْوَابَ السَّمَاءِ لِرُوْحِهِ

Artinya : “Dan kepada bumi Kami akan mengembalikanmu,Ya Alloh, bukakanlah pintu langit untuk ruhnya “

Dan ketiga membaca :

وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى ، الَّلهُمَّ جَافِ الأَرْضَ عَنْ جَنْبَيْهِ

Artinya : “Dan dari bumi Kami akan membangkitkan kamu pada waktu yang lain, Ya Alloh, lebarkanlah bumi dari kedua sisinya “

Setelah prosesi pemakaman selesai, hadirin juga disunnatkan membaca do’a berikut :

اللَّهُمَّ ثَبِّتْهُ (هَا) عَلَى الْحَقِّ اللَّهُمَّ لَقِّنْهُ (هَا) حُجَّتَهُ (هَا)

Artinya : “Ya Alloh ! kokohkanlah ia atas agama yang hak. Ya Alloh ! tuntunlah hujjah terhadapnya “

TALQIN MAYIT

Setelah prosesi pemakaman selesai sempurna, disunnatkan salah satu diantara para hadirin[18] duduk di ujung makam untuk mentalqin mayit, apabila mayit bukan anak kecil yang belum baligh.  Kesunatan talqin berdasarkan hadits ;

عَنْ سَعِيدِ بن عَبْدِ اللَّهِ الأَوْدِيّ ِ، قَالَ: شَهِدْتُ أَبَا أُمَامَةَ وَهُوَ فِي النَّزْعِ، فَقَالَ: إِذَا أَنَا مُتُّ، فَاصْنَعُوا بِي كَمَا أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نصْنَعَ بِمَوْتَانَا، أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ:”إِذَا مَاتَ أَحَدٌ مِنْ إِخْوَانِكُمْ، فَسَوَّيْتُمِ التُّرَابَ عَلَى قَبْرِهِ، فَلْيَقُمْ أَحَدُكُمْ عَلَى رَأْسِ قَبْرِهِ، ثُمَّ لِيَقُلْ: يَا فُلانُ بنُ فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْمَعُهُ وَلا يُجِيبُ، ثُمَّ يَقُولُ: يَا فُلانُ بنُ فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَسْتَوِي قَاعِدًا، ثُمَّ يَقُولُ: يَا فُلانُ بنُ فُلانَةَ، فَإِنَّهُ يَقُولُ: أَرْشِدْنَا رَحِمَكَ اللَّهُ، وَلَكِنْ لا تَشْعُرُونَ، فَلْيَقُلْ: اذْكُرْ مَا خَرَجْتَ عَلَيْهِ مِنَ الدُّنْيَا شَهَادَةَ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنَّكَ رَضِيتَ بِاللَّهِ رَبًّا، وَبِالإِسْلامِ دِينًا، وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا، وَبِالْقُرْآنِ إِمَامًا، فَإِنَّ مُنْكَرًا وَنَكِيرًا يَأْخُذُ وَاحِدٌ مِنْهُمْا بِيَدِ صَاحِبِهِ، وَيَقُولُ: انْطَلِقْ بنا مَا نَقْعُدُ عِنْدَ مَنْ قَدْ لُقِّنَ حُجَّتَهُ، فَيَكُونُ اللَّهُ حَجِيجَهُ دُونَهُمَا”، فَقَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَإِنْ لَمْ يَعْرِفْ أُمَّهُ ؟ قَالَ:” فَلْيَنْسِبْهُ إِلَى حَوَّاءَ، يَا فُلانَ بن حَوَّاءَ”. { رواه الطبراني }

Artinya : “diriwayatkan dari Sa’id ibn Abdillah al-Audiy, beliau berkata : aku berkunjung ke Abi Umamah yang dalam kondisi sekarat. Ia berwasiat : perlakukan diriku seperti halnya perintah Rasululloh SAW agar kami melaksanakannya terhadap orang-orang kami  yang wafat. Beliau bersabda : Jika salah satu diantara saudar-saudaramu meninggal dan makamnya telah diratakan dengan tanah, berdirilah salah satu dari kalian di ujung makam kemudian ucapkanlah :” Hai Fulan putra Fulanah”. Sesungguhnya ia dapat mendengarkannya, namun tidak mampu menjawab. Kemudian ucapkan lagi :” Hai Fulan putra Fulanah”. Maka Ia akan duduk tegak. Kemudian ucapkan lagi :” Hai Fulan putra Fulanah”. Maka ia akan berkata “ bimbinglah aku-semoga Alloh memberikan rahmatNya kepadamu-“ namum kalian tidak merasakannya. Kemudian ucapkanlah “ ingatlah apa yang engkau yakini ketika meniggal dunia, yakni bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Engkau rela menjadikan Alloh sebagai Tuhan, islam sebagai agama, Muhammad sebagai Nabi, dan Al-Qur’an sebagai teladan”karena sesungguhnya ( salah satu dari ) Munkar dan Nakir akan memegang tangan sahabatnya seraya berkata “ mari kita pergi dari sini, untuk apa kita berada disamping seseorang yang sudah dibimbing hujjahnya” maka hanya Allohlah yang akan mengalahkan hujjahnya, bukan mereka berdua “. Kemudian seorang lelaki berkata kepada Rasululloh SAW “ Duhai Rasululloh, seandainya ibunya tidak dikenal ? “ Nisbatkanlah kepada Hawa’ yakni dengan ucapan “ Wahai Fulan putra Hawa’” jawab beliau. “ ( HR. Thabrani )

Meskipun hadits diatas bersanad lemah ( dla’if ), namun bukan berarti tidak dapat dijadikan sebagai landasan legislasi (dianjurkannya) talqin. Ulama sepakat bahwa hadits dla’if dapat dijadikan sebagai pijakan hukum untuk hal-hal yang masuk kategori fadlâil al-a’mâl (keutamaan sebuah ritual), selama hadits tersebut tidak begitu lemah ( syadîd al-du’f ), juga sesuai dengan prinsip dasar islam bahwa seorang mukmin dapat memberikan manfa’at kepada sesama mukmin yang lain. Dalam tataran madzahib, tercatat hanya malikiyyah saja yang tidak merestui prilaku talqin[19].

Berikut ini contoh talqin

تلقين الميت

كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ  [القصص : 88]، كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ [آل عمران : 185]، مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى  [طه : 55] , مِنْها خَلَقْنَاكُمْ لِلأجْرِ وَالثَوَابِ, وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ لِلدُّوْدِ وَالتُّرَابِ, وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ لِلْعَرْضِ وَالْحِسَابِ, بِسْمِ اللهِ وَبِاللهِ وَ مِنَ اللهِ واِلىَ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , هَذَا مَا وَعَدَ الرَّحْمَنُ وَصَدَقَ الْمُرْسَلُونَ ، إِنْ كَانَتْ إِلَّا صَيْحَةً وَاحِدَةً فَإِذَا هُمْ جَمِيعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ [يس : 52- 53]، يَا عَبْدَ اللَّهِ ابْنَ أَمَةِ اللَّهِ \ يَافُلانُ ابْنُ فُلانٍ أُذكُرْ ( أُذْكُرِىْ ) العَهْدَ الَّذِىْ خَرَجْتَِ عَلَيْهِ مِنَ الدُّنيَا : شَهَادَةَ أنْ لاَ إِلَهَ إِلاََّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وأَنََّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَأَنَّ السَّاعَةَ آَتِيَةٌ لاَ رَيْبَ فِيْهَا وأَنَّ اللهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُورِ،  قُلْ : رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا, وَبِالاِسْلامِ دِينًا, وبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا, وَبِالكَعْبَةِ قِبْلَةً, وبِالْقُرْاَنِ اِمَامًا, وَبالمُسْلِمِينَ إِخوَانًا، رَبِّيَ اللهُ ،لآإِلهَ إلاّهُوَ، وَهُوَ رَبُّ العَرْشِ العَظِيمِ.

Hai fulan bin fulan ( sebutkan nama mayit ) saiki siro wis mati, lan siro wis ngalih nang alam kubur, yaiku alam barzah. Siro ojo nganti lali perkoro kang siro sungkemi naliko siro pisah karo kito kabeh, yaiku nekseni yen temen ora ono pengeran kang wajib den sembah kejobo gusti Alloh SWT, lan nekseni yen gusti Muhammad SAW iku utusane Alloh SWT.

Hai fulan bin fulan ……..sing ati-ati, yen awakmu (siro) ditakoni malikat loro, kang den pasrahi nyoba marang siro, siro ojo kaget lan gumeter, ngertiyo sa’temene sing bakal nakoni ing siro yo..! podo podo mahluke gusti Alloh.

Hai fulan bin fulan, yen malikat loro mengko takon marang siro mengkeni,sopo pengeranmu? opo agamamu? sopo nabimu? opo I’tikadmu ? lan opo kang siro sungkemi naliko siro mati? siro jawab kanti teges! Lan ojo gumeter ” Gusti Alloh  pengeranku ” lan yen siro ditakoni kaping pindone, jawabo maneh ” gusti Alloh pengeran ku” lan yen ditakoni maleh kaping telu, yoiku pitakon ingkang pungkasan siro jawab kanthi teges ” gusti Alloh iku pengeran ku “agama islam iku agamaku, nabi Muhammad iku nabiku, wong islam iku sedulurku, nabi ibrohim iku persasat bapakku, aku urip lan mati netepi ucapan :” La Ilaha Illa Alloh Muhammadurrosulullah SAW.

Hai fulan bin fulan ! hujjah kang diwarahaken marang siro cekelono kang temen, ngertiyo yen siro bakal manggon ing alam kubur nganti mbesuk dino qiamat, yaiku dinane wong ahli qubur ditangiake

Hai fulan bin fulan … ngertiyo siro, yen pati iku haq, yen manggon ing qubur, pitakone malaikat mungkar nakir ono ing kubur, dinone tangi saking quburan, onone hisab, wot sirotol mustaqim, neroko lan surga iku haq, mesti onone.

Kemudian ditutup dengan do’a :

اللّهُمَّ يَاأَنِيسَ كُلِّ وَحِيدٍ، يَا حَاضِرُ ليَْسَ بِغَـْيبٍ آَنِسْ وَحْدَتَنَا وَوَحْدَتَهُ، وَارْحَمْ غُرْبَتَنَا وَغُرْبَتَهُ، وَلَقِّنْهُ حُجَّتَهُ، وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَاللهُ يَا رَبَّ اْلعَالَمِينَ , سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى المُرسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العَالَمِين.

ZIARAH KUBUR

Laksana seorang pengembara, manusia hidup di dunia bukan tiada akhir. Kapan dan dimanapun, seseorang akan kembali keharibaan Alloh SWT. Namun karena pesona dunia, tak jarang seseorang menjadi lupa dan buta bahwa dunia hanya tempat persinggahan sementara guna mencari bekal yang cukup untuk kehidupan yang kekal. Ia merasa bahwa dunia adalah tempat abadi, sehingga ia tidak menyadari jari-jemari maut yang setiap saat akan mencengkramnya. Oleh karenanya, islam berusaha mengembalikan kembali ingatan setiap insan tentang hakikat hidup di dunia ini dengan mensyari’atkan ziarah kubur. Rasululloh SAW bersabda ;

كُنْت نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمْ الْآخِرَةَ

Artinya : “aku pernah melarang kalian untuk berziarah qubur, maka(mulai sekarang)berziarahlah qubur, karena ziarah qubur dapat mengingatkanmu akan akhirat”

Hadits diatas menegaskan bahwa di awal kemunculan islam, Rasululloh SAW pernah melarang setiap muslim untuk berziarah qubur, karena beliau berpandangan bahwa mereka masih dalam masa transisi dan dalam bayang-bayang tradisi Jahiliyyah, sehingga dikhawatirkan bukan ziarah ala islam yang mereka lakukan, namun justru tindakan-tindakan khas Jahiliyyah yang mereka perlihatkan. Setelah dirasa memiliki keimanan yang kuat, sendi-sendi islam telah mapan, dan kebiasaan-kebiasaan masa lalu telah ditinggalkan, beliau  menperkenankan ziarah kubur dengan bersabda “maka(mulai sekarang) berziarahlah qubur”.

Hukum berziarah qubur

Merujuk hadits diatas, Ulama menyimpulkan bahwa hukum ziarah kubur adalah ;

  1. Sunnat, bagi setiap muslim laki-laki
  2. Makruh, bagi setiap muslim perempuan[20], kecuali apabila yang diziarahi makam para Nabi, Syuhada’, dan Shalihin.

Tata cara Ziarah

  1. Bagi peziarah, dianjurkan dalam kondisi suci
  2. Ketika memasuki area makam, disunatkan mengucapkan salam kepada ahli kubur seraya menatap wajah mayit. Bentuk salam yang baik sesuai dengan ajaran Rasullulloh SAW  adalah ;

السَّلَامُ عَلَى أَهْلِ الدَّارِ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ وَإِنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ أَسْأَلُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ الْعَافِيَةَ ، اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُمْ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُمْ

Artinya : “Keselamatan semoga atas penghuni kubur yang mukmin dan muslim, aku-seandainya Alloh menghendaki-pasti akan menusulmu. Aku memohon ampunan kepada Alloh untuk diriku dan diri kalian. Ya Alloh ! janganlah engkau halangi kami akan pahalanya, dan jangan engkau memberi fitnah sepeninggalnya. ”

Atau ;

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ ، اللَّهُمَّ لَا تَحْرِمْنَا أَجْرَهُمْ وَلَا تَفْتِنَّا بَعْدَهُمْ

Artinya : “Keselamatan semoga atas diri kalian, kaum mukmin  penghuni kubur, aku-seandainya Alloh menghendaki-pasti akan menusulmu Ya Alloh ! janganlah engkau halangi kami akan pahalanya, dan jangan engkau memberi fitnah sepeninggalnya. ”

  1. Duduk mendekat ke makam dengan posisi membelakangi kiblat, kemudian membaca salam secara husus kepada orang yang diziarohi semisal :

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ يَا شَيْخَنَا أَحْمَد جَزُوْلىِ عُثْمَان……

  1. Membaca al-Qur’an secukupnya atau tahlil, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada mayit.
  2. Berdo’a untuk mayit sambil menghadap kiblat[21].
  3. setelah dirasa cukup, dianjurkan menaburkan bunga yang masih segar, atau dahan-dahan yang masih hijau, dengan harapan dapat mendo’akan mayyit, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah saw.

Disunatkan memperbanyak ziarah kubur, terutama terhadap orang-orang Shaleh

Ketika berziarah, tidak diperkenankan melakukan tindakan-tindakan yang dilarang agama, semisal sujud kepada makam.[22]

TAHLIL

Sebagaimana Ziarah, tahlil termasuk salah satu ritual yang sudah mendarah daging di kalangan umat islam, namun akhir-akhir ini, keberadaannya menuai kritik tajam dari sekelompok orang yang mengatasnamakan dirinya golongan peduli sunat. Kritik mereka berkenaan dengan susunan tahlil yang beraneka ragam dan tidak ditemukan sama sekali dasarnya menurut mereka. Juga terkait dengan masalah sampainya pahala yang dihadiahkan kepada mayit. Benarkah demikian ?. secara sharih (exklusif), memang tidak ada dalil yang menunjukkan adanya ketentuan tahlil dengan susunan yang selama ini dikenal, meski demikian, lafadz-lafzaz tahlil ternyata sudah sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan sunnat Rasul, seperti ;

Dasar-dasar tahlil

  • Fâtihah 3x, al-ikhlash 3x, tasbîh

Hal ini berdasarkan hadits ;

وَعَنْ مَيْمُوْنَةَ بِنْتِ سَعْدٍ- وَكَانَتْ خَادِمَةً لِرَسُوْلِ اللهِ e قَالَتْ: مَرَّ النَّبِيُّ e بِسَلْمَانَ t وَهُوَ يَدْعُوْ فيِ دُبُرِ الصَّلاَةِ، فَقَالَ: يَا سَلْمَانُ أَلَكَ حَاجَةٌ إِلَى رَبِّكَ ؟ فَقَالَ : نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ فَقَالَ: فَقَدِّمْ بَيْنَ يَدَيْ دُعَائِكَ ثَنَاءً عَلَى رَبِّكَ وَاصْفِهِ كَمَا وَصَفَ نَفْسَهُ وَسَبِّحْهُ تَسْبِيْحًا وَتَحْمِيْدًا وَتَهْلِيْلاً فَقَالَ سَلْمَانُ: وَكَيْفَ أُقَدِّمُ ثَنَاءً يَا رَسُوْلَ اللهِ ؟ قَالَ: تَقْرَأُ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ ثَلاَثًا فَإِنَّهَا ثَنَاءُ اللهِ تَعَالىَ قَالَ: فَكَيْفَ أَصِفُهُ ؟ قَالَ: تَقْرَأُ سُوْرَةَ الصَّمَدِ ثَلاَثًا فَإِنَّهَا صِفَةُ اللهِ وَصَفَ بِهَا نَفْسَهُ قَالَ: فَكَيْفَ أُسَبِّحُ؟ قَالَ: قُلْ سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ للهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ اللهُ أَكْبَرُ ثُمَ تَسْأَلُ حَاجَتَكَ

Artinya : “diriwayatkan dari maimunah binti sa’d, yang menjadi pembantu rosululloh, beliau berkata : Nabi pernah bertemu salman waktu dia sedang berdo’a setelah shalat, beliau bertanya : hai salman, apakah kau mempunyai hajat pada tuhanmu? Salman menjawab : ya, wahai rosul Alloh, Nabi bersabda : mulailah diawal do’amu dengan memuji kepada Tuhanmu, sifatilah seperti tuhanmu menyifati dirinya dan bacalah tasbih, tahmid dan tahlil. Salman berkata : Bagaimana caranya memuji ? Nabi menjawab : bacalah surat Al fâtihah tiga kali karena itu adalah memuji Alloh. Salman berkata : bagaimana cara menyifatinya ? Nabi menjawab : bacalah surat Al Ikhlas tiga kali karena itu adalah sifat Alloh dan dengan surat ini Alloh menyifati dirinya. Salman berkata : bagaimana caranya bertasbih ? Nabi menjawab : bacalah “subhanallohi wal hamdulillahi walaa ilaaha illAllohu wAllohu akbar ”kemudian mintalah hajatmu “.

  • Mu’awwidzatain

Berdasarkan anjuran imam Ahmad ibn Hambal ;

إِذَا دَخَلْتُمُ الْمَقَابِرَ فَاقْرَأُوْا فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَالْمُعَوِّذَتَيْنِ وَقُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ وَاجْعَلُوا ثَوَابَ ذَلِكَ لِأَهْلِ الْمَقَابِرِ فَإِنَّهُ يَصِلُ إِلَيْهِمْ

Artinya : “Apabila kamu sekalian masuk ke pemakaman, Maka bacalah surat Al fâtihah, Mu’awwidzatain, Al Ikhlas dan hadiyahkan pahala bacaan tersebut kepada ahli qubur, maka akan sampai pada mereka “.

  • Surat yasin

Berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud dan Nasa’i ;

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ  {رواه أبو داود والنسائي }

Artinya : “ Nabi bersabda : Bacalah surat Yasin kepada orang – orang yang sudah meninggal dari kamu sekalian ”

  • Akhir surat al-Baqarah

Dasarnya adalah hadits riwayat Abi Dzarrin ;

إِنَّ اللَّهَ خَتَمَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ بِآيَتَيْنِ أُعْطِانيهِمَا مِنْ كَنْزِهِ الَّذِى تَحْتَ الْعَرْشِ ، فَتَعَلَّمُوهُما وَعَلِّمُوهُما نِسَاءَكُمْ وأبناءَكُمْ ، فَإِنَّهَا صَلاَةٌ وَقِراءةٌ وَدُعَاءٌ

Artinya : “Sesungguhnya Alloh mengahiri surat Al Baqarah dengan dua ayat yang telah diberikannya kepadaku dari bawah ‘arsy, maka pelajarilah dan ajarkanlah kepada orang perempuan dan anak-anak dari kamu semua karena bacaan tersebut adalah shalat, qiro’ah dan do’a “.

  • Tahlil ( laailaaha illalloh ) dan do’a

Berdasarkan hadits riwayat Tirmidzi ;

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَفْضَلُ الذِّكْرِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَفْضَلُ الدُّعَاءِ الْحَمْدُ لِلَّهِ

Artinya : “Saya mendengar Rosulalloh bersabda : lebih utamanya Dzikit adalah Laa ilaaha illaAlloh dan lebih utamanya do’a adalah Al Hamdulillah “.

  • Shalawat

Berdasarkan riwayat Ad Dailami ;

مَا مِنْ دُعَاءٍ إِلاَّ بَيْنَهُ وَبَيْنَ السَّمَاءِ حِجَابٌ حَتَى يُصَلَّى عَلَى النَّبِىِّ وَعَلَى آلِهِ، فَإِذَا فُعِلَ ذَلِكَ إِنْخَرَقَ ذَلِكَ الْحِجَابُ وَدَخَلَ الدُّعَاءُ وَإِذَا لَمْ يُفْعَلْ ذَلِكَ رَجَعَ الدُّعَاءُ (رواه الديلمى عن على)

Artinya : “Tak ada do’a kecuali diantara oaring yang berdo’a dan langit terdapat  penghalang sampai ia membaca shalawat kepada nabinya dan keluarganya, ketika hal tersebut dilakukan maka terbukalah penghalang tersebut namun apabila tidak maka kembalilah do’a tersebut  “.

Berikut ini contoh tahlil ;

Contoh Tawassul

إِلىَ حَضْرَةِ النَّبِىِّ الْمُصْطَفَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّةِ أَعْيُنِنَا نبيَّنا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ  الفَاتِحَة ….

إِلىَ حَضْرَةِ جَمِيْعِ الأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَأُولىِ الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَجَمِيْعِ الْمَلاَئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ عَلَيْهِمُ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ لَهُمُ الْفَاتِحَة …

إِلىَ حَضْرَةِ جَمِيْعِ أَوْلِيَاءِ اللهِ خُصُوْصًا إِلىَ حَضْرَةِ سُلْطَانِ الأَوْلِيَاءِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَِيْلاَنِىِّ وَإِلىَ الشَّيْخِ أَبِى الْقَاسِمِ الْجُنَيْدِىِّ وَالشَّيِْخِ بَهَاءِ الدِّيْنِ النَّقْشَبَنْدِىِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ لَهُمُ الْفَاتِحَة …

إِلىَ حَضْرَةِ أَوْلِيَاءِ هَذِهِ الْبَلْدَةِ وَأَوْلِيَاءِ التِّسْعَةِ هَؤُلاَءِ الَّذِيْنَ زُرْنَا وَنُزُورُ إِلىَ مَقَامَاتِهِمْ، الْفَاتِحَة…..

إِلىَ حَضْرَةِ مُؤَسِّسِ هَذَا الْمَعْهَدِ كِيَاهِى أَحْمَدْ جَزُوْلىِ عُثْمَان وَإِلىَ حَضْرَةِ أُمِّ الْمَعْهَدِ يَاهِى رَاضِيَةْ جَزُوْلِى وَجَمِيْعِ أَوْلاَدِهِ خُصُوْصًا كُوسْ حَمِيْم جَزُوْلىِ وَأُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَجَمِيْعِ مَنِ انْتَسَبَ إِلَيْهِمْ، لَهُمُ الفَاتِحَةْ …

إِلَى حَضْرَةِ آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَجُدُوْدِنَا وَجَدَّاتِنَا وَأُصُوْلِنَا وَفُرُوْعِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَم مَنِ انْتَسَبَ إِلَيْنَا وَمَنْ لَهُ حُقُوْقٌ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ  لَهُمُ الْفَاتِحَة …

إِلىَ حَضْرَةِ جَمِيْعِ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْفُقَهَاءِ وَالْمُحَدِّثِيْنَ وَالْقُرَّاءِ وَالْمُفَسِّرِيْنَ وَجَمِيْعِ الأَئِمَّةِ الأَرْبَعَةِ الْمُجْتَهِدِيْنَ وَمُقَلِّدِيْهِمْ فىِ الدِّيْنِ خُصُوْصاً إِلىَ حَضْرَةِ الشَّيْخِ مُحَمَّدِ بْنِ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِىِّ وَجَمِيْعِ مُؤَلِّفِ كُتُبِنَا رَضِىَ اللهُ عَنْهُمْ، لَهُمُ الْفَاتِحَة …

إِلىَ حَضْرَةِ جَمِيْعِ مَشَايِخِنا وَجَمِيْعِ ومُعَلِّمِيْنا ومُعَلِّمِيْهم وأساتيذنا وأساتيذهم وتلاميذنا وتلميذاتناَ وَجِمْيعِ مَا فِى ذِمَّتِى وَمَنْ فِى ذِمَّتِى الْفَاتِحَة …

خُصُوْصًا جَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا خصوصا… sebutkan nama yang dituju لَهُمْ الْفَاتِحَة …

Contoh bacaan tahlil

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ الخ 3 ×     لاَ إِلهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَق الخ    لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاس الخ   لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلِلّهِ الْحَمْدُ

الفاتحة 1 ×

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآَخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4) أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (5) وَإِلَهُكُمْ إِلهٌ وَاحِدٌ لآ إِلهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيْمُ. اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ (284) آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (285) لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ

وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا 7 ×

وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ.

إِرْحَمْنَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 7 ×

رَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ إِنَّهُ حَمِيدٌ مَجِيدٌ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ 33 ×

الَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ . وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فيِ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ . إِسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ  33 ×

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيّ الْقَيُّوم وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ .أَفْضَلُ الذِّكْرِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ لآإِلهَ إِلَّا اللهُ ، حَيٌّ مَوْجُوْدٌ ، لآإِلهَ إِلَّا اللهُ ، حَيٌّ مَعْبُوْدٌ ، لآإِلهَ إِلَّا اللهُ ، حَيٌّ بَاقٍ ،

لآإِلهَ إِلَّا اللهُ 33 ×

مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، كَلِمَةٌ حَقٌ عَلَيْهَا نَحْيَ وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الآمِنِيْنَ .

لآإِلهَ إِلَّا اللهُ لآإِلهَ إِلَّا اللهُ ،  لآإِلهَ إِلَّا اللهُ لآإِلهَ إِلَّا اللهُ, لآإِلهَ إِلَّا اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّد اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَيه وَسَلِّمَ

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِِّدِنَا مُحَمَّد اللّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمَ

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِِّدِنَا مُحَمَّد يَا رَبِّ صَلِّ عَلَيْهِ وَسَلِّمَ

سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ الله الْعَظَِيْمِ  7 ×

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِِّدِنَا مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمَ 2 ×

اَللّهُمَّ صَلِّ عَلَى حَبِيْبِكَ سَيِِّدِنَا مُحَمَّد وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارِكْ وَسَلِّمْ أَجْمَعِيْنَ

Kemudian membaca do’a semisal :

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِِّّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ اللّهُمَّ إِنََّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعاَفِيَةَ وَالْمُعَافَةَ الدَائِمَةَ فِى الدِّيِْنِ وَالدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيْمَانَ وَزَيََّّنْهُ فِى قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَوَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ اللّهُمَّ قَنِّعْنَا بِمَا رَزَقْتَنَا وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا أَعْطَيْتَنَا وَاخْلُفْ عَلَى كُلِّ غَيْبَةٍ لَنَا مِنْكَ بِخَيْرٍ اللّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ اللّهُمَّ تَقَبََّلْ وَأَوْصِلْ ثَوَابَ مَا قَرَأْنَاهُ مِنَ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَمَا هَلَّلْنَا وَمَا سَبََّّحْنَا وَمَا صَلَّيْنَا فِى هذَا الْمَجْلِسِ الْمُبَارَكِ هَدِيَّةً وَاصِلَةً وَرَحْمَةً ناَزِلَةً وَبَرَكَةً شَامِلَةً وَصَدَقَةً مُتَقَبَّلَةً نُقَدِّمَ ذلِكَ وَنَهْدِيْهِ إِلَى حَضْرَةِ النَّبِى الْمُصْطَفَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَقُرَّّةِ أَعْيُنِنَا مُحَمَّدٍ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ آبَائِهِ وَإِخْوَانِهِ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَإِلَى رُوْحِ كُلِّ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالْقَرَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإَحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ ثُمَّ إِلَى أَرْوَاحِ الْأَئِمَّةِ الْأَرْبَعَةِ الْمُجْتَهِدِيْنَ وَمُقَلِّّدِيْهِمْ فِى الدِّيْنِ وَالْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ وَالْفُقَهَاءِ وَالْمُحَدِّثِيْنَ وَالْقُرَّاءِ وَالْمُفَسِّرِيْنَ وَالسَّادَاتِ الصُّوْفِيَّةِ وَالْمُحَقِّقِيْنَ وَأَوْلِيَاءِ الْكَوْنِ أَجْمَعِيْنَ خُصُوْصًا إِلَى حَضْرَةِ مُؤَسِِّّسِ هَذَا الْمَعْهَدِ كِيَاهِى أَحْمَدْ جَزُوْلِى عُثْمَانَ وَإِلَى حَضْرَةِ أُمِّ الْمَعْهَدِ يَاهِى رَاضِيَةْ جَزُوْلِى وَجَمِيْعِ أَوْلَاِدِهِ خُصُوْصًا كُوْسْ حَمِيْمْ جَزُوْلِى وَأُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَجَمِيْعِ مَنْ اِنْتَسَبَ إِلَيْهِمْ اللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ اجْعَلْنَا بِبَرَكَاتِهِمْ مِنَ الْعُلَمَاءِ الرَّاشِدِيْنَ مِنَ الْعُلَمَاءِ الْعَامِلِيْنَ مِنَ السَّالِمِيْنَ فِى الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ. وإِلَى حَضْرَةِ آبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَجُدُوْدِنَا وَجَدَّاتِنَا وَأُصُوْلِنَا وَفُرُوْعِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا وَ مَنِ انْتَسَبَ إِلَيْنَا وَمَنْ لَهُ حُقُوْقٌ عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُمْ وَارْحَمْهُمْ وَعَافِهِمْ وَاعْفُ عَنْهُمْ

وَإِلىَ أَرْوَاحِ جَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ وَمَغَارِبِهَا بَرِّهَا وَبَحْرِهَا خُصُوْصًا إِلىَ مَنِ اجْتَمَعْنَا هَهُنَا بِسَبَبِهِ{هَا}  … sebutkan nama yang dituju . اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ {لها} وَارْحَمْهُ {ها} وَعَافِهِ {ها}وَاعْفُ عَنْهُ {ها}  وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ {ها}  وَوَسِّعْ مَدْخَلَهُ {ها}  وَاغْسِلْهُ {ها}  بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ , وَنَقِّهِ {ها}  مِنْ الْخَطَايَا , كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنْ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ {ها}  دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِه {ها} ِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ {ها}  وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ {ها}  وَأَدْخِلْهُ {ها}  الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ {ها}  مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَفِتْنَتِهِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ ، اللَّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا أَجْرَهُ {ها} وَلاَ تَفْتِنَّا بَعْدَهُ {ها}وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ {ها}. اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ{تْ} مُحْسِنًا {ةً} فَزِدْ فيِ إِحْسَانِهِ {هَا}، وَإِنْ كَانَ{تْ} مُسِيْئًا{ةً} فَتَجَارَزْ عَنْهُ{هَا}. الَّلهُمَّ أَنْزِلِ الرَّحْمَةَ وَالْمَغْفِرَةَ إِلَى جَمِيْعِ أَهْلِ الْقُبُورِ مِنْ أَهْلِ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. الَّلهُمَّ إِجْعَلْ قُبُوْرَهُمْ رَوْضَةً مِنْ رِيَاضِ الْجِنَانِ وَلاَ تَجْعَلْهَا حُفْرَةً مِنْ حُفَرِ النِّيْرَانِ. []


[1] lihat. Hasyiyah al-Tarmasi. Juz 03 Hal. 388

[2] lihat, Nihayah al-Zain Hal. 147

[3] Apabila mayit tidak segera dipejamkan matanya, maka trik agar mata mayit bisa terpejam adalah :  kedua lengan mayit dan kedua ibu jarinya ditarik secara bersamaan dangan dipraktekkan oleh dua orang.

[4] Muhammad Nawawi ibn Umar al-Jawi. Kasyifah al-Saja, Hal 94

[5] Lihat  Hasyiyah al-Syarwani, Juz 03 Hal. 162

[6] Yakni non muslim yang berada dalam kekuasaan orang islam dan siap mematuhi segala peraturan yang diberlakukan oleh islam

[7] Yaitu non muslim yang mengadakan akad perdamaian dengan imam muslimin atau wakilnya dalam jangka waktu empat bulan ( apabila kekuasaan islam kuat ) atau sepuluh bulan ( apabila kekuasaan islam lemah )

[8] Muamman hampir sama dengan mu’ahad, hanya saja akad perdamaiannya tidak boleh lebih dari empat bulan, juga terkadang yang melakukan akad ini bersifat perorangan.

[9] Yang dimaksud memiliki hubungan mahram adalah,  andaikan mereka seorang lelaki niscaya haram bagi mereka menikahi si mayit.

[10] Ibrâhim Al-Bâjûri. Hasyiyah al- Bâjûri, Juz 01 Hal. 247

[11] Ibid. Hal. 246

[12] Apabila dilakukan sebelum dimandikan, maka tidak sah. Sedangkan apabila disholati sebelum dikafani, hukumnya makruh

[13] Meskipun sudah gugur, apabila dilakukan tetap mendapatkan pahala.

[14] Syarat ini untuk shalat mayyit yang hadir

[15] Apabila mayit berkelamin perempuan, maka  setiap kata ganti (dlomir) dirubah dengan yang berada di dalam kurung, atau ditetapkan seperti aslinya dengan mengembalikan dlomir kepada “mayit “

[16] Selain itu, orang tersebut termasuk orang yang terkena hukum wajib kifayah ketika mayit meninggal ( islam, Mukallaf dan suci )

[17] Apabila mayit berkelamin perempuan, maka  setiap dlomir diganti dengan yang berada di dalam kurung, atau ditetapkan seperti aslinya dengan mengembalikan dlomir kepada “mayit “

[18] Diutamakan pemuka agama dari pihak keluarga mayit. Apabila tidak ada, maka orang lain.

[19] Sayyid ‘Alwi al-Maliki. Majmu’ Fatawa Warasa’il, Hal. 111

[20] Hal ini dikarenakan ziarah yang dilaksanakan oleh seorang wanita diduga justru akan menimbulkan tangis histeris karena seorang wanita kurang bersabar ketika maenghadapi musibah.  Namun demikian, ada juga yang berpendapat bahwa ziarah bagi seorang wanita hukumnya haram, ada juga yang berpendapat mubah, apabila dirasa aman dari fitnah.

[21] Bentuk do’anya sebagaimana dalam tahlil yang akan dibahas kemudian.

[22] Abi Zakariya Muhyi al-Dien Ibn Syaraf an-Nawawi. Majmu’ Syarh al-Muhadzab, Juz 05 Hal. 311

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.555 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: